My Power Of Math Fantasies

My Power Of Math Fantasies
8.4 Pengecut



"Gila'?!" Aku menggelengkan kepala. Masih pening. Kutarik napas melalui mulut yang membuka kecil dengan gigi merapat.


Di hadapanku. Terlihat jelas lubang raksasa yang berukuran kurang lebih dari lima ratus meter. Selebihnya yang tak terkena habis mengering, terbakar, dan hangus. Bukan hanya momon yang aku kurung yang terkena damage yang Raisa berikan.


Momon lain berupa hewan juga dibuatnya terbunuh dengan mengerikan. Mereka terbakar hidup-hidup, ada pula yang tubuhnya hancur, meledak, serta dibuat tak sadarkan diri dengan darah yang keluar dari rongga yang ada di tubuh para momon.


Mual kurasakan saat memperhatikan. Kupegang punggung panasku untuk memastikan. Untunglah apa yang aku bayangkan tidak terjadi pada tubuhku. Walau begitu, pening di bagian kepala masih terus terasa bak berada di kapal yang terguncang-guncang oleh ombak.


"Resha. Bagaimana dengan yang lain?" Aku memegang pundak Resha. Satu tanganku memegang mulut, bersiap jika saja sisa makanan di perutku keluar.


"Aku tidak tahu." Resha menoleh—melihat aku yang ada di belakangnya. "Ayo segera cari mereka. Pasti keduanya takkan jauh dari ledakan ini."


"Ba-baiklah."


Kami pun mencari Raisa dan Mirai. Tak butuh waktu yang lama Raisa datang menghampiri kami sendiri dari atas langit menggunakan Helium Bubble, menyusul dengan Mirai yang berlari ke arah yang berlawanan dengan kami.


Melihat kedua orang tersebut selamat aku dan Resha lantas menghembuskan napas lega dan secara bersamaan kami mengomeli Raisa.


"Hehe," balas Raisa saat kami telah capek mengatainya.


Resha mengeces, wajah kesal, mata memutar, serta kepala menggeleng, menunjukkan bahwa ia telah kehabisan kata-kata.


"Sungguh terlalu keseriusan kamu, Sa."


"Maaf, kelepasan tadi," jawab Raisa, merasa bersalah.


"Sudah-sudah apa yang terjadi biarkan berlalu, jangan terlalu membesarkannya, nanti masalah akan semakin rumit. Cukup jadikan pembelajaran," ucap Mirai. Ia menatap ke area yang berlubang lalu ke area terbakar.


Aku yang melihat Mirai, lantas memperhatikan apa yang ia perhatikan." Apa kita akan membiarkan hutan ini habis terbakar?"


"Kita harus memadamkannya," sahut Mirai, masih memperhatikan sudut-sudut pepohonan yang terbakar.


Banyak momon berkeliaran panik. Burung-burung bercahayakan mana beterbangan di atas langit berputar-putar, tampak seperti kunang-kunang berwarna-warni.


Hawa panas datang kemari. Itu berasal dari momon Bombie berlari menyelamatkan dirinya yang terbakar. Sampai pada akhirnya ia tersayat belati Resha.


"Mana Point kalian cukup terkuras—" Resha berhenti berkata setelah melihat MP Raisa dan Mirai tak turun dari angka 90%. Mana Point kedua orang tersebut memulih cukup pesat karena keduanya merupakan tipe mage.


"Terutama kamu, Dayshi. Bukankah waktu itu Eva telah mengatakan kepadamu bahwa dalam sehari kamu hanya bisa menggunakan skill aktif sebanyak tiga kali saja. Dan kamu telah menggunakan satu skill aktifmu demi mengalahkan momon kelinci berlevel rendah tadi. Huh, aku sendiri sebenarnya dapat menghabisi mereka sendirian. Tapi—"


"Resha, tenangkan dirimu." Mirai menatap mata Resha. Resha terdiam. Aku tercengang. Tak biasanya Mirai bersikap sangat tegas dan dewasa.


Kata-kata Resha cukup membayang-bayangi pikiranku. Aku betul-betul kesulitan tanpa menggunakan kemampuan 'Math Fantasies'. Fisikku kurasa mulai lumayan tangguh sejak latihan waktu lalu. Namun, kemampuanku masih kurang memumpuni, serangan fisik yang kuberikan masih berdamage kecil.


Bagaimana ini....


"Yui, apa kau mendengarkanku. Bisa minta tolong perlihatkan statusku."


"Ya, Tuan."



Ck, tak jauh berbeda saat aku masuk ke desa Orchid. Serangan fisik, menurutku dah lumayan. Defence ku lemah. Kecepatan lariku juga ....


"Kurasa segitu saja, Yui."


"Tuan, berusahalah untuk menghibur diri anda sendiri."


"Yui?" Suara Yui menghilang. Meski kupanggil, ia tak mengeluarkan suaranya.


"Jadi, bagaimana caranya kita memadamkan api yang seluas ini?" tanyaku.


"Kalau itu, biarkan Raisa saja yang bertanggung jawab. Raisa masih memiliki banyak mana. Jika Raisa mengeluarkan 20% mana Raisa untuk menggunakan skill the hands of the tree, maka Raisa akan bisa menyerap semua oksigen di sekitar pepohonan tersebut. Walau begitu, Raisa masih butuh waktu yang sangat lama. Jadi kalian bantulah Raisa memadamkan beberapa wilayah di pinggir sana yang terbakar," sahut Raisa.


