
"Maafkan aku teman-teman. Sekarang, aku tak sabar berduel dengannya," ucap Resha. Ia tersenyum tanpa memandangi kami yang di belakang, ia serius akan apa yang ia ucapkan. Dia ingin berduel.
Tak ada yang membantah di antara kami, karena memang Resha saat ini terlihat begitu kuat dan bersemangat. Mana di sekitar tubuhnya seakan bergejolak memancarkan n*fs* dari sang pemilik.
Sosok lawan memandang kami. "Jadi dengan cara begitukah kalian menghancurkan tempat ini. Tidak, sepertinya bukan. Kekuatan tadi seharusnya tidak memberikan dampak bagi lingkungan sekitar kecuali target yang terkurung."
"Permisi tuan," ucap Resha yang masih dengan keadaan tersenyum memandang lawannya. Volume dadanya naik turun menandakan napasnya sulit ia kontrol, mimiknya sendiri menyatakan bahwa dirinya seolah senang dalam keadaan seperti ini.
Lawan baralih fokus ke Resha. "Kau, apa kau menginginkan kematian yang lebih cepat dariku." Sepertinya ia menjadi murka, sorot matanya menjadi lebih tajam.
"Sejak dulu kerakusan manusia benar-benar membuatku muak. Aku tak akan segan-segan kepada kalian, meski begitu aku juga akan bermain. Baiklah aku akan membiarkanmu melawanku sendirian, apa kamu bisa menghiburku," ujar sosok lawan tersebut, sayapnya menyusut lalu ia mengangkat kembali tangannya seolah mempersilahkan Resha untuk menyerangnya
Resha tertawa menutupi wajahnya dengan salah satu tangan, ia tampak tak tahan dengan rasa senang yang mungkin ia nanti-nantikan. "Tuan ternyata sangat peka sekali kepada manusia rendahan seperti aku yaa!" Resha berseringai.
"Baiklah kalau begitu. Biarkan tuan merasakan hidangan pembuka dariku terlebih dahulu."
Dhuar, bunyi ledakan dari gertakan kaki Resha yang meloncat siap melancarkan serangan. Efek dari tanah yang hancur—akibat Resha—tak terlalu dalam. Ini menandakan hutan ini lumayan kaya akan mana-nya.
Resha mengeluarkan salah satu dagger miliknya. Dagger platinum yang di kepal dengan gaya mata runcing di bawah pergelangan tangan. Dihantamkannya ke lawan sekuat tenaga, tetapi lawan berhasil menangkisnya bahkan memegang secara langsung dagger milik Resha.
"Lumayan, kau berhasil memberikanku insting untuk bertahan," ucap sosok tersebut.
Resha tak terkejut, ia pasti sudah menduga bahwa serangannya akan terbantahkan. Maka kali itu, Resha bersiap mengambil dagger jenis lainnya.
"Haha, kau cukup menantang juga."
Resha melepaskan dagger yang digenggam oleh si lawan. Tangan kirinya siaga, menyerang dengan dagger lain karena merasa memiliki kesempatan, dan ....
Bruash .... ledakan asap terjadi di area wajah lawan yang diserang. Kami semua hening memperhatikan, berharap serangan Resha berhasil melukai dan menjatuhkan sosok tersebut.
Kini tangan kiri Resha masih menggenggam getar dagger yang ia gunakan untuk menyerang terakhir kalinya. Dagger lain terjatuh dari genggaman musuh. Perlahan pula Resha turun dari batas jatuhnya saat ia tadi menyerang dari atas, ia juga terus menekan dagger serangannya.
Di saat asap mana Resha mulai menghilang, di situlah sosok keadaan lawan dapat dilihat. Dan benar saja, lawannya berseringai, memancarkan pandangan yang siap mengambil alih serangan pembalasan.
"Sudah aku duga," ucap Resha.
Lawan mulai melancarkan serangan, terpaksa Resha lagi-lagi mengorbankan dagger miliknya terjatuh. Lawan menyerang, Resha selamat berkat skill pasif Smoky yang ia miliki. Dengan skill pasif Smoky tersebut, ia juga membuat lawan kebingungan. Ia menghilang di hadapan lawan, baik hawa keberadaan dan wujudnya benar-benar tak dapat dirasakan.
Selang tak seberapa lama, dengan selisih waktu yang kurang lebih dari sedetik. Resha muncul dari bawah lawan, mengambil kedua daggernya dan mundur sembari siap merapalkan skill serangan selanjutnya.
Lawan yang telah merasakan kehadirannya, tak ingin memberikan Resha kesempatan lebih. Ia menerjang mendatangi Resha yang mundur mencari jarak yang aman.
