
Dari sekian lama mengapa ia tak pernah muncul. Padahal selama ini aku juga kesulitan. Benarkah selama ini aku tak pernah bertanya-tanya di dalam hatiku?
Jawabannya “benar” berdasarkan perkataan program dalam diriku. Tunggu, apa aku sebuah program? Tidak, dia yang program.
Ah , sudahlah.
“Hei, kamu program. Siapa namamu?”
“Saya tak memiliki nama,” ucapnya singkat.
“Bolehkah aku memberimu sebuah nama?”
“....”
Mengapa ia tak menjawab, boleh apa nggak nih?
“Halo, apa kamu masih hidup. Program hei program!”
Ah, ia tak menjawab. Sudahlah, jika kau tak mau menjawab biarkan aku memberimu nama secara langsung.
Kamu tahu panggilan program itu terasa aneh untukku, jadi sekarang nama kamu adalah Yui. Itu lebih bagus dan lebih mudah untukku memanggilmu. Bisa kan Yui?
“Apa kamu baik-baik saja, Dayshi?” Tanya Raisa.
“I, iya. Aku baik-baik saja. Hahaha ....”
“Benar nih kamu baik-baik saja? Tadi kulihat kamu bicara sendiri, sampai-sampai kamu tadi teriak-teriak terus langsung diam melamun begitu.
"Benarkah kamu baik-baik saja?” tanya kembali Raisa dengan memasang wajah khawatir saat aku membalikkan badan melihatnya tengah berdiri tepat di belakangku.
Sedikit intipan mataku melihat Mirai yang masih terkapar di bawah teduhan rerumputan alang tinggi. Entah raut wajah apa yang kupasang saat ini, yang jelas perasaan maluku telah meluap-luap.
“iya kok, aku baik-baik saja. Kamu kan tahu sendiri kalau kita ini orang luar,” jawabku sembarang.
Raisa menatapku sinis. “Apa maksudmu itu? Real world? Apa kamu gak pernah fokus pada satu tujuan.
"Aku tahu keadaanmu saat ini di posisi yang tak kamu sukai, tapi coba deh gak usah terus berpikir akan kehidupan di Real World.
"Lagian posisiku juga kayak kamu kok. Ayo deh, kamu itu kan budakku jadi yang benar dong, jangan mikir yang lain-lain. kamu harus selalu di sampingku.”
Loh kok, Real world apa-apaan sih?
“Aduuh, aku gak ada mikirin Real world kok. Keadaan-keadaan tak kusukai apa-an coba, malah aku suka kok ada di dunia ini.
"Dunia yang gak kutahu apa namanya, dunia yang bisa aja membuatku gila. Tapi benar kok aku suka banget ada di dunia ini.
"Karena di duna inilah aku tahu akan yang namanya kesenangan bersosial, berpetualang, dan bahkan aku bisa berteman.
Jadi budakmu pun aku senang kok, selalu bersamu, itu sudah membuatku bahagia.”
Tunggu, tunggu, tunggu, kenapa aku bicara panjang lebar begini. Aduh bagaimana ini? apakah sikapku sudah sangat keterlaluan.
Aku ini gak marah, hanya saja aku tak setuju akan yang Raisa ucapkan tentang diriku.
“A, apa yang tadi kamu katakan?”
“Ti, tidak ….”
Aku tak menyelesaikan kalimat jawabanku karena melihat Raisa bertingkah aneh. Ia terlihat gelisah dan wajahnya merona merah. Aku juga menjadi cemas akan sahutan tak pikir panjangku tadi.
“Raisa?” panggilku.
Raisa memandangku lalu menundukkan kepala. “Ja-jadi tadi kamu kenapa?”
“Tadi itu aku sedang berbicara dengan sistem program.”
“Sistem program? Jadi begitu ya,”
Tampaknya Raisa mengerti akan apa yang aku maksudkan. Ya, lagi pula ia lebih berpengalaman akan hal ini. Namun jika aku menanyakannya, tampaknya ia tak akan menjawab.
“Raisa, perasaan Resha dari tadi gak balik-balik ya?” tanyaku.
Menurutku lebih baik mengalihkan topik pembahasan saat ini karena aku juga lebih penasaran akan keberadaan Resha yang tak kunjung balik.
“Resha Resha Resha Resha, kamu gak capekkah nanyain dia mulu. Belum juga sampe sehari dah gitu amat nyariin dia,” ujar Raisa yang kemudian terkekeh.
“Dasar homo!” lanjutnya
Aku membelalakkan mata tak terima dikatakan sebagai seorang homo.
