My Power Of Math Fantasies

My Power Of Math Fantasies
5.8 Fregia, Demi human Tiger



Dayshi POV


Bunyi gemuruh tanah yang begitu besar seakan mendekatiku. Di balik bunyi itu pula aku mendengar suara yang tak asing dengan samar-samar.


Dengan menelan ludah, aku memposisikan mataku ke arah sumber suara tersebut.


"Suara ini, apa lagi?!"


Aku membelalakkan mata melihat apa yang ada di hadapanku. Dua ekor Boss Momon Tiger dengan badannya empat kali lebih besar dari pada Momon Tiger biasa.


Aku menggeleng-gelengkan kepala. Apa yang kulihat ini membuatku merasa tak berdaya, denyut jantungku bisa-bisa diambang batas.


Bahkan aku menertawakan diriku sendiri yang sekarang hanya bisa berdiri dengan lutut dan tangan terjuntai lemas.


Kembali kuperhatikan manaku yang habis dan health poinku yang sisa 35%, belum lagi seluruh tubuhku sudah terasa remuk.


Brrr...Brrr...


Tanah bergetar.


Kedua Boss Momon Tiger berlevel 50 itu semakin mendekat. Badannya benar-benar seperti gajah, taring yang keluar dari mulutnya dan matanya yang menatap tajam seakan siap untuk meremukkanku.


Getaran hebat juga terjadi pada tubuhku. Pikiranku benar-benar dipenuhi hal-hal yang buruk, sampai beberapa saat aku mengingat bahwa aku memiliki beberapa potion yang diberikan oleh Lily saat di desa Rose.


Tidak, sepertinya hanya satu. Satu red Potion dan entah kenapa ada satu Yellow Potion berlevel satu.


"[storage]"


Kuambillah Yellow Potion itu, dan pastinya aku menggunakannya.


Mana poin ku naik menjadi lima persen.


"Hah? Kok rasanya cuma secuil gini! Aah sudahlah, yang penting aku memiliki sedikit tenaga dan bisa mengeluarkan beberapa skill level satu."


Wushh...


Sebuah telapak kaki dengan kukun yang begitu tajam dan besar mengarah kepadaku. Tiger itu barusan meloncat menyerangku.


Serangan menyamping, dengan tubuhnya yang maju. Aku melompat ke belakang, tetapi karena melihat serangan tiger itu tak bakal luput.


"[Mana 3D] level 1"


Secara refleks aku mengeluarkan skill itu. Sebuah bola melingkariku dan rumus empat pi er kuadrat segera teratasi. Lagi-lagi kepala dan mataku menjadi panas. Rumus itu sepertinya bukan aku yang mengerjakannya.


Bola yang melingkariku ini menahan serangan kaki dari Boss Momon Tiger. Namun tetap saja, aku terhempas begitu jauh hingga membentur daratan.


Tanah meledakkan debunya, rerumputan alang-alang seketika membengkokkan wujudnya mengikuti arus angin hempasan debu.


Bola mana 3D yang melindungi pecah dan menghilang. Bola mataku menjadi putih dengan mulutku terbuka sembari mengeluarkan darah.


Serangannya bukan main-main sakitnya. Heath Poin yang terterakan angka 35% seketika menjadi 10%. Aku langsung sekarat dibuatnya.


"Tidak, uhuk uhuk..." Aku yang sudah berada di antara sadar tak sadar, berusaha kembali bangkit meski terus terbatuk-batuk mengeluarkan darah.


Bayangan seseorang mengucapkan sesuatu sebelum pergi terlintas di ingatanku.


"Aku ... Masih ... me-mili-ki, Jan-ji, aho," ucapku terbata-bata sambil mundur beberapa langkah ke belakang dengan terhuyung. Bibirku telah dilumuri darah layaknya lipstik yang berantakan.


"Manusia kepa*** seperti kamu itu sudah sangat beruntung. Hahaha, untuk level bocah, ternyata kamu sudah sekuat ini."


