
*Set .... Jleb
Lagi, sesuatu seperti pedang tipis biru transparan menusuk dada Boss Tiger kesayanganku. Dia benar-benar menghabisi seluruh Tiger yang telah kukerahkan.
"Padahal ini yang terakhir." Tak tanggung aku membelalakkan mata seakan-akan bisa keluar kapan saja.
Aku tak dapat mengontrol napasku yang terbawa emosi. Seluruh tubuhku pun menjadi bergetar hebat, bukan karena perasaan takut tapi perasaan yang ingin membunuh.
Mati mati mati, kamu harus mati. Aku si Fregia ini takkan lagi menjadi anak lemah. Demi tuanku aku akan melakukan apa saja.
Sebelum Boss Tigerku terjatuh, aku telah meloncat ke bawah dan memberi jarak dari orang yang sudah tak waras itu.
Ini adalah titik akhir, kamu takkan bisa selamat sekarang.
*Set
"Apa!" Aku terkejut, iris kuning mataku yang oval meruncing, mengecil melihat anak yang kuincar berada di hadapanku. Tangannya terangkat tinggi dengan memegang benda yang menyerupai pedang, anehnya gagangnya berbentuk bulat.
"Bukannya aku yang harusnya bertanya, kamu itu siapa?!" Teriak anak itu beriringan dengan ayunan tangannya yang secepatnya jatuh ingin menebasku menjadi dua.
Tak ingin terbunuh di tempat, instingku dengan terpaksa mengeluarkan wujud asliku.
"Transformasi, normal."
Kumaksimalkan kekuatanku terlebih dahulu ke dalam kaki. Yang pastinya kakiku telah bertransformasi, hingga kecepatan untuk menghindar layaknya rambatan suara petir.
"Aku Fregia, ras Demi-human yang selalu direndahkan oleh para manusia hina."
Terai kesal ini mulai kembali. Bayangan sesosok gadis kecil teringat dengan jelas di pandanganku. Sosok itu memiliki telinga yang berbulu oranye, hitam dan putih di atas kepalanya. Ekor di belakang dengan warna yang sama terkulai lemas dilantai, sepertinya sulit untuk digerakkan.
Baju compang camping berwarna putih juga jeruji besi serta rantai di kaki dan tangannya selalu mendampinginya. Kala dilihat, tubuhnya dipenuhi luka memar dan tak jauh darinya terdapat Blue Potion berlevel rendah—satu dan dua.
Sosok itu menyerupai diriku. Memang, ia adalah aku di masa lalu.
Takkan ku maafkan, manusia sungguh ras makhluk yang hina!
Namun tidak oleh dia, tuanku yang mengulurkan tangannya dan membiarkanku berkeliaran di alam bebas. Dia sosok yang telah menyelamatkanku, dialah yang patut untuk diikuti.
Apapun keinginannya, aku pasti akan mengabulkannya.
*Syat ....
Dia menyayatku penuh dengan gairah, tatapan polosnya tadi sepertinya adalah sebuah tabir kepalsuan. Dirinya yang asli pastilah tatapan dingin yang merendahkan orang lain.
Kalau bukan itu, sosok lainlah yang menjadi kekuatannya. Tidak, mana mungkin itu terjadi. Hanya tuankulah yang boleh memilikinya. Dia pasti hanyalah seseorang yang memiliki kepribadian ganda, bukan alter ego.
"Sepertinya sosok alamiah dalam tubuhmu harus kubasmi! Hanya tuankulah yang boleh memiliki kuasa itu."
"Transformasi bentuk ke-2, [Full Body Tiger Human] ."
Dengan sengaja, aku bertransformasi menyeluruh. Tubuhku kini terlapisi bulu harimau dengan loreng yang hitam. Telapak tangan manusia, berubah menjadi telapak kaki harimau.
Kala kumainkan jariku, kuku yang runcing dan tajam keluar dari dalam. Mukaku pun juga telah terlapisi bulu halus dan gigi taring pun ikut terasa dalam mulutku.
Luka sayatan yang diberikan oleh anak itu, pastinya menghilang tanpa meninggalkan bekas. Otot perut yang pernah kulatih menjadikan defence yang kuat.
