My Power Of Math Fantasies

My Power Of Math Fantasies
9.9 Menuju lorong rahasia (?)



"BAIKLAH, MATAMU!!! Cepat turunkan aku."


Resha tak menggubris perkataanku, tetapi saat ketiga kelompok penjaga Resha datang, salah seorang dari penjaga tersebut tiba-tiba muncul dari belakang dan memukul kepala Resha.


Pukulannya seolah-olah ia memperingati Resha, juga sekaligus untuk mengeluarkan rasa kesal yang sudah ia tahan-tahan dari sebelumnya, itu terlihat dari raut pipinya dimana dia menggeratakkan giginya.


"Reshaaa!??? Sudah cukup. Biarkan aku saja memimpin jalan. Kalian ikuti saja aku," ucapnya dengan kesal.


...➕➖✖️➗...


Tak butuh waktu yang lama, kami akhirnya bertemu dengan Raisa dan Mirai. Seperti dugaan, mereka akan berjalan ke arah yang berlawanan dengan istana Kingdom of Flower.


Akhirnya aku bisa turun juga tanpa dipikul. Perutku rasanya sakit tiap dia berhenti lalu melompat lagi.


"Loh, kalian? Dari mana saja sih, suka banget kalian ngilang!?"


"Ah, maaf, Sa. Tadi ada kejadian yang gak kuduga. Kirain tadi Resha sama tuh tiga orang musuh Sa, jadi aku pergi ngalihin perhatiannya."


"Loh, terus kamu gimana Resha. Kok susah banget dicari."


"Aku habis pergi ke..." Resha menggaruk-garuk kepalanya. Ia terlihat bingung ingin memulai dari mana. "Ya singkatnya sekarang kita punya sekutu."


"Mereka sekutu kita?" Dengan penasaran Raisa menengok ketiga orang yang berada di belakang Resha.


Ketiganya menganggukkan kepalanya saat mengetahui ia diperhatikan oleh Raisa. Seolah gerakan tersebut adalah salam dari mereka.


"Jadi, bagaimana caranya aku memanggil kalian?" tanya Raisa.


Sebelum menjawab ketiganya saling bertahap-tatapan. Sepertinya mereka sedikit bingung akan pertanyaan tersebut dan akhirnya memutuskan si lelaki dengan badan tinggi dan berisi tersebut yang berbicara terlebih dahulu.


"Perkenalkan saya Anemone," ucapnya.


"Yo, aku Agamenon. Salam kenal."


Pria yang juga memiliki badan yang berisi dengan otot yang lebih terlihat menonjol. Ia ikut memperkenalkan dirinya dengan suara yang terkesan ramah dan terdengar dia akan lebih mudah untuk diajak bicara santai.


"Anyelir."


Jawaban padat dan singkat ini berasal dari seorang wanita. Badannya ideal dengan tinggi yang semampai. Rambut terikat cepol dengan beberapa helaian yang membingkai wajahnya. Ia terlihat cantik dengan dagunya yang memiliki lekuk V, bibirnya agak kecil namun berisi dan memiliki rona yang sedikit kemerahan.


"Oh iya, saya Raisa." Raisa menanggapi.


Dari ketiganya, jika dilihat dari fisik dan suaranya. Mereka memiliki kisaran umur di antara 20 sampai 30 tahun.


"Salam kenal juga, nama saya sendiri Dayshi Andrian. Panggil saja Dayshi."


*Dhuar...


Suara ledakan.


Suara itu terdengar tidak cukup jauh dari tempat kita berada. Secara spontan kami menolehkan pandangan ke arah sumber suara berasal, yang mana ternyata berasal di dekat perbatasan antara wilayah bangsawan dan perbatasan biasa. Kepulan yang mengotori udara di tempat ledakan tersebut bukanlah asap, melainkan debu tanah serta bangunan yang terlihat.


"Apa itu?"


"Resha, kita sudah tak memiliki waktu untuk bersantai. Cepat suruh rekanmu untuk bersiap berperang di bawah tanah," titah Anemone.


"Apa ini tidak apa-apa? Tampaknya mereka masih anak-anak," bisik Agamenon ke Anemone.


Hahaha, mereka menganggap kami sebagai anak-anak.


"Ya mungkin di usia belasan tahun ini, kita seharusnya masih harus banyak belajar di sekolah maupun akademi, atau setidaknya magang di guild seperti anak-anak di kota ini pada umumnya.


