My Power Of Math Fantasies

My Power Of Math Fantasies
8.7 Tak peduli dengan apapun, harus bertahan.



"[FOG KNIFE]"


Resha menghilang. Baik dari pandanganku maupun dari indra lawan, ia benar-benar menghilangkan seluruh hawa keberadaannya.


Lagi-lagi lawan dibuat kebingungan. Ia memberhentikan gerak langkahnya dan linglung celangak-celinguk mencari Resha. Aku lumayan kagum dengannya, indra penglihatan telah terenggut oleh asap tebal yang menyelimuti. Kini Resha pun menghilangkan wujud fisik maupun non-fisiknya. Namun, dia—sang lawan—tetap saja berusaha mencari keberadaannya.


Tak terlihat, tetapi centingan—bunyi sayatan—mulai beradu di tubuh lawan. Sosok hitam itu pun melebarkan sayapnya. Ia mengibaskan angin deras, menghempaskan benda cukup berat yang ada di sekitarnya.


Kami yang menonton mengalami kejutan angin. Berbeda dengan Raisa dan Mirai yang terdorong beberapa langkah, aku sendiri dibuat terseret angin hingga terhempas di batang pohon.


"Ini semakin berbahaya. Sebaiknya kita menjaga jarak yang lebih jauh lagi," ucap Raisa. Mirai dan Raisa pun segera mundur diikuti dengan diriku yang masih dalam tidak baik-baik saja.


Sosok terselimuti asap hitam itu menerbangkan tubuhnya, melayang di atas udara, tinggi, lebih dari pepohonan hutan ini. Akan tetapi, sayatan demi sayatan yang timbul dari sosok tersebut, terus saja terlihat. Resha tak menyerah untuk menyerang, seberapapun kuatnya lawan tersebut, ia terlihat optimis untuk menang.


Lawan mulai bergidik. Ia mengecilkan sayapnya, lalu beberapa saat kemudian, ketika ia terlapisi mana api hijau, di situlah ia menghempaskan sayapnya selebar-lebarnya. Bak gelombang tetesan air, udara rambatan dari mana tersebut merambat ke beberapa bagian penjuru isi hutan Aeriel ini.


Kami semua yang menonton terkejut dengan netra yang pastinya mengecil. Bulu kuduk kami berdiri merasakan aura mana tersebut. Kini ia terlihat memegang sesuatu dan langsung menerjang ke bawah dengan menghempaskan sesuatu yang tak kasat mata itu.


Dhuarr... Bunyi ledakan yang sangat membahana. Area yang terkena terjangan harus terdampak hancur, memberikan cekukan tanah yang cukup lebar dan dalam sesuai postur tubuh dan damage yang diberikan dari sang lawan.


Lagi-lagi debu mengepul. Jarak pandang kami—yang hanya sekadar menonton—cukup sulit untuk melihatnya, dikarenakan malam yang gelap, dan sinar rembulan remang redup, gara-gara awan yang tiada hentinya bergilir menutupi bulan tersebut.


Lama kemudian terlihatlah sebuah siluet. Dari siluet tersebut, sudah sangatlah jelas untuk menyimpulkan apa yang terjadi tadi. Resha terkapar, bergeliat kesakitan. Sedangkan sosok lawan tersebut berdiri dengan tangguh, perlahan asap yang menyelimutinya hilang disebabkan kontrol efek dari Resha yang hilang kendali.


"Berapa health point yang dimiliki Resha?" tanya Raisa.


"Oh tidak, ini akan semakin berbahaya," ucap Mirai setelah ia menggunakan kemampuan mata fucturiecesnya. Ia tanpa menjawab pertanyaan Raisa, lantas pergi dengan secepat lari yang ia sanggupkan.


"[OVERSPREAD]"


Cukup cepat, dan sangat cepat dipandanganku. Mirai melibas apa yang ada di hadapannya. Seluruh mana yang berwarnakan biru langit menyebar cepat di sekitar Mirai. Mana itu masuk ke dalam pepohonan, rumput, serta, semuanya yang terkena mana Mirai.


Mirai mengarahkan tangannya tepat ke arah sosok bersayap coklat itu, lalu seluruh objek dan sebagian tanah terbang menyerang dari samping lawan mengecualikan Resha. Mirai berusaha memisahkan Resha dari lawan.


Namun sayangnya, lawan tak mau kalah. Ia menyeringai kemudian mengangkat lengannya dengan posisi akan memukul Resha menggunakan kepalan tangan. Netra Mirai mengecil kemudian mulai bercahaya persis seperti mana miliknya.