Dengan tubuh yang bertransformasi ke bentuk manusia harimau, defenceku semakin menjadi kuat, bisa dibilang dua kali lipatnya dari Boss Momon Tiger.
Kumis kecil di bawah hidungku mendeteksi kehadiran seseorang yang melesat cepat di belakangku. Geteran udara tipis dari atas, menandai sebuah benda pipih yang siap terjatuh di bahuku.
Aku pun menghindar, lagi, dengan kekuatan kakiku. Alih-alih aku juga mengambil kesempatan untuk menyerangnya saat pijakanku terjatuh dan kudorong ke depan. Kuku runcing kukeluarkan dan siap untuk menyerangnya.
Namun sayang, ia tetap dapat menangisnya. Ternyata kepipihan benda yang ia pegang tidak berpengaruh akan kerapuhannya.
"Dayshi, itulah namaku. Ingat itu baik-baik, karena di sini aku akan mengalahkanmu," ucapnya sembari menodongkan pedangnya kepadaku.
Anak ini, tiba-tiba menjadi orang yang angkuh. Hahaha, ternyata benar. Ras human hanyalah manusia yang suka seenaknya saja. Apa hanya ada satu persen manusia yang memiliki hati?
"Kelihatan juga sifat aslimu," sahutku kepadanya. Hingga kami saling bertatap mata tajam seolah telah berperang dingin. Mata harimau versus mata merah bersetrip dengan pupil coklat berinti seperti simbol chi.
...Ilustrasi Dayshi dan Fregia saling bertatap tajam...
Sampai satu menit kami masih dalam posisi waspada. Merasa tak akan ada yang berubah, aku pun mulai mendahulukan serangan frontal. Tak sampai dua detik, jarak sejauh lima meter langsung kuserobot dengan kuku yang sigap.
Dalam hati, aku takkan pernah memaafkan ras human. Manusia yang tak tahu diri, rakus akan segalanya. Ia juga menjadi penyebab putusnya rantai makanan, binatang manisku pun bisa punah karenanya. Bahkan kehidupanku pun pernah diperjual belikan.
"TAKKAN KUMAAFKAN!?"
Ctring....
Kukuku berdentingan dengan pedang kaca miliknya. Tidak, sepertinya itu adalah mana yang dikeraskan. Ternyata benar dia adalah orang luar, seorang player yang memiliki kekuatan asing. Tentu saja tuan sangat tertarik kepadanya.
Maafkan aku tuan, aku pasti tak sengaja membunuhnya.
Kali kedua tanganku kulayangkan ke pelipisnya. Ia sudah tak dapat bergerak karena salah satu tanganku masih beradu dengan pedangnya.
Namun sayang ia kembali berhasil lolos dengan melepaskan pedangnya dan menundukkan tubuhnya sampai berjongkok.
Ia kembali melancarkan serangannya dengan mengucapkan sebuah mantra.
"[Mana Threede] level 1, Flying Ball."
Aku hanya merasakan rasa gatal seperti digigit nyamuk. Ya, walaupun begitu tetap saja serangannya mengganggu pandanganku. Kuberseringai merendahkan dia dengan kakiku yang telah bersiap.
"Maaf saja Dayshi, meski pandanganku terhalangi aku dapat mendeteksi di mana keberadaanmu," ucapku sambil memberikan tendangan keras tepat di bagian kepalanya. Kulihat ia juga langsung terdorong jauh.
Apa! Lagi, dia menggunakan sihir mananya itu. Cih, aku takkan membiarkannya untuk menghirup napas kali ini.
Kembali kuperkuat dorongan kakiku dan menyerangnya dengan ratusan cakaran dan hantaman yang bertubi-tubi. Beberapa kali kudengar suara bunyi pecah, tetapi kembali terbentuk dan pecah lagi, itu terus berulang.
"Untuk apa kamu menyerangku," ujar dia, sesaat ketika aku memberikan jeda serangan.
"Untuk membunuhmu," jawabku kepadanya.
Ia menjadi berdecak kesal. Lalu melancarkan serangan aneh dengan menjulurkan tangan kanannya.
"[Mana 3D] level 1, Ball Confinement"
Kemudian muncullah sesuatu yang mengurungku dari dalam. Aku terkurung di dalam bola berlapiskan mana yang keras dan kuat. Iya, kuat bagi lawan yang biasa. Tidak untuk aku.
