My Power Of Math Fantasies

My Power Of Math Fantasies
10.1 Sang Prajurit



Seorang prajurit berdiri sendiri memimpin prajurit yang lain di depan. Dia adalah prajurit yang sangat loyal akan kerajaannya. Baginya rekan-rekan yang ada berjuang dengannya saat ini adalah orang-orang yang harus dia lindungi.


Apalagi jika bersangkutan paut dengan kerajaan yang sudah dia abdikan. Takkan mungkin dia akan menyerah serapuh kayu yang digregoti laron, jatuh pun habis, dimakan tak apa. Asalkan demi negerinya, demi kerajaan ini, dan demi orang-orang yang telah memberikannya tujuan hidup di dunia ini, dia rela berkorban meski itu salah.


Dup.... Dhuar...


Ledakan yang terjadi dihadapan prajurit tersebut, membuka kembali matanya saat sebelumnya ia hampir terjatuh.


Dilihatnya mayat pemberontak tersebut dengan mata sinis. Rasa kesal membuat dirinya murka, pertanyaan demi pertanyaan timbul dalam kegelisahan hatinya.


Dia tak mengetahui sebab pemberontakan ini. Mereka hanya disuruh waspada dan menjaga kawasan bawah tanah. Tak diduga muncul para pemberontak yang langsung menyerangnya. Tanpa alasan jelas dan tanpa pemberitahuan rinci dari atasan.


"Mengapa..."


Prajurit tersebut bergumam, ingin mempertanyakan secara langsung kepada para pemberontak. Namun, para pemborontak telah dikuasai oleh amarah yang mendidih dan menyerang secara frontal begitu saja.


Para prajurit lain berusaha bertahan dengan perisai yang ada dihadapannya. Pangkal pedang teras memukul pemberontak yang dilahap emosi.


"Siapa tadi yang menyerang?" ucap salah seorang prajurit yang tengah panik. Ia menoleh ke belakang mencari prajurit mage—prajurit yang menggunakan skill magic dengan serangan jarak jauh.


Banyaknya pemberontak yang menyerang bersamaan membuat dinding kokoh pertahanan prajurit menjadi kendor. Sehingga ada beberapa pemberontak yang berhasil masuk ke lini penyerangan mereka.


Prajurit yang sebelumnya menoleh ke belakang pun seketika dimakan oleh tajamnya mata pedang pemberontak. Membuat antara tubuh dan kepala prajurit tersebut harus terpisah.


Prajurit bertombak yang ada di lini terdepan seketika memanas. Para pemberontak yang sebelumnya menyerangnya dengan sia-sia harus terhempas jauh kehilangan nyawa. Serangan tombak tersebut memiliki radius dua meter ditambah dengan kekuatan otot sang pengguna yang dapat menghempaskan lawan lebih dari tiga orang.


Prajurit lain terkejut, kemudian akhirnya para pemberontak yang masuk ke lini penyerangan—tempat prajurit bersenjata—seketika dihabisi, tak membiarkan mereka masuk lebih dalam lagi.


"Mundur!" seru pimpinan pemberontak. Dia adalah Ares, pimpinan yang sebelumnya mengarahkan para pemberontak wilayah pinggiran kepada pimpinan utama mereka, Hoji.


Beberapa pemberontak yang bertahan di lini penyerangan prajurit kemudian mundur dengan tenaga yang hampir kewalahan. Pasalnya serangan tombak dan pedang mereka yang senada dan saling memperhatikan satu sama lain membuat tak ada celah masuk lebih untuk menerobos.


Prajurit bertombak yang memimpin di lini depan, mengarahkan tombaknya ke samping. Dia memerintahkan kepada rekannya untuk berhenti menyerang.


"Kenapa kalian memberontak?"


Keheningan tercipta sesaat. Para pemberontak sedikit mengatur napasnya.


"Bukannya sudah jelas, kami memberontak karena atasan kalian yang bertindak semena-mena?"


"Aku tidak mengerti apa maksudmu? Jangan bertele-tele, katakan dengan jelas."


"Hapus sistem kasta, kami butuh keadilan untuk wilayah pinggiran."


"Apa maksudmu? Sudah jelas di hukum kerajaan kita bahwasanya semua orang wajib tunduk kepada kekuasaan yang ada di atasnya. Wilayah pinggiran adalah wilayah tanpa kekuasaan, mereka adalah budak dan kumpulan orang yang melanggar aturan kerajaan. Sudah sepantasnya mereka mendapatkan perlakuan buruk agar tahu akan ganjarannya. Untuk apa lagi mereka butuh keadilan?"


