
"Berubah? Apa kamu dekat dengan dia," ucapku penasaran. Aku kembali duduk di tepi jendela yang tak memiliki pintu penutup itu. Gorden putih yang berkibar-kibar aku ambil, lalu mengikatnya karena cukup merisihkan pandanganku.
"Tidak. Aku hanya mengenalnya saja. Kurasa dia adalah orang yang baik. Lima tahun yang lalu, aku pernah diselamatkan oleh dia. Waktu itu aku masih berusia delapan tahun, dan ...."
Flashback on
Reynald POV
Saat itu aku dibawa oleh kakek untuk mencari bahan makanan. Pastinya di luar dari kawasan desa Orchid. Momon kelas rendah yang dapat di makan itulah buruan kami, aku hanya di ajak untuk memperhatikan, beberapa kali aku juga ikut berburu.
Dan, pastinya aku tak mendapatkan satu pun buruan karena akurasiku saat memburu selalu melesat. Persoalan tenagaku sih sudah cukup kuat, tak jarang anak panah, tombak, bahkan belati lempar selalu menancap kuat di tanah.
Itu semua sebab aku memiliki skill lotus, atau sihir tumbuhan teratai, yang membuat tenagaku meningkat drastis dalam sekali serangan. Kurasa aku juga masih berada di level lima. Jadi skill dari sihir yang kumiliki hanya ada satu.
Tiap sore, adalah waktu kepulangan aku dengan kakek. Namun, di saat itu, untuk kali pertamanya aku terpisah dari kakek. Kakek, mengumpulkan hasil buruannya pada suatu keranjang, ada pun satu kain besar dan lebar digunakan untuk membungkus jenis makanan dari Momon tumbuhan maupun tumbuhan liar biasa.
Kala itu aku tengah memperhatikan kakek dari belakangnya. Ia cukup lama mengerjakannya. Aku yang bosan jadi melihat-lihat alam rimbun yang mulai remang-remang.
Pepohonan yang agak menjarak sedikit dengan pohon lainnya, cukup ribut dengan daun hijaunya yang tertiup angin. Dedaunan kuning serta cokelat berjatuhan mengikuti arus angin.
"Masih lama kah kek?" tanyaku kepada kakek setelah melihat sesuatu yang menarik.
"hmm," dengung si kakek, tanda bahwa ia memberikan jawaban iya.
Tanpa mengatakan sesuatu lagi, aku mengambil tombak kecil yang ada di samping kakek. Kakek tak menyadari itu.
Seekor kelinci hutan yang berwarna putih bersinar membuatku benar-benar terpesona melihatnya. Sangat jarang aku melihat buruan yang seperti ini, yang biasa aku lihat hanyalah kelinci dengan bulu coklat.
Tertarik aku pun melempar tombakku, dan pastinya arah lemparanku luput mengenainya. Meski begitu, tancapannya yang halus mendarat, membuatnya tak bersuara.
Kelinci putih itu terkejut dan berlari menjauhiku. Aku mengejarnya dan mengambil tombak kayu kecilku itu. Pucuknya yang berupa batu tajam terikat, masih terlihat sangat utuh untuk digunakan. Aku juga bahkan lupa untuk memberi tahu si kakek yang sibuknya setengah ampun.
"Cepat sekali, di mana kelinci itu?" dengan napas terendah-engah aku sudah berlari cukup jauh dari tempat si kakek. Semak-semak di sekitar sini juga cukup banyak dan lebih tinggi dari tinggiku. Semuanya terlihat besar di mataku.
Sorotan cahaya oranye yang menembus dedaunan dan celah-celah hutan semakin meredup. Namun, secercah sinar malah terlihat di balik semak belukar. Itu pasti kelinci yang tadi aku kejar.
Dengan perasaan senang, aku mengendap-ngendap mencari posisi yang tepat untuk memburunya. Akan tetapi, saat aku telah melihat wujudnya, ia malah melompat ke arahku.
Cahaya dari tubuhnya membuatku menyulitkan mata. Kala kulihat dengan baik-baik, sorot mata merah kelinci itu membuatku terkejut. Ia tiba-tiba terlihat mengerikan. Status dari kelinci itu kemudian terlihat, angka 20 menyertainya bersama namanya yaitu [Boss Momon | vegetalia | White forest rabbit]. Levelnya tiga kali lipat dari punyaku.
