
“huff, itu mengejutkanku,” ucap Raisa sembari memegang tongkatnya dan mengelus keringat di dahinya.
Benar saja, ternyata ledakan itu memang berasal dari skill H-BOMB Raisa.
“Apa, secepat ini kah?!” aku tak terima kenyataan bahwa Raisa mengalahkan tiger tidak sampai dalam satu detik. padahal aku juga menginginkan pertarungan yang seru.
“Ini belum berakhir!” Mirai berseru sembari bersikap waspada. “Di sekitar kita masih banyak momon tiger yang mengamati. Aku tak tahu berapa jumlah pastinya, yang jelas sebentar lagi ia akan meloncat menyerang Dayshi dari arah belakang.”
Seketika aku kembali mengawasi punggung belakangku sendiri, kukeluarkan item short swordku dengan mengucapkan [storage].
Beberapa kali tegukan air liur jatuh ke dalam tenggorokanku dan detak jentangku terdengar jelas ke dalam telingaku.
Jujur saja selama ini aku tak pernah bertarung dengan momon agresif yang mengancam nyawa makhluk hidup lain.
sehingga hal yang kurasakan pada tubuhku adalah kengerian hingga getaran yang sulit kukendalikan.
Srrk
Muncullah tiger tersebut mengincar bagian kepalaku. Mana ampliefer yang baru saja kupersiapkan, menahan serangan tiger tersebut dan hancur lalu menghilang.
Aku terdorong dan terjatuh tidur ke arah belakang. Tak ingin membuang kesempatan pada saat aku menahan tadi, ayunan pedangku mendarat menusuk leher momon agresif pemangsa itu.
Ceceran darah mengalir ke arah wajahku, lalu aku mendorong mayat tiger yang berada di atas tubuhku.
Tak lama kemudian, Mirai memberi tahukan kami dengan cepat bahwa lima tiger akan muncul menyerang dari bawah dan atas, kali ini ia mengincar Raisa dan Mirai. Dan, satu mengincarku lagi.
“Miris, skill H-BOMB Raisa memiliki jeda waktu sehingga Raisa tak dapat mengeluarkan skill secara berkala terus menerus,” ucap Raisa, ia masih terlihat tenang meski dalam keadaan terdesak, satu macan menyerang dari atas dan salah satunya lagi menyerang dari bawah.
Aku takjub sesaat ia dapat menghindar ke arah samping dari titik buta yang tak dapat lagi diserang oleh tiger untuk yang kedua kalinya. Kulirik memperhatikan Mirai, ia juga dengan lincahnya menghindari tiger tersebut.
Sambil terengah-engah sedikit Mirai menggumamkan sesuatu yang jelas terdengar di telingaku.
"Bagaimana ini ... Mataku, takkan berguna ... dalam keadaan seperti ini."
Baru saja ku ingat, bahwa Mirai hanya bisa melihat masa depan dengan melihat makhluk hidup terkecuali makhluk yang tak bergerak. Dan, target yang dituju hanya bisa satu.
Tentu lah ia tak dapat menggunakan kemampuan mata fucturiesisnya dalam kondisi yang terdesak.
Percuma Mirai menggunakankannya kalau hanya penglihatan pergerakan masa depan satu tiger yang terlihat, sedangkan tiger yang satu menyerang membuat masa depannya berakhir terkoyak.
Dan, lagi mana mungkin ia menggunakan mata fucturiesisnya untuk melihatku dengan Raisa. Yang ada cuma masa depan aku dengan Raisalah yang terlihat.
Lalu, aku sendiri yang terlalu banyak memperhatikan ini bagaimana?
Pikirku memperhatikan rekan itu hanyalah sekejap. Tak sampai satu menit lebih aku memperhatikanya berkat skill pasifku yaitu skill Hitung. Analis dan pengamatanku meningkat karenanya.
Graurr...
Auman tiger terdengar jelas dari bawah kakiku.
Sial, aku lupa bangkit untuk berdiri. Berapa sisa mana ku saat ini?Tak ada cukup waktu untuk melihat bar statusku. Sia**n tiger itu telah terbang di atasku.
"[Mana ampliefer] level 1!!!"
Aku menyerukan skillku itu. Suaraku terasa serak hingga getaran kerongkongan menggeletikku.
