
"Hehehe...." Resha berkeringat dingin. Dia sendiri sebenarnya bingung akan jalanan perkotaan yang penuh dengan liku-liku. Harga dirinya untuk mempertahankan akan ingatannya terpaksa dipasrahkan saja. "Aku ingin pergi ke guild Iin. Tapi, aku lupa sama jalanannya."
Sontak ketiga orang yang mengawasi Resha terkekeh bukan kepalang. Seharusnya guild Iin tidak akan memakan waktu berjam-jam untuk sampai ke sana, bahkan hanya butuh beberapa menit saja.
Namun, karena si buta jalan itu terus memimpin tanpa memberitahukan apapun soal tempat yang ingin ia tuju, akhirnya mereka sungguh memakan banyak waktu.
Pemberontakan sudah dimulai dan suasana di permukaan sekitar wilayah netral sudah dipenuhi dengan kebisingan.
Hal ini menjadi pelajaran berharga bagi mereka bertiga, seharusnya mereka bertanya sedari awal kepada Resha yang ternyata sangat buta arah.
Mereka menjadi tak yakin apakah orang tersebut dapat diandalkan dalam pemberontakan yang bertujuan untuk revolusi kerajaan. Meski begitu mereka kembali berpikir bahwasanya kemampuan Resha yang diperlihatkan sebelumnya sudah lumayan untuk dipertimbangkan kembali.
"Dasar sialan bisu, buta arah, sok sokan. Mengapa kau tak bilang-bilang sedari awal. Tempat tersebut tidaklah sejauh ini."
"Parah kau sangat parah. Kau kacau sekali."
Kata-kata kesal yang terlontar dari para pengawas Resha membuat diri Resha seolah ditusuk dan dicabik-cabik hati yang menjadi perasaannya. Tapi tak dapat dimungkiri kalau ucapan tersebut memang benar buktinya.
"Ah, sudahlah. Cepat ikuti aku!" seru pengawas langsung bergerak menuju tujuan.
Tak sampai sepuluh menit mereka telah menemukan guild Iin yang letaknya diantara wilayah netral dan bangsawan. Sayangnya saat mereka berada di depan pintu guild tepatnya saat Resha membuka tirai pintui guild, seketika itu pula Resha menjadi pusat perhatian.
Seluruh tatapan menatap fokus sosok pemuda berambut oren pendek. Mata mereka seolah menjadi pemburu. Tatkala ketika salah seorang dari anggota di dalam guild tersebut menjatuhkan selembar kertas yang memperlihatkan wajah Resha dan ketiga rekannya yang kini menjadi sosok buronan.
"Aku ingin bertanya satu hal kepada kalian?" bisik Resha kepada ketiga pengawasnya. "Apakah seorang yang bekerja dalam guild berhubungan erat dengan apa yang ada di kerajaan?"
Resha ingin memastikan serta mengharapkan bahwasanya anggota guild Iin berisi orang-orang yang netral-tidak berpihak pada kerajaan maupun para pemberontak atau orang-orang sekomplotan pemberontak.
Karena jika misal mereka semua adalah orang yang berpihak pada kerajaan, maka habislah sudah si Resha. Namun, sepertinya yang perlu diperhatikan poster buronan mereka ternyata memiliki harga yang tinggi, jadi meski mereka netral, jika mereka gila akan uang pasti tetap saja Resha dan para rekannya akan terkena imbas yang buruk.
"Apa-apaan ini," ketiga pengawas tak menyangka akan kejadian tak terduga—mereka melihat lembar kertas jatuh tersebut dan berfokus ke arah gambar Resha yang tepajang. Jangan sampai gara-gara si idiot itu, musuh mereka malah semakin bertambah, itu akan semakin runyam. Mereka juga masih bertanya-tanya akan poster tersebut. "Kamu sebenarnya siapa?"
Mereka memasang kuda-kuda dengan baik, was-was akan keberlangsungan yang akan terjadi. Sedikit pergerakan di dalam guild, sudah membuat mereka mundur satu inci. Mimik, Pandangan, gerakan, yang tak lama akan berubah—layaknya rusa di tengah kerumunan serigala. Menjadikan respon awal kepada Resha dan yang mengawasinya.
"Bersiap!" seru Resha.
Lantas ketika pergerakan yang ditunggu akhirnya tiba. Resha dan pengawasnya langsung lari terbirit-birit keluar dari tirai pintu guild yang membatasi. Semuanya mengejar dengan nafsunya.
