
Semburat sinar kuning terpancar di telapak tangan sang kakek. Kala tangan kanannya dimainkan dengan ayunan memutar dan disentakkan ke samping, angin sejuk seolah terembus dan mendorong dedaunan di dekat sang kakek.
Resha dan lainnya seketika merasa takjub. Tak berhenti di situ, ketakjuban dari si kakek kemudian dilanjutkan lagi. Tangan kanan yang terentang itu berlanjut menembus masuk ke dalam ulu hati sang kakek.
Cahaya kuning yang masih redup tadi, kini terpancar dengan terangnya. Kala berhenti, tangan kakek keluar dengan memegang tongkat emas.
"Ini adalah jati diri kakek."
"Uwoo keren kek." Ucap Petrick.
"Baiklah anak muda. Untuk dapat mengeluarkan pusaka dalam diri kalian masing-masing. Kalian harus mengerti akan diri kalian. Bermeditasi, bertarung dengan alam bawah sadar, pengendalian emosi, semuanya sangat dibutuhkan," jelas si kakek.
Resha mendekat kepada si kakek. Ia kemudian berbisik di dekat telinga si kakek, terlihat salah satu tangan Resha menutupi telinga kakek—berancang agar suaranya tak terdengar oleh orang lain selain kakek.
"Gimana kek?" ucap Resha setelah berbisik. Ia melipat kedua tangannya sembari menatap para adik bawahannya.
"Tapi proses ini akan memakan waktu yang lama," sahut kakek.
"Tidak apa-apa. Asalkan dipakai baik-baik pasti bisa. Bisa kan kek?" Resha dengan senyumnya menoleh ke kakek.
Kakek memejamkan kedua matanya. Ia sedang berpikir untuk mengambil keputusan yang tepat. Sedangkan yang lain malah saling bertanya-tanya akan apa yang mereka berdua bicarakan.
"Ada apa kek? Kakek terlihat bingung," tanya Ryan yang tengah bersila. Ia memiringkan kepalanya dengan raut muka heran.
"Hei hei apa yang kamu katakan. Masa kakek terlihat bingung, dia bukan orang yang suka ambil pusing kan," ucap Petrick setelah bangun duduk dari rumput yang kasar dan kering.
Kakek menghela napasnya kemudian menghembuskannya. Sorot matanya yang menatap Petrick dan kawanannya kini jatuh memandang ke bawah. Dengan senyuman ia pun berkata.
"Dasar, kalian sudah dewasa tapi masih bertingkat seperti anak-anak," ucap kakek. Ia kemudian mengangkat kembali pandangannya ke depan.
Lirik mata dan tolehannya kini maju terarah pada semua bekas pertarungan Resha dengan Mio. Kala tongkat emas bermodelkan corak kayu diangkat, seluruh bekas cerokan, tanah retak, potongan-potongan bangunan yang masih rusak, semuanya menjadi pulih kembali—hampir seperti kondisi sebelumnya.
"Permukaan dan apa yang dari tanah kakek bisa perbaiki. Selain dari itu kakek tidak bisa," ucap si kakek.
"Woaah..." Takjub mereka.
"Baiklah, jati diri kalian akan kita latih mulai sekarang .... Baik, kamu Reynald Tinggallah di sini. Urus daging burung itu, sekalian jika kamu mau bawalah pulang dan bagikan kepada teman atau tetanggamu.
"Kakek akan mengarahkan perjalanan kita. Karena sepertinya perjalanan ini akan cukup panjang, kamu, Ryan gendong si kakek."
Resha mengarahkan dengan menunjuk-nunjuk orang yang ia sebut. Kala selesai ia pun menunjuk jalan keluar dari desa sembari berkata "Latihan kita adalah mencari bahan makanan!"
Pikir saja Resha menggunakan latihan mereka adalah mencari persediaan bahan makanan. Mengingat desa ini merupakan desa yang sukar mendapatkan makanan, harga makanan yang berada di warung-warung desa ini pun sangatlah tinggi.
Bahkan pedagang yang datang ke desa sangatlah jarang, pedagang dari dalam pun sulit untuk keluar ke kota karena perjalanannya yang cukup jauh. Selain itu mereka juga takut dalam perjalanan akan diserang momon yang liar. Dan masih banyak faktor lainnya.
