
Untuk keluar dari desa ini, kami harus melewati hutan Aeriel. Hutan yang penuh dengan momon yang memiliki level seratus ke atas. Bukan hal yang buruk, aku juga ingin melihat seberapa berkembangnya diriku ini.
Dan saat kami tiba di lokasi tersebut, aku benar-benar tidak menduganya. Udara sejuk yang keluar dari hutan tersebut sangat penuh dengan hawa mencekam. Sulit untuk bernapas.
Aku bisa merasakannya, dari hasil latihanku, geteran udara yang merambat di kulitku ini adalah ***** para momon. Mereka sangat haus akan perburuan. Inikah yang namanya hukum rimba, di mana yang kuat akan benar-benar berkuasa.
"Kau tampak seperti aku waktu pertama kali ke sini. Ayo Dayshi, shishishi," ucap Raisa menertawaiku sambil menutup mulutnya. Sementara itu, Mirai ikut terdiam mengamati hutan tersebut. Dari matanya, ia tampak takjub melihat pemandangan cercahan cahaya ke dalam hutan.
"Ayo segera berangkat, persiapkan diri saja. Aku juga tak bisa memastikan seberapa kuat momon yang ada di dalam, yang jelas, kita bersenang-senang saja."
Entah sejak kapan, Resha tampak menikmati perjalanan ini. Tidak, ia lebih menikmati tantangan yang ia hadapi. Ia memang tampak seperti lelaki kuat. Rasanya ia bisa diandalkan.
"Baiklah, ayo kita masuk!" Seruku.
Belum apa-apa, pada saat kita masuk, kita dihadang oleh monster-monster berukuran kecil. White forest rabbit, ia terlihat imut dengan bulu-bulu putihnya yang tampak halus. Namun rasanya ia tak tampak sedang di buru. Malah sebaliknya, ia terlihat ingin memburu kami dengan cara berombongan.
Momon yang tampak jinak itu mengelilingi kita. Rupanya mereka bermain jumlah. Kami semua bersiap di tempat, menunggu mereka menyerang duluan. Level mereka masih di bawah seratus. 98, aku pasti bisa, tetapi ini bukan satu loh yang tertera 98, itu "mereka"—jumlahnya tak sedikit.
Pasti bisa. "Mereka menyerang, bersiaplah!" seru Resha.
"Baik!" jawab kami dengan kompak.
Selama mereka menyerang, Raisa berusaha menahan diri untuk menggunakan skill H-BOM nya. Dengan perlengkapan yang sudah lengkap, Raisa hanya bisa menembakkan mana dengan tongkat sihir untuk melindungi dirinya.
Namun di sini, Resha lah yang sangat membantu pertahanan serta serangan ke gerombolan momon berukuran kecil imut itu. Serangan sayatan melingkarnya benar-benar cepat menghabisi mereka.
Aku pun tak ingin kalah dengannya. Aku menahan untuk tidak menggunakan mana. Kata guru jika aku menggunakan mana, maka manaku akan keluar dengan sangat boros, dan lagi aku benar-benar kurang belajar matematika.
Ah, kesal. Berimajinasi itu sulit, tetapi kalau ditambah dengan rumus bukannya itu malah membuatku lebih sulit dalam mengimajinasikan kekuatanku.
Sekarang aku hanya bisa fokus untuk mengetahui dari mana arah serang kelinci-kelinci itu. Dengan storage kukeluarkan pedang logam yang kubeli di desa. Ini sudah cukup membantuku.
Kiri, atas, dan bagian belakangku selalu menjadi incaran para kelinci. Kuayunkan pedangku dengan merasakan kehadiran mereka. Mereka terhempas dan aku berhasil melindungi diriku sendiri.
"Yang benar saja, seranganku hanya memberikan damage sepuluh persen kepadanya."
"Hei, mereka terus berdatangan." Raisa mulai keletihan.
"Ayo kita kumpulkan mereka menjadi satu." Mirai memberi saran.
"Tapi, bagaimana caranya?" Jelas di sini kami kekurangan seorang tanker. Yang mana ia bertugas untuk menarik perhatian musuh. Sedangkan di sini kebanyakan kami tak bisa melakukan hal tersebut.
Resha seorang assassin, ia pasti sulit untuk melakukan tugas menarik perhatian karena ia lebih cocok untuk mengurangi hawa keberadaan demi menghajar lawannya.
Begitu pun dengan Raisa, di mana ia lebih condong ke arah mage yang serangannya kebanyakan serangan jarak jauh. Jika ia terpojok ia akan kesulitan untuk melawan.
