My Power Of Math Fantasies

My Power Of Math Fantasies
6.6 Prajurit



Hembusan angin sepoi-sepoi di tengah terik matahari, membuat panas yang terpancar menjadi hawa sejuk. Tanah kering terinjak seiring aku berjalan. Sunyi, tanda kehidupan menusia terasa begitu tipis.


Pohon tinggi nan teduh hanya ada beberapa. Semak belukar pun begitu jarang. Namun anehnya anggrek ungu dan oranye begitu banyak tersebar seperti rumput liar.


Sungguh luas, tetapi jarak antar rumah pun begitu berjauhan. Sampai-sampai hanya ada satu dua rumahlah yang bisa aku pandang.


Pikiranku masih kosong. Hingga pada saat aku memijak batu yang cukup besar dan bulat, aku pun tersadar karena terjatuh.


"Apa aku sudah mati," gumamku yang kembali bangkit sambil menepuk-nepuk capeku.


Celangak-celinguk, sepi. Baru saja ku 'kan merenung, seorang anak kecil terlihat tengah berlari. Kupikir ia' kan berlari melaluiku, tetapi ternyata ia menuju ke arahku.


"Kakak dah bangun. Gimana masih sakit?" tanyanya.


Aku diam, masih dengan pikiran yang lambat loading. Aku menatap dia dengan mata yang kosong.


"Halo, kakak baik-baik saja?" tanya lagi dia dengan mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajahku.


Aku kembali tersadar dan samar-samar mengingat ucapannya tadi.


"A-ah aku baik-baik saja," kataku sembari menggaruk rambut bagian belakang. Namun tak lama kemudian perutku mulai resek. Ia berbunyi dengan kerasnya, membuat banyak darah yang mengalir ke muka. Wajahku menjadi merah.


"Punya uang kak?" tanya ia lagi.


Aku merogoh seluruh pakaian yang kukenakan. Dan, satupun benda tak ada yang kudapatkan. Kuberguman 'storage' untuk mengeluarkan inventory. Dan itu juga kosong. Sial, tadi aku langsung pergi tanpa mengambil item berceceran dari si wanita tiger.


"Kosong," ucapku.


Anak lelaki itu mengembuskan napas pelan. Ia kemudian berkata, "Tahanlah. Desa ini juga kritis pangan, bahkan air saja kita kesulitan. Untungnya di sini ada yang buka kedai lengkap. Yea, sayangnya yang jualan orangnya sangar."


"O, oh. Ngomong-ngomong aku di mana ya?"


"Desa Orchid."


"Siapa yang bawa aku ke sini? Terus rekanku yang lain di mana ya?"


"Akak Resha, bang Nartou, sama kek Shou. Rekan kakak yang namanya akak Resha sama Raisa, pergi ke Hutan Aerial cari pasokan pangan sekalian latihan sama bang Nartou dengan teman-temannya."


"kapan? Terus rekanku yang perempuan berambut panjang di mana?"


"Kaak kaak~. Dia juga di tempat kakak bangun sebelumnya," ucapnya dengan nada yang diayunkan.


"Bisa antar aku kembali dek. Ngomong-ngomong siapa namamu."


"Reynald."


Dalam perjalanan ke Balai ke tempat aku bangun. Aku dan Reynald saling berbincang-bincang mengenai apa saja yang terjadi selama aku dalam keadaan tertidur.


...***...


Aku membuka pintu kamar Mirai. Ia masih dalam keadaan terkulai lemas menutupkan matanya.


"Sudah 4 hari. Bukannya ini sudah lama ya. Gimana bisa bertahan tanpa makan?" gumamku mempertanyakan kondisinya dengan cemas.


"Kakak sendiri gimana bisa?" Reynald mengembalikan pertanyaan itu kepada diriku sendiri. Jelas aku hanya mengangkat bahu, tak tahu juga akan jawabannya.


Lama setelah memperhatikan Mirai. Aku berjalan ke jendela mencari udara yang sejuk. Sorot mataku menangkap luasnya desa ini. Tak ada yang terhalang, cuma beberapa pohon yang tumbuh dengan batang tinggi dan dedaunan kecil berjatuhan.


"Reynald, siapa orang-orang itu?" tanyaku dengan penasaran.