Terdengar suara yang agak berat terdengar di atas Boss Momon Tiger. Orang yang bersuara itu kemudian meloncat ke bawah lalu mendekatiku.


Bug...


Ia memukul wajahku dengan kepalan tangannya. Aku yang hampir tak sadar lantas terjatuh karenanya.


"Kau baji*** membunuh semua kucing manisku. Aku takkan membiarkanmu hidup sekarang," ucapnya sembari menendangiku.


Buk, buk, buk ....


"ugh..."


Siapa orang ini? Apa dia yang mengendalikan para momon tiger itu. Seluruh tubuhku terasa sakit sekali, perih, dan mungkin sudah remuk.


Red Potion ... Aku masih memiliki satu red Potion...


"[Storage]"


Ketika tendangan musuh sedikit berjeda, kuambillah kesempatan untuk berusaha meminum Red Potion yang telah berada di tangan tak bertenagaku ini.


Lemas, dan ketika bokongku kena tendang, tanganku yang memegang Red Potion tepat di bawah mulutku langsung tersentak. Alih-alih Red Potion masuk ke mulut terbukaku, terus terteguk masuk ke dalam kerongkonganku.


Seluruh tubuhku seketika terasa ringan, tak ada rasa sakit sama sekali, bekas luka akibat momon Tiger pun sembuh total kembali semula. HP dan MP langsung penuh.


Efek yang sungguh luar biasa. Kesadaranku menjadi pulih total dan langsung saja menahan serangan tendangan dari si pengendali Tiger itu dengan menyilangkan tanganku.


"Cih, Red Potion ya," ucapnya sambil meloncat menjauhiku.


Penglihatanku kini menjadi jelas. Rupa orang tersebut kulihat tak terawat, alis mata yang panjang, iris mata seperti kucing, dan rambutnya kuning panjang keriwil acak-acakan.


Kain yang ia gunakan tampak seperti kulit binatang harimau. Dan, itu hanya melapisi dadanya sedangkan bagian bawahnya tertutupi celana panjang. Ya, tubuhnya juga ideal untuk seorang perempuan.


Kulihat ia melambaikan tangannya kepada Boss Momon Tiger dan salah satu dari Boss Momon Tiger datang mendekatinya.


"Bunuh dia," ucap perempuan itu sembari menunjukku.


Mendengar itu lantas aku berlari, tetapi sayang salah satu boss tigernya menghadang jalanku.


Lagi-lagi cakaran kakinya beraksi, mengingat hempasan tadi aku tak berniat untuk mengeluarkan skill pengerasan mana. Lalu apa?


Tenang, di kondisiku yang seperti ini aku dapat mencari celah untuk menghindar. Meski itu kecil tapi coba saja.


Pijakan untuk penghindaran itu ada, tinggal beradu dengan kecepatan.


Bruash...


Tiger itu mengembuskan debu tanah dengan kakinya. Aku telah menghindari serangannya dengan berlari ke arah samping.


Debu tanah kini menjadi keuntunganku. Tepat pada saat tiger itu memutar badannya untuk mencariku, aku dengan cepat terpikirkan untuk menebasnya.


Langsung saja, aku pun berlari menelusuri alang-alang. Aku mencari letak kakinya.


"[Storage]"


Dan,


Jari-jari sebesar 35 senti meter terlihat pada lingkaran yang kubuat. Pertanyaan keliling menjadi persoalannya.


Luas sama dengan 2πr (dua pi er)


Tak terlalu berpikir panjang berkat pelafalan dasarku yang sudah terasah sejak bertemu TARANGKAGI. Alhasil tak sampai sepuluh puluh detik aku menyelesaikan persoalan itu.


"[Weak Point] level 5"


220 cm itulah jawabannya. Lingkaran Weak Point seketika meletakkan posisi tengahnya ke arah betis tiger, itu adalah kelemahannya.


"Penuh celah kau!" seruku sembari langkah lariku semakin mendekati Boss Tiger itu.


Tanganku menunggu munculnya benda yang aku pikirkan, tetapi sayang benda tajam yang aku pikirkan itu tak kunjung muncul.


