My Power Of Math Fantasies

My Power Of Math Fantasies
6. DESA ORCHID



Resha berusaha keras untuk menyembuhkan para rekannya. Kini ia memberikan pil penghenti darah kepada Mirai. Sayangnya, air dan pil tersebut tak bisa tertelan di dalam kerongkongan Mirai. Resha menjadi sedikit panik.


"Anu ...." Resha menengok ke belakang memperhatikan si kakek dan Nartou. Ia berharap salah satu di antara mereka ada yang berjenis kelamin perempuan.


"Hufh." Pemuda berjaket kulit tanpa lengan itu menghembuskan napas berat. Ia tampak begitu pasrah.


Tak ada cara lain lagi, Resha memasukkan air dan pil penghenti darah ke dalam mulutnya lalu memasukkannya kembali ke dalam mulut Mirai. Akhirnya air beserta pil tersebut masuk ke dalam kerongkongan Mirai.


Pupil coklat Resha tampak melebar dan napasnya menjadi begitu terengah-engah.


"Wuah, guru hebat juga ya," ucap Nartou dengan pipinya yang tampak merona merah.


"Anak muda sekarang tak sungkan-sungkan ya." Kakek di samping Nartou ikut menimpali.


"Ini kondisi kritis, jangan aneh-aneh," kata Resha yang berdiri dengan wajahnya tampak merona merah juga. Ia tampak seperti orang yang baru-baru melakukan hal tersebut.


"Eh, kamu. Jangan panggil aku guru, lebih baik panggil biasa saja dengan nama."


"Mmh, nama? Rasanya gak gereget. Gimana dengan sebutan kakak."


"Kakak? Ya sudahlah, suka-suka kamu. Sekarang tolong bantu aku bawakan rekan-rekanku ke rumahmu untuk beristirahat .... Bisa kan?"


"Untuk orang yang telah memberikanku sembako apa sih yang tidak boleh."


"Ada tiga orang, kakek apa kuat?" tanya Resha kepada kakek.


"Eh, anak itu sepertinya ringan-ringan saja kek." Nartou berpendapat. Ia menunjuk gadis yang memiliki tubuh seperti anak berusia 13 tahun.


Resha yang mendengar perkataan Nartou lantas menutup mulutnya dengan kedua tangan. Ia sedang menahan tawanya yang dapat meledak kapan saja.


" Hei, ayo cepatlah." Resha bergegas menarik Mirai dan menggendongnya di atas punggung. Begitupun Nartou yang menggendong Dayshi dan si kakek yang menggendong Raisa.


...➕➖✖️➗...


Sampailah mereka di desa Orchid. Desa kumuh yang bangunannya sudah tampak tidak terawat dengan baik, terlihat jelas dari tembok-temboknya yang berlumut dan retakan-retakannya yang ada di mana-mana. Bangunan itu tampak bisa rubuh kapan saja.


Jarak perbangunan rumah di desa itu sangatlah berjauhan. Ini disebabkan karena tiap rumah memiliki ladangnya masing-masing.


Yang anehnya di desa ini, tumbuhan anggrek malah terlihat seperti rumput liar yang tumbuh di mana-mana, aromanya pun terasa begitu menyengat di hidung Resha.


"Rumahmu masih jauh kah?" tanya Resha.


"Tidak sebentar lagi kita akan sampai," Sahut Nartou.


Tak berapa lama, Manik mata coklat Resha mengecil melihat apa yang ada di hadapannya.


"Lah .... Rumah kamu besar juga dari pada yang lainnya!" seru Resha sambil memandang Rumah bertingkat dua, memiliki halaman yang agak luas meski berisi lahan kering yang ditumbuhi bunga anggrek. Sebenarnya Resha juga agak heran dengan mengapa anggrek itu tumbuh dengan liar.


"Iya dong, rumah curian," ucap kakek itu.


"Hush Kakek. Itu bukan rumah curian. Cuma rumah kosong saja. Dulu ada satu bangsawan yang atur desa ini, sekarang sudah tidak ada," kata Nartou terlihat canggung.


"Hahaha cuma rumah curian saja tidak usah malu," canda Resha.


"Ahaha. Rumah kosong mending diambil, haha." Nartou semakin canggung.


..........


Dayshi, Mirai, dan juga Raisa akhirnya telah diistirahatkan di kamar lantai dua. Mirai sendiri hanya bisa dirawat dengan jerih payah Resha menggunakan kain seadanya untuk menutupi luka Mirai. Ia juga telah mencari dokter dan juga seorang class priest.


Namun hanya ada satu seorang priest, dan itupun skill yang dimilikinya masih belum terasah dengan baik. Alhasil Priest itu hanya bisa menyembuhkan sedikit luka dalam Mirai. Meski begitu nyawa Mirai terselamatkan walau butuh jangka waktu agak lama agar ia kembali sadar.


Waktu terus berlalu, perlahan satu persatu mereka bangun dari tidurnya yang agak panjang. Resha sendiri menggunakan waktunya untuk membantu penduduk desa Orchid untuk membangun kembali bangunan rumah yang telah hancur akibat pertarungannya bersama Mio.


