My Power Of Math Fantasies

My Power Of Math Fantasies
7.4 Latihan Survival



"hosh hosh hosh." Deru napas terdengar begitu membalap. Bukan dari satu orang, tetapi dari tiga orang.


"Bagaimana ini?"


"Hust, diamlah."


"mmph, tutup mulut kalian."


Suara pelan nan berbisik-bisik terucap dari ketiga orang itu. Napas terisak mereka kini tertahan oleh tangan mereka sendiri, bahkan mulut sebagai perantara utama komunikasinya harus terkunci rapat-rapat.


Ketiganya mulai berjalan perlahan sembari menunduk-nunduk dan mengintip-ngintip di balik akar pepohonan yang besarnya sepertiga dari badan mereka.


Srrkk


Suara dedaunan kering tercampur dengan suara semak belukar yang tertindih serta terdengar hancur seolah terbakar.


"Sialan, makhluk macam apa itu. Terserang sedikit saja kita bisa mati tanpa meninggalkan bekas."


Batin salah satu di antara ketiga orang tersebut. Hingga beberapa menit kemudian, salah seorang yang memimpin di depan berhenti secara mendadak. Membuat kedua temannya yang lain saling bertabrakan.


"Gerry," bisik kesal orang yang berada di barisan paling belakang.


Orang yang tertutupi penuh dengan rambut di wajahnya itu mengangguk memberikan kode. Namun kode yang diberikannya tak dapat dicerna oleh kawannya.


Brzkkk, tiba-tiba makhluk besar tak berkaki itu merayap dan bergidik liar. Sontak ketiganya menunduk dan tamparan dari badan reptil itu melelehkan akar pohon yang tepat menjadi persembunyian mereka. Untunglah, hanya di bagian atasnya.


"A-apa yang terjadi?!" ucap Leo, menengadah ke langit dengan rambutnya yang begitu berantakan. Ketiganya melihat makhluk reptil itu terbang di dekap cakar berapi.


"Sebenarnya apa yang barusan terjadi tadi?" ucap Dhile dengan matanya yang saling kompak membulat lebar dengan iris coklat mengecil ingin menjadi titik.


Kembali ke beberapa waktu lalu.


".... Pelatihan akan dimulai sekarang!" seru Resha dengan semangat tiada tanding. Ia berkacak pinggang sembari tersenyum militer.


"Baiklah, aku persilahkan kepada si kakek untuk mengenalkan hutan ini. Yah, sepertinya kakek tidak terlalu asing kan dengan tempat ini," ucap Resha tepat pada si kakek yang tengah berjalan ke arahnya.


Kakek tersenyum lalu berbalik pandangan saat telah berada di dekat Resha. Semuanya pun memperhatikan kakek dengan ekspresi mereka yang saling berbeda pula. Ada yang senang dan bersemangat, dan ada pula yang mulai ketakutan.


"Hutan Aeriel adalah salah satu hutan terbesar di Kingdom of Flower. Hutan inilah yang menghalangi tempat kita untuk menuju ke dunia luar."


"Anu, kek. Bisa langsung ke intinya saja. Level dari momonnya atau ancaman-ancaman yang perlu diwaspadai di hutan ini...." ucap Resha memotong kalimat kakek saat memiliki jeda.


"Ekhem. Kalau begitu kakek bahas tentang momon. Di hutan besar ini terdapat berbagai macam jenis momon, baik itu animalia, vegetalia, bahkan monstalia. Level mereka rata-rata di atas 100, jadi bisa dibilang jika kalian melawan satu saja momon, baik itu yang jinak apalagi yang agresif, kalian akan sangat kewalahan. Tentu saja, itu karena selisih level kalian yang masih kalah jauh.


"Perlu kuperingatkan, momon di sini masih asing bagi kita. Kakek saja masih belum mengetahui banyak akan tempat ini. Yang jelas tempat ini sangat berlaku akan hukum rimba. Jadi waspadalah."


"...."


"Itu aja kek?" tanya Resha.


"Iya,"


Resha menepuk tangannya.


"Baik, untuk latihan pertama dan terakhir adalah latihan bertahan hidup. Survive. Kita akan bagi tiga kelompok dengan anggotanya berisikan tiga orang."


Resha pun mulai membagi kelompok. Kelompok pertama ialah Petrick, si kakek, dan Ryan yang pergi ke arah barat. Leo, Gerry, dan Dhile pergi ke arah Timur.


Dan terakhir kelompok Resha, Light, dan Alex pergi ke arah Utara yang berjalan lurus masuk ke hutan yang lebih dalam.


"Terus, bagaimana dengan Raisa?" tanya Raisa, satu-satunya perempuan yang ikut berlatih dalam hutan Aeriel ini.


