
"Apa ini."
Kurasa Kesadaranku tadi benar-benar sudah menghilang.
Kenapa aku tak bisa mengendalikan seluruh tubuhku. Bahkan pandanganku pun terus kemana-mana tanpa aku kontrol sama sekali. Aku seperti orang yang hanya mengamati saja layaknya menonton Film. Aku seolah-olah merasakannya langsung dengan apa yang terjadi dengan fisikku.
Aku tampaknya berdiri dengan percaya diri. Aku melihat Riko yang tengah keletihan menghadapiku. Tubuhku kemudian tiba-tiba bergerak langsung menuju ke Riko.
Tampaknya Riko sudah mewaspadaiku. Ia telah bersiap menahan seranganku dari depan, tetapi tiba-tiba saja pandanganku berpindah tepat di belakang Riko.
Riko seolah sudah menebak tindakanku itu. Ia lantas segera membalikkan badan dan menyerangku menggunakan kaki. Tak sampai di situ ia terus menggunakan serangan-serangan frontal dari kakinya dengan beragam macam teknik.
Meski begitu, rupanya diriku ini ternya memiliki teknik-teknik lain juga. Bahkan mengeluarkan skill-skill yang sama sekali tak pernah aku ketahui.
Aku menahan serangan-serangan dari Riko. Kemudian menyerangnya kembali. Saat Riko berada cukup jauh dari serangan area pendekku. Aku kemudian melompat seakan akan menendang sebuah bola yang datang kepadaku.
Tendangan itu kemudian menghasilkan mana yang tajam dan menyayat apa yang ia tabrak. Permukaan tanah tersayat begitu satisfy, mana itu membelah si Raja Gila menjadi dua bagian.
Aku berseru dengan melihat diriku yang berhasil menyerang dia. Tetapi, tampaknya diriku terlihat bingung. Pandanganku kemana-mana, celangak-celinguk. Apakah diriku yang dikendalikan oleh orang lain ini tak percaya bahwa ia mengalah si Raja Gila itu.
"Yeaaah, bukan hal yang buruk!"
Lantunan suara nyaring yang begitu dekat di telingaku. Ia memegang kepalaku dengan tangan yang menyilang.
"Enyah kau, Deathano!"
Siapa Deathano.
"Aaakh."
Si Raja Gila itu memelintir leherku. Beruntung orang yang mengendalikan tubuhku ini berhasil sedikit menyamai dengan putaran leherku.
Meski begitu rasa sakit dari pelintirannya masih begitu terasa. Otot-otot leherku seakan kaku untuk kembali semula. Aku mengambil jarak yang cukup jauh untuk melancarkan serangan jarak jauh.
"Hentikan semua ini."
"Aku akan menghentikannya setelah aku merasa puas."
"Alasan yang tidak masuk akal."
"lebih baik kau memperhatikannya saja."
"Aku tidak bisa."
Serangan yang dahsyat tiba-tiba terlancar. Ledakan yang menyerupai bintang yang ada di belakangku membuat Riko tak berkutik.
"Kalau itu maumu. Kita selasaikan sekarang."
Pada akhirnya kami bertarung dan membuat kericuhan besar karena lingkup area pertarungan kami seluas istana Garden Flower.
Kami bertarung hampir setengah hari. Dan tiba-tiba aku menghentikan pertarunganku dengan si Raja Gila karena lingkaran teleportasi yang besar tiba-tiba muncul mengeluarkan makhluk ras underworld. Mereka mengamuk dan menyerang seluruh penduduk di kota ini.
"Setelah ini apa yang akan kamu lakukan. Mereka semua yang mengendalikan dunia ini takkan berdiam diri saja melihat kericuhan yang kamu buat."
"Oh begitukah. Memang itu yang aku rencanakan."
Tampaknya aku juga berusaha untuk pergi membantu para penduduk. Setelah mengamati si Riko. Ia tampaknya tak akan turun tangan untuk menyerang para penduduk juga. Ia hanya ingin mengamatinya dari atas saja.
"Mungkin rencanamu kali ini tak akan berjalan dengan lancar," ucapku setelah melihat rombangan baru yang datang ke kota ini dengan bergegas membantu para penduduk.
