
Kita kembali ke sudut pandang pertama, waktu pun kembali ke satu hari sebelumnya.
...~Dayshi POV.~...
Semalam aku telah mendengarkan cerita Reynald. Dari ceritanya itu aku mengetahui bahwasanya Mio juga orang yang baik, hanya saja ia terkesan begitu dingin atau mungkin dia adalah orang yang sulit terbuka kepada orang lain.
Kemungkinan besar dia juga memiliki permasalahan dengan keluarganya. Mendengar cerita akhirnya dari Reynald, di mana ketika Reynald memuji keluarga Mio, Mio tampaknya merespon dia dengan jawaban ragu-ragu.
Di tambah ketika Reynald menanyakan Mio tentang "omelan orang tua karena berkeliaran di malam hari", Reynald berucap lagi bahwa "ia hanya tertawa canggung." Fiks, perkiraanku benar, jika memang cerita Reynald itu bukan sebuah karangan.
"Kakak benar-benar mau ke sana?" tanya Reynald setelah aku menutup pintu rumah mewah nan kusut berantakan ini.
"Iya, bukannya tadi malam aku sudah bilang kita akan ke sana. Yeah, walau jujur dia semalam juga kan mengundangku untuk ke kedainya," ucapku.
Semalam selepas Reynald bercerita, aku juga sempat mempertanyakan sesuatu. Tentang dua gadis yang berlarian pergi. Satu orang itu pastilah si Mio, terus, satu orang itu siapa?
Kata Si Reynald, dia adalah Eva Nieos. Satu-satunya orang yang memiliki kedai makanan di desa ini, dan satu-satunya wanita terkuat juga di desa ini. Dan mungkin saja, tak ada orang di desa Orchid ini yang dapat menandingi besar kekuatannya.
Terkait akan masalah hubungan antara Mio dan Eva, itu masih dalam kondisi abu-abu. Jadi, untuk mengetahuinya lebih rinci. Hari ini aku bergegas ke kedainya.
Bisa saja nanti aku menemukan info seputar Mio lebih dalam lagi. Dan mungkin saja aku juga mendapatkan petunjuk lebih untuk menyelamatkan pak Opin.
"Tapi aku masih belum yakin kak. Untuk membujuk dia berkata." Reynald tampak cemas. Ia berjalan di sampingku sambil memberikan arah jalan ke kedai wanita seksi itu.
Mungkin bagi Raynald, dia memang orang yang sangat sulit diajak berkomunikasi. Pasalnya Raynald bilang dulu ia pernah ingin menanyakan tentang si Mio, tetapi belum saja membuka mulut, ia sudah ditendang keluar dari kedai miliknya. Katanya hanya seorang pelangganlah yang bisa membuat Eva luluh dalam berkata.
Kebetulan jual beli yang dilakukan di kedai itu tak menggunakan koin. Ia hanya melakukan pertukaran item atau barang saja.
Aku cukup yakin, panah yang kubawa sewaktu menumpaskan para Goblin dapat dipergunakan hari ini. Jika itu masih belum cukup, aku akan bertaruh dengan zirah kayu yang kumiliki. Bagaimanapun itu, aku harus menemukan suatu petunjuk.
"Ngomong-ngomong, kak. Apa dia baik-baik saja?"
"Hmm, apa maksud kamu kak Mirai. Aku juga tidak tahu. Aku harap dia segera pulih, jika dilihat-lihat mana dia juga sudah naik di atas 50 persen." Kak Mirai ya. Kurasa dia mengalami hal yang berat juga, tertusuk hingga menembus kulit itu kan sangat sakit. Wajar saja pemulihannya juga butuh waktu yang lama.
"Itu berarti, dia akan segera pulih dong kak."
"Ya-yah~" Entah mengapa aku malah menjadi canggung. Aku baru saja teringat dengan keadaan manaku yang tak kunjung pulih, fase mana drop sungguh akan mempersulitkanku nantinya.
Dalam perjalanan itu kami saling bercakap-cakap. Tentang pintu yang tadi baru saja diperbaiki, tentang kunci rumah, dan segala macam hal hingga tanpa disadari kami telah sampai di kedai Nieos.