Mimisan, darah keluar dari hidungku, hanya sedikit, tetapi cukup membuat area keluar udara utamaku berdenyut nyeri. Aku hampir mengeluarkan air mata karenanya.
Dengan lemas aku berusaha kembali berdiri. Mirisnya kelinci itu naik meloncat ke punggungku. Aku merasa tertekan. Sialnya lagi kelinci itu tak kunjung pergi dari punggungku itu.
Berkali-kali aku meronta serta berteriak meminta maaf kepada si kelinci, tapi tetap saja ia menghiraukanku. Akhirnya aku menggunakan tanganku ke belakang. Awalnya aku memegangnya dan berniat mengangkat dan melemparnya pergi, tetapi karena bulunya yang lembut itu, aku malah mengelus-elusnya cukup lama.
Saat aku kembali sadar, aku pun melah berdumel sendiri. "Ayolah, maafkan aku kelinci manis. Tolong pergi dari punggungku. Aku ingin berdiri."
Hari mulai gelap. Sorotan cahaya mulai menghilang secara perlahan. Sepertinya sudah setengah jam aku berpisah dengan kakek, ia pasti sedang mencariku.
Kueratkan kedua tanganku. Tangan kananku kuusahakan naik, meski sulit, aku bersyukur bisa naik meski hanya bisa serong. Jangankan memukul, menggaruk punggung sendiri itu sangatlah sulit.
Tanganku mengepal dan kupakailah kemampuanku.
"[Lotus] level 1"
White Forest Rabbit itu akhirnya bisa tergeser dari punggungku. Aku dengan bergegas lantas berdiri dan dengan cepat menjauhkan diri dari momon animalia itu. Meski Momon itu masuk dalam kategori Momon jinak, tetap saja jika ia menyerangku, pastilah kerusakan serangannya sangatlah tinggi, lagian levelku juga berbeda jauh dengannya.
"Kakek! Kakek di mana?!" teriakku mengisi keheningan hutan yang sudah gelap ini. Kelinci hutan putih itu masih saja mengejarku, ia lebih lincah dari lariku. Tiap ia meloncat aku hanya bisa menundukkan tubuh, menghindari serangan kelinci itu. Tak jarang pula aku harus berhenti dan membelokkan arah lariku.
Sebenarnya kakek ada di mana sih? Ia tak terlihat, malah suaranya yang seharusnya memanggil-manggil mencariku pun tak terdengar. Untungnya pada malam itu, cahaya bulan cukup terang. Aku yang berlari dan melihat cahaya remang itu pada bagian pepohonan, lantas pergi ke sana.
Ya, aku selamat dan keluar dari area hutan. Kelinci itu tak mengejarku lagi. Dan aku dengan keletihannya membungkuk dan menghempaskan tubuhku di tengah nemophilia yang terbentang.
Lengan tanganku menutup mataku. Aku berharap lebih baik aku beristirahat di sini saja. Kakek pasti sedang mencariku, dan kupikir juga setelah melewati banyaknya padang ini desa Orchid bakal terlihat. Poin pentingnya lagi mengapa aku tak langsung pergi sah, itu karena aku tak terlalu menghafal jalan kembalinya. Aku takut jika aku tersesat dan malah pergi lebih jauh lagi.
Namun, ternyata aku tak dibiarkan untuk istirahat di sini. Momon vegetalia yang bertempat di padang ini muncul dan sedikit agresif jika dalam kawanannya. Bentuknya segitiga dengan kelopak bunga nemophilia pada badan sekaligus kepalanya, ia berbulu, dan bergerak dengan melompat-lompat seperti katak.
"Aah, bagaimana ini!" aku bangun sembari celingak-celinguk menghadap ke dapan dan ke belakang, memperhatikan hutan yang tak ingin ku kumasuki lagi, dan melihat gerombolan Momon bernama Triangle.
Dengan levelnya tertera 15-25, momon Triangle melompat-lompat mengerubungiku. Tetapi anehnya semua serangannya tak ada yang mengenaiku. Malahan para Triangle itu melompat-lompat di sekitarku, tanpa ada satu pun yang menyentuhku.
Di situlah aku tersadar, ada seseorang yang sedang berjalan ke arahku, dan dialah yang membuat para Triangle itu tak dapat melukaiku.