“Homo? Hei, aku bukan makhluk semenjijikan itu. Kumohon jangan sebut aku homo yang aneh-aneh, itu membuatku merasa jijik dengan diriku sendiri. lebih baik kau menyebutku sebagai homo sapiens yang suka merindu kepada kenalannya.”
“Hah!” Raisa terkejut dan memeluk tubuhnya sendiri, ia tampak merinding mendengar apa yang kukatakan. “Kau menjijikkan. Jangan dekat-dekat denganku, dasar babu bodoh!”
Ah, hancur dah. Harga diriku sebagai seorang lelaki sejati telah runtuh menjadi babu bodoh. Apaan coba?
“Oke, Oke, berhenti mengataiku dengan sebutan yang aneh-aneh dan mari kita sekarang tidur bareng.”
“Kamu bego ya, siapa yang mau tidur denganmu, dasar mesum, gak punya otak. hush hush.”
Raisa melangkah mundur sambil mengusirku dengan mengibaskan tangan kasarnya. Aku diam membeku.
Sudahlah lebih baik aku jaga jarak dulu dengan Raisa dari pada sosokku menjadi lebih kotor karena kesalah pahamannya.
...~ Resha POV ~...
Sedari tadi angin berhembus kencang padahal hujan mulai mereda. Entah sekarang aku berada di mana.
Rerumputan alang-alang ini semakin tinggi dan besar, tetapi jarak antar rumputnya entah mengapa semakin renggang membuatku leluasa bergerak meski jarak pandang hanya bisa melihat tanah yang basah.
Semakin kuberjalan kunang-kunang pelangi dengan warnanya yang indah berwarna-warni malah semakin banyak, sehingga aku tak harus menggunakan lentera milik Raisa yang ada di tanganku.
“Sepertinya aku tersesat, apa mereka mencariku ya?” gumamku berbicara sendiri untuk menghibur diri.
“pasti mereka mencariku. Dari pada itu sekarang aku sudah menyerah untuk kembali ke tempat tadi. Masa cuma gara-gara pipis sebentar, aku malah terpisah dengan yang lainnya.
"Lebih baik untuk saat ini aku bergerak maju aja. Aku yakin mereka akan mencariku sambil melanjutkan perjalanan, dan pasti kita akan kembali bertemu.”
Aku mengepalkan tangan erat tanda semangat akan keyakinanku. Sesaat ketika aku mulai kembali berpikir positif.
Kini kegelapan yang mengintimidasi kembali menguasai. Aku menjadi was-was akan keadaan ini.
kurendahkan tubuhku dengan perlahan hingga tampak seperti seorang pelari yang bersiap di garis start.
Akan tetapi aku tak akan berlari, melainkan aku hanya diam mewaspadai serangan dari momon agresif.
Aku memejamkan mataku konsen agar indra pendengar menjadi semakin tajam.
Bunyi gesekan antar rerumputan alang-alang menjadi hal yang kuprioritaskan, pasalnya aku akan dapat mengetahui suatu pergerakan makhluk hidup.
Sepoi angin, desiran rumput, bunyi serangga, dan ... ia terdengar. Dari jarak yang tak terlalu jauh ia terus mengawasiku, sesekali ia melangkah pelan untuk mengambil jarak pandang.
Sial, ini momon agresif pemangsa. Dan lagi, rerumputan terdengar heboh saat momon itu melangkah, itu menandakan bahwa momon tersebut memiliki badan yang besar dan berjenis animalia.
“[Fog Knife]”
Aku mengeluarkan skill yang berguna untuk menghalau pandangan musuh. Dengan menyebarkan asap tipis ini, aku bisa menghapus jejak keberadaanku—asap ini menyamarkan bau dan memberikan efek silence[1] pada saat bergerak— sehingga siapapun yang melihatku akan merasa bahwa diriku telah menghilang.
Dan, aku akan terus bergerak leluasa dalam beberapa menit tanpa khawatir ia melihat dan merasakan keberadaanku.
Karena itulah, sekarang aku berusaha untuk mencoba menyerang momon yang sedari tadi mengawasiku.
Kuberlari menuju ke arah momon yang ukurannya ternyata melebihi besarnya momon gajah.
Perkiraanku hampir benar, momon yang ada di hadapanku bukanlah momon biasa, melainkan ia adalah boss momon[2].
“Tiger” itulah nama jenis momon ini, karena ia adalah boss momon, maka bentuk fisik dan tenaganya pun lima kali lebih besar dan kuat dari pada momon tiger biasa.