Tapi jika aku, aku mungkin bisa untuk melakukan hal tersebut. Aku berusaha untuk menjadi seorang fighter, tapi aku sekarang .... Tidak, aku seharusnya bisa.
"Aku yang akan menarik perhatian mereka!" Mirai kembali memberi saran. Ia sungguh mengejutkanku. Tidak, yang lain pun ikut terkejut mendengar apa yang ia ajukan
Mirai, ia sebenarnya lebih cocok menjadi seorang supporter. Dengan kekuatan fucturiecesnya yaitu melihat masa depan, kita jadi bisa mengetahui kapan para kelinci itu akan menyerang. Selain itu ia juga memiliki kekuatan enchantment.
Enchantment, kekuatan yang dapat memberikan mana kepada suatu objek apapun, yang kemudian objek tersebut akan dapat dikendalikan sesuka hati sang pengguna, Mirai.
"Menarik," Resha berseringai. "Jika memang kamu sanggup, maka lakukanlah."
"Apa kamu punya rencana?" tanya Raisa.
"Ya, aku telah memikirkannya." Mirai mundur beberapa langkah saat serangan kelinci putih mengenainya dan berhasil mengurangi HP Mirai sebanyak lima persen.
"Sudah, aku tak punya waktu lagi untuk menjelaskan kepada kalian. Yang jelas seranglah mereka saat aku memancing mereka menjadi satu"
Kami semua mengangguk, menyetujui Mirai.
"Baiklah." kami mundur dan kembali berkelompok saling menjaga pertahanan belakang. Mirai kemudian memposisikan dirinya dengan tegap lalu memberikan kuda-kuda membungkuk siap menyerang.
"[In Enchanter] maks."
Sebaran mana dari udara dan disekitar seketika terlihat menyala, menandakan bahwa itu bukanlah mana yang sedikit. Mirai menyerap mana-mana tersebut dan membuat lapisan mana tersendiri ke sekujur tubuhnya.
Hawa di sekitar Mirai pun mulai berubah, dingin mencekam seakan-akan dapat membunuh siapa saja yang ada di sekitarnya. Lapisan mana Mirai terlihat bergetar layaknya gelombang transversal.
Mirai seketika menerjang ke kumpulan momon White forest rabbit tersebut. Sungguh tak kusangka, pertahanan serta serangan dari seorang supporter berlevel 84 ini sangatlah kuat.
Satu momon di situ levelnya 98 lho ini, tapi lihat dia, hanya tiga kali serangan dia sudah dapat menghabisi mereka. Bahkan hebatnya lagi diserang pun Mirai tetap memberikan damage setara serangan kepada para kelinci tersebut.
Para kelinci yang mengelilingi kami mulai melirik Mirai. Mereka tampaknya tertarik kepadanya.
"Bersiaplah! Aku akan membuat mereka menyerangku. Ketika aku dalam mode skill ini, maka aku akan memiliki aggro yang setara dengan tanker selevelku. Sebelum cooldown dari skill ini habis, cepatlah kalian menghabisi para kelinci dengan skill berdamage area yang besar. Aku akan menghindar semampu yang aku bisa."
mendengar ucapan Raisa, respon kami pun tak berdiam diri ditempat. Sembari menunggu, kami berupaya untuk menghabisi para kelinci yang mulai menuju ke arah Mirai.
Dalam pertarungan ini, apakah aku setak berguna ini saat aku tak menggunakan mana dengan kekuatan math fantasies yang aku miliki. Setiap serangan yang kutorehkan sama sekali tak ada yang menghabisi para kelinci tersebut. Aku hanya bisa menguras HP miliknya yang bahkan tak turun ke 50 persen.
Aku berdecih, kesal dengan diriku sendiri. "Uaaaakkkkhhh, mati kalian!" seruku yang semakin kesal. Pedang yang kurasa tajam menjadi terasa sangat tumpul saat aku mengayunkannya di sini.
White forest rabbit telah berkumpul ke arah Mirai yang berlari memancing mereka. Saat Mirai memberhentikan larinya, di situlah Mirai memberikan aba-aba kepada kami.
"SERANG MEREKA!?"
\*Gimana, dah lama ya. Terima kasih banyak ya kepada pembaca yang tetap setia menunggu. Aku bakal usahain yang terbaik. Semoga tetap terhibur ya.
Jika ada kekurangan dan hal yang mengganjal dari cerita dan tulisannya jangan sungkan-sungkan untuk dikatakan ya. Karena hal itu bakal sangat membantuku. Jika mau kalian bisa berdiskusi di kolom komentar, biar lebih seru aja gitu.
Ngomong-ngomong soal promosi, boleh kok kalian promosi di sini asalkan jangan spam ya\*.