My Power Of Math Fantasies

My Power Of Math Fantasies
5.9 Keuletan Mirai (2)



*Wussshh ... Syat.


Tak dapat bergerak. Vyno seketika tertebas sesuatu yang tajam, bahkan zirah baja yang ia pakai seolah tidak berguna. Seluruh tumbuhan Vyno yang menjalar seketika jatuh ke permukaan tanah, semuanya tertebas.


"A, apa yang terjadi?!." Vyno terkejut.


Tumbuhan yang merambat kini keluar lagi dari tangan Vyno. Ia mengikat seluruh tubuhnya dan menjadikan tumbuhan merambat itu sebagai zirah yang baru.


Namun sayang, tindakan itu sia-sia. Mirai menerjang Vyno dengan kecepatannya yang tinggi. Dengan arah yang terus berganti-ganti Mirai terus menyerangnya.


HP Vyno yang lima puluh ribu kini terus berkurang 3.278 per serangan Mirai. Pemuda berambut merah itu hanya bisa diam menerima serangan bertubi-tubi, manik matanya yang juga berwarna merah ruby cuma dapat dilebarkan, sedangkan bibirnya memberikan ukiran senyum seolah ia menikmati serangan itu.


"Terus, serang aku terus. Hahaha. Wah wah wah, ini luar biasa!" seru Vyno sembari melebarkan kedua tangannya.


"Kamu sepertinya sudah tidak waras," ucap Mirai sambil menghentikan serangannya saat HP Vyno telah berada di 47% dari HP asli yang ia miliki. Mirai memposisikan tangan kanannya ke dekat dada, jari jemarinya dirapatkan lurus. Mana berwarna biru muda terlihat dengan lantang, jelas itu menandai betapa tajam dan kuatnya mana tersebut.


"Wah wah wah, kenapa berhenti. Sudah capek?" tanya Vyno dengan memperlihatkan deretan gigi gerahamnya.


Mirai sendiri hanya memperlihatkan iris birunya yang dingin dan tajam. Dia sama sekali tak peduli dengan health Point musuhnya yang terus kembali pulih setiap sepuluh detiknya.


Pikiran Mirai hanya dipenuhi amarah. Ia teringat akan perasaan senangnya saat pertama kali dianggap sebagai seorang teman. Dan, kini orang yang menganggapnya sebagai teman bahkan rekan telah terkapar tak sadarkan diri meski health point yang dia miliki telah terisi penuh.


Gadis bersuraikan hitam itu kembali merenungi akan masa-masa buruknya pascaperang perebutan wilayah yang memanas, tepat setelah klannya lenyap dari muka dunia ini.


Dia yang selamat dari pembantaian si Raja Gila, dulu tak dapat melakukan apapun selain menangis mendengarkan berita di mana klannya hancur.


sejak saat itu rumor hangat pun mulai menyebar, rumor yang mengatakan orang yang selamat terbantai akan terus dikejar, dan barang siapa yang melindunginya maka dia akan dibunuh bersama dengan tempat yang ditinggalinya.


Jelas sejak saat itu, Mirai pun menjadi sasaran pengejaran si Raja Gila, entah utusan yang ia kirim selalu berbeda-beda. Tapi yang paling buruknya adalah ia tak segan untuk menghabisi seluruh kota sampai ke titik penghabisan.


Mungkin sebab inilah orang-orang tak berani dengannya, bahkan kalau bisa mereka ingin membunuh si Mirai agar diri mereka merasa aman, dan takkan lagi ada sebuah bencana. Mengingat akhir-akhir ini kerajaan-kerajaan ras human juga mengalami masalah yang rumit.


Ciri khas—klan Fuctur yaitu iris biru langit dengan rambut hitam pekat—yang telah beredar pun membuat ia semakin tak dapat bergerak. Ya, itu karena ia tak hanya diburu dari luar, tetapi dari dalam pun menjadi ancaman.


Kembali, Mirai mengingat akan pembicaraan di hutan dekat tebing yang menjulang. Di mana Mirai saat itu berpikir untuk pasrah akan hidupnya. Namun, lagi-lagi ia diselamatkan, bahkan mereka menumbuhkan jalan di antara jalan yang berliku.