Namun, ini tidaklah sangat menakutkan bagiku. Aku yang memiliki gelar master ini telah lama belajar di Jayakarsa dan bertarung dengan berbagai jenis momon.
Bahkan, boss momon yang pernah aku hadapi lebih mengerikan dari boss momon tiger yang menyedihkan ini.
“Kewaspadaan adalah hal yang utama, dan aku tak suka meremehkan musuh yang akan kuhadapi. Skill Fog Knife saja adalah sebuah penghargaan yang besar untukmu,” kataku setelah menikam boss momon tiger itu.
Tiger tersebut tanpa ada perlawanan dan gerakan sedikit pun telah terkapar mati dan memunculkan ceceran item.
“Huh, sampai sekarang belum ada yang bisa memuaskanku. Andai aku telah melewati master atau terlepas dari tugas yang merepotkan ini. mungkin aku akan lebih bersenang-senang lagi tanpa ada yang perlu disembunyikan.”
Aku yang sedang mengambil beberapa item berguna dan banyak yang kubuang. Tak terpikirkan olehku untuk memberikan beberapa item yang bisa saja berguna untuk yang lainnya atau dapat dijual.
Setelah itu aku kembali melanjutkan perjalanan. Kali ini, aku berjalan santai dengan siulan penghibur yang kulantunkan dalam celah bibirku.
...~Dayshi POV~...
Nyenyak tertidur pulas walau serangga kecil beberapa kali mencubitku untuk membangunkanku, tetapi pada akhirnya aku terbangun karena cubitan Raisa.
“Hei bodoh, cepat bangun. Apakah Dayshi ingin ditendang?”
“Aduh, Raisa tambah garang aja nih,” keluhku sembari bangkit berdiri.
“A, apa?!”
“tidak, tidak. Tidak ada apa-apa.”
Buagh...
Entah sebab apa, Mirai melompat ke arah kami dengan kedua tangannya yang direnggangkan mengenai leher kami hingga terjatuh. Kami terbatuk-batuk dibuatnya.
“Apa-apa a ....”
Raisa yang belum menyelesaikan kalimatnya seketika dikejutkan oleh kuku tajam yang keluar tepat di atasnya.
Pasti Mirai menggunakan kemampuan mata fucturiesisnya. Andai tadi Mirai tak mendorong kami, pasti salah seorang di antara aku dan Raisa sudah terkena sayatan tajam dari kuku tersebut.
“Momon agresif pemangsa, Tiger!” seru Raisa.
“Hei hei, apa-apaan status yang ia miliki!” seruku juga melihat status dari tiger itu.
Tertera pada status tiger itu memiliki level yang melebihi levelku. Dilihat dari bentuk fisiknya, tiger tersebut memiliki kecepatan berlari yang hampir sama dengan kendaraan motor yang ada di real world.
Belum lagi di bar statusnya, Tiger tersebut memiliki HP 1500 dan MP 1000. Dan, kini para Tiger itu dengan kakinya yang kuat, mulai melompat menerjang kami kembali.
"[Mana Ampliefer] level 1"
Aku mengeluarkan skill sebagai respon cepatku. Rumus sisi kali sisi dari persegi kuatasi secepat mungkin, sehingga perisai yang kubuat pun menjadi lebih mudah untuk dihancurkan dalam satu kali serangan dari sang tiger. Beberapa meter aku juga terdorong karenanya.
“Mirai, cepat gunakan mata fucturiesismu agar kami dapat mengetahui pergerakan dari sang tiger!” seruku sembari meloncat mengeluarkan skill mana ampliefer dan menahan serangan kedua dari tiger ke arah Raisa.
Sial, jika aku terus seperti ini aku hanya akan terdorong jauh dan harus melompat kembali menahan serangan tiger yang mengincar rekanku yang lain. ini hanya membuatku kewalahan dan pasti akan berakhir dengan buruk.
Duar...
Seketika momon agresif itu meledak hancur sejadi-jadinya. Darah dari momon itu menguap kencang bersamaan dengan bau dagingnya yang hangus lalu muncullah item yang berjatuhan. Yap, para Tiger berubah menjadi ceceran item.
"A,apa-apaan ini?"
...°°°°...
Sekedar informasi
Efek Silence, meredam suara sehingga tak dapat didengar.
Boss Momon, Boss di antara para momon yang lain. Memiliki kekuatan yang lebih kuat dari momon biasa. Biasanya muncul ketika momon-momon biasa dihabisi dengan jumlah yang banyak, ada juga yang muncul karena berada di lokas tempat Boss momon itu apalagi Boss momon yang sensitif.