My Power Of Math Fantasies

My Power Of Math Fantasies
7.5 Kelompok Leo




Momon vegetalia, momon yang kerap juga disebut sebagai tumbuhan. Momon ini memiliki banyak jenis dan rupa, salah satunya ialah Bumbie, jenis momon vegetalia yang dapat bergerak.


Bumbie hidup di hutan yang lebat, ia biasanya berada di bawah pepohonan yang rindang dan pastinya jauh dari sinar matahari. Sekilas tumbuhan ini hanya menampakkan buahnya yang berupa umbi-umbian yang bentuknya besar dan berisi.


Namun, jika di dekati lagi, akan tercium aroma khasnya yang begitu manis menyengat. Terkadang serangga-serangga kecil berkeliaran di sekitarnya, dan bahkan binatang herbivora pun sering tertarik mendatangi momon Bumbie tersebut.


Di sekitar buah Bumbie nampak gundukan tanah menyelimutinya. Gundukan tanah tersebut sebenarnya adalah pokok Bumbie yang bentuk aslinya seperti kelopak bunga besar yang terbalik dan terlapisi tanah. Karena warnanya persis pula dengan tanah, maka pokoknya itu tak bisa dirupa apakah itu benar-benar sebuah kelopak pokok Bumbie.


Ketika ada hewan yang ukurannya seperti kucing mendekatinya hingga menyentuh umbi Bumbie tersebut, barulah kelopak pokok Bumbie itu akan mekar menelan dan melumatkan mangsanya habis-habis dengan duri tajamnya yang juga ikut mekar di dalam.


Sedangkan di balik kolopak dalamnya itu memancarkan kulit berwarna warninya, yang jika diperhatikan baik-baik juga terlihat warna merah darah dari kulit kelopak Bombie tersebut.


Dan jika saat ia tak mendapatkan mangsanya, dalam artian mangsanya itu lolos. Maka momon Bumbie ini akan menjadi agresif, di mana ia akan keluar dari tanah dengan akarnya berjumlahkan 3-4 lalu mengejar mangsanya hingga bisa ia ***** dengan mulut kelopaknya itu.


Begitulah yang saat ini mulai terjadi kepada Leo. Ia menghampiri momon tersebut tanpa tahu apa-apa. Rekannya yang lain telah memperingatinya, tetapi karena mereka sama-sama tak tahu akan momon itu, dan juga statusnya yang terbilang normal-normal saja. Maka dibiarkanlah Leo ke sana dengan modal ingin cepat mendapatkan bahan makanan.


Tepat saja saat ia meraih dan menyentuh umbi nan harum manis itu, seketika kelopaknya mengatup dengan begitu cepat. Untungnya Leo memiliki insting yang sama dengan hewan buas, insting bahwasanya ia terancam mati.


Sebelum kelopak Bombie itu mengahajarnya, ia memijakkan kakinya seperti per, menjauh meski ia harus tergelincir karena permukaan yang ia pijak tiba-tiba menjadi licin.


Badan Leo terjatuh menghantam tanah, kakinya pun hampir saja terlahap. Yah bisa dibilang malah separuhnya yang selamat, tetapi sandal jepit kayu yang ia pakai berhasil ditelan oleh momon Bombie itu.


Bunyi "Bumb" begitu keras. Momon Bumbie yang merasa tak mendapatkan mangsanya. Langsung keluar dari permukaan tanah. Bulu-bulu halus dari kelopaknya yang mengatup, terbang menyelimuti apa yang di sekitarnya.


Leo cukup shock, ia bangkit kembali dan berusaha kabur dari momon vegetalia yang mengamuk. Kedua rekannya yang lain turut membantu Leo, menarik tangannya, lalu bergegas menghindari mulut Bumbie yang menganga lebar.


"He-hei, aku punya ide," ucap Leo. Masih berlari setan, tetapi kepalanya tertuju pada Momon vegetalia berkaki empat tersebut, tepatnya kaki berbentuk akar kayu.


"Cukup, hentikan ide ide konyolmu itu." Dhile tak menggubris ucapan Leo, ia tetap menarik keras tangan Leo bersama dengan Gerry.


Akar pohon begitu lebat. Ada yang menggelantung dan ada yang menjalar, beberapa yang menonjol tinggi, hampir-hampir menjatuhkan ketiga pemuda berumuran tiga puluh-an itu.


Cukup jauh mereka berlari, semakin dalam pula mereka memasuki hutan. Suara gemuruh dari badan berukuran empat meter yang mengejarnya pun telah tiada.


