
...~Another POV~...
Sebuah tangan terulur, menarik tangan yang lain. Terus bergantian, hingga ke tangan terakhir. Tangan yang begitu kecil dan berkulit putih mulus itulah gilirannya. Ketika saling berpegangan, telapak tangan yang cukup besar itu merasakan kelembutan dari telapak tangan lawannya. Ia bahkan menjadi ragu-ragu untuk menariknya, kalau-kalau tangan tersebut akan merasakan sakit.
"Kenapa?" tanya Raisa. Tangan kanan terulur ke atas, menunggu gilirannya naik ke tanah yang tinggi. Lama menunggu, tangan yang sedari tadi tergenggam ditekannya kuat-kuat. "Resha, kau suka sekali mempermainkanku? Cepat tarik Raisa!?"
"Ah, maaf." sahut Resha yang kemudian menarik Raisa.
Batang kurus nan panjang, warnanya putih dengan dahan bercabang jarang. Pohon di sekitar mereka kebanyakan seperti itu. Ada yang besar dan bercabang hebat, tapi itu hanya ada satu sampai dua saja terlihat selama mereka berada di perjalanan.
"Sekarang kita gunakan ini untuk melintasinya," ucap Resha. Akar pohon yang lumayan besar untuk digenggam membuat mereka yakin akan betapa kuatnya akar itu menopang tubuh.
Namun, tidak untuk Raisa. Ia yang berjalan di belakang tampak membungkuk memegangi lututnya. "Ah, Raisa sudah tidak kuat. Lebih baik ini Raisa taruh di inventory."
Keringat mengucur di wajah bulatnya yang memerah. Napas keluar ngos-ngosan, tangan serta bahu digerakkan ke belakang, supaya keranjang yang tertaruh di punggung keluar meringani bebannya.
"Xixixi, biar aku saja yang membawanya," ucap Alex. Pria bermuka ramping dan kurus. Rambut hitamnya terbelah dua, panjang, sampai diikat ke belakang memperlihatkan bentuknya yang menjuntai seperti ekor kuda.
Dia mengambil keranjang jamur serta dedaunan milik Raisa. Isinya tak seberapa banyak, bahkan Alex tak merasakan beratnya keranjang itu saat ia kenakan bak menggunakan tas yang kosong.
"Terimakasih," ucap Raisa. Ia berdiam diri, tampak mematung, tapi jari-jemari tangannya bermain di udara nan hampa. Seseorang dengan rambut khas bergelombang ke samping kanan menutupi sebelah matanya juga terdiam, terpaku menatapi apa yang dilakukan Raisa.
Alex memperhatikan Light. Diam-diam ia ingin menggoda kawannya. "Bro!" seru Alex. Light dengan datar mengganti pandangan ke Alex. Dilihatinya kawannya itu menaikkan kedua alis. "Iri bilang ya?" Alex memegang erat tali keranjang seraya memperlihatkan ibu jarinya.
"Ha?" respons Light. Mulutnya terperangah bulat. Ia menggeleng-gelengkan kepala dengan mata yang tertutup. Light dalam hatinya bingung untuk menanggapi sikap Alex. Ia tidak sepercaya diri seperti Alex. Dan lagi, ia hanya penasaran dengan apa yang dilakukan Raisa. Tidak ada kaitannya dengan iri-irian.
"Woa?!" seru Alex, melihat Raisa mengeluarkan ransel yang besarnya melebihi tubuhnya.
"Xixixi ,kamu tidak kuat membawa keranjang tapi malah mengeluarkan ransel yang lebih besar dari keranjangmu. Sini! Biar aku yang bawa semua bebanmu." Alex membusungkan dada, dan dengan bangga ia menunjuk dirinya sendiri menggunakan jempol.
"Tidak, ransel ini lebih ringan dari keranjang itu." Raisa menolak mentah-mentah tawaran Alex. Ransel itu adalah benda berharga bagi Raisa. Hanya dirinya lah yang boleh mengenakan ransel itu.
"Hei, apa yang kalian lakukan? Cepat kemari!" Sambil menarik-narik—memastikan—akar pohon yang menggelantung, Resha memanggil rombongannya untuk bersiap melintasi lumpur yang menyerupai tanah.
"Itu beneran lumpur hisap?" Alex bertanya-tanya. Untuk kali pertamanya ia masuk ke dalam hutan yang sangat minim dijarah oleh manusia. Pada dasarnya ia juga heran, perjalanan mereka yang semakin dalam terus bertambah tinggi datarannya.
