
"[DOZENS FLAMMAE]"
Bulu-bulu berapi yang menyebar dari sayap sosok itu jatuh menghujaniku. Mereka—para rekanku—tak dapat bergerak menyelematkanku sama sekali. Lagian mengapa aku selalu berharap kepada orang lain, aku yang lemah hanya terus membebani mereka. Apalah gunaku, lebih baik mati saja.
Kupenjamkan mataku, perasaan dingin seakan membekukan hati ini. Perasaan hampa dan lebih ke arah sakit, sesak di dalam. Aku mendesah pasrah lalu tertawa tanpa ada hal yang lucu. Aku berharap manaku yang habis ini segera kembali pulih. Aku terus memikirkan itu, terus bergantung kepada kekuatan tersebut. Pada akhirnya, tak ada yang keluar.
Jujur, aku tak ingin mati di sini. Ku tolak tubuh yang akan jatuh pasrah, tenagaku kupusatkan kepada kaki.
"Konyol sekali, siapa yang mau mati HAH!?"
Tiga langkah telah kemajukan, satu detik ini terasa begitu lama padaku. Bulu api itu sudah berada di tengah udara untuk menghantam aku. Ayolah.
Satu bulu terjatuh. Itu meledak. Mengacaukan semua akal sehatku. Di saat yang bersamaan sosok besar seakan menggenggam diriku. Dan setelahnya aku tak sadar apa yang terjadi.
"Hei, kau. Bocah. Cih, hoi," seseorang seakan terus memanggilku. Anehnya wajahku terasa sakit terus-menerus. Rasanya aku di tampar.
Plak. Ternyata benar, aku ditampar-tampar oleh orang yang menggenggamku tadi. Dialah yang pasti juga menyelematkanku. Meski begitu—
Plak. Mukaku betul-betul kesakitan.
"Aduh." Aku mengais wajah, ia membuatnya hangat panas. Ia memberhentikan tindakan kasarnya dengan mendorongku jatuh.
"Akhirnya kau bangun, bocah bocaah."
Mataku agak pudar, beberapa lebam di area tubuh juga mulai terasa. Tak sesakit yang kubayangkan waktu aku dalam kondisi sangat kritis melawan si pengguna Tiger dulu itu. Sistem ini kurasa masih menyayangiku. Seharusnya, jika dalam kondisi normal, aku mungkin sudah tak dapat melakukan apa-apa lagi.
Healt Point ku tersisa 45%. Warnanya oranye di status yang aku lihat. Aku dalam kondisi luka berat. Yeah, ini tidak ada apa-apanya dibandingkan Resha yang kini memiliki HP sebanyak 5%, ia sudah berada kondisi sekarat tak sadarkan diri, ia pingsan.
Badanku terasa sakit semua. Agak pegal. Aku membangkitkan diri, duduk manis, memperhatikan orang yang tadi menolongku. Samar-samar sosok perawakan bongsor terlihat. Tampaknya aku mengenalnya.
"Kamu...." Aku lupa namanya. Namun ia adalah salah satu orang yang pernah kutemui di desa Rose.
"Toro." Dia mungucapkan namanya sendiri. Ya, itu dia, sosok yang dulu mengejek kami pada saat baru pertama kali kami bertemu. Bagaimana bisa dia ada di sini?
"Sudahlah, coba perhatikan dia." Toro menunjuk sesuatu ke atas. Aku mengikuti arah tunjuknya. Seperti yang aku duga, burung sialan itu takkan melepaskanku. Tatapannya tetap tajam melihatku. "Dia tampaknya akan terus mengincarmu."
Ya aku tahu itu, Toro. "Sekarang, bagaimana?"
"Bukan bagaimana lagi, sekarang kita harus menyelamatkan diri."
Toro berdiri, ia mengangkatku seolah ia adalah seorang kuli dan aku adalah benda yang ia bawa—ia memikulku. Cara yang sangat aneh, tetapi yah aku masih bersyukur atas kedatangannya yang entah karena apa.
"Hei kalian, cepatlah menyelamatkan diri."
Toro mulai bergegas berlari, para rekanku pun juga langsung bergegas meski mereka sedikit terpatung melihat Toro sejenak. Toro tampak melihat Resha yang sekarat. Dengan cepat ia mengambil alih bawaan Mirai. Di bopongnya pulalah Resha dengan cara yang sama sepertiku.
"Dasar manusia rendahan. Kalian pikir aku bakal membiarkan kalian, hah." Sosok tersebut tampak geram, lalu ia malah menghembuskan napas kembali serasa menenangkan dirinya. "Huff~ya pasti kalian juga sudah mengetahuinya ya, makanya kalian lari. Dasar menjijikkan."
Sosok tersebut membentangkan sayapnya kembali. Bulu dari sayapnya sekali lagi menyebar di udara dengan apinya berwarnakan hijau. Digilirnya lagi menggunakan sayap, mengibas bulu api hijau tersebut jatuh kepada kami.
Ledakan demi ledakan melatarbelakangi kami dalam pelarian. Anehnya tiap ledakan yang membakar tersebut tak memiliki efek kepada hutan dan apa yang ada di sekitarnya kecuali kami. Tak ada yang hancur, bahkan terbakarpun tidak. Serangan tersebut pastinya hanyalah kepada targetnya belaka.