Jangan sampai barang bernilai tinggi itu malah hilang di hadapan mata sendiri. Namun, apalah daya orang dalam guild tak dapat menyentuh bahkan melihatnya sama sekali ketika mereka membuka tirai yang sama.
Hawa keberadaan hilang tanpa debu dan asap, angin sepoi dan hanya pembatas air yang mengelilingi dataran guild tanpa jejaklah yang terlihat.
Seorang anak kecil menerobos banyaknya kerumunan anggota Iin yang di luar. Terlihat beberapa berlari berniat tetap mengejar melewati jembatan. Anak kecil berambut hijau cerah nan halus tersebut menyeringai. Ia meletakkan kedua tangannya ke dalam kantung celana pendeknya.
"Jadi dia yang namanya Resha."
...➕➖✖️➗...
Lorong-lorong kecil menjadi tempat persembunyian kami. Semakin lama, kami merasa semakin banyak orang yang mengincar kami. Kami mengetahuinya setelah kami mendapatkan sebuah poster yang memperlihatkan nama dan gambar kami. Meski gambarnya tidak terlalu bagus, namun detail dari tulisan poster itulah yang jadi masalahnya.
Aku sedikit gelisah, apel-apel di kantung Raisa terus saja kumakan dengan lahap akibat kegelisahan itu. Bagaimana mungkin kami menjadi buronan di kota ini. Aku bahkan tidak pernah mengingat perbuatan tidak baik apa yang pernah aku lakukan selama berada di dunia ini. Apa yang sebenarnya terjadi?
Aku terus mencari dugaan-dugaan yang menjadi masalah. Lalu kuteringat akan mengapa pak kepala daerah kota Boas menghilang? Mungkin ada hubungannya dengan hal tersebut. Kuteringat pula akan si Raja Gila. Jangan-jangan kota ini juga sudah dalam kendali si Raja Gila. Tapi, kalau begitu mengapa kota ini tidak dihancurkan seperti kota awal perjalananku debelumnya—kota Flamesea.
"Jika memang ini ada hubungannya dengan si Raja Gila, maka habislah sudah. Kita tidak pernah mengetahui kemampuan macam apa yang dia miliki. Sampai-sampai kita yang hanya memiliki niat untuk melawannya sampai dia ketahui."
Raisa memberikan pendapat. Di antara lorong sempit nan gelap ini, kami hanya bisa duduk di area tanah kering dengan beberapa bau sampah yang beraneka ragam di sekitarnya. Hal ini membuat Mirai menutup hidungnya.
Namun, tampaknya tadi dia terlihat terkejut mendengar apa yang dikatakan Raisa.
"Apa maksud kamu dengan dia mengetahui kita?!" tanyanya.
"Ya bagaimana tidak? Dari perjalanan kita sebelumnya, kita sudah di serang oleh orang-orang yang tidak diketahui apa maksud dan tujuannya. Di bilang bandit, itu juga bukan kan? Mereka hanya menyerang dan berniat untuk membunuh kita. Siapa lagi coba kalau mereka itu bukan utusan dari si Raja Gila," ucapku memberikan pendapat.
Aku kembali memakan apel, menghiraukan bau yang menyengat di sekitar. Pasalnya aku sudah lapar sekali, apapun yang ada di hadapanku, jika itu layak pastilah aku memakannya.
"Dayshi, sebelumnya berhenti menghabisi apel ini!"
Raisa memukul ku dengan kesal. Dia merebut kantung apel yang hanya tersisakan dua buah di dalamnya.
"Benar-benar kamu ya!"
Kelihatannya Raisa sangat geram padaku. Ia menatap ku tajam seolah ingin membunuh ku. Raisa kemudian menghembuskan napas berat.
"Apa yang dikatakan Dayshi benar masuk akal. Bagaimana mungkin ada orang yang tiba-tiba menyerang kita dengan niat ingin membunuh. Dibilang ingin merampok, itu sudah sangat jauh dari apa yang aku duga dilihat dari tindak laku mereka.
Lagian, hal ini lebih diperjelas saat kita berada di desa Rose. Orang yang satu-satunya menjadi kunci utama kita untuk mencari Alice—salah satu dari ksatria yang pernah memukul mundur si Raja Gila—malah menghilang...Tidak, lebih tepatnya dia diculik. Siapa lagi coba kalau bukan karena si ulah Raja Gila itu!" Raisa memukul tembok yang menjadi sandarannya. Debu-debu kotor di tembok tersebut terhempas di sekitaran kepalan tangan Raisa.