
Masih ada beberapa White forest rabbit di belakang kami. Mirai pun telah memberikan aba-aba. Lantas saja, Raisa dan Resha pun langsung bergegas, menyerang momon kecil berbulu putih yang tersisa di belakangnya, lalu meloncat siap mengerahkan skill damage area yang mereka miliki.
Sedangkan itu, diriku ini yang telah bersiap juga untuk memberikan serangan fisik dari pedang. Malah terjatuh akibat lengah berlari ke posisi aba-aba, sehingga momon kelinci yang ada di belakangku tak sengaja menyerangku dengan loncatannya, ia agresif karena ingin segera ke Mirai, Sampai-sampai musuh yang ada di sekitarnya—seperti aku—dihiraukan sama sekali.
Aku tertawa saat wajahku menyentuh tanah, kembali membangkitkan diri dengan berlutut. "....khahaha! Hahaha!" rasanya aku tidak waras. "Segini saja kah? Latihanku selama ini apa tak berguna sama sekali?"
Aku memegang wajahku, rasanya aku ingin menangis jengkel dengan diri sendiri. Aku membenci diriku yang begitu lemah, aku membenci diriku yang begitu o'on. Aku membenci diriku yang tak berguna.
Tetap kutahan air mata kesalku keluar. Aku berdiri, kembali tegap melihat ke depan. Resha dan Raisa telah meloncat dan sebentar lagi skill mereka berdua akan keluar menghancurkan para White forest rabbit.
Bergema dalam hatiku melihat rekan-rekanku berjuang menghadapinya. Bahwasanya dalam hati dan jiwaku sendiri. Aku itu ingin kuat, aku juga ingin membantu, dan yang paling penting aku tak ingin kehilangan sesuatu yang berharga di sekitarku.
"[H-BOMB]"
"[Black Smoke]"
Dhuarrr.. Bunyi ledakan seketika menyambar memekikkan telinga, cahaya putih yang sekejap menyala hampir membuat mata buta. Bersamaan dengan ledakan tersebut, asap hitam di lokasi target mengepul banyak akibat skill yang digunakan Resha.
Angin terhempas besar. Kami semua seketika ikut terlempar dalam beberapa meter. Pastinya Resha mendarat dengan aman, Raisa pun juga sudah mendarat dengan selamat meski ia harus menahan rasa sakit akibat terbentrok dengan pepohonan sekitar.
Aku sendiri, yah dengan pasrah harus terguling-guling di bawa angin. Pas aku sadar dan kembali bangkit, keadaan malah terlihat begitu rumit. Rupanya kombinasi antara skill Resha dan Mirai sangat tidak begitu cocok.
Beberapa White forest rabbit ada yang tak terkena serangan dan hanya terhempas, menyebar. Bisa dipastikan, waktu serangan yang diberikan kurang tepat. Sedangkan itu, skill Resha bak menjadi pulpen tanpa tinta. Skill tersebut dalam sekejap terhempas habis oleh ledakan yang dibuat Raisa.
Para momon tersebut kembali berkumpul dalam kawanannya. Terlihat satu momon yang lebih besar daripada yang lainnya muncul meloncat dengan bulu halus berwarna hitam.
Mirai, mengembalikan mode in enchantment-nya. Ia berlutut lemas dengan wajah berkeringat. Tampaknya mode tersebut menggunakan mananya secara terus menerus.
Resha berdecih, begitu pun dengan Raisa yang mengambil napas dengan geraham menggigit erat.
"Gagalkah?" ucapku dengan mimik penasaran. Ku melirik Resha dan ternyata ia juga melirikku lalu menghembuskan napas berat seolah frustrasi.
Apakah ia kecewa melihat diriku. Aku menundukkan kepala, termenung sebentar, lalu melihat ke arah Raisa. Ia masih tampak kesulitan untuk berdiri dan napasnya sedikit terengah-engah.
Sedangkan Mirai, ia malah tampak melamun, memperhatikan momon yang mulai melompat datang ke arahnya, dan tak lama dari itu, smirk dari parasnya seketika terlukis.
Aku terkejut. Mirai terlihat dapat dengan mudah menghabiskan momon tersebut dalam sekejap. Saat para momon tersebut telah dekat dengannya, dan Mirai—dengan kaki menekuk dan badan membungkuk seperempat serta tangan merenggang, telapak seperti ingin mencakar—bersiap untuk menyerang, tiba-tiba Resha menyerukan Mirai.
Seolah sadar diri, Mirai menggunakan kekuatan kakinya untuk meloncat mundur. Mereka—White forest rabbit—seketika menghempaskan diri ke arah kami semua. Serangan yang ia gunakan ialah meloncat ke sana ke mari dengan menabrakkan tubuhnya. Pepohonan sekitar digunakannya sebagai tempat berpijak.