Resha mengamati Raisa. Ia memegang dagunya dengan kepala tertoleh ke bawah akibat badan Raisa yang begitu mungil.


"Raisa ikut dengan Resha," kata Raisa yang tak memberikan waktu kepada Resha untuk berucap.


Resha menghela napas. Dengan senyum pasrah ia pun berkata, "terserah kamu saja deh."


"Ingat, kita ke sini untuk berlatih. Jika kalian tetap ingin menjadikanku sebagai akak kalian, maka bertahan hiduplah dan pulang dengan membawa benda yang berguna. Baik makanan, item kelas tinggi, dan apapun yang bisa di bawa pulang," jelas Resha.


Resha kemudian memanggil si kakek lalu menyuruh kakek untuk membuat sebuah pilar. Kakek mengiyakan. Tongkat emas yang ia sanggahi kemudian di angkat dan dipukulnya ke tanah dengan ujung kaki tongkatnya.


"[Soil Pillar]"


Pilar tanah pun tercipta dalam hutan ini. Pilar itu melebihi tingginya pepohonan di tempat ini, bahkan badannya pun cukup terbilang besar.


"Tiga hari." Resha menunjukkan tiga jarinya. "Kita akan berkumpul kembali di sini setelah tiga hari berlalu. Tujuan kalian adalah makanan dan item berkelas minimal rare .... Lalu tentang pusaka dalam diri kalian, pokoknya di latihan ini pastikan telah bisa kalian keluarkan. Siap semuanya!?"


"SIAP!" sahut mereka berpadaan. Mereka pun berjalan ke arah yang telah ditentukan.


***


"Yoshaa, hajar hajaaar!" Leo dengan liarnya berlarian ke sana kemari mengambil tumbuhan-tumbuhan yang tak tahu apakah tumbuhan itu bisa dimakan atau tidak. Ia benar-benar tak menyisakan apa yang ada di depannya.


"Sungguh tak santai sekali," ucap Dhile yang hanya berjalan lurus bersama Gerry memperhatikan tingkah laku Leo.


"Hei, kalian berdua kenapa lamban sekali! Ayo cepat!" seru Leo.


"Bukannya kamu yang terlalu antusias. Setidaknya waspadalah dengan sekitarmu, Leo. Ingat, hutan ini hutan Aeriel."


"Hahaha, jangan terlalu takut. Lihat ini."


Leo menunjukkan keranjang yang ada di bahunya. Dhile yang melihatnya langsung memasang wajah kecut.


"Tanaman aneh apa itu yang kamu ambil. Bahkan jamur beracun pun kamu ambil. Setidaknya perhatikan statusnya lah."


"Ini beracun? Padahal kelihatannya enak-enak saja. Coba aku liat." Leo dengan penasaran mengambil semua benda yang ia taruh dalam keranjangnya.


Satu persatu Leo angkat dan mengeliminasi tanaman-tanaman yang tak dapat dimakan. Namun, jelas saja keinginannya ditolak belakang.


"Akh, padahal semuanya terlihat enak. Kenapa tak ada satu pun yang bisa dimakan."


Benar, tanaman itu semuanya hanyalah tanaman beracun dan pastinya hanya akan merusak pencernaan serta cita rasanya yang pastilah buruk.


"Kan tadi aku sudah bilang. Makanya lain kali lihat statusnya dulu, baru kamu ambil." Dhile menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia sungguh tak bisa terbiasa akan tingkah rekannya yang tiga tahun ia selalu bersama di bawah bosnya, Nartou.


Namun, beberapa saat kemudian Dhile keheranan melihat Leo yang tiba-tiba terdiam. Dhile merasakan hal yang buruk akan terjadi.


"Leo! Jangan macam-macam ya."


"Diamlah, aku melihat sesuatu yang menarik." Leo tanpa memandang Dhile berjalan ke arah pandang matanya yang tertuju pada sebuah tumbuhan umbi-umbian yang nampak keluar dari tanah.


Jelas aneh di pandangan Dhile. Status yang ia lihat dari tumbuhan itu pun memang terbaca aman, level yang setara dengannya dan tingkatan yang berada di item common, sungguh terlihat sangat biasa saja.


Terus apa yang membuat tangan Dhile berkeringat dingin? Jika diperhatikan dengan baik-baik, geteran-geteran kecil dari sekitar tanaman berumbi itulah yang membuatnya bersiap siaga.


Dhile tahu, di hutan yang baru ia pijak haruslah terus mewaspadai akan ancaman liar, apalagi hutan Aeriel ini sangat terkenal akan ancaman momonnya yang sangat variatif. Lengah sedikit saja, mungkin momon yang seharusnya jinak dapat berubah menjadi mengerikan jika tak sengaja terganggu. Dan, satu lagi yang Dhile khawatirkan.


DHUARRR.


Yeah, momon vegetalia.