Lantas sebuah tanah terkendali layaknya slime yang lentur mendorong Resha menuju genggaman tangan Mirai. Mirai mengambil tudung dari hoodie tanpa lengan yang Resha kenakan. Mirai menyeret Resha layaknya seekor induk kucing membawa anaknya, sedangkan Mirai menggunakan tangan kanannya.


Dentuman keras lagi-lagi mengisi langit-langit malam ini. Kali ini terlihat jelas bahwa lawan memang sudah siap untuk menghancurkan apa yang ada di hadapannya dengan rapi-serapinya. Bagaimana tidak, pukulan kepalan tangan yang tadi mengarah ke Resha, kini tertancap ke dalam tanah sedalam-dalamnya tanpa menghancurkan apa yang ada di sekitarnya.


Terlihat jelas dari pukulan yang memberikan lubang dalam seukuran telapak tangan ramping sosok tersebut. Ya sosok itu, malah lebih dibilang mengebor tanah daripada menonjok tanah. Itu semua karena saking kuat dan tajamnya aura mana yang ia tunjukkan dan sedikit memanfaatkannya agar padat tapi tajam.


"Teman-teman, ayo segera mundur dari sini. Kita semua takkan sanggup mengalahkan monster itu!" seru Mirai sebelum ia mendahului kami untuk melarikan diri. Segera pula aku dan Raisa berlari.


"Datang membuat kegaduhan, pergi tanpa tanggung jawab. Mana mungkin aku bakal melepaskan kalian."


"Ukh," health pointku menurun lima persen akibat pertempuran mereka yang sungguh membuatku terpontang-panting. Gerak dari lariku pun dapat dikatakan sangat lambat daripada yang lain.


Aku menoleh ke belakang. Sosok lawan kami nampaknya mulai menggerakkan sayapnya. Tidak, aku masih tak ingin berhenti sampai di sini. Kumohon diriku. Kumohoonn!.


"Cih, kep*r*t si*lan b*jing*n aku. Aku gak bisaa ... Aku pasti mati jika aku egois, aku akan mati jika aku masih saja naif. Aku butuh pertolongan, saat ini aku butuh orang lain. Dibantu atau tidak, setidaknya aku masih berusaha untuk mengatakannya."


Sudah menjadi insting bertahan hidup ketika seseorang terus mengalami keadaan terdesak. Jika mereka kuat maka mereka akan berusaha untuk terus melawan lalu kabur sekuat tenaganya saat lawannya lebih kuat daripada dia. Akan tetapi, diriku hanyalah makhluk yang lemah, sekarang ini aku tak bisa lolos meski aku berlari sekuat tenaga apalagi melawannya.


Sehingga aku memutuskan untuk terus menghilangkan yang namanya kegengsian, harga diri terus menghalangi jalan untukku maju, dan terkadang harga diri inilah yang selalu membuat masalah kepada orang yang ada di sekitarku. Hanya ingin berpendapat sendiri dan tak peduli apa kata orang lain, sungguh kebodohan yang hakiki.


"TOLONG! TEMAN-TEMAN TOLONG AKU, KUMOHON!!" Sebenarnya hatiku seakan telah runtuh. Sangat cengeng, air mata ini membuatku terlihat begitu Bodoh, seorang pengecut, dan pecundang yang tak tahu akan dirinya.


Apakah suaraku terdengar?


Aku masih berlari sekuat yang aku bisa. Aku memandang punggung rekan-rekanku.


Apa aku akan ditinggalkan?


"Dayshi!!"


Mirai menoleh ke belakang. Ia memperhatikanku dan memberhentikan langkahnya sesaat ia mengamati apa yang ada di balik diriku. Mirai melebarkan netranya , aku dengan segara mencongak ke atas langit.


"Mirai?" Raisa berhenti dan ikut pula mengamati apa yang ada di langit.


Spontan aku juga ikut memandang ke atas. Sosok lawan berlapiskan mana api hijau, kini ia menyebarkan lumayan banyak bulu-bulu berapinya di udara. Dan terlihat jelas, ia mengamatiku, ia akan menargetkan serangan pada diriku.


"Kau sangat lemah, bocah."


Di ayunkanlah tangannya ke bawah, dan pastinya ia mengarahkan seluruh bulu berapi hijau pada diriku.


Bagaimana caranya agar aku bisa menghindari serangan itu, serangan yang tampak memberikan damage area.



...Yosh, seribu kata terus tiap minggu😅. Yoi lah. Karena begitulah aku untuk saat ini. Bisa tebak gak Dayshi bakal ngelawan kah apa nggak, ataukah dia bakal lari atau diselamatkan. Pasti tahu ya kan. Logika aja deh lihat sifatnya dia kek gimana sekarang. ...