My Power Of Math Fantasies

My Power Of Math Fantasies
10.5 Kebebasan atau Pembalasan



"Hah, menganggap kami virus kotor. Anak-anak yang terlahir tanpa tahu apa-apa, dan mendapatkan terus perlakuan keji. Apa maksudnya.


"Aku memang sudah terbiasa dengan hal ini. Sampai-sampai aku takut untuk membiasakannya. Orang-orang yang berjatuhan mati kelaparan, bahkan teman-temanku yang semakin lama semakin tiada di sampingku, aku sudah sangat terbiasa dengan itu.


"Rasanya sangat hampa, aku tak bisa merasakan apa-apa. Perasaan sakit karena kehilangan sudah tak bisa kurasakan, perasaan sedih pun begitu.


"Hanya satu yang terus membayangiku, aku ingin membebaskan anak-anak seperti kami di tempat itu, aku hanya ingin mengabulkan apa yang ibu inginkan. Karena cuma ibu, cuma ibu yang dapat membuatku merasakan emosi, kehilangannya adalah satu-satunya yang dapat membuatku merasakan sakit yang sama sekali tidak bisa kuhilangkan.


"Iblis-iblis seperti kalian harus dibersihkan. Kalianlah virus kotor yang sebenarnya."


Ares, sang pemimpin pemberontak di baris bawah tanah. Ia mengeluarkan jati dirinya. Cahaya emas menyerambat di sekitar dada Ares, ia mengambil pedang besar yang keluar dari tubuhnya.


"Tak kusangka kau akan memiliki jati diri dari Negeri ini. Sungguh ironi sekali, kau memegang senjata suci tersebut dengan tangan kotormu."


Sang prajurit berkapak tersebut tak mau kalah. Ia melemparkan kapak bertombak yang ia miliki. Seketika itu pertahanan dari mana 3D langsung hancur.


Sang Prajurit ikut mengeluarkan jati dirinya. Tombak berkapak emas bermata dua. Senjata dengan tingkatan epic. Telah banyak pengalaman dan cerita yang ia gunakan dalam senjata tersebut.


"Sepertinya senjata yang kamu miliki berada di tingkatan rare. Ternyata kau memiliki kemampuan yang lumayan juga," ucap sang prajurit tersebut setelah membanting mata kapak nya hingga menembus permukaan lantai baja.


Senjata jati diri, merupakan pusaka yang keluar dari tubuh. Senjata ini adalah ciri khas dari wilayah Kingdom of Flower dalam menggunakan kekuatannya. Senjata jati diri juga melambangkan karakter dari sang pemilik.


Besar kekuatan dari senjata tersebut tergantung dari kemampuan dan banyaknya pengalaman yang digunakan oleh sang pemilik. Semakin besar kemampuan yang dimiliki dari sang pemilik maka semakin besar pula tingkatan dari senjata tersebut.


"Jangan terlalu sombong jika kau tidak mau mulutmu itu hancur," ucap Ares menyodongkan pedang besarnya hanya dengan satu tangan.


"Kekuatan ini adalah satu-satunya pembalasanku di hari itu. Hari dimana keputus-asaanku di uji. Hari yang seharusnya menjadi kebangkitan kita."


Hari awal kebangkitan yang kosong. Semua rencana pemberontakan tidak terpakai. Awal pemicu dari ledakan amarah. Hari dimana setelah ibu asuh mereka tiada.


Kembali dalam ingatan Ares. Setelah tangisan tiada dan kebencian menggerogoti hati yang masih tergolong suci.


Di pagi hari buta. Di mana anak-anak tersebut telah mengubur ibu pengasuh mereka. Luapan emosi dari beberapa anak mulai meledak. Ares lah yang memulainya. Sakit hati yang teramat membuat pikirannya berada di satu titik.


"Ayo kita kalahkan iblis-iblis itu! "


Dengan banyaknya komplotan yang sudah mereka buat. Banyak diantaranya adalah para usia pemuda yang ikut membantu dalam perencanaan mereka hingga baru memengaruhi kaum dewasa.


Kaum pemuda tersebut mulai beraksi setelah anak-anak memberikan kode yang dimulai dari Ares. Mereka juga mendapatkan pesan yang entah tidak diketahui asalnya. Tetapi berkat pesan tersebut bertambahlah keyakinan dan tekad mereka. Tersebarlah pesan provokator dan rencana keluar garis pun meledak. Pemberontakan pertama terjadi.


Pemberontakan itu langsung meluap secara tiba-tiba dari pesan-pesan dan pengaruh-pengaruh yang berangsur-angsur dari satu orang ke orang lain. Hal itu secara cepat menyebar dan langsung membuat para kalangan wilayah pinggiran memberontak mengamuk bersamaan.


