
"kumpulkan semuanya?" Resha menatap bingung.
"Ya. Sekarang, biarkan aku yang pertama." Raisa mengisi gelasnya dengan teh mawar lalu menghirupnya pelan.
"Dari petunjuk yang Raisa dapat, pak Opin diculik oleh Mio. Mendengar sosoknya, ia adalah seorang perempuan berambut panjang, sepertinya memang benar dia lah yang menculik pak Opin.
"Raisa juga sempat bertanya-tanya tentang siapa sebenarnya dia dan di mana dia tinggal, tapi mereka semua yang kutanyakan hal ini tiba-tiba terlihat pucat dan berkata 'aku tidak mengetahuinya'. Entah karena apa Raisa hanya mendapatkan informasi ini di bagian selatan."
Raisa berdiri lalu membalikkan badan dan merogoh tas besarnya. Ia kemudian mengeluarkan dua lembar kertas gulung.
"oh iya, Raisa sempat membeli peta tempat ini sekaligus peta Smute dan Bodhas. Sepertinya ini akan sangat berguna."
Melihat Raisa, kami semua kagum karena tak berpikir jauh tentang peta yang pasti bakal digunakan untuk perjalanan. Apalagi pak Opin yang selalu menunjukkan jalan kini tidak ada.
"Wih, beli peta punya uang nih," ucap Resha yang tampak menginginkan sesuatu kepada Raisa.
"Cuman simpananku. Gak bisa dipinjam," sahut Raisa acuh tak acuh tahu akan niatan Resha.
"Jadi, gimana sekarang. Ada yang dapat petunjuk tentang keberadaannya?" tanya Raisa sambil kembali duduk dan menghabiskan teh yang berada di gelasnya.
Resha mengangkat tangan dengan lemas. "Mengenai petunjuk keberadaan pak Opin, aku dengar dia dibawa ke pusat dari tempat ini ...."
"Pusat dari tempat ini?" tanyaku yang tanpa sadar menyela pembicaraan Resha
"Ehem, Dayshi tunggu Resha selesai bicara yah." Raisa menegurku.
"Maaf, maaf. Silakan lanjutkan."
"Resha, ayo dilanjutkan," ucap Raisa
Resha pun kembali melanjutkan pembicaraannya. "Pusat dari tempat ini maksudnya adalah kota Garden Flower atau dikenal Kingdom of Flowers. Kingdom of Flowers adalah salah satu kerajaan yang ada di Benua Celebesia1] .
Resha mengernyit. "Aku tak mengetahui secara rinci, tapi kita sepertinya akan terlibat masalah yang besar. Perempuan yang bernama Mio itu, aku takut ia adalah orang dalam dari Kingdom of Flower. Yeah, kita berdoa saja. Semoga dia bukan seorang bangsawan."
Tiba-tiba kami semua diam membisu. Mirai dan Raisa mengisi gelasnya dengan teh lalu menghirupnya sebentar, sementara aku mengunyah kue kering sambil menatap yang lain dengan bingung.
Bangsawan, Kingdom of Flower, Mio, Pak Opin. Apa maksudnya? Bangsawan setahuku orang yang memiliki kedudukan tinggi dalam masyarakat.
Biasanya bangsawan pasti orang kaya dan terhormat. Terus, ini berhubungan dengan Kingdom of Flower. Mio berarti disini seorang bangsawan di Kingdom of Flower lalu pak Opin ... jadi begitu ya.
Aku menghembuskan napas yang berat kemudian mengambil teh dan sedikit meminumnya. "Bakal rumit nih."
Aku menaruh gelasku kembali ke meja lalu mengangkat tangan. Seperti aturan tak tertulis diskusi ini mulai berjalan dengan lancar. Raisa mempersilahkanku untuk berbicara.
"Aku boleh bertanya tidak?"
Resha mengangguk tanda mengiyakanku. "Tadi kamu bilang 'Kingdom of Flowers itu salah satu dari dari kerajaan yang ada Celebesland'.
"Apakah ini berarti sekarang kita di Celebesland dan terlibat dengan Kingdom of Flower ya. Terus, maksudnya dari salah satu kerajaan itu apa. Bukan hanya satu?"
Raisa mengernyit kemudian menunduk, memegang kepalanya. Ia tampak terlihat sedang pening. Mirai yang ada di samping Raisa ikut mengernyit. Ia dan Lily juga langsung memegang punggung Raisa ketika tahu bahwa Raisa terlihat sedang kesakitan.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Mirai.
Raisa terengah-engah. "Iya, aku, aku. Aku gak papa, selintas kepala Raisa sakit dan beberapa ingatanku yang aku tak aku tahu dari mana tiba-tiba muncul."
"ingatan seperti apa?" Mirai kembali bertanya.