Mereka berhenti, memastikan keadaan dengan sikap siaga, memegang persenjataan yang hanya berupa golok dan pancing. Entah, pancing tersebut mungkin tak ragu-ragu akan dipatahkan oleh Dhile saking paniknya.


Merasa aman, mereka menghembuskan napas selega-leganya. Jantung mereka masih berdegup kencang serta air pori-porinya telah keluar mengucur, itu membuat mereka merasakan hawa panas dari tubuh mereka.


"Tenggorokan serasa kering, dan kita telah menghabiskan persediaan air yang minim kita bawa hanya untuk mendatangi hutan ini. Sepertinya kita benar-benar akan cari mati. Tapi ini sangatlah menarik, hahaha," kata Leo dengan terengah-engah. Namun tidak dengan ekspresinya yang tampak begitu menikmati hasil kejar-kejaran itu.


"Leo, kumohon jangan berulah lagi. Kita bisa kapan saja mati meski kita tak melakukan apa-apa, apalagi jika bertindak ceroboh dan dengan sewenang-wenangnya menghajar apa saja isi hutan ini. Apa kau ingin mempersingkat hidup kita?! Bukan hanya nyawamu saja loh yang dipertaruhkan, "tegas Dhile.


Sedangkan itu Gerry yang masih belum mengeluarkan sepatah kata, terfokus akan apa yang ia lihat di hadapannya. Ia juga celangak-celinguk, tak membiarkan pandangannya lepas dari apa yang ada di sekitarnya. Lalu ia kembali lagi ke titik sebelumnya.


Benda oval terlihat, ukurannya lebih besar daripada bola sepak jerami yang pernah ia mainkan sewaktu kecil. Ia meneguk liurnya, perutnya pun mulai melantunkan nada khas.


Kedua rekannya yang sibuk berdebat, terhenti mendengar lantunan perut Gerry. Benar saja, kedua orang tersebut langsung memegang perutnya juga leher berjakunnya. Mereka dilanda derita kelaparan dan kehausan.


"Gerry, apa kamu melihat sesuatu?" tanya Dhile.


Gerry mengangguk dan menunjuk ke ranting pohon. Tiga butir telur besar pun terlihat. Leo dan Dhile menegukkan ludahnya.


Leo seketika ingin bergegas, namun dihadang tangan oleh Dhile.


"Kamu punya masalah apa denganku?!" sarkas Leo.


"Ayolah, setidaknya perhatikan dulu sebelum bertindak." Dhile menatap serius mata Leo. Leo yang ingin segera mengambil telur tersebut dengan penuh nafsu, akhirnya mendengarkan ucapan rekannya.


Ia jelas teringat saat menatap mata kiri Dhile, mata yang telah hilang dengan bekos codet sampai pada dahinya. Jelas-jelas dahulu ialah yang membuat Dhile terkena luka tersebut, kecerobohan pada saat muda dan pada saat melewati masa yang lebih kelam dari keadaannya sekarang.


"Hufh, baiklah," ucap Leo. Ketiganya memperhatikan telur tersebut. Tak ada yang tertera pada statusnya, sama dengan momon Bombie yang juga ketiganya tak tahu akan nama momon itu. Yang mereka tahu hanyalah level dan tingkatan momon tersebut.


Terlepas dari itu, hanya momon yang pernah mereka lihat, dengar ciri-cirinya, ataukah dari sebuah buku, yang bisa membuat informasi status momon akan terisi. Karena pada dasarnya layar tulisan yang tertera dari aliran mana yang terhubung dengan mata, juga terhubung dengan otak atau ingatan.


Mereka yang telah tahu bahwasanya apa yang mereka lihat itu adalah sebuah telur, maka status dari benda yang mereka lihat akan tertulis telur. Namun beda lagi dengan status level maupun title-nya, dua hal ini adalah hal yang umum langsung tertera.


...[ Telur .......


...50...


...Common ]...


Lama setelah menyelidiki. Mereka saling menatap mata, kemudian mengatur strategi. Gerry naik mengambil telur tersebut, sedangkan keduanya memantau sekitar.


Tak ada tanda-tanda yang berbahaya. Gerry mengambil satu telur dengan kedua tangannya. Ia sangat berhati-hati. Hingga pohon yang ia naiki tiba-tiba layu serta bergetar, tanah pun jadi berguncang. Dan dari tanah itu pula, seekor ular raksasa melompat hendak menerkam Gerry.