
POV Dayshi.
"Dasar kamu ini ya, keras kepala," ucap Resha.
Resha, secepat itu kah di pulih. Mereka semua ini bisa-bisanya.
"Kenapa?" tanya ku.
"Sekali lagi kau menanyakan itu, ku tendang mukamu. Bukannya kita itu rekan, kita itu teman. Sesama teman apa itu perlu dipertanyakan hah?!"
Teman ya. Aku menoleh ke arah Toro. Apa dia juga menganggapku sebagai teman.
"Jangan serius begitu melihat aku. Kita ini kenalan bukan." Toro tersenyum kikuk menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Huh, setidaknya ini bentuk terimakasihku saja. Ini kemauanku, jangan terlalu dipikirkan."
Aku tahu itu, mereka semua benar-benar kuat.
"Rupanya kalian telah berkumpul di sini. Hebat juga kalian lolos dari jangkauanku."
"Asta!" seruku. Sial, apakah kami harus melawannya lagi.
Asta turun dari atas langit, menghantamkan pijakan di area yang miring. Kita semua seketika memasang kuda-kuda persiapan.
"Jangan serius begitu, aku berubah pikiran untuk membunuh kalian. Sebagai gantinya aku menginginkan informasi tentang seseorang."
"Siapa itu?" tanya Resha.
"Fregia, gadis harimau, seorang Demi-human."
"Gadis Harimau? Kami tak pernah melihat seorang demi human selain kamu," sahut Resha.
"Apa?" Aku terkejut bersamaan dengan Asta. Asta kemudian melirikku tajam.
Yang benar saja, "Kalian betulan tak bertemu dengan Fregia itu?"
"Ya, Raisa juga tak melihatnya," balas Raisa.
Kutarik napasku dalam-dalam lalu kulirik si Asta sang garuda yang hampir menyerupai wujud manusia.
"Asta, aku betulan melihat Fregia kok. Rambutnya pirang dan agak bergelombang."
Asta mengepakkan sayapnya dan menghembuskannya kepada kami. Beberapa dari bulunya terbang menghantam kami, seketika itu juga kami semua langsung tertunduk lemas, merasakan sensasi panas yang membara ke dalam tubuh kami.
"Jangan khawatir, bulu yang masuk ke dalam tubuh kalian hanyalah sebuah penjamin. Sampai di hari akhir yang telah kukatakan, maka bulu tersebut dapat kuledakkan dan kalian akan mati. Tidak ada yang bisa mengeluarkan kutukan yang kubuat itu kecuali aku sendiri."
Si Asta itu tak memberikan kami kesempatan untuk berbicara. Namun, kami juga tak bisa bergerak ceroboh.
"Sekarang kalian pergilah dari area hutan dan gunung ini. Momon-momon jinak itu—White forest rabbit—akan mengarahkan kalian. Jangan sekali-kali mengacaukan tempat ini lagi jika kalian tak ingin mati di saat itu juga."
Kami masih diam membisu. Asta tanpa ingin mendengarkan jawaban dari kami, ia segera pergi mengepakkan sayapnya hingga beberapa bulunya ikut beterbangan dengan mana bercahayakan hijau yang masih terlapisi.
Napas yang tanpa sadar tertahan akhirnya terbuang keluar. Kami saling memandang satu sama lain, sedikit berdiskusi lalu berjalan mengikuti kelinci putih yang mengarahkan jalan kami.
Toro sendiri tak langsung bergegas, ia mengambil bulu-bulu yang dijatuhkan oleh Asta. Toro berkata bahwa bulu garuda merupakan salah satu bahan untuk membuat potion, lebih tepatnya bulu garuda merupakan item yang dapat digunakan sebagai bahan bakar dengan memanfaatkan mana yang tersisa di dalam bulu-bulu tersebut. Ia juga sangat gembira karena bulu-bulu ini langsung dari garuda yang memiliki kekuatan mana yang tinggi dan dapat berubah menjadi manusia.