...➕➖✖️➗...


"Ada apa ini. Makin hari, aku merasa semakin mengalami kesialan. Kemarin terpeleset masuk ke dalam sumur kosong, tadi pas memperbaiki genting warga malah terjatuh dari tangga, dan sekarang dinding beton rumah yang mau kuperbaiki malah menimpaku. Untung saja defenceku lumayan kutingkatkan, kalau tidak sudah lama aku terkapar gara-gara hal seperti ini," batin Resha.


Resha masih saja serius menatap langit memikirkan hal-hal tersebut. Ia bahkan terus membiarkan tubuhnya terkapar dengan dinding beton yang sudah bagaikan selimut yang menidurinya. Bahkan Health Point-nya saja menjadi 85%.


"Kakak. Kau tak apa-apa," ucap seseorang yang mengenakan baju kaos putih. Ia mengipas-ngipas tangannya di atas pandangan Resha, tetapi Resha hanya terus menatap kosong.


"Hei kalian bantu aku!" seru si codet dahi kepada teman-temannya yang sedang menyusun batu bata.


"Siap Boss," ucap mereka berpadaan. Mereka tak lain ialah para anak buah Nartou yang dulu menyerang Resha.


"Angkat batu beton itu," titah Nartou.


"Okey Boss. Kalian menjauhlah sedikit, biar aku sendiri yang mengangkatnya." Orang yang memiliiki tubuh agak gemuk itu bernama Ryan. Dia memiliki kekuatan yang agak jarang di temukan di kawasan Kingdom of Flower, yaitu Giant.


"[Giant Hand] level 3"


Tangan Ryan seketika membesar dan mengambil dinding beton yang berada di atas Resha. Baiknya Ryan mengenakan kaos elastis—item sihir—juga tanpa lengan, sehingga jika ia membesar kain yang ia kenakan takkan bisa rusak.


"Dia masih bengong," ucap si kumis lele yang tak lain ialah si Petrick.


"Kakak, bangunlah. Hooii," Nartou masih berusaha keras untuk menyadarkannya. Sekilas tadi ia melihat kondisi tubuh Resha yang hanya terluka ringan seperti lecet.


"BAAA!?"


Tiba-tiba Resha bangun dan mengagetkan orang-orang yang melihat Resha. Mereka semua termasuk Nartou refleks memasang kuda-kuda pertahanan yang aneh.


"Hahaha, kalian segitu terkejutnya kah, Hahaha ...." Resha dengan gelak tawanya membuka mulutnya lebar-lebar sambil memegang perutnya.


"Ka-kauu?!" ucap mereka bersamaan.


"Semoga ada lalat masuk ke mulutmu." salah seorang dari mereka yaitu si mata sipit, Leo, mendoakan Resha yang tidak-tidak dalam hatinya.


Benar saja, do'a Leo terkabulkan lebih dari apa yang ia bayangkan. Pas ketika Resha masih tertawa hingga kepalanya menengadah ke atas. Seketika sosok burung melintas membawa hadiah yang menarik ke dalam mulut Resha.


Resha yang tadinya tertawa nyaring, kini menjadi terdiam seribu bahasa. Bola matanya berputar ke atas dan mengeluarkan cairan pelangi tersensor dari mulutnya.


"Air air air. Ada air kah?" tanya Resha terburu-buru. Sedangkan yang lainnya malah menahan tawanya hingga air mata kebahagiaan keluar dari mata mereka. Entah diri mereka malah bahagia melihat Resha yang tersisa karena ulah si burung.


"Aaaaakh. Hei kamu si rambut jamet. Bunuh burung itu sekarang juga. Kita jadikan dia makanan. Hoeeek," ucap Resha dengan nada yang geram. Meski begitu raut wajah pemuda berumur 18 tahun itu begitu pucat pasi. Hanya matanya lah yang begitu berapi-api.


"Mmph, ba-ba-baiklah.


[Aerial Incision] level 6"


*Pchiu pchiu ... Wush


Tak ada yang kena. Burung berwarnakan putih itu terus saja terbang naik turun seolah mengejek si penyerang.


"MATI KAU!?" Akhirnya Resha sendirilah yang berhasil membuatnya jatuh hanya dengan sebilah daggernya yang dilemparkan dengan amarah.


"Hei kalian, ambil burung itu sekaligus bawa daggerku kemari. Setelah itu ikuti aku," kata Resha masih dengan emosinya yang meluap-luap. Matanya sebelah menyipit dan lidah terjulur keluar.


"Oh iya, Nartou. Tolong cari si kakek. Aku ingin bertemu dengannya. Hmm, kita bertemu di dataran Nemophilia—tempat di mana Raisa dan Mirai bertarung dengan Vyno," lanjut Resha.


Resha kemudian mengambil air di lubang hitamnya. Ia terlihat sangat terburu-buru, berkumur-kumur hingga kesekian kalinya.


"Sial, kalau ini tak segera kuatasi, bisa-bisa keadaan akan bertambah buruk," batin Resha. Ia mulai berjalan ke tempat yang ia katakan tadi. Sang master ini mulai merencanakan sesuatu yang baru lagi.