"[BLACK SMOKE]" seru Resha. Ia mengeluarkan asap hitam yang tebal dan menghalangi jarak pandang lawannya.
Saat Resha merasa sosok tersebut telah mengambil resiko
"[PERMANENT]"
Resha mulai mendarat, tetapi ternyata lawannya seketika mendapatinya. Dikarenakan waktu cooldown skill pasif yang ia miliki masih berlanjut, terkenalah ia serangan tinju tepat pada perutnya.
Resha terhempas, health point pada statusnya seketika turun empat puluh persen. Darah dari rongga mulutnya otomatis keluar akibat serangan musuh yang sampai merusak organ dalamnya.
Namun semua rasa sakit itu Resha gubriskan. Ia malah tersenyum melihat lawannya. Rupanya yang membuat Resha begitu adalah karena asap hitam dari skillnya, yang ternyata masih menempel di sekujur tubuh sosok tersebut. Itu menandakan bahwa Resha berhasil menggunakan skill serangan lanjutan.
"Bagaimana, apakah tuan bisa lepas dari kemampuan andalanku itu." Resha membangkitkan dirinya untuk berdiri. Ia mengusap noda darah miliknya di area sekitar bibir menggunakan punggung telapak tangan. Diperhatikannya dengan baik sosok lawannya yang terselimuti oleh asap hitam.
Sosok tersebut masih berdiri. Ketika sosok yang menyerupai manusia setengah momon garuda haast itu berjalan, pupil mata Resha seketika mengecil.
"Ternyata kau tangguh juga ya." Resha menyiagakan kedua daggernya. Dua dagger pada kedua tangan itu masing-masing mulai menampilkan aura mana abu-abu yang tampak seperti asap.
Seolah meledek, bayangan dari sosok lawan tersebut tampak memiringkan kepalanya, bak mengatakan," Itu saja kemampuanmu?"
"Tenang tuan, ini belum berakhir." Resha memancarkan aura membunuhnya. Terasa sesak bagiku yang belum pernah merasakan aura seperti ini. Ketika kumelihat Resha, udara di sekitarnya seolah bergetar bak fatamorgana akibat matahari terik di siang hari bolong.
"[SLAM SHARP]"
Area dari permukaan pijakan Resha bergetar lalu mengeluarkan asap tipis bak menguap yang seiring menutupi jarak pandangan. Dedaunan serta ranting dan batu kecil terhempas dibuatnya. Tak lama geteran tersebut pun sampai pada lawannya. Lawan bergidik, tetapi tetap saja ia perlahan mulai mempercepat langkah jalannya ke arah Resha.
Getaran Resha pun ternyata sampai ke arah kami. Kami semua bersiap akan dampak apa yang akan terjadi ketika kami terkena getaran tersebut. Lantas ketika rambatannya telah sampai kemari, Mirai dan Raisa seketika terjatuh seakan-akan mereka tergelincir. Aku sendiri malah terhempas ke belakang sekitar lima langkah dari tempatku berpijak.
Tak sengaja kuumpatkan rasa kesalku akibat Resha. Dorongan yang menghempasku tadi terasa seolah-olah ditusuk oleh dorongan angin tajam. Tulang rusukku seperti ditekan dan itu membuatku sulit untuk bernapas.
Kugertakkan gigiku, melihat kejadian ini aku kesal, terus kesal dengan diriku sendiri. "Sebegitu lemahnya kah aku dari pada yang lain." Dadaku menjadi lebih sesak, sulit kuatur kontrol napasku. Kutegaskan perhatianku, menuju pertarungan Resha. Kubertanya-tanya, bagaimana cara bertarung orang kuat?
Sosok lawan itu mulai mengencangkan larinya ke arah Resha. Tak mau kalah—dengan tatapan bernafsu dan senyuman yang terus menyeringai—Resha ikut menerjang melawan arah lawannya.
Dagger tajam berasap bak memotong cepatnya rambatan udara sekitar. Resha mengayunkan dagger secara silang lalu ia mengeluarkan skillnya yang lain.
"[FOG KNIFE]
Huh~ bakal gimana nih. Nampak seru tidak dengan scane pertarungannya, ataukah kalian mulai jenuh dengan pertarungan yang secara terus menerus muncul.
Silahkan di komen ya. Biar aku tau pendapat kalian bagaimana.
"MC - nya ampas Thor"
Hahaha, mau bagaimana lagi. Aku akui dia memang ampas. Ini garaan aku pengen ngubah karakter dia ke mode yang lebih bagus, eh malah kelamaan dia baru bisa berubah. 😂