My Power Of Math Fantasies

My Power Of Math Fantasies
7.3 Pergi melatih adik bawahan Resha



...~Author POV~...


*Buakh


dentuman keras dari tangan yang berukuran besar menghantam salah satu momon agresif bertipe animalia, yah, momon itu adalah Momon Tiger dengan levelnya yang sudah berada di level 80.


"Hufh, yang benar saja. Melawan tiga ekor Tiger seperti ini saja kami sudah kewalahan." Seorang pria berbadan bongsor itulah pemilik tangan raksasa tersebut.


Ryanlah namanya, sosok yang memiliki kekuatan Giant, yaitu dapat mengubah ukuran tubuhnya sesuai kemauan dirinya sendiri. Levelnya kini telah mencapai angka 47.


"Hiiik, untuk apa juga kita harus ke hutan ini. Kita cuma cari mati saja. Belum juga sampai di hutan itu, kita sudah kewalahan begini. Apalagi kalau kita sudah ma—"


Yah, orang satu ini memang suka mengeluh meski umurnya sudah cukup di bilang dewasa. Namanya adalah Petrick, saat ini ia baru saja naik ke level 44.


"Terus untuk apa juga kamu ikut kalau kerjaannya ngeluh mulu. Sana balik aja sendiri!"


Nah yang satu ini namanya adalah Raisa. Dia—


"Gak usah kenalin aku!"


Ahaha, dia memang kayak kucing garong oranye.


"WOY."


Oke kita next.


Ryan mengecilkan tangan raksasanya sembari menahan sosok orang tua yang berada di pundaknya. Yah, tentu saja, sosok tersebut ialah sang kakek yang menunjukkan jalan ke Hutan Aeriel.


Level kakek berada di level 97, meski begitu ia terlihat lemah dari segi pemampilan, kulit keriput di wajah dan badan yang tampak kurus. Namun, tak dapat di pungkiri jika ia memiliki kekuatan yang lumayan besar di dalam desa Orchid. Kekuatan tanahnya yang merupakan mana dasar alam pun menjadi keunggulannya.


"Tapi baguslah, kita semua sekarang telah naik satu level. Perkembangan yang termasuk cepat, naik satu level hanya dalam satu hari," ucap seseorang yang tengah berdiri memperhatikan sosok Ryan. Kedua tangannya yang saling memegang, tertaruh pada punggungnya.


Orang ini suka menjaga kewibawaannya. Bagi dirinya sendiri, itu adalah hal yang harus ia perhatikan. Tokoh yang memiliki codet di mata kanan ini bernama Dhile. Level 46 dengan kekuatan sihir wind.


"Satu hari? dari mananya coba? Bukannya dari kemarin kita hajar tuh para momon. Mana momonnya itu tipe monstalia lagi, dapatnya cuma bongkahan batu dan satu buah kristal. Belum lagi itu yang pusaka-pusakaan, kapan coba kita bisa mengeluarkannya."


Leo, orang yang memiliki mata sipit dengan rambut lumayan panjang berantakan. Level 44 dengan kekuatannya berdasar dari alam, yaitu rotan.


"Pagi-pagi begini kalian sudah berisik saja. Ayo cepat jalan," ucap Resha dengan mulutnya menguap lebar, sembari salah satu tangannya mengucek-ngecek sebalah matanya.


Tiga orang yang berada di hadapan Resha saling diam dengan gaya penutupan dari suatu pertarungan. Mereka tampaknya sangat menikmati levelnya yang baru saja naik.


Sembari tersenyum dan bergaya so cool, ketiga orang itu pun menerobos jalan rekannya yang lain dengan dada busung.


Tiga orang itu ialah, Alex, Light, dan Gerry. Trio sejati yang selalu berjalan dan bertarung bersama-sama. Tentunya dengan bergaya elegan tanpa mengeluarkan sepatah kata, kecuali ....


"Heh, Momon kecil begitu masih kurang memuaskan," kata Alex sembari mengepakkan kaos putih kusamnya yang seragam dengan rekan lainnya .


Orang tua satu inilah yang memimpin trio sejatinya. Satu-satunya orang yang sangat berbeda dengan kedua teman akrabnya. Banyak bicara, liar, dan haus akan pertarungan.


Namun, jika bertanya soal bergaya elegan. Dialah satu-satunya yang paling ingin menonjolkan gaya khas itu dibanding kedua rekan rukunnya.