Tak ada jalan yang baik, batang jatuh pepohonan tua yang menghalangi, tanah naik turun seperti gelombang, tak jarang aktivitas bergelantungan monyet harus mereka lakukan untuk mempersingkat perjalanan di dataran yang mencekung.
"Ya, kita lewati saja dulu. Siapa yang ingin jadi pertama." Semuanya tak ada yang berkata. Akan tetapi mereka jelas menunjuk dengan tatapan berharap. Siapa lagi kalau bukan si akak, Resha sendiri.
"Haih. Padahal aku sangat mengapresiasi kalian jika ingin menjadi yang pertama di sini ...." Tak menyerah Resha merayu mereka, intonasi ucapan sedih, kepala menunduk bak merenung.
Namun sayang, tanggapan mereka masih sama. Bahkan Alex si orang narsis percaya diri ini, menahan diri sebab membawa sebuah keranjang. Bagaimanapun juga, Alex masih memikirkan sebab akibat tindakan yang akan ia lakukan.
"Hei!" seru Raisa tidak terima dikatakan sebagai seorang pecundang.
"Apa! Jadi kamu tak terima dikatakan pecundang. Kalau begitu silahkan mencobanya terlebih dahulu." Resha refleks berkata lancar, nada suaranya menjadi terkesan tak meyakinkan.
"Iya?! Bagaimanapun levelku di sini adalah yang paling rendah, dan kamu yang paling tinggi.
Jadi wajarlah, orang yang lebih kuat memberikan contoh, apalagi memiliki gelar sebagai si akak. Terus bukannya ini mencurigakan. Dari tadi—"
"Aah, iya iya iya. Aku yang duluan deh." malas Resha mendengarkan alasan-alasan masuk akalnya Raisa. Dengan menghembuskan napas malas, ia pun melompat.
Brrrzzttt, akar terenggang dari atas lalu menjadi kuat. Dan—
Wush
****
Angin berhembus kencang mengikuti alirannya. Latar terganti ke arah awan yang bergerak dan akan menjadi gelap. Tiga sosok yang sedang mengelilingi hutan bagian barat tengah berasa-basi menghilangkan suasana yang tegang.
"Dari dulu hutan ini sudah tidak terawat. Sang makhluk autentik di sini terlalu liar, dan juga tidak sepadan dengan level area sekitarnya. Bahkan lima puluh tahun yang lalu, saat peperangan terjadi, tiada orang yang menempatinya. Tempat ini terlalu aman di masa lalu. Jadi perkembang biakannya sangat baik, hingga aku merinding dibuatnya."
"Ah, kakek jangan buat orang takut lah," ucap Ryan. Dengan tubuhnya yang besar dan berisi, ia menggendong si kakek dan berjalan susah berkat si Petrick menjinjing bajunya dengan penuh ketakutan.
"Ayolah Petrick, jangan terlalu menempel dong. Bagaimana jika nanti ada momon yang tiba-tiba menyerang, kita bisa langsung mati loh. Aku gak bisa gerak." Ryan menghentikan jalannya. Petrick bukannya melepaskan jinjingannya, ia malah memeluk kaki Ryan.
Sungguh kombinasi yang kacau. Ryan sudah tak bisa menahan kesabarannya. "Lepaskaan! Lepaskan lepaskan lepaskan ...." Ryan mengayun-ayunkan kakinnya, tapi Petrick masih bertahan di ayunan itu.
"Tidaaaaak, aku tidak mau mati di siniii!"
"Ya lepaskan kakiku pintaaar."
"Tidaaak, ntar kamu gak bisa jalan."
Gemas Ryan meronta-rontakan kakinya, tapi ia tak tega untuk membenturkan Petrick ke batang pohon. Andai dia bukan siapa-siapa ya, mungkin sedari tadi Ryan menghiraukan orang penakut itu.
Lama setelahnya, si Kakek melompat turun dari punggung Ryan." Aku jalan saja," ucapnya. Ia tak sanggup menerima kegelisahan Ryan yang membuat kepalanya pusing. Dan pada akhirnya Ryan agak sedikit leluasa, sembari menyeret-nyeret kaki kanannya yang dipeluk oleh Petrick.
Tuk, kakek menancapkan pusaka tongkat emasnya ke dalam tanah beberapa senti. Tak lama kemudian gemuruh tanah terdengar hebat lalu terangkat naik dengan bunyi dentuman yang sepadan dengan sosok besar setinggi dua meter lebih.
Mata mengangkat tajam, alis mengerut, hingga urat di dahi kakek nampak menonjol. "Persiapkan diri kalian."