Ah, habis sudah. Manaku ludes nih. Aku sama sekali tak bisa merasakan mana sekarang, tapi jangan bilang aku bakal nyerah.
"Dan lagi ini si tiger ..."
Pranggg ... Crcttzzz.
Bersamaan dengan perisai mana amplieferku yang pecah lalu menghilang.
"... Pinterrr banget sih!!!"
Jleb, Aku menusuk leher tiger itu seperti tiger yang sebelumnya menyerangku. HP 1500 terus berkurang hingga menjadi angka nol.
Ia mengaum kesakitan setelah pedangku berhasil menembus keluar dari dalam lehernya.
Tak sampai di situ, aku memegang erat kepala Bagian dagu tiger dengan salah satu tangan kiriku.
Sedangkan tangan kananku yang memegang pedang kutarik dengan sentakan kasar hingga mengiris dagingnya, memisahkan antara tubuh dan kepalanya.
Kedua kelopak mataku sendiri sengaja kututup karena darah dari leher tiger menyembur keluar menutupi kulit wajahku.
Bau amis dari darah tiger seketika memenuhi indra penciumanku. Sesaat setelah itu muncullah drop item tepat di mana si makhluk berbulu tak tebal itu kubunuh.
"Makanya jangan nyerang dari atas," bengisku setelah bangkit berdiri.
Selamaaat. Aku selamaaat.
Perasaan lega karena berhasil mempertahankan diri menguasaiku. Aku tersenyum bangga meski napasku terengah-engah.
Bagaimana dengan mereka?
Aku menoleh dengan pelan ke arah suara gemuruh tanah berdebu itu.
Apa yang terjadi? Aku tak bisa melihat Raisa dengan Mirai. Aku mulai cemas.
Ah, mana mungkin seseorang yang melebihi ku kalah begitu saja.
"Raisa, Mirai?"
Siluet kedua orang tersebut mulai terlihat di kepulan debu tanah yang menipis.
Loh, itu dua tigernya kenapa pada diam. Seluruh tubuhnya seperti berada di dalam gelembung. Apa ini akibat skill
"Ada jalan!" seru Mirai keluar dari kepulan debu itu yang mulai menghilang.
"Adakah!?" Raisa yang kulihat memegang tongkat Leaf Greennya lantas bergegas pergi dari tempatnya.
Aku tak mengerti akan tindakan mereka.
"Da Da Dayshi?! Kamu tidak apa-apa?" tanya Raisa yang kemudian terkindap-kindap.
"Cih, tidak ada waktu lagi. Ayo bergegas lari dari tempat ini," lanjutnya segera berlari bersama dengan Mirai.
Aku yang tak mengerti suasana terpaksa harus ikut berlari. Apa yang sebenarnya terjadi?
Brsk, wush...
Apa?! Seekor, bukan lebih dari pada lima ekor momon tiger muncul dengan levelnya yang semakin meningkat pula.
Ada apa ini, bukannya tadi tiger itu berlevel sekitar 25 sampai 30. Kenapa sekarang malah menjadi 30-35.
Kami memberhentikan langkah lari dan terus terengah-engah.
"Huff ..." Raisa menghembuskan napas lalu kemba menarik napas dengan panjang.
"[H-BOM] level 2"
DUARR!!
Dengan ayunan dari tongkatnya, Raisa meluncurkan bola H-BOMB yang menerjang para tiger itu hingga meledak dan hancur sejadi-jadinya. Kali ini cahaya putih dari bom itu benar-benar hampir membutai mata.
"Ayo cepat!" seru Raisa kembali akan berlari dengan menyipitkan mata.
"Ti, tidak." Mirai terkejut sesaat melihat Raisa, ia pasti menggunakan mata fucturiesisnya.
Glek, kali ini bukan lagi sepuluh ekor, tetapi puluhan bahkan lebih ratusan ekor yang datang mengelilingi dan menutupi semua arah pelarian kami.
"Tak ada celah," ucap Raisa.
Apa coba makanannya hoi, apakah cuma kita yang jadi makanannya hari ini?
Ah, Raisa, Mirai. Mereka berdua sudah tampak kelelahan sekali. Tunggu! Level Raisa sepertinya meningkat drastis. Apakah ini sebab para momon tiger itu.
