
"Apa?! Bukan urusanmu, hei tanah ini milik negara!" seru pemimpin berzirah itu.
"Negara negara?! Kau gak punya otakkah, tanah di rumahku itu adalah tanah yang aku beli. Kalian tak ada urusannya dengan tempatku tinggal!" balas wanita bar itu.
Keduanya saling berdebat hebat. Sepertinya wanita itu cukup kuat menghadapi para prajurit itu, melihat bahwa mereka saling menahan diri untuk mendahulukan perang fisiknya.
Beberapa anggota prajurit itu juga hanya tersisa tiga orang saja, sedangkan tujuh anggotanya telah jatuh, jauh setelah wanita itu berhadapan dengan pemimpin prajurit tersebut.
Bosan melihat mereka, aku pun teringat akan para penduduk, terutama kepada bocah yang baru aku kenal, Reynald. Khawatir dengannya, aku pun menghampirinya. Ia masih dalam keadaaan sadar, menonton perdebatan yang tak kunjung henti lalu melihatku.
"Apa kau baik-baik saja?" tanyaku.
"Iya, aku baik-baik saja. Sepertinya aku tak bisa bergerak gara-gara shock karena manaku langsung terhisap habis," ujar Reynald.
Kuulurkan tanganku kepadanya, ia maraihnya lalu berusaha bangkit dan terduduk. Ia begitu loyo, wajahnya pun begitu pucat.
"Apa kakak tak apa-apa? Kakak kan baru bangun? Belum juga sembuh cukup baik, malah sudah bonyok lagi." Reynald khawatir. Kondisiku memang agak sedikit berantakan, lebam, benjolan, serta darah sedikit keluar dari kepalaku.
Segitu bonyoknya kah aku? Health point-ku juga lagi-lagi turun hingga di angka 33% akhirnya terhenti. Kutarik napas dan menghelanya.
"Iya, aku tak apa-apa," ucapku dengan sedikit memberikan senyum tipis untuk men-support perkataanku itu.
Aku kembali memperhatikan debat mereka. Kulihat wanita bar itu mulai mendorong sang pemimpin, sang pemimpin terlihat mulai geram, tetapi ia tetap menahan diri serta menjaga kedua bawahannya yang juga mulai naik pitam.
"Dia kah yang kamu maksud orang sangar yang memiliki kedai lengkap itu?" tanyaku
Reynald ikut memperhatikan apa yang aku lihat. Ia tampak sedikit terkejut saat pandangannya telah sampai kepada apa yang aku tanyakan. "Loh, kakak 'dah tau toh."
Eh, tadi itu pertanyaankan, bukan pernyataan? "Ya, yaa ... Ngomong-ngomong kenapa para prajurit itu, agak was-was padanya yah."
"Bagaimana tidak kak, coba kakak lihat dia levelnya dah berapa."
"125. Mereka 102, 115, dan 120. Selisihnya tidak terlalu jauh."
Kupikir perbedaan level tidak terlalu berpengaruh. Waktu aku melawan si Tiger itu saja, selisih levelnya hampir di atas 50-an. Dan kurasa waktu itu aku yang menang. Masa selisih lima saja mereka sudah begitu waspada, mereka juga kurasa menang jumlah. Memang, wanita itu sekuat apa sih?
"Di desa ini, dia adalah orang yang terkuat kak. Dulu juga pernah ada kejadian para perajurit yang menagih pajak ke padanya, dan ia dengan mudahnya mengalahkannya sendiri."
Oh jadi begitu. Pantas saja para orang berzirah mawar itu was-was dengannya. Rupanya dulu ia sudah pernah dikalahkan.
"Siapa nama kakak itu?" tanyaku lagi.
"Eva Nieos."
"Nama yang unik."
Sepertinya orang bernama Eva Nieos itu sudah tak dapat menahan emosinya lagi. Dia menarik tangannya ke belakang dan berniat memukul pemimpin perajurit itu. Dua orang bawahannya kemudian maju, sebuah pedang besar seketika tercipta kepada keduanya.
"Wah, sepertinya mereka mulai bertarung," ucap Reynald.
Kedua pedang bersinar kuning menghantam Eva. Namun, pedang tersebut terhenti seolah tertahan sesuatu di udara.
Bagaimana bisa. Apa yang wanita itu lakukan. Kulihat dia tak melakukan apapun, malahan dia tak jadi memukul pria berzirah itu.
Gerak gerik dari sang pemimpin perajurit itu merasa memiliki kesempatan yang baik untuk menyerang. Ia meletakkan kedua tangannya ke arah samping pinggangnya, jari-jemari seolah meremas benda yang bulat.
"Jangan kira aku sama seperti dulu."
Uap panas terasa, lingkaran cahaya merah pekat terpancar pada telapak tangan pemimpin perajurit itu.