Kami beranjak, tetap menanjak. Sampai di atas, pemandangan hutan bahkan di luar hutan mulai terlihat dengan jelas. Matahari mulai menampakkan sinarnya, sekelebat cahaya menyesuri permukaan dan memperlihatkan pemandangan alam yang sangat teramat asing di mataku. Di luar dari gunung ini terlihat samar samar, tanah yang melunjak seperti lingkaran, permukaan-permukaan tanah yang tak datar menjadikan siluet pegunungan kecil atau dataran tinggi yang tak beraturan.
Ketika aku membalikkan badan ke arah tempat perjalananku sebelumnya, aku kembali dikejutkan. Pemandangan ini sangat terlihat berbeda, aku sampai tak yakin jika wilayah keduanya sangat berbanding jauh. Siluet di perjalananku sebelumnya terlihat begitu samar-samar, dataran pemukiman tidak terlalu ramai akan lunjakannya. Anehnya aku seperti melihat banyak pantulan-pantulan cahaya dari atas langit sampai ke awan-awan. Bintik-bintik cahaya itu seperti bintang tapi bukan di malam hari, ia juga terlihat bergerak dengan teratur secara perlahan-lahan.
"Hei, ayo cepat bergegas," ucap Resha membalikkan badan ke arahku lalu kembali mengikuti Iringan momon putih yang jalannya memantul-mantul.
Aroma semerbak bunga di pagi hari, bertepatan saat mereka sedang mekar memberikan hiasannya, berwarna-warni, ada yang merambat di pepohonan dan bebatuan, ada pula yang tumbuh layaknya semak belukar yang menjadi hiasan.
Rasa penat terasa hilang meski ada beban lain yang harus kami rangkul. Kami semua lantas berpikir untuk lebih cepat meningkatkan diri dan harus segera menyelamatkan pak Opin agar bisa mengetahui lokasi Alice dan para ksatria entrenchment—ksatria yang pernah berhasil memukul mundur si Raja Gila, pernah disebut pahlawan namun nama mereka mulai pudar semenjak mereka semua menghilang tanpa diketahui jejak keberadaannya.
...➕➖✖️➗...
Beberapa hari telah terlewati. Di sebuah kota dekat danau yang sangat luas, kami bertemu dengan Lily yang ternyata ia merupakan satu rombongan dengan Toro. Keduanya saling membagi tugas dalam pencarian item bahan pembuatan potion. Mereka juga masih memiliki rombongan lain, hanya saja cuma Toro lah, yang ingin mencari item bahan tersebut sendirian.
Tak terlalu membuang waktu, kami mencari bahan-bahan lain untuk suplai dalam perjalanan. Toro tetap ikut dengan kelompok kami karena kami yang menyarankannya, tak ada pilihan lain karena kami semua terikat kutukan yang dibuat oleh Asta si burung garuda.
Lily dan rombongannya juga pergi ke tempat berbeda setelah berbicara dengan Resha dan Toro. Mereka mengambil jalur lain, pastinya demi mencari item yang mereka perlukan.
Tak sampai seminggu, kami telah sampai di kota Garden Flower. Disuguhkan dengan bentuk tatanan yang nyentrik, hamparan bunga bermacam jenis yang mengisi seluruh tempatnya, serta tanah melunjak melingkar yang dulu aku lihat, ternyata berada di kota ini. Area bangunan di sini tidak terlalu rapi tetapi tetap memiliki kesan ekstetik. Namun banyak pula kulihat di area pinggiran dan area tempat lain yang memojok sangatlah kumuh, tatapan orang-orang di bagian sana pun sangat tidak bersahabat.
Lagi pula, dari kota-kota sebelumnya yang kami lewati, tidak ada bandit atau pencuri yang tak pernah kami hadapi. Kami cukup kesulitan akan hal tersebut. Semakin kami ke dalam kota, anehnya malah semakin banyak kesuraman yang kami lihat. Tak jarang juga kami melihat sebuah perselisihan di dalamnya, dan perselisihan tersebut juga pasti akan memakan korban.