Dari sinilah Resha melatih mereka agar lebih mudah lagi dalam berburu, mencari apa yang dibutuhkan dalam kehidupan mereka. Lebih jauh lagi ia tahu bahwa si kakek tersebut lebih berpangalaman di tempat mereka sendiri.
"Berburu? Ah ini mah hal yang mudah. Kita sudah terbiasa," ucap mereka.
"Beneran tempat itu, tempat yang momonnya memiliki level ratusan. Ini mah kita cari mati kek," ucap mereka. Merasa takut dan bergidik ngeri, sudah banyak rumor orang yang datang ke sana tak pernah ada yang kembali.
"Tenang ada aku. Dalam perjalanan kalian juga harus berlatih. Ingat sebelum sampai di hutan itu, kalian harus bisa mengeluarkan pusaka dalam diri kalian," ucap Resha.
"Yang benar saja, itu hal yang sulit. Bahkan butuh waktu berminggu—"
"Ayo berangkat," ucap Resha sembari berjalan duluan bersama dengan Ryan.
"Sudah ayo kita ikuti saja." Leo ikutan berjalan sembari membujuk Petrick yang sedari tadi banyak mengeluh.
Leo mulai berpikir tak ada salahnya jika mengikuti Resha. Ia juga merasa akan mendapatkan kekuatan yang lebih dari pada biasanya. Disusul dengan yang lain mereka pun mulai pergi menuju Hutan Aeriel.
Dayshi POV
Lagi-lagi sebuah mimpi pertarungan sosok yang menyerupaiku terulang. Ketika Atmosfer menjadi biru pandangan pun tertelan kegelapan, kala mataku terbuka.
Aku berada di sebuah ruangan yang hampa. Hitam putih sebagai warna, lantai air sebagai pijakan. Kedua tanganku terikat di atas sebuah kursi, aku terduduk dengan tatapanku yang kosong.
"Aku di mana?" itulah pertanyaan yang aku pikirkan saat ini. Sebenarnya apa yang terjadi. Hawa dingin mulai merembes ke dalam pori-pori kulitku. Di saat yang bersamaan sosok hitam nampak sedang mengamatiku.
Sekujur tubuhku mulai bergetar hebat. Sampai-sampai kursi kayu yang aku duduki ikut bergetar. Perasaan takut, bahagia, sedih, marah, kecewa, dan bahkan perasan hampa. Semuanya bercampur aduk.
Air mataku mulai menetes deras bersama dengan air lendir dari hidung. kening menjadi mengerut. Telingaku mulai berdenging. Senyum terukir lebar nan bahagia. Mata naik seolah menikmati. Dan pikiran adalah pikiran kosong. Aku menggila.
Tak dapat berkata. Namun gelak tawaku benar-benar mengisi ruangan hampa ini. Saat sosok itu menyentuhku, aku menjadi diam kaku seperti patung yang tak dapat melakukan apa-apa lagi.
Siluet hitam itu mendekati alat pendengarku. Jari gemulainya pun menyentuh daun telingaku. Dingin. Dia membisikkan sesuatu. Mataku melebar, bukan hanya satu, dia ada dua. Satunya tengah diam berdiri mengamatiku dengan senyum yang hangat. Dia adalah orang lain, dia tinggal bersamaku.
Bisikan terdengar. Aku menjadi luluh. Kacau. Mulut terbuka lebar, tenggorokan terasa sakit, tetapi suara tak ada yang keluar. Terpejam, dan ....
Ngiiiiingggg, masih berdenging. Tubuhku tersentak bangun. Mata langsung terarah melihat kondisi diri ini. Basah, air keringat bercucuran hebat di seluruh permukaan kulit.
Aku tak berpakaian, hanya kolor hitam lah yang melapisiku. Detak jantungku masih menggebu-gebu. Apa itu tadi?
Ruangan kosong. Ranjang berisikan kasur kapuk adalah tempat kutiduri. Kursi dengan meja adalah hal yang kedua aku pandang.
Napas berat berat benar-benar kukeluarkan. Aku berdiri. Berjalan kemudian membungkuk, tanganku menggeledah laci dari meja tersebut. Berpikir pakaian ada di dalam dan itu ternyata benar.
Kukenakanlah pakaianku. Mataku sayu, hampa, dan terasa begitu tajam karena kerutan alisku yang agak tebal.
*Kriek..
Kubuka pintu dan aku keluar dengan langkah panjang tapi pelan berwibawa.