Toro melirik ke arahku—lebih tepatnya ia ingin melihat ke belakang, penasaran terhadap ledakan tersebut. "Hehe, bagus. Ayo terus lanjutkan." Tampaknya, ia malah senang akan serangan musuh itu.
Ledakan kembali terjadi, kecepatan terjangan dari bulu tersebut lebih cepat dari yang sebelumnya. Sekarang kami terkena serangan tersebut dan terpaksa harus terpelanting.
"Sial." Toro bergelutuk gemas.
Aku melihat rekanku yang lain. Mereka terlihat kehabisan tenaga. Berat tubuhnya saja sulit untuk ia angkat, mereka berusaha kembali bangkit berdiri. Menoleh ke arahku dan juga Resha. Tampaknya khawatir.
Khawatir? Mereka khawatir? Aku dikhawatirkan. Khawatir karena aku ini lemah. Iya lemah. Hahaha. Menakjubkan.
Di saat ini pikiranku sudah kacau balau. Mungkin aku akan sedikit naif, aku akan mengerahkan apa saja yang bisa aku lakukan. Sebisa mungkin aku tak ingin menjadi beban.
"Toro! Aku punya rencana."
Kujelaskan apa yang kupikir kan kepada Toro. Ia sebenarnya sangat tidak percaya kepadaku, ia bahkan benar-benar melarangku untuk melakukannya. Ia mengatakan bahwa diriku begitu naif. Walau begitu pada akhirnya ia mengalah, tidak lebih tepatnya ia sudah tak mau peduli lagi.
"Dasar bodoh, jika kau sangat begitu bersikerasnya, ya sudahlah. Aku takkan menyelamatkanmu, meski nyawamu sudah tidak ada."
Aku tersenyum paksa. "Terimakasih," ucapku. Cukup berat sebenarnya aku mengatakan ini kepada orang yang dulunya pernah ditinggal dunia oleh rekannya saat keadaan yang sama seperti sekarang. Mengatakan janji yang tak dapat dipastikan juga tak akan mengubah kekhawatiran dia.
"Ini adalah keinginanku," ucapku sebelum akan beranjak pergi.
"Nah." Di saat itu, Toro melemparkan sebuah green potion. Aku mengambilnya dan kulihat di atas green potion ini memiliki level tiga. Aku menganggukkan kepala kepada Toro sebagai tanda terimakasihku dan tanda kesiapanku. Aku segera berlari berlawanan arah gerombolanku ketika Toro membalas anggukanku.
Seseorang memanggilku, dia adalah Raisa. Toro bangkit lalu kembali bergegas pergi, ia memikul Resha dan menyeret pergi Raisa. Mirai melihatku sejenak, irisnya bercahaya lalu ikut bersama dengan Toro.
***
"Bocah itu memisahkan diri? Heh, apa yang dia rencanakan."
Dia masih belum menyerangku, aku harus cepat ke dalam sana.
"Ck, baiklah, pikiran yang bagus untuk masuk ke hutan lebat itu." sosok tersebut menurunkan jarak terbangnya. Tampaknya ia mulai terpancing. Namun anehnya, lukis wajah sosok tersebut menampilkan smirk licik yang entah ia juga memiliki selipan rencana dalam pikirannya.
"Haha, ya apa benar itu pikiran yang bagus?" Sosok itu akhirnya menyentuh pijakan tanah lembab hutan ini. Sekarang ia tak menggunakan bulu sayapnya untuk menyerang. Ia hanya berjalan biasa.
Entah apa yang ia rencanakan. Asalkan aku bisa memancingnya dan ia mengikuti aku, itu sedih lebih dari pada cukup. Aku meneguk green potion yang diberikan Toro. Seketika HP yang kumiliki naik hingga 95%, mana yang kumiliki pun naik 50%. Kini aku dapat menggunakan satu skill, cukup untuk dalam keadaan terdesak.
Sepertinya aku sudah berlari cukup lama. Kutoleh kepalaku ke belakang. Apakah dia mengejarku? Aku menjadi sedikit khawatir, kalau-kalau ia malah kembali mengajar rekan-rekanku. Napasku sedikit menjadi berat. Aku membungkuk agar bisa bernapas lebih nyaman.
"Di mana dia?" Aku masih berhenti menantikan kedatangan lawan. Aku juga lumayan was-was akan apa yang ada di sekitarku. Terbesik di kepala. Kugunakanlah konsentrasiku untuk bernapas dengan baik dan untuk meninggikan tingkat kesensitifitasanku dengan lingkungan sini.
Tanpa memejamkan mata, aku menarik napas perlahan, ditahan sejenak, lalu mengeluarkannya secara lembut. Fokus indraku dalam penglihatan dan pendengar. Sedikit rasa pada kulitku akan dinginnya keadaan sekitar. Cukup sesak juga bernapas dalam hutan ini. Oksigen seakan hanya sedikit.
"Sialan." Tampaknya aku yang terjebak. Di dalam hutan ini, berjenis-jenis momon mulai berdatangan ke tempatku. Mereka semua berniat menghadang jalan lariku. Dari belakang pun dapat kurasakan pijakan kakinya yang berat berjalan kemari.
"Hahaha, tak langsung menyerangku ya. Makhluk itu sepertinya sangat suka bermain-main."
...Elah, - ~-. ...
...Kritik dan sarannya dong terkait sama ceritanya. Agak bingung juga kala ngoreksi sendiri. ...