"Oke," ucapku. Resha mengangguk dan Mirai bergegas mengikuti Resha dan aku yang mulai bergerak mencari air.


...Author POV...


Di lain tempat di lokasi yang sama, hutan Aeriel di puncak gunung Sariel. Sosok terbakar api hijau, menyerupai manusia, menatap tajam langit-langit malam, lalu ia tunduk menyoroti asap hitam di area lokasi Dayshi bersama rekannya.


"Sudah lama aku tak berjumpa dengan ras human. Dan seperti biasanya, mereka muncul menghebohkan wilayah kekuasaanku." Sayap dari tubuh sosok tersebut memekar, bulu burung berapi hijau berjatuhan dari tempat ia berdiri.


"Sungguh, kalian benar-benar lancang." Sayap dari punggung sosok tersebut kini mulai mengibas dan menghempaskan apa yang ada disekitarnya sejauh sepuluh meter. Apa yang terhempas tersebut terbakar api hijau, lalu saat sosok tersebut memetikkan jari, seluruh api hijau yang menyala mendadak padam.


Sosok tersebut terbang ke langit. Bertujuan mencari dalang yang membakar wilayah kekuasaannya. Ia dipenuhi oleh naf*u membunuh, takkan membiarkan siapapun semena-mena di tempat ia tumbuh besar.


****


Api unggun menyala, item-item dari para momon yang mati, terkumpul di sampingnya. Gundukan sebesar ukuran manusia biasa, itu pun masih banyak yang belum di ambil sepenuhnya.


Sistem party menentukan keaktifan masing-masing orang yang berpartisipasi. Semakin banyak ia berpartisipasi maka semakin besar pula ia mendapatkan drop item langka serta peningkatan XP pesat.


Raisa kini meningkat pesat. Di desa Orchid selama melatih diri sendiri ia up ke level 50 dan kini setelah mengeluarkan skill H-BOMB, ia langsung naik ke level 60. Mirai dari level 75 di desa Rose kini naik ke level 92. Resha sedari awal aku rasa ia sudah berada di level 160, hanya saja ia nampak seperti menyembunyikan levelnya.


Terkadang jika aku aku melihat status Resha, aku sering bertanya-tanya dalam benakku. Apa level seseorang dapat di manipulasi? Ataukah dapat di ubah seenaknya? Status menunjukkan suatu hubungan, itu berarti hubungan pun dapat dimanipulasi sesuai kehendak, bahkan sistem saja sulit untuk menyesuaikannya.


"Sepertinya aku sudah tak dapat menyembunyikannya lagi," ucap Resha setelah ia mengeluarkan napas berat. Ia menatap satu diriku, lalu menatap ke lainnya.


"Raisa dan Mirai tampaknya telah lama mengetahuinya. Hanya saja aku heran mengapa kalian berdua sama sekali tampak tidak peduli."


Raisa dan Mirai saling bertatap, lalu mengangkat satu alis kerut ke arah Resha. Ia tampaknya agak bingung dan seperti ingin mendengar perkataan Resha lebih lanjut.


Resha menghela napas. "Sudahlah, kalian ini.... Mungkin cuma kamu yang tampaknya sudah lebih sadar denganku Dayshi."


"A-apa?!" Aku agak bingung menanggapi Resha, tetapi aku tahu apa yang ia maksudkan.


"Tidak usah berpura-pura bodoh. Barusan aku melihat kamu melirik ke atas kepalaku. Apalagi jika bukan mengenai status. Aku hanya ingin memberitahukan status mengenai levelku, ya levelku sekarang sudah berada di level 170. Aku takkan memberitahukan mengapa levelku tampak seperti aku dapat mengubah-ubahnya. Ya kan, Dayshi? "


"um." Aku mengangguk sedikit. Tak kusangka ternyata ia sudah berada di level 170.


"Kalian tak boleh mempertanyakannya. Aku malas menjawabnya. Kalau begitu, Dayshi, simpanlah seluruh item ini ke dalam penyimpananmu." Resha dengan malas menjatuhkan tubuhnya untuk berbaring. Ia menguap. "Aku capek. Ini waktu kita untuk istirahat."


"yah baiklah." Aku mulai memasukkan item satu persatu. "Resha."


"Ya."


"Mulai sekarang, kamu saja yang memimpin kami."


Resha menghela napas. "Huh, jika kalian semua tak keberatan baiklah. Namun untuk ke depannya aku takkan bertanggung jawab terhadap kalian jika terjadi apa-apa."


"Apa kamu bilang!?" seru Raisa.


"Ya kalau tak sepakat, kamu saja yang memimpin kita."


"Dayshi. Apa semudah itu kamu...." Raisa terdiam sejenak setelah melihatku menunduk dengan muka suram. "Sepertinya perbedaan level kita membuat kamu seperti itu. Tapi Dayshi—"


"Ya, BEGITULAH! Selama ini aku juga tak terlalu berperan penting bukan!" Aku membentak. Sudah cukup. Beginilah aku. Aku hanyalah orang lemah, Bodoh, dan tak berguna. Aku hanyalah beban untuk kalian.


Aku menggigit bibirku. Tak terima dengan kata hatiku sendiri.


"Kau pengecut, Dayshi, " ucap Raisa. Jelas dan tajam.


Ya, begitulah aku.


"Gimana?" tanya Resha


"Aku saja yang selanjutnya akan memimpin kalian. Mohon bantuannya," lanjut Raisa dengan tegas.


Resha bangkit dari baringannya. Ia menatap ke langit-langit malam. "Tampaknya kita tak bisa beristirahat malam ini."