"Aku sudah tak memiliki tempat lagi di dunia ini. Pada akhirnya orang yang berada di dekatku akan terus terancam kematian. Aku tahu ini, tapi mereka terlalu banyak berbicara ...."


Mirai kemudian terdiam sejenak. Sebuah suara terlintas di benak Mirai.


"Jika kau tak memiliki tujuan, ikutlah dengan kami. Dan, jika kau dendam kepada si Raja Gila, tetaplah ikut dengan kami."


Mirai tetap bergeming mendengarkannya, hingga suara lain ikut terngiang.


"Kamu sekarang adalah rekan kami. Dan, kami sekarang adalah teman kamu. Jadi, tak usah khawatir dengan persoalan si Raja Gila. Karena cepat atau lambat kita juga akan menghadapinya, meski kamu sebelumnya tak ada. Kita juga pasti akan melawan si Raja Gila. Untuk sekarang tenangkanlah dirimu."


Kali ini suara itu membuat Mirai kembali ke kesadarannya. Tangannya masih bersiap siaga untuk memisahkan sesuatu. Aliran mana biru yang tadinya hanya sepanjang kuku terjaga, kini memanjang layaknya memegang sebuah pedang pendek.


"Teman .... Bodo lah sama si Raja Gila. JUSTRU PERASAAN SEPERTI INILAH YANG PALING AKU TAKUT KAN!" gumam Mirai dan berseru di akhir kalimatnya. Seperti perkataannya, ia bukan takut kepada si Raja Gila, ia juga tak takut akan kematian yang terus akan menghampirinya.


Akan tetapi yang paling Mirai takutkan ialah memiliki perasaan bahagia terhadap orang lain. Namun berakhir penderitaan bersalah saat orang yang bersamanya akan mati begitu saja di hadapannya. Hingga pada akhirnya terlarut dalam perasaan dendam.


Bola mata Mirai yang sedari tadinya hanya tatapan dingin, kini berubah menjadi lototan setan. Menakutkan dan terasa akan diteror. Sesaat setelah melotot, Mirai tampak menggerakkan tangannya, lalu ....


*Bush...


Hilang, Mirai dalam sekejap hilang dari pandangan Vyno dan saat Vyno sadar melihat Mirai telah berada di belakangnya.


Zirah berlapiskan baja dan rambatan Ivy kuning, seketika hancur menjadi potongan-potongan kecil, darah si pemilik ikut bersimbah keluar hingga pada akhirnya HP yang telah sampai 50% seketika jatuh ke 11% dan terus menurun seiring ia kehilangan cairan merah kental.


*Bruk


Vyno ambruk begitu saja, bola matanya menjadi berwarna putih dan raut wajahnya menjadi begitu pucat. Sungguh ia tak percaya dirinya dikalahkan dalam serangan sekejap mata.


"Meski kamu terus merambat, pohon yang telah tumbuh tinggi takkan merasakan apapun dari rambatanmu itu," ucap Mirai kepada Vyno yang setelah itu Mirai kembali berlari ke arah Raisa.


Mirai yang melihat itu lantas duduk di samping Raisa. Ia kemudian meletakkan tangannya di atas tangan Raisa, jari tangan Mirai juga menyelipi jari-jari kecil Raisa.


"Maafkan aku," ucap Mirai sembari mengangkat pergelangan tangan Raisa ke arah dahinya, Mirai menunduk dan ia sedikit mengeluarkan air matanya. Mirai merasa bersalah akan apa yang di alami orang yang menganggapnya sebagai teman.


"MIRAI!!!" Terdengar pekikan suara seorang pemuda yang tak asing.


*Jleb


...➕➖✖️➗...


Kembali ke beberapa menit yang lalu....


*Blubub blubub


Bunyi Gelembung udara dari dalam air keluar mencari kawanannya. Udara dari dalam air menjadi bertambah dan seolah ada yang membuatnya mendidih. Sebuah siluet samar perlahan membesar dan naik ke permukaan air.


