My Power Of Math Fantasies

My Power Of Math Fantasies
7.2 Bersama dengan Mio.



Kelopak mataku terasa berat, meski begitu aku ingin membukanya. Samar-samar aku melihat cahaya oranye yang menyala redup-redup.


"Gimana?"


Siluet hitam yang tingginya hanya beda berapa senti dariku sedang menghalangi sorot cahaya itu. Pandanganku mulai jelas. Ternyata dia kakak yang tadi bersamaku.


Aku kembali teringat kejadian sebelumnya.


"Kakak tidak apa-apa," ucapku. Tentu saja aku langsung cemas mengingat kakak itu terkena serangan telak dari Boss momon bernama White forest rabbit.


"Hm," sahutnya mengangguk. Aku baru teringat, biasanya orang yang memiliiki level yang sama dengan musuhnya, maka pertahanan maupun kekuatannya juga berbanding sama. Apalagi masih dalam tingkatan beginner hingga warrior, level di sekitaran itu berpengaruh besar akan kekuatan yang dimiliki.


"Sekarang, ayo kita pulang," ucapnya lagi tepat di hadapanku yang masih terbaring.


Aku beranjak duduk dengan kepalaku yang masih menatap ke bawah. Persoalan tadi, aku benar-benar membebani kakak. Aku merasa menyesal mengikuti egoku sendiri.


"Anu kak. Ma-maaf," ucapku terbata-bata.


"Tidak usah minta maaf, itu salahku," balasnya. Entah mengapa suaranya yang terdengar lebih menyesal dari pada aku. Tangan kanannya yang bergerak memegang tangan kirinya terlihat ditekan dan gemetar.


Aku menengadahkan wajah dan melihat ia menggigit bibirnya sembari menatap ke arah lain dengan air mata yang berlinang. Jelas saja aku tercengang melebarkan manik mata coklatku selebar-lebarnya.


"Mengapa kakak yang merasa bersalah, bukannya akulah yang membebani kakak. Akulah yang tadi memaksa untuk ikut. Ini salahku. Coba saja tadi aku tidak ikut. Pasti kakak tidak akan kena serang sama si kelinci itu," ujarku dengan penuh penyesalan, salah satu tanganku memegang erat kaos putih yang kukenakan. Air mataku yang bercucuran keluar menjadi bukti kekesalanku akan kebebalan diriku sendiri.


Kakak itu memegang bahuku. Membuat aku menengadahkan wajah lagi setelah sebelumnya aku meratap ke bawah.


"Aku bilang itu salahku," ucapnya. Dia membuatku bergidik ngeri melihat wajahnya yang begitu serius seakan marah, ia menatapku dengan matanya yang merah.


"Ke-kenapa kak?" tanyaku sekali lagi. Ia membuatku penasaran, mengapa ia sebersikeras begitu mengatakan bahwa itu adalah salahnya.


"Seharusnya tadi aku tak membiarkanmu ikut—"


"Bukannya aku yang memaksa kakak—"


"Tidak. Jika aku tak membiarkanmu, mengapa tadi aku tak langsung meninggalkanmu saja setelah menunjukkan jalan ke desa. Kamu tahu, tadi aku merasa senang saat kamu mengatakan ingin ikut denganku. Bahkan aku sedikit sengaja menyeimbangkan dengan gerak cepat jalanmu," jelasnya dengan tangannya yang semakin erat memegang bahuku.


Aku sedikit mendesah karena merasa kesakitan. Kakak yang telah lepas berkata dan mendengar ******* kecilku, langsung menyontakkan tangannya jauh dariku.


"Kamu tahu, aku ini pembawa kesialan. Tahu tentang anggrek kalajengking kan? Itu adalah kekuatanku."


Anggrek kalajengking? Anggrek yang dikatakan sebagai pembawa kesialan. Orang-orang bilang kalau orang yang merawat bunga tersebut maka akan tertimpa kesialan dan membuat keluarga dan orang yang berada di dekat orang itu akan menjadi tak harmonis.


"Itu cuma mitos kak. Aku tak percaya dengan itu!" seruku dengan lantang. Tanpa sadar aku membuat kakak itu sedikit tersenyum. Jujur baru kali ini aku melihatnya tersenyum selama aku bertemu dengannya. Aku juga merasa senang karena hal itu.


"Kalau ini bukan mitos, terus kenapa kekuatanku malah banyak yang berhubungan dengan kesialan juga, haah?" katanya dengan gemas sembari tangannya jahil menyentil dahiku.


"Ta-tapi kak. Kata kakek ku skill dari sihir yang kita buat itu adalah bentuk dari pemikiran dan imajinasi kita sendiri. Jadi bisa saja pikiran kakak terpengaruh dengan mitos itu dan kekuatan yang kakak buat pun jadi banyak yang berkaitan dengan mitos itu kan," cakapku sambil mengelus-elu dahi yang mungkin sudah memerah.


Kakak itu terdiam sejenak. Tak lama kemudian ia berjalan ke sampingku lalu duduk dengan manisnya.


"Hangatkan tubuhmu dulu sebentar. Setelah itu baru kita pulang." Kakak itu menggosok-gosok antartangannya, kemudian menghadapkan kedua tangannya di hadapan api sang penghangat.


Respons, aku juga ikut duduk dan melakukan gerakan yang sama dengan kakak.


"Reynald kak. Oh iya, nama kakak juga siapa!?" balas ku menoleh kepadanya.