Begitu pun dengan Ares, ia juga ikut naik darah. Meski perkataannya memang benar, tapi ada yang salah juga di dalamnya.


"Aku tidak setuju. Kalian hanyalah orang yang semena-mena yang menentukan yang mana orang bersalah. Tak menggubriskan apa kesalahan yang mereka perbuat, kesalahan kecil selalu menjadi besar untuk orang yang memiliki kekuasaan rendah apalagi di wilayah tanpa kuasa."


Ares membantah dengan tegas.


Sang prajurit itu menggenggam erat tombak miliknya. Selalu saja ada orang-orang yang sulit diatur. 'Kesalahan kecil selalu menjadi besar' memang itu benar adanya.


Perbuatan kecil selalu memiliki dampak yang besar, Begitu pun dengan kesalahan. Bagi prajurit tersebut hal inilah yang menjadi landasan dari hukum kerajaan ini. Dia yakin dengan itu.


"Terus kenapa? Kesalahan kecil itulah yang sering menjadi pemantik dari kesalahan besar. Jadi lebih baik di singkirkan segera mungkin."


"Inilah kenapa kita memberontak. Kalian sama sekali tak paham dengan apa yang aku katakan, apa yang kami keluhkan. Tiap perbuatan memang memiliki ganjarannya, tetapi jika ganjarannya tidak sepadan dengan apa yang diterimanya, itu sama saja bukan keadilan lagi namanya."


"Dasar aneh, bukannya sudah aku bilang. Bibit-bibit yang kotor harus segera disingkirkan sebelum mencemari apa yang ada di sekitarnya."


"Justru bibit yang kotor itulah yang harus dibersihkan agar menjadi bibit yang lebih baik," bantah kembali sang pemimpin pemberontak. Ares teguh dengan pemikirannya.


Sang prajurit membantah. Mana mungkin bisa. Yang kotor akan selamanya memiliki bekas kotor. Prajurit itu takkan bisa menerima dengan baik apa yang pemberontak itu katakan. Memang tak ada yang salah dari kerajaan ini, bagi dirinya.


Sudah menjadi dosa besar jika berpikir kekuasaan Kerajaan ini salah. Sepantasnya mereka harus di singkirkan. Diri dari seorang prajurit bekas dari turunan ayahnya—yang juga dulu adalah seorang prajurit ternama, membuat dirinya tak ingin berpikir yang tidak-tidak kepada kerajaan Kingdom of Flower.


Ia sangat terobsesi untuk menjadi orang yang seperti ayahnya. Dari kecil dia memang sering mendapatkan cerita dari seorang ayah, yang mana ayahnya selalu membanggakan dirinya menceritakan dirinya sebagai seorang prajurit.


"Abdikanlah seluruh hidupmu pada kerajaan ini. Karena kerajaan inilah derajat kita bisa berubah dan menjadi orang terpandang."


Kata-kata tersebut selalu terbayang di benak prajurit tersebut. Sudah tertanam jiwa loyalnya kepada kerajaan Kingdom of Flower sedari kecil. Tak tahu apakah itu benar atau salah, yang salah pun akan dibenarkannya.


"Memang kalian sudah terkena virus yang membuat kalian kotor. Ini sudah layak untuk kami singkirkan sebelum kalian membuat kerajaan ini rusak ...


Semuanya, SINGKIRKAN MEREKA!"


Seruan prajurit tersebut membangkitkan semangat prajurit yang lain. Tembakan-tembakan sihir dari lini penyerangan jarak jauh yang ada di baris belakang, terlontar bersamaan dengan jumlah yang banyak ke arah pemberontak.


Ledakan demi ledakan pun terjadi di bagian pemberontak, sampai-sampai ledakan yang terang benderang itu tak memperlihatkan lagi wujud para pemberontak. Silauan serta debu yang berterbanganlah yang menutupi mereka.


Prajurit bertombak kapak yang memimpin di depan kemudian maju diiringi dengan prajurit yang ada di belakangnya.


Ketika ledakan sihir tersebut telah berhenti. Asap serta debu mulai lenyap dalam kehampaan udara yang mencekik. Sosok pemberontak mulai terlihat samar-samar.


Kemudian terlihatlah sebuah dinding yang nampak seperti kaca. Di dalamnya ada para pemberontak tampak tidak kenapa-napa. Dinding tersebut berasal dari skill Dayshi. Skill yang memadatkan mana, MANA 3D-A CUBE.