Reynald yang tengah berdiri di pintu kamar merespon datang, ikut melihat apa yang kutunjuk menggunakan mata. Pascamelihat, Reynald membulatkan manik mata kecoklatannya. Ia tampak begitu terkejut dan dengan sontak berlari keluar.


Sepertinya ini bukan perkara baik, dengan cepat aku pun ikut keluar. Kututup pintu Mirai dan menguncinya dengan salah satu kunci yang kudapatkan di dalam laci meja Mirai.


"Reynald tunggu!" seruku mengejar langkah lari gesit bocah lelaki itu.


Sampailah Reynald ke pemukiman penduduk. Tetapi sayang sepertinya ia terlambat. Para orang yang menunggangi kuda dengan pakaian zirahnya telah datang mengumpulkan para penduduk desa ini.


Terlihat seorang pria dengan pakaian kusam dan luka-luka lecet berada bersama para orang yang menggunakan zirah itu. Zirah yang tampak seperti seorang prajurit suatu kerajaan.


"Pajak pajaaak! Ini sudah keberapa kalinya. Kalian masih saja belum bayar-bayar. Jika kalian masih ingin tinggal di sini cepat serahkan duit kalian."


Ucap para prajurit itu. Orang yang mengenakan zirah dengan bagian leher terhiaskan kelopak mawar merah memimpin para prajurit itu. Tawanan yang penuh luka lecet karena tertindas, bangkit berdiri dan menentang para prajurit itu.


"Kamu, untuk apa kami membayar pajak. Tempat seperti ini saja kalian tak pernah perhatikan. Lihat, anggrek sial itu merusak tempat kami. Tak ada apa-apa lagi dari desa ini, tanah kering tak subur, bahkan kentang saja tak dapat tumbuh. Apa lagi yang kalian harapkan. Membuat senjata berburu pun kalian larang, apalagi—"


Belum selesai pria itu melanjutkan perkataannya lebih panjang, ia ditendang oleh pimpinan prajurit tersebut. Membuat pria itu bertekuk lutut memegangi perutnya. Tak berhenti di situ, perajurit itu juga menendang rahang pria penduduk asli itu hingga pria tersebut terguling-guling kesakitan di atas tanah.


Para penduduk yang melihatnya, tersentak kaget dan berteriak histeris melihat kekejian prajurit tersebut. Mereka tiba-tiba tak berani bertingkah, takut akan seperti pria di hadapan mereka.


"Pajak adalah pajak. Bayar saja, kalau tidak sekarang kami takkan segan-segan lagi. Hei, kamu cepat ambil orang ini," ucap perajurit itu sembari menunjuk pria yang kesakitan itu.


Bawahan mereka pun mengambil pria itu dengan menjambak rambut pria itu. Mereka memaksanya berdiri dan mengikat tangan pria itu kebelakang.


"Jika kalian tak membayar pajaknya sekarang juga, kalian akan jadi seperti ini," ucap pemimpin perajurit tersebut.


Aku yang melihat kejadian tersebut bingung untuk bereaksi. Inginku membela para penduduk di sini, tetapi saat aku melihat level para prajurit itu sudah berada di atas level 80-an.


Reynald yang menonton kejadian tersebut terlihat begitu geram. Dan ia naik sendiri ke depan para perajurit tersebut.


"Apanya yang pajak. Bocah seperti aku saja tahu kalian bukanlah perajurit melainkan kalian adalah bandit yang merampas harta benda kami. Meski kamu perajurit tapi perlakuan kepada kami seperti itu sama saja perajurit bohongan. Bukannya melindungi dan membuat damai, malah kalianlah yang menghancurkan ketentraman kami!" seru Reynald.


"[Lotus]" [1]


Reynald memukul pimpinan perajurit itu hingga mundur beberapa langkah. Para penduduk lain yang melihat aksi Reynald menjadi ikut terbawa suasana.


"Benar itu, untuk apa kami harus membayar pajak. Omong kosong tanah ini adalah milik kalian!" Para penduduk mulai riuh. Dan menyerang para perajurit tersebut.


Aku yang melihat aksi mereka tak dapat berkata apa-apa. Kira-kira para penduduk di sini memiliki level 40 - 60. Sedangkan di pihak para perajurit itu memiliki level sekitar 80 - 120.


...****...


Sekedar informasi



Lotus, merupakan skill yang dikeluarkan oleh Reynald. Di mana serangan itu memberikan efek dorongan yang hampir seperti ledakan kecil.