Recikan pun terhambur, benih-benih air yang terkena sinar matahari membiaskan cahayanya menjadi berwarna-warni. Sosok yang keluar kemudian jatuh menapakkan kaki di tanah penuh dengan rerumputan hijau.


Kala belum memahami, dari jauh muncullah dua ekor binatang buas yang besarnya seperti gajah. Sosok perempuan berkutang loreng terlihat duduk di atas kulit yang tebal dengan warnanya yang serupa pada penutup dada.


Alih-alih sang pemijak berlari mendekati sosok yang mendekatinya. Perselisihan pun kini akan kembali terjadi tanpa ada aba-aba dari salah satu pihak yang mengetahui.


...~POV musuh~...


Manusia itu makhluk yang lemah, tak jarang duri sekecil kutu pun akan melukai kulitnya. Bantingan satu meterpun akan membuatnya sesak 'tuk bernapas.


Maafkanlah aku wahai manusia. Aku memang harus memutuskan rantai makananmu pada hari ini. Kau sepertinya bukanlah seorang calon yang baik.


"Cari dia!" Titahku kepada macan yang kududuki di atas punggungnya.


Lawan tadi sepertinya masih lumayan lemah. Namun tetap saja tak dapat dimungkiri bahwa dia telah membunuh teman-teman manisku. Ya, pada akhirnya juga teman-teman manisku akan kembali .... Sekarang coba aku lihat bagaimana keadaan mayatnya saat ini.


Sang Tiger mendengus mencari bau dari anak berjubah biru. Belum sampai sedetik, ia langsung berlari cepat hingga mengharuskanku memegang erat kulitnya yang agak licin karena tersentak oleh guncangannya yang tiba-tiba.


Siluet hitam tampak samar-samar dari jauh, tepat di tepi sungai yang luas. Sepertinya anak itu masih hidup .... Bagus, ini menarik.


"Eh." Anak itu berlari ke sini. Cari mati dia.


Aku lantas menyipitkan mata lebih dari pada sebelumnya. Dari yang sebelumnya karena terpaan angin kencang, kini berubah menjadi berfokus dalam satu titik, titik di mana si target berlari berlawanan arah denganku.


Anak itu benar-benar cari mati, apa dia tidak belajar dari pertarungan sebelumnya. Tidak, sepertinya ada yang berbeda dengannya.


"A, apa?!"


Tidak dapat dipercaya, anak tersebut sepertinya memiliki itu. Ini tidak salah lagi, hawa keberadaan, sikap, dan aliran mananya benar-benar berubah drastis dari yang sebelumnya.


Kalau dia sungguh orang luar, dapat dipastikan kekuatan yang ia keluarkan sekarang akan sangat berkontradiktif dari sebelumnya.


Dengan tak sadar aku menjadi berkeringat dingin, ukiran senyum canggung mulai terpasang secara tak sadar. Hawa dingin dari angin yang kulawan mulai membuatku merasa sedikit sesak.


"Tidak, mana mungkin anak itu memilikinya. SERANG TIGER!" seruku yang masih tak ingin mengakuinya. Baiklah, aku harus mengetesnya lebih dalam. Maafkan aku, jika aku membunuhmu lebih lanjut la—


*Graaaaarr


Auman keras layaknya rintihan menggema di langit-langit. Bersamaan dengan auman itu, tubuh dari kepala hingga hampir ke ujung ekor terpisah menjadi dua bagian. Benda seperti kaca transparan biru terlihat terlapisi darah, ketipisan kaca itu menyerupai tebalnya silet yang bahkan irisannya masuk kedalam tanah.


Si-si-sialan itu. Boss tiger yang butuh jangka waktu lama untuk kubuat, lagi-lagi mati di tangannya. Sebenarnya sihir apa yang ia buat? Tak hanya dapat menahan, tetapi benda itu juga dapat memotong dengan rapi sekali.


"SIAPA KAMU SEBENARNYA!" Aku, Fregia dari ras Demi-human takkan percaya kalah oleh cecunguk kecil yang berubah menjadi monster. Apa dia benar-benar manusia?