Kulihat kembali benda yang tersimpan di dalam inventory. Di keseluruhan kolom penyimpanan itu sama sekali tak terlihat apa yang ingin aku ambil.


"Sial di mana pedang pendekku!" Lantas setelah menyerukan kalimat itu, aku baru teringat bahwasanya pedang pendekku telah patah di serang Tiger sebelumnya.


Jarak hanya tinggal tiga langkah di dekat kaki Tiger. Andai pedang pendekku masih ada, aku sudah melompat dan menyerang betis Boss tiger itu. Tapi sepertinya meski kuserang, kealotan kulit Boss Tiger nampak lebih kuat.


Kembali kuberlari ke belakang menjauhi momon berbulu itu. Namun sayang ia juga tampak telah mengetahui keberadaanku dan lantas saja menggerakkan kakinya dengan kuat.


"[Mana Ampliefer] level 3"


Keterbiasaan membuatku semakin lincah untuk mengeluarkan skill dengan mudahnya.


Mana ampliefer berbentuk persegi kini menyertaiku. Membuat serangan Boss Tiger tertangkis dan aku terlempar dengan kencang.


Aku berotasi dan menjadikan mana ampliefer untuk penahan benturan tanah. Kali ini aku tetap bertabrakan dengan tanah, tetapi mana amplieferku seakan menjadi sangat kokoh. Ia tak pecah sama sekali.


Tak diberi waktu untuk kembali bangkit, sang Boss Momon Tiger berlari dengan niat untuk menerkamku, deretan gigi tajamnya kali ini dibuka dengan lebar. Aku pun hanya bisa bangun duduk bertongkat lutut, dan ....


[Mana Ampliefer terupgrade]


[Mana Ampliefer terupgrade]


"[Mana ampliefer] level 5"


Kali ini perisai persegi panjang dengan ukurannya 100 × 50, lebih besar dari Boss Momon Tiger, kukeluarkan tepat di bawah kakiku sehingga perisai itu melebar dan memanjang sedangkan aku terikut naik ke atas.


Boss Momon yang menyerangku lantas saja manabrak perisai yang kubuat hingga ia pening beberapa saat, seperti terkena stun selam lima detik.


Aku yang telah terpental tinggi berkat perisaiku, lantas membentangkan kedua tanganku saat mulai terjun ke bawah. Aku mengarahkan tubuhku untuk jatuh tepat kepada Boss Momon Tiger.


"[Weak Point] level 5"


Segera skill itu kuaktifkan. Jari-jari lingkaran mengarahkan titik tengah tepat di bagian leher Boss Tiger.


Kembali kukendalikan tubuhku untuk menyelarasakan dengan titik lingkaran yang kulihat. Warna biru muda dari lingkaran berubah menjadi merah ketika posisi telah tepat.


Kini tubuh dengan tangan yang terbentang kuubah menjadi posisi meroket ke bawah—kedua tangan dengan telapaknya lurus menyatu di atas kepala, kepalaku sendiri berada di posisi terjun ke bawah—sedangkan mataku menyipit karena arus angin yang kulawan begitu deras.


Luas. Diagonal satu tambah diagonal dua per dua ((D1 + D2) / 2).


....


"[Mana Ampliefer] level 5"


Telapak tangan yang sebelumnya menyatu kubuka dengan kuat. Seluruh tenaga kukerahkan pada talapak tangan, aliran mana juga terasa mengalir cepat di tempat yang kufokuskan. Mana ampliefer berbentuk layang-layang muncul begitu besar dengan ujung yang terlihat begitu runcing.


Tepat pada saat mana ampliefer setipis rambut terbentuk sempurna, arah tanganku langsung ke posisi samping kanan, membuat posisi horizontal menjadi vertikal. Ujung paling runcing dari layang-layang menjadi tumpuan utamanya.


Kecepatan jatuhku pun menjadi luar biasa kencang. Titik terlemah musuh kini akan terserang.


Syat .... Jeb.