Dengan senyum yang tulus, ia mengelus kepalaku dan berkata, "Mio Orchadiellion, panggil aku dengan sebutan Mio."


Aku sedikit terkejut mendengar nama itu. Pasalnya ada yang seperti tidak asing dari nama tersebut.


"Uwaaah, jadi kak Mio dari keluarga Orchadiellion. Satu-satunya keluarga bangsawan yang ada di desa Orchid sekaligus menjadi pemimpin dari desaku itu kan?"


Raut kakak terlihat sedikit memudar setelah ia kembali menatap api oranye. Namun, bagiku yang terkagum-kagum sudah cukup membuat dirinya terlihat begitu bercahaya di mataku.


"Ya, begitulah."


"Kakak ini hebat ya. Tapi, kakak tidak diomelin kah berkeliaran di malam hari begini, terus sampai ke hutan-hutan lagi?"


Tanyaku, namun kak Mio hanya menjawabnya dengan tawa kecil yang hampir tak terdengar. Jika saja bukan dari ekspresi tawa canggungnya yang terlihat, mungkin aku tidak tahu jika ia manyahut pertanyaanku.


"Baiklah, ayo kita pulang," ujarnya yang kemudian berdiri lalu menjulurkan tangannya kepadaku. Dengan senang hati pun aku meraih tangannya kemudian kami beranjak pergi dari hutan ini, tak lupa juga kami mematikan api yang kak Mio buat. Salah satu kayu dari sumber api itu juga dipakai menjadi obor penerang pandangan.


Kak Mio juga mengeluarkan satu sarung tangan, yang katanya berguna untuk menyalurkan mana alam ke dalam sebuah benda yang ia genggam. Meski kata kak Mio itu tak terlalu kuat dalam penyaluran mananya, tetapi sarung tangan itu sangat berguna dalam mempertahankan nyala api pada obor buatan asal kami.


Di situ aku juga memperhatikan status level kak Mio. Ia sudah naik ke tingkat warrior, dan itu membuat aku menjadi banyak bertanya serta banyak memberikan puji-pujian kepadanya.


Yeah, level 31 di umur 12 tahun itu sangatlah epik di pandanganku. Namun, aku juga tak terlalu heran juga sih, sebab kak Mio adalah seorang bangsawan. Di mana seorang bangsawan itu memiliki mana yang lebih banyak dari orang biasa.


...➕➖✖️➗...


Sampailah kami di dekat desa Orchid, hanya beberapa langkah saja kami akan memijak desa itu.


"Kak, besok-besok bisa kan aku ikut dengan kak Mio," ujarku dengan penuh semangat. Tangan kami yang bergandengan, telah terlepas. Di situ kak Mio hanya tersenyum dengan matanya yang ikut tertutup, ia tak menimpali apa yang aku tanyakan.


Namun setelah kami menginjak Desa Orchid dan pandanganku terlepas dari dirinya. Kak Mio, seketika menghilang tanpa sepengetahuanku.


Bahkan aku yang celingak-celinguk mencarinya, tak dapat melihat keberadaannya. Malam itu dinginnya angin lebih menusuk dari yang biasanya.


Dini hari mendekati subuh, itulah waktu tidurku saat sampai di rumah. Bertanya tentang bagaimana aku masuk ke rumah? Yah, pastinya kedua orang tuaku tak mengunci pintunya, karena ia juga sedang menunggu kedatanganku.


Tidurku cukup nyenyak. Pagi kulintasi, dan siang tengah hari lah aku bangun. Waktu itu perasaanku begitu hampa, aku masih terbawa suasana dengan kejadian tadi malam. Hingga saat pendengaranku berfungsi jelas, suara keributan terdengar di luar rumah.


Aku keluar, dan kulihat banyak keramaian orang di luar rumah begitu riuh. Dan terkejutku, mereka semua tiba-tiba tak sadarkan diri terbaring di atas tanah.


Dua sosok gadis kecil pun kulihat sedang berlarian, salah satu dari gadis kecil itu terjatuh. Dan salah satunya lagi terus berlari, tak menggubriskan apa yang ada di sekitarnya.


Dalam pijakan gadis kecil yang terus berlari itu. Muncul bunga-bunga anggrek ungu yang terus menyebar ke seluruh bagian desa ini. Kala itu, ketika bunganya meraja lela, semua bagian yang ditumbuhinya menjadi kering, rapuh, layu, hingga warna desa yang semulanya hijau berubah menjadi warna coklat kuning yang khas dengan musim bencana kekeringan.


Tak lama dari itu juga, ketika sosok gadis itu semakin jauh dan terus mengecil dari pandangan. Aku menjadi lemas tak bertenaga, aliran mana dari tubuhku pun juga tak dapat kurasakan.


Dan, aku pun jatuh, semuanya menjadi begitu gelap. Aku bilang itu adalah kematian, tetapi anehnya tak ada rasa sakit yang aku alami selama aku tak sadarkan diri.


Suara lemah gemulai juga kudengar pascapingsan, suara itu hanya mengatakan ucapan "maaf" dengan begitu tertekan dan penuh kesedihan di dalamnya. Suara itu, aku mengenalnya. Dia adalah kakak yang aku temui semalam. Kak Mio Orchadiallion. Orang yang menyebabkan desa yang terkenal akan indah harum anggreknya, kini terkenal desa yang mati karena anggreknya.