Namanya kedai Nieos pastilah juga papan ukiran depan kedainya tertuliskan nama Nieos. Hmm, cukup terlihat tradisional dibandingkan bangunan lainnya. Corak papan kayu yang begitu khas, bentuk bangunan yang bulat, dengan atap nampak jerami tertata rapi dengan tebalnya.
"Hei, Reynald. Sebelum kita masuk, aku masih ingin menanyakan sesuatu," ucapku. Kami berdiri tegang di depan kedai. Beberapa orang terlihat berlalu lalang keluar masuk dari kedai tersebut.
Reynald menengadah melihatku, dan mempertanyakan kembali apa yang aku tanyakan.
"Apa Eva tinggal sendiri di kedai itu?" tanyaku dengan nada yang begitu serius. Dan aku tak tahu, Reynald menepuk jidatnya sendiri. Mungkin ada nyamuk yang menempelinya.
"Kakak, terlalu tegang ah. Santai dikit dong kak. Aku ikut ikutan tegang juga nih .... Soal itu dia masih tinggal dengan kedua orang tuanya dan satu adiknya."
Oh, jadi dia tak sendiri ya. Hahaha, maaf saja Reynald. Aku membuatmu salah tingkah. Eva itu semalam mengerikan sekali di mataku. Aku jadi terbayang ketika dia meniup asap rokoknya ke wajahku dan setelahnya ia menawarkan sesuatu yang menggairahkan. Tidak tidak tidak, menggairahkan apanya sih.
"Kakak pasti akan memberikanmu pelayanan yang terbaik"
Aaaaakh, mengapa aku harus mengingatnya. Dan lagi kenapa aku membayangkan hal-hal yang tidak senonoh. Apa ini yang namanya masa pubertas?
"Apa kakak baik-baik saja?" Reynald menarik-narik cape yang aku kenakan. Pikiran-pikiran gawat itu langsung buyar saja.
Dengan desahan, ehm. Maksudku dengan persiapan jantung yang kuat kulangkahkan kakiku masuk ke kedai itu. Gagah, berani, tampan, menawan, terpasang pada wajah nan bego. Aku canggung, gila.
"Ayo, Reynald!"
Kami berjalan masuk ke kedai tersebut. Tak ada penjaga diluar kedai itu. Namun luasnya pemandangan di dalam cukup membuatku berkata "wah". Dua tiga orang sedang mengantri di depan. Ada yang memikul meja besar, ada yang membawa kursi kayu, dan ada pula yang membawa sekantong ubi kentang.
Dalam banyaknya meja kursi yang tersedia. Ternyata tak sampai puluhan orang lah yang duduk di dalam. Dan kebanyakan mereka menyantap makanan dengan begitu lahap. Satu, dua bungkus juga tertaruh pada meja mereka. Mungkin itu sengaja disimpan untuk di bawa pulang.
Tak lama kami menunggu. Giliran pun datang menghampiri. Seorang wanita dewasa dengan badan yang ideal sedang membersihkan beberapa piring dengan kain berwarna putih.
Di balik punggungnya itu terlihat banyaknya tempat seperti lemari sudut, di situ terpampang botol-botol kayu serta botol kaca dengan merek yang tertulis di kertas yang melapisinya, tulisan merek itu ternyata adalah asli dari tulisan tangan.
Kala selesai mengusap piring, ditaruhlah benda itu ke rak yang tak jauh dari tempatnya berdiri. Sekitar satu langkah ia berjalan ke samping, lalu mengangkat dagunya dan melihatku.
"Aduh aduh, anak muda yang tadi malam ya. Pada akhirnya kamu juga datang ke sini ya." Eva, dia benar-benar membuatku gugup habis. Dalam berucap, ia suka menaruh jari jemarinya ke dekat bibirnya. Membuat ia terkesan seperti seorang wanita dewasa ala ke barat-baratan di real world-ku.
"Ups, tapi sayang sekali ya. Pelayanan terbaik itu sudah kamu sia-siakan semalam," lanjutnya. Jari jemarinya menutup bibirnya dengan perlahan dan tampak begitu terayun lembut.
Aku hanya memandang-mandangi dirinya yang mengenakan pakaian formal—kameja putih di dalam dengan jas hitam di luar—terpikir dari mana dia mendapatkan pakaian tersebut. Aku menjadi agak ling lung sedikit dan hampir saja melupakan tujuan utamaku.
"Jadi apa yang ingin kamu tukarkan?"