Rombongan-rombongan itu adalah para penduduk yang kamu lalui dalam perjalanan kami. Terkhususnya penduduk desa Rose yang kini sangat berperan penting memulihkan seluruh orang yang terluka dengan potion hasil dari buatan mereka.
Mereka semua yang semulanya tadi saling bertengkar ricuh kini kemudian saling bekerja sama untuk melawan para makhluk yang keluar dari lingkaran teleportasi tersebut.
Rombongan yang datang dari desa Orchid juga tidak kalah membantunya. Mereka semua sangat ahli dalam pertarungan dan banyak mengalahkan para ras dunia bawah tersebut. Terlebih lagi ketika kedatangan para master dari berbagai penjuru yang ada waktu berkumpul di kota Flamesea pun datang lebih memojokkan para makhluk yang keluar dari lingkaran teleportasi tersebut.
Mereka tak membiarkan satupun yang dapat dengan mudah keluar dari lingkaran teleportasi itu. Meski luas dari lingkaran teleportasi itu hampir setara kastil kerajaan kota Garden Flower.
Riko tak menduga hal tersebut. Ia terlihat meringis kesal. Ia kemudian tampak akan pergi ke atas menemui sang Naga.
"Apa kamu pikir aku akan membiarkanmu saja ke sana."
Aku menahan Riko dengan menarik pundaknya. Riko seolah menjadi lebih sensitif dan lantas mendorongku dengan kekuatannya yang besar. Aku terdorong jatuh sampai ke permukaan tanah, membenturkan diri sampai permukaan tanah menjadi tidak rata.
Beruntung lapisan mana 3D yang aku gunakan lebih tebal sehingga dampak serangan dia pun menjadi lebih sedikit.
Aku kembali menghalangi si Raja Gila itu setelah lapisan mana 3D kembali pulih.
"Menyingkirlah!"
"Bagaimana kalau aku bilang tidak mau."
Tanpa berkata lagi Riko yang memiliiki julukan si Raja Gila itu kembali menghempasku. Namun secara cepat aku kembali menghadangnya dengan memanfaatkan skillku yang memanipulasi jarak, kecepatan, dan waktu.
Riko tampaknya mulai menjadi muak. Ia kemudian menyerangku secara bertubi-tubi. Melihat dia yang sudah mulai emosi, diriku malah semakin lihai dalam menghindari serangannya. Hingga pada akhirnya Riko menyerang dengan serangan penuh. Satu Pukulannya menghancurkan daratan sejauh hampir 10 km.
Serangan kejutan itu tak bisa aku hindari. Dan mengharuskanku terhempas lebih jauh lagi.
Aku cukup keras kepala. Dampak yang ia berikan sekarang bahkan membuat Health point turun di bawah 50%. Beruntungnya pemulihanku juga menjadi lebih meningkat. Sehingga tak butuh waktu yang lama health point ku terisi sebatas sampai 75%. Setidaknya dalam kondisi yang lebih baik.
Riko tampaknya sudah mulai berbicara dengan naga tersebut. Naga itu mulai kembali bergerak lalu kemudian meraum dengan suara yang maha dahsyat.
Bahkan hanya raumannya saja sudah membuat seluruh negeri Garden Flower tersebut menjadi kering dan luluh lantak. Bahkan seluruh penduduk yang ada di kota itu tak dapat menghindari suara dan getaran dari rauman naga tersebut. Banyak di antara mereka terhempas dan kehilangan nyawa tetapi banyak pula yang bertahan berkat kemampuan pertahanan para master.
Meski begitu keadaan saat ini bisa dibilang masih belum terbalik. Lingkaran teleportasi yang mengeluarkan makhluk bawah itu semakin mengecil. Kemudian semua orang yang bertahan malah semakin antusias. Entah mengapa mereka semua menjadi lebih dapat bekerja sama satu sama lain.
Amarah dan dendamlah yang menyatukan mereka untuk melawan si Raja Gila.
Namun itu semua lagi-lagi tak berlangsung dengan lama. Ketika antek-antek si Raja Gila memunculkan batang hidung sebenarnya di dalam orang-orang yang berpura-pura membantu tadi. Sebagian dari para master dan penduduk Garden Flower rupanya ada yang memihak dengan si Raja Gila.
Dan terjadi lagilah, pertarungan antar sesamanya yang hanya berbeda pihak.