Langsung saja kuhancurkan bola mana 3D yang ia miliki. Namun sesuatu yang ganjil mulai terjadi. Ia hilang dari pandanganku, dan getaran udara lagi-lagi kurasakan dari belakang.
Aku menunduk dengan posisi kakiku kuangkat di belakang. Tepat saja dagu Dayshi langsung terkena dengan telak. Ia terlempar ke atas lalu memutar badannya ke belakang, dengan posisi seimbang ia kembali menyerangku. Lagi ku tahan dan kuserang.
Terus, kami saling menyerang dan bertahan sampai kami kembali mundur mengambil ancang-ancang baru.
Sorotan matanya sudah seperti monster. Aku yang hewan buas ini tak boleh gentar dengannya, harus kuterkam.
"[Mana Ampliefer] level 5, Rain Thorn"
Hah? Dia mendumelkan apa? Ah, langsung kuserang saja.
Ketika kumeloncat berniat menyerang, aku merasakan getaran udara yang kuat. Instingku mengatakan aku harus menghindarinya dengan memutarinya.
Geteran kuat ini berasal dari tubuh di sekitar Dayshi. Dan benar saja, udara di sekitar Dayshi menampakkan bintik putih yang banyak. Tidak lama dari itu, benda seperti duri keluar dengan kecepatan yang cukup untuk mengenaiku sesaat ketika aku terkejut.
Lima serangan duri itu cukup mengurangi health point ku sebanyak satu persen. Ini lumayan juga.
Hmm, dia terus melancarkan serangan tanpa henti. Ya sudahlah, damage sekecil ini tidak akan berpengaruh dengan nyawaku.
*Shing...
Seperti kedipan mata, aku yang tak terlepas pandang darinya. Seketika muncul di belakang Dayshi layaknya teleportasi, tetapi ini hanyalah kecepatan laju lariku.
Pas saja aku menerjunkan telapakku dengan kuku runcing. Tapi tunggu sebentar, mengapa ia malah tersenyum dan seolah melirikku.
*Buagh ...
Sebuah duri besar muncul di belakangnya. Aku terkena dengan telak pada bagian perutku, akibatnya health Pointku berkurang sebanyak tiga persen.
*Buagh, bug, bug bug bug bug.
Serangannya semakin menjadi. Serangan itu muncul dari udara di sekitarku. Membuat aku terpukul dan terdorong kian kemari.
Sial, aku sulit untuk bergerak, walau begitu serangan yang ia lancarkan memang memiliki damage yang kecil. Oke, ini membuatku sulit juga 'tuk menghirup oksigen.
"Heh, serangan seperti ini takkan berguna denganku. Lebih baik kau menyerah saja sekarang," ucapku dengan santai sembari memukul duri-duri yang menyerangku dengan cepat.
*Whush
"APA!" ada apa ini? Pedang tipis menjulang tinggi ke atas terlihat jatuh akan mengenaiku. Dua dinding tiba-tiba terlihat menghalang arah lari kiri dan kananku.
Anak itu, sejak kapan ia membuatnya? Bisa-bisanya kumisku luput dari pergerakannya.
Pedang mana yang Dayshi buat semakin turun dengan kencang. Tak ada tempat menghindar, aku terpaksa langsung maju menuju pusatnya. Akan tetapi ia ternyata telah menjaga jarak yang cukup jauh.
Alhasil pedang itu mengenaiku hingga menghancurkan tanah begitu dalam. Aku tak akan tertebas, kulitku sangatlah alot. Meski demikian, serangannya sudah cukup lumayan menguras 15% HP-ku.
"Kamu tahu ...," kata Dayshi
Deg deg, deg deg.
Apa yang ingin ia katakan. Auranya saat ini memancarkan aura hitam putih yang pekat. Dibandingkan sebelumnya, kekuatan anak ini semakin meningkat.
"Aku ...."
"Aku?"
"Aku ...."
"Aku?" Masih kutunggu apa yang ingin ia katakan.
"Aku .... Ingin buang air kecil," ucapnya. Sorot matanya begitu serius dan tegang.
"...."
"...."
..........