"Sampai di sini saja riwayatmu wanita ******. Perisai anginmu takkan dapat menahan seranganku ini."
Tangan kanan terangkat mengambil ancang-ancang ke belakang lalu menyerang Eva.
*Prash
Lagi, terlihat serangan itu tertahan sesuatu. Roots Fire yang menabrak dinding udara itu lantas meledak. Bukan ledakan api, tetapi ledakan akar yang menjalar besar menyelimuti pelindung udara Eva.
"Itu benar pelindung yang terbuat dari udara angin kan?" tanyaku memastikan kepada Reynald.
"Iya, itu adalah skill pasif nona Eva, Air cover. Menahan segala jenis serangan yang mendekatinya. Skill pasif Nona Eva juga telah berlevel maks, artinya sudah sangat sulit untuk menembus perisai itu. Aku yakin serangan pemimpin perajurit rentenir itu takkan bisa menembusnya," jelas Reynald.
Level maks? Aku tidak yakin. Wanita bersuraikan hitam ujung pirang itu bahkan tak terlihat lagi. Akar besar yang menyelimutinya kini malah terbakar besar. Apa dia selamat?
Sudah satu menit berlalu. Pemimpin perajurit besarta bawahannya mulai berekspresi lega serta tertawa lepas.
Namun itu hanya sementara. Akar dan api yang terselimuti pada sosok wanita dewasa itu terhempas menjadi abu dalam sekejap.
"Masih belum!"
Pemimpin perajurit itu terlihat panik. Diangkatnya tangannya dan ditapakkannya ke tanah. Cahaya merah seperti api merah naik dari permukaan layaknya asap menyala.
Tanah bergetar, akar raksasa muncul dan menumbuki Eva. Eva menghindari serangan itu, ia bergerak gesit, tetapi ia terlihat berjalan pelan mendekati pemimpin perajurit itu, seakan-akan tak ada yang menghalanginya.
"Ck, kalian yang cari gara-gara lho. Maaf saja, kalau kalian mati itu bukan salahku," ucap Eva dengan dingin.
"hiiiik, apa apaan dia itu." Pemimpin perajurit itu terlihat kewalahan, area wajahnya yang tak berhelm itu berkeringat banyak. Ia mencari kedua bawahannya, dan ternyata bawahannya telah terhempas tak berdaya.
Aku sendiri bahkan tak mengetahui sejak kapan kedua bawahannya itu tergelintang. Seperti ini kah kekuatan yang telah mencapai seratus lebih.
"Ini akan segera berakhir. Perhatikan baik-baik kak, pusaka dalam diri yang sejati di tanah ini."
Pusaka dalam diri? Apa yang dia maksud. Aku tidak mengerti akan apa yang Reynald katakan. Kulihat dia tampak terbinar-binar melihat pertengkaran itu, kembali kuperhatikan pertarungan mereka. Sang pemimpin perajurit memegang dadanya.
Dia, sang pemimpin perajurit tersenyum dan mengeluarkan sebuah pedang penjang dengan lengkuknya yang khas, katana. Nyala merah pekat melapisi senjata itu.
Saat diayunkan katananya ke arah Eva dengan jarak yang agak jauh. Sebuah akar api yang lentur tipis ikut melayang dan mencapai Eva.
Eva menghindar lagi dengan mudahnya. Sayangnya penghindarannya kali ini mengorbankan sesuatu dari dirinya. Rambut hitam panjangnya harus terpotomg karena terbuai akan gerakan dan penghindaran jarak dekat.
Tanah ikut terbelah cukup dalam. Katananya tergerak, akar tipis bak cambuk ikut juga terpelesat.
Ini berbahaya. Jika saja kita membelakangi pertarungan kedua orang itu, kami bisa saja terkena serangan si pemimpin perajurit itu, yah lebih tepatnya si rentenir itu. Baguslah posisi kami menyaksikannya adalah dari samping.
"Apa katana dia yang kamu maksud?"
"Tidak, bukan punya dia. Tapi punya nona Eva. Meski serupa, tetapi punya dia lebih hebat lagi," jawab Reynald.
Serupa, dia juga memiliki katana? Itukah pusaka dalam diri?
Cahaya remang oranye semakin meredup. Hari mulai tiada, kegelapan mengisi cakrawala.
Eva berhenti berjalan. Ia memegang dadanya, semburat cahaya menerangi seluruh lapangan. Apa ini? Terangnya cukup besar namun juga terasa aneh. Hitam? Apakah ini disebut cahaya hitam, terangnya redup seperti cahaya biasa. Namun, warnanya terlihat agak keunguan juga.
"Aduh, aku benar-benar tak mau tahu ya," ucap Eva. Jari kirinya terletak menyentuh bibirnya. Tangan terhentak kesamping bersama katananya. Hitam indah. Namun mencekam.
...➕➖✖️➗...