Kejadian yang tidak diduga tersebut membuat banyak iblis-iblis—para prajurit—itu berjatuhan. Besar daya kehancuran membuat prajurit yang ada di tempat kewalahan.


Serangan awal itu berhasil menghabisi sepertiga dari prajurit yang menjaga wilayah pinggiran. Namun saat muncul gelombang dua, datanglah para ksatria kerajaan dan keadaan pun menjadi terputar.


Tak ada satupun prajurit disuguhkan. Hanya tiga orang ksatria dari Flower Country Knight lah yang datang sebagai bala bantuan. Salah satunya adalah yang memang menangani wilayah pinggiran, dia adalah Hoji sang ksatria berduri【 The thorny Knight】.


Dua lainnya adalah seorang wanita dengan julukan 【The Girl Carrying Disaster】


—Gadis Pembawa petaka— dan yang lelaki dengan julukan 【 The burning sunflower】, bunga matahari yang membara.


Harapan dari para pemberontak lantas hilang bak abu diterpa angin. Kebebasan mereka lagi-lagi harus terurungkan. Sepertinya takdir tidak membiarkan mereka untuk lepas dari dosa, dosa yang bahkan memberikan dampak turun temurun. Itulah pikiran mereka.


Sama halnya dengan Ares, ia terlontar dan sekarat. Telapak tangan serta kakinya sempat tertusuk oleh ledakan duri dari bawah tanah. Ia pun juga kehilangan harapan, ia putus asa, meski begitu ia tersenyum.


Dalam dirinya, ia sudah merasa cukup puas. Setidaknya para iblis yang menyiksa ibu telah mendapatkan ganjarannya.


"Ibu, ibu... Bagaimana ibu, apa aku sudah melakukan yang terbaik...? Apa dengan ini ibu akan senang ... Ibu ... Menyelamatkan anak-anak lain itu bagaimana ya bu ... sepertinya aku akan segera menemui ibu hehehe, " gumam kecil dari anak yang baru beranjak remaja 13 tahun itu setelah ia diam berkali-kali memikirkan kalimat - kalimat terakhir ibu asuhnya.


"Sungguh anak yang malang. Terlahir di tempat seperti ini, pasti kau sangat menderita."


Sosok pria tampak di hadapan Ares. Ares tak dapat melihatnya dengan jelas, darah mengalir melewati netranya, pandangannya pun menjadi kabur dan terlihat berwarna merah. Orang di hadapan Ares menunduk, ia memperhatikan Ares.


"Hei, Apa kau masih mendengarku."


Ares sudah mulai tak sadarkan diri, pandangannya menjadi samar-samar. Perasaan dingin dari sekujur tubuh Ares tiba-tiba menjadi hangat, Ares merasakan ada air yang masuk ke dalam mulutnya.


"Apa yang kamu lakukan?"


Suara cempreng itu adalah Agemenon. Kesadaran Ares kembali perlahan. Agemenon tampak mengamuk dan menyerang pria di samping Ares.


Tanpa ada perlawanan dari pria tersebut, Ares tetap jatuh kalah, ia lebih terlihat keletihan karena serangannya yang menggunakan kapak sama sekali tak ada yang mengenai pria itu.


"Nak, apa kamu ingin kebebasan ?"


"Tidak, yang aku inginkan hanyalah ibuku. Kembalikan dia...!" seru Agemenon.


Pria itu tampak terkejut.


"Sayangnya aku tak bisa mengembalikan ibumu itu. Tapi jika kamu ingin bebas, aku akan membantumu."


Agemenon tak menjawab, ia hanya menatap tajam pria yang ada di hadapannya yang tak lain adalah Hoji.


"Jika kamu bisa membuat kami bebas, apakah kamu bisa membuat tempat tinggal kita di sini juga menjadi bebas. "


Hoji berseringai lalu menjulurkan tangan kanannya. "Ya justru itulah yang aku inginkan. Jika kau ingin bebas maka kau akan kubebaskan dari penderitaan ini. Namun, jika kau ingin tempat tinggalmu ini yang bebas, maka bergabunglah denganku. Aku akan menyelamatkan orang-orang yang tidak ada sangkut pautnya dalam tempat ini. Dan aku butuh anak-anak seperti kamu untuk melakukannya."


...➕➖✖️➗...


"Kekuatan ini tak akan pernah kusia-siakan. Aku akan mewujudkan apa yang ibu inginkan."


*Sring


Ledakan percikan api besar seketika timbul setelah Ares mengahantamkan pedang besarnya yang berhasil ditahan oleh sang prajurit.


"Dasar bajing4n kotor..."


Keduanya sama-sama tersenyum sinis, sedangkan mata senjata mereka terus beradu satu sama lain.