Refleks Resha yang melihat Raisa tanpa pertahanan di dekatnya menahan serangan momon tersebut dengan cara menebasnya. Tiap momon yang mendekati Raisa dan Resha akan terhempas juga terbelah dua, bahkan serangan yang luput ke dirinya akan terhindar sendiri karena adanya skill pasif smoky. Jadi, Resha hanya terfokus ke momon yang datang ke arah Raisa.
"Kau tak apa-apa, Dayshi?" tanya Mirai yang tiba-tiba berada di hadapanku dengan tanah yang menjulang di balik dirinya.
"I-iya. Bukannya kau yang tak apa-apa sampai napasmu gelagapan begitu," jawabku khawatir sampai nada suaraku agak meninggi.
Aku yang tengah duduk terletih, melirik tanah yang menukik di belakang Raisa. Tanah berlapiskan cahaya biru langit, aliran mana terasa di dalamnya. Sebuah pikiran terlintas di kepalaku, apakah Mirai dapat membagikan mananya kepada makhluk hidup seperti hewan momon.
"Kenapa?" Mirai tampak heran melihat diriku. Ia sepertinya melihatku yang menatap tanah sehingga ia juga menoleh ke apa yang aku perhatikan. "Oh, ini adalah kemampuanku. Overspread, membagikan mana ke objek sekitarku sehingga aku dapat mengendalikannya."
Sudah kutembak dia dapat membagikan mananya. Namun, bisa tidak ya, Mirai membagikan mananya ke makhluk hidup.
"Tak ada waktu untuk mongobrol. Ayo, cepat, habisi kelinci-kelinci itu."
Aku diam sejenak sembari mengalihkan pandangan ke arah para kelinci yang terus berloncatan dengan gesitnya. "Baiklah."
"Hei Mirai, aku punya ide."
"Hm, cepatlah katakan."
"Aku akan menggunakan manaku."
Seolah ingin memastikan, Mirai menatap mataku dengan dalam. "Baiklah, kamu yang tahu sendiri akan konsekuensinya."
Kujelaskanlah sebentar apa yang kupikir itu baik dalam rencana ini, lalu aku kemudian keluar dari lindungan tanah Raisa.
Aku berlari, secepat mungkin aku berputar ke samping para kelinci yang maju. Tepat, saat aku sudah berhasil mencapai ke belakangnya. Aku berseru "Bersiaplah."
Lantas para rekanku mengikuti apa yang kukatakan. Mereka tampak mengerti akan apa yang akan aku lakukan.
"[MANA 3D],"
Cahaya biru mengumpul di hadapanku. Ini adalah layar yang hanya diriku bisa lihat. Soal perhitungan akan segera dimulai. Waktu terasa melambat, tetapi badanku tak bisa kugerakkan, hanya pikiranlah yang dapat bekerja.
"Apa yang terjadi?!"
"Seperti yang anda pikirkan. Soal perhitungan akan anda kerjakan. Waktu melambat karena skill pasif yang anda miliki, yaitu skill Ngitung. Tetap tenang dan kerjakan dengan baik-baik, tuan." Telingaku berdengung, itu suara anak perempuan lembut.
"Yui?!"
"Iya, tuan. Anda ingin bertanya?"
Hahaha, entah mengapa rasa penatku seketika buyar. Mendengar suara lembut Yui sungguh menyejukkan perasaanku. Aku membayangkan jika Yui adalah seorang gadis kecil dengan muka bulat imut, sedang tersenyum dengan wajah yang polos di hadapanku.
"Tuan? Jika bisa, cepat selesaikan soal di hadapan anda ya, agar skill anda bisa segera keluar."
Kembali kutersadar, waktu di hadapanku hanya melambat, jika tak segera kukeluarkan, rekan-rekanku akan dalam bahaya. Tak pernah menyangka bahwa skill ngitung di level lima telah bisa melambatkan waktu hanya untuk agar diriku bisa menjawab pertanyaan seputar matematika. Hahaha, jawaban hasil matematika bakal menentukan masa depanku? Yang benar saja. Dasar permainan ngotak.
Kutarik napasku dalam-dalam lalu menghembuskannya secara perlahan-lahan. Kumulailah apa yang bisa aku lakukan. Mencermatinya, membacanya, lalu menghitungnya.
^~^~^~^~^~^~^~^~^~^~^~^~^~^~^~^~^~^~^~
***Gimana semuanya?Yok hitung yok. Bantu Dayshi agar dia bisa mengeluarkan kekuatannya.
*Jangan lupa, tetap jaga kesehatan ya. Semoga hari kalian menyenangkan. Awokwkwkwk *Author gaje XD****
^~^~^~^~^~^~^~^~^~^~^~^~^~^~^~^~^~^~^~