"Berarti kamu sebelumnya tidak tahu ya, Sa?" tanyaku.
Raisa mengedutkan alisnya hingga bergetar. "Namanya juga baru ingat pasti sebelumnya nggak tahu lah!" seru Raisa yang membuatku tanpa sadar segera meminta maaf. Aku ini ya ....
Sebelum dan setelah mendengar pernyataan Resha. Aku sempat bertanya-tanya mengapa Raisa yang kata dianya sendiri sudah lama berada di dunia tidak pernah memberi tahuku akan hal itu.
Namun, aku sudah tenang. Ternyata Raisa juga memiliki sebuah masalah. Dan, bisa jadi itu tentang ingatannya. Aku pikir mungkin dia punya penyakit seperti lupa ingatan atau semacamnya.
Yang jelas setiap orang pasti punya masalah masing-masing. Ada saja yang dapat diungkapkan secara terang-terangan untuk mengatasinya dan ada juga yang butuh waktu lama, bahkan tak bisa diungkapkan. Entah sebab harga diri ataukah agar orang lain tidak khawatir.
Andai semua masalah dapat diungkapkan dengan mudah, mungkin masalah tersebut akan cepat juga terselesaikan. Karena memang pada dasarnya manusia itu makhluk sosial yang saling membantu. Tinggal kitanya saja yang mesti memiliki orang yang dapat kita percayai.
Persoalan dengan Raisa, sepertinya ini pengecualian. Raisa memang tak bisa mengungkapkannya karena ia memang tak tahu juga akan apa yang kini ia rasakan.
Aku mengatakan seperti ini sebab pengekspresian Raisa tadi memang benar-benar seperti orang tak tahu apa-pun, ia terlihat terkejut dan seperti baru pertama kali merasakan hal tersebut.
Untuk sekarang, lebih baik aku harus mengerti akan tempat ini. Masih banyak yang perlu aku pelajari. Bukan hanya dari segi pelajaran, tetapi bagaimana caranya untuk mencapai tujuanlah yang sangat diperlukan.
Percuma semua jenis pelajaran kita ketahui jika satu jenis pelajaran yang seharusnya kita kuasai saja tak dapat berkembang. Dan kunci untuk mencapai tujuan ialah menguasai penuh apa yang perlu dikuasai.
...➕➖✖️➗...
Raisa menuangkan teh ke dalam gelasnya. Kali ini teh yang berada dalam teko telah benar-benar habis. Dan, seperti biasa ia dengan sekejap meminum teh tersebut hingga habis. Ini wajar, karena Raisa memang penyuka teh. Mungkin lebih tepatnya jika kusebut si maniak teh.
"Ah, maaf. Silakan lanjutkan Resha," ucap Raisa yang telah kembali tenang. Memang benar ya, kalau teh mawar dapat menenangkan pikiran orang.
Resha yang tadinya juga tampak khawatir kembali ke dalam keadaan sigap. Ya, Begitu lah Resha. Terkadang berulah yang tidak-tidak, tetapi kalau waktunya harus serius pasti dia juga bakalan serius melebihi yang lainnya.
Resha mulai menjawab dengan apa yang aku tanyakan. "Pertama-tama sih, aku tidak menyangka kamu bakal tidak tahu akan hal ini. Seperti yang tadi aku bilang, ini Celebesland. Daratan ini, tepatnya nama dari Negeri ini.
"Tapi, tidak usah terlalu memikirkan tentang pulau ini. Karena memang pulau ini adalah pulau yang mungkin seluruhnya di duduki oleh ras human. Walau memang pulau ini terbelah antara Underworld dan Upperworld sebab dibatasi dinding Light of Dark, aku yakin semua yang berada di dalam pulau ini adalah ras human.
"Terus yang kedua yaitu kerajaan di Celebesland. Pfft, hahaha. jujur aku tak menyangka ada orang yang tak mengetahuinya." Resha mengelap air matanya saking banyaknya menahan tawa. Dan, aku tentu saja tidak malu karena memang aku tak mengetahuinya.
"sudah, puas?" tanyaku sedikit menyindirnya.
"Maaf, maaf. Sebenarnya ini sudah hal umum untuk diketahui. Jadi ada lima kerajaan yang memegang kekuasaan di Celebesland." Resha mengambil peta yang sebelumnya ia diam sejenak.
"Coba lihat peta ini." Resha berdiri lalu memperlebar peta tersebut dan memperlihatkannya kepada kami.
Alih-alih kami semua berdiri untuk melihat peta tersebut.
"Lho?"
...°°°°°...
Sekedar informasi
Benua Celebesia. Sebuah kekuasaan yang terdiri dari beberapa kerajaan atau negeri yang dikuasai oleh sebagian besar dari ras human.