Sekarang berapa levelku? Eh notifnya gak nyalakah ini.
"Yui, berapa levelku sekarang?"
"level anda sekarang telah mencapai level 20."
"Hah? Apa?!"
"Level anda sek...."
"udah udah udah, aku dah tau."
Level dua puluh, bukannya waktu menyerang goblin aku masih berlevel tujuh. Sejak kapan aku berlevel dua puluh?
"Sejak tiga puluh menit yang lalu."
Ooh sejak aku menyerang tiger tadi. Terus setelah aku menyerang para goblin berapa levelku?
"lima belas."
"lima belas..."
Wush...
Baru saja salah satu tiger meloncat tepat di depan wajahku.
"Hampir saja aku terkena cakarannya."
Aku tak boleh melamun. Yui nyalakan notifikasinya secara terus menerus.
"Baik. Apa anda butuh data secara langsung."
"Data secara langsung? Apa maksudnya?" kini aku bersikap siap siaga.
Boom...
Cahaya putih lagi-lagi menutupi pandangan, itu seperti kilatan, bunyi ledakannya pun juga semakin nyaring memeking ke telinga. Ledakan ini pastilah ulah Raisa. Ia membuat sebuah jalan besar terbuka dengan lebarnya.
"Bagus! Ayo cepat."
Keduanya kini berlari melewati jalan yang dibuka oleh Raisa sendiri.
Kalau seperti ini, bisa-bisa momon tiger itu akan terus mengejar kami. Kalau begitu, dengan terpaksa ....
"Pergilah duluan, biar aku yang menghadang para tiger ini."
"Jangan berlagak kau!" seru Raisa yang tampak kesal.
"Maaf, duluanlah." Aku melihat Raisa yang tampak panik dan masih terengah-engah.
"Kau!"
"Raisa, mana yang kamu gunakan untuk membuat H-BOMB sepertinya tidaklah sedikit. Pergilah duluan, percayakan ini kepadaku."
"Mirai, lihat dia," perintah Raisa.
Mirai mengangguk dan melihatku. Matanya kembali bersinar dengan warnanya yang biru langit.
"...."
Mirai tak berkata apa-apa. Ia tampak kebingungan.
Graur...
Lagi-lagi salah satu tiger menyerangku dan aku menghindari serangannya.
"aku tak yakin," ucap Mirai.
Raisa berdecak dan segera kembali berlari.
"Ayo Mirai, kau juga Dayshi."
Begitu ya, aku ternyata sangat lemah. Tidak bisa dipercaya.
Raisa, Mirai, dan aku yang terpaksa, akhirnya mundur melewati jalan yang dibuat Raisa. Perlahan jalan itu kembali ditutupi oleh para tiger.
Selang pada saat kami masih berlari kabur, sebuah notifikasi tampak terlihat, aku kemudian melihat notif tersebut.
...➕➖✖️➗...
[New Skill [keterampilan berpedang] level 1
Skill pasif ini terbentuk berkat latihan anda dalam menggunakan senjata pedang. Kini anda akan lebih leluasa dalam menggerakkan dan menyesuaikan tubuh anda dengan senjata pedang.
STR (+5) AGI (+3)
...➕➖✖️➗...
Perasaanku mulai tak nyaman. Aku pun tanpa sadar menyerukan nama Yui karena ingin mengatakan sesuatu.
Yui, otomatis. Kumohon lakukan saja secara langsung melalui pikiranku. Apa yang kupikirkan pada saat itu langsung lakukan saja. Tak ada yang namanya perintah dari mulutku bahkan hatiku oke.
".... Siap."
...➕➖✖️➗...
[Mengisi status secara otomatis]
[Skill Hitung terupgrade]
[Skill Hitung terupgrade]
[Skill Hitung terupgrade]
[Skill Hitung terupgrade]
[Skill Weak Point terupgrade]
[Skill Weak Point terupgrade]
[Quest Sampingan: Kalahkan Momon Tiger]
...➕➖✖️➗...
Boom!!
Raisa menyerang tiger yang muncul dari arah depan. Ini tidak ada habisnya. Raisa, Mirai ... kali ini biarkan aku berusaha.
...°°°°...
Sekedar informasi
*