"Tapi 'kan masih banyak anak-anak muda seperti ini bisa berkembang pesat dan unggul daripada orang dewasa. Jadi jangan terlalu menganggap kami remeh.


"Apalagi persoalan pemberontakan. Anak pubertas seperti kami ini biasanya suka memberontak," sindirku.


Kelihatannya Raisa juga setuju dengan pendapatku. Namun melihat mereka yang malah menatap ke Raisa, aku jadi paham mengapa Raisa mengedutkan alisnya dan terlihat bergemetar disertai kepalan tangannya.


"Hei, jangan melihatku seperti itu. Meski pendekku 142 cm dan terlihat seperti bocah umur 12-an tahun. Tapi umurku ini sudah 17 tahun, dan aku ini sebenarnya jauh lebih dewasa ketimbang yang lainnya," tegas Raisa.


"Hah?" ketiganya Sontak terkejut sekaligus terlihat tidak yakin apakah perkataan Raisa itu benar atau tidak. Tapi dari segi tinggi badannya, mereka sama sekali tak ragu jika itu benar.


"Betulan aku ini—"


"Haha... Iya aku mengerti." Belum sempat Raisa melanjutkan ucapannya, Agemenon langsung menyahut setuju setelah ia melihat dengan baik pertumbuhan tubuh Raisa secara cermat.


"Terserah dari kalian mau bagaimana. Yang jelas jangan merepotkan kami. Ayo cepat bergegas," kata Anyelir sebelum ia naik duluan mengawasi di atas bangunan-bangunan yang tinggi.


Semuanya kemudian bergegas ikut naik melewati atas gedung ke gedung yang lain. Kemampuan berlari dan fisik di bagian kaki sangatlah diperlukan untuk meloncat.


Selama ini aku belum pernah melatih dengan baik kemampuan loncatanku. Sebelumnya aku telah mencobanya, tetapi hanya sekitar satu meter yang kudapat untuk meloncat dengan baik. Kemudian jika berlari aku hanya bisa sampai satu setengah meter, ya itu sudah cukup baik dengan tingkat statusku yang banyak kugunakan di bagian STR, AGI dan DEX.


Walau pada akhirnya aku tidak ikut meloncat-loncat dari atap ke atap, melainkan aku ikut saja dengan Mirai dan Raisa yang menggunakan kemampuan helium bubble-nya untuk terbang. Untungnya Raisa sudah dapat mengendalikan helium bubble layaknya mengendarai kendaraan biasanya.


Tampak dari atas kami melihat kepulan debu yang bertambah banyak. Suara gemuruh ini juga mulai banyak terdengar. Gemuruh itu berasal dari pertarungan antar para pemberontak dan prajurit kerajaan, yang mana mereka menggunakan kemampuan mananya—power—sehingga efek serangan yang ada di sana juga besar, menghancurkan beberapa bangunan-bangunan yang ada.


Bangunan-bangunan yang ada di kota Garden Flower ini memakai bahan-bahan yang berkualitas—bahan yang memiliki unsur mana— begitu pun pelapisnya yang juga berupa campuran semen berkualitas dan ditambah entah bahan yang lain yang pastinya memperhatikan segi unsur mananya.


Namanya juga dunia yang ketergantungan dengan mana, jadi tak perlu lagi dipertanyakan jika ada sesuatu yang tak memiliki mana baik itu makhluk hidup maupun benda mati, ia akan mati dan rapuh secara perlahan-lahan menguras HP sebagai gantinya.


...➕➖✖️➗...


Tak kusangka bakal timbul kekacauan seperti ini. Bahkan kekacauan ini sudah berubah menjadi perang internal.


Di bagian Timur, di seluruh perbatasan wilayah bangsawan sudah hampir dibuat runtuh oleh para pemberontak. Diam-diam ada juga beberapa bangsawan yang ikut memberontak.


Sepertinya dari awal, sudah ada orang yang mempersiapkan panggungnya agar menjadi lebih baik dan mendapatkan keuntungan yang banyak.


Kami mengambil jalan yang memutar. Dari Timur ke Barat untuk memasuki ruangan rahasia, yaitu lorong bawah tanah. Lorong tersebut merupakan lorong rahasia yang hanya para petinggi kerajaan yang mengetahui. Orang yang memiliki kekuasaan dan berpengaruh pada kerajaan, termasuk para Flower Country Knight, mengetahui soal lorong tersebut.