Ketiga orang ini juga memiliki level yang lebih unggul dibandingkan dengan anak buah Nartou lainnya, 48. Light dengan sihir angin [Wind], Gerry dengan sihir pohon [tree], dan Alex dengan sihir [Rafflesia].


"Hahaha ...." Gelak tawa khas orang tua terdengar dengan lantang.


Trio elegan itu seketika menghentikan jalannya. Alex memutar kepalanya ke belakang dengan mata tertutup, sedangkan kedua temannya tetap menatap ke depan.


"Kakek?!" ujar Alex yang kemudian membuka kelopak matanya perlahan.


"uhuk uhuk ... Hahaha." Kakek masih tertawa meski ia sampai terbatuk-batuk.


"Ngeluarin pusaka saja belum bisa, eh, gayanya sudah setinggi langit cuma gara-gara ngalahin momon agresif level 80. Itu juga dibantu yang lain. Hahaha .... Uhuk Uhuk. Hoeek," ucap kakek. Masih dengan gelaknya yang kini hampir dimuntahkan.


Semuanya kecuali trio sok cool itu ikut tertawa melihat tingkah si kakek dan orang yang disinggungnya.


Alex yang mendengar perkataan si kakek hanya merespon dengan menutup kembali kelopak matanya sembari memberikan ukiran senyuman pada bibirnya.


Padahal di dalam hatinya berkata "makan sana tawamu!" dengan gemasnya.


"Yo, cepat jalan. Mau ditinggalin!" seru Leo ketika yang lainnya telah berjalan melalui Alex yang masih memejamkan matanya. Ia benar-benar mendalami jiwa seorang elegan yang cool.


"Sudah, simpan dulu tingkah sok kerenmu itu. Lihat, di depan sana. Tinggal beberapa jam kita akan masuk ke area hutan Aeriel," ucap Ryan.


Alex hanya terkekeh, dan melangkah layaknya seorang raja yang berjalan di atas tikar merah.


...***...


"Inikah yang namanya hutan Aeriel," ucap Dhile.


Semuanya tampak menengadahkan kepala, melihat besar dan rimbunnya hutan yang mereka akan pijak dalam beberapa langkah lagi.


Semuanya menghirup udara sejuk yang keluar dari hutan itu. Hawanya begitu adem, cercahan cahaya yang berada di dalam hutan itu pun begitu terlihat estetik.


"Andai kita dapat tinggal di sini saja," ujar Petrick yang maju duluan menapak pinggir hutan Aeriel.


"Hei, jangan terlalu terbawa suasana. Apa kalian tidak ingat rumor tentang hutan ini. Sudah banyak warga desa kita yang masuk ke hutan ini dan tak pernah kembali pulang," tegur Ryan.


"Ah, kamu terlalu serius. Itu kan cuma rumor. Palingan orang-orang yang hilang itu pada tinggal di sini."


"Indah," ucap singkat Raisa yang juga ikut masuk ke dalam hutan bersamaan dengan yang lainnya. Ia celingak-celinguk dan tersenyum-senyum sendiri.


"Kamu suka tempat ini ya?" tanya Resha saat memperhatikan Raisa.


"Hm, gak juga. Aku cuma senang aja lihatnya," jawab Raisa.


"Hah? Itu bukannya sama aja dengan suka," ujar Resha bingung.


Sedangkan itu, Ryan yang masih di luar hutan malah terdiam dan melongo melihat yang lain dengan santai sekali masuk ke dalam hutan tersebut.


*Plak


"Ayo cepat masuk. Jangan bengong di sini. Badan aja besar, tapi mental malah kayak tikus."


"Kakek ini yah, kalau bicara sukanya nusuuk aja sampai di hati. Mana kepalaku di pukul lagi," keluh Ryan yang kemudian ikut masuk ke dalam hutan.


"Sudah, turunkan aku di sini."


"Eh, kakek ngambek ya."


"Aish, cepat turunkan aku," ucap kakek lagi.


"Baik kek." Ryan pun melepas tangannya yang memegang erat kedua kaki si kakek. Kakek pun beranjak turun dan mengeluarkan pusaka dalam dirinya yang berupa tongkat emas.


Pusaka yang dikeluarkan kakek itu ternyata di gunakan untuk penyangga berat tubuhnya yang sudah tua renta. Meski begitu, gerak jalannya tetap seperti orang biasa pada umumnya.


"Yosh, cukup sampai di sini. Pelatihan kita akan di mulai dari sekarang."