
"semalam aku melihatnya bersama seorang perempuan," ucap Raisa serius.
"Perempuan? Serius! Dia, dia mau selingkuh?"
"Apa!? Benarkah apa yang dikatakan oleh Resha?" Aku ikut menimpali pertanyaan Resha.
Pikiranku ke mana-mana membayangkan pak Opin menjadi seorang playboy tua dengan kepalanya yang mengilap dan setangkai mawar di bibirnya. Itu lucu.
"Tidak. Perempuan itu bahkan membuat pak Opin pingsan dengan satu pukulan. Dan, pak Opin dibawa pergi."
"Tunggu, hanya dengan satu pukulan katanya. Pertahanan pak Opin bukankah cukup tinggi untuk level di tempat ini."
"Dayshi." Raisa memanggilku.
"Jangan berpatokan dengan level dan apa yang kamu lihat dari hologrammu," ucap Raisa tiba-tiba.
"apa maksudmu?"
"perempuan yang kulihat tadi malam memiliki level 23. Dan, ketika Raisa melihat perempuan itu memukul pak Opin. Levelnya menjadi tanda tanya," jawab Raisa. Membuatku diam mencerna perkataannya.
Tanda tanya? Apa maksudnya? Apa perempuan itu mempunyai kekuatan yang mengerikan?
"Jadi, apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Resha. Membuyarkan pertanyaan dalam benakku.
"Sekarang kita cari pak Opin!" aku berseru tanpa pikir panjang, berharap semuanya akan berkumpul kembali lalu melanjutkan perjalanan ke tempat Alice.
"Sudah malam!" dengan sikap sigap juga ketiganya segera menyanggah. Aku sendiri sudah tahu bahwa Raisa dan Mirai akan menolak ajakanku ini.
Akan tetapi, yang lebih mengejutkan Resha malah ikut menolak. Alhasil aku jadi cemberut.
"Informasi kita kurang. Lebih baik kita mencarinya besok saja."
"Resha benar. Informasi kita masih sedikit, lebih baik besok kita mengumpulkan informasi dari warga sekitar."
"memang mereka tahu? Aku bukannya sembarangan menyatakan penduduk Desa Rose tidak tahu apa-apa. Namun, jika dilihat bukannya hanya Raisa yang melihat kejadian itu."
Raisa melangkah mendekatiku dengan matanya tajam seolah membujuk dengan tegas.
"Dayshi, lebih baik berlari secara normal dan melaju di akhir finish dari pada melaju di awal-awal dan berakhir dalam keletihan."
Mendengar bujukan Raisa, akhirnya aku mengalah. "Iya deh ... jadi sekarang kita mau istirahat di mana?"
"Tadi aku sudah memesannya. Melihat kondisi keuangan kita yang sudah kritis, aku hanya memesan dua kamar. Satu untuk kamu dengan Resha, dan satunya lagi untuk aku dengan Raisa." ucap Mirai
Krrrr
"Macan?"
Resha menggaruk kepalanya sambil tersenyum polos. "Aku lapar lagi nah, hahaha."
Kami semua hanya diam melihat Resha. Tak lama kemudian, Mirai kembali berbicara.
"Oh iya, sisa keuangan kita tinggal beberapa koin logam saja, tidak sampai satu koin emas. Jadi .... Dayshi, kita berdua pergi mengumpulkan persediaan makanan."
"Loh, yang lagi kelaparan aku eh."
"ya, kamu makan seperti punya perut karet sih."
"mending kita makan bareng saja deh."
"hmm... Iya juga yah."
Sambil tersenyum girang Resha menepuk bahuku. "Mantan pengawas memang yang terbaik"
"Jangan panggil aku mantan pengawas. Panggil biasa ajah, biasa. Dayshi gitu."
"Baik mantan pengawas. Eh maaf, maksudku Dayshi," ucap Resha usil.
Jelas-jelas tadi dia sengaja lho. Aduuh, aku geleng-geleng kepala dibuatnya. gak apa-apa lah, namanya juga Resha. Orangnya kadang serius dan suka nyeleneh juga ternyata.
Krrrrr
"Perutmu resek yah," ucap Raisa yang kemudian disusul oleh Mirai untuk mengajak kami mencari tempat makan. Resha hanya tertawa kecil.
Tidak memakan banyak waktu, kami telah menemukan tempat untuk makan. Setelah itu, aku dan Mirai mencari persediaan bahan makanan mentah dan air.
Sedangkan, Raisa dan Resha pergi mencari tempat inap sesuai dengan petunjuk yang diberikan Mirai.
Hanya dalam satu malam, koin logam kami ludes semua. Tak ada yang tersisa meski satu koin tembaga. Hitung-hitung, sekarang kami berpikir untuk mendapatkan uang koin lewat perjalanan nanti.
Siapa tahu nanti ada item momon yang bagus untuk ditukar jadi uang koin, lumayan kan?Meski begitu, yang paling kuutamakan pastilah mencari pak Opin.
Ketika malam semakin larut dan urusan perbelanjaan telah selesai. Aku dan Mirai pun kembali ke tempat inap. Kami berkumpul di kamar masing-masing, maksudnya hanya kumpul antar teman sekamar.
Di dalam tempat inap ini, kamarnya kecil dan sederhana, hanya berisikan satu kasur kapuk dengan ukuran untuk satu orang. Walau begitu aku dan Resha masih dapat membaginya dengan tidur dari samping.
Dalam perkiraan, sekarang pukul sepuluh malam. Lampu yang berwarna oranye remang-remang mulai meredup. Kulihat Resha telah tidur pulas.
Perasaan lelah, perasan khawatir, bahkan kini aku juga mulai merasakan lapar walau samar-samar sekali.
Merasa tak akan bisa tidur, aku bangkit bertujuan keluar mencari tempat untuk meredakan segala benak pikiran.
Di saat aku keluar, Raisa menyapaku. Dia tengah duduk memandang langit yang gelap dan berawan di teras tempat inap yang luas seperti penginapan ala Jejepangan, yang berbeda penginapan ini kebanyakan memakai kaca sebagai jendela dan pintunya.
"Kamu tidak bisa tidur yah?"
"Raisa. Kamu belum tidur juga yah." Alih-alih aku berjalan mendekati Raisa.
"Bukan belum. Tapi tidak bisa."
Sejenak aku diam lalu berkata "begitu yah" seolah aku mengerti.
"Menurutmu bagaimana dengan dunia ini?" tanya Raisa tiba-tiba, dia masih mendongak ke atas langit.
"Yah begitulah. Penuh dengan hal yang tidak masuk di akal."
Raisa merendahkan pandangannya kemudian menatapku dingin seperti biasa. Namun, kali ini aku merasa Raisa tidak senang melihatku.
"Kamu ... kamu menganggap dunia ini masih tidak nyata kan? Kamu menganggap yang lain itu seolah NPC[1] yang tak memiliki banyak arti untukmu kan?"
Tunggu, kenapa jadi begini? Jelas aku terkejut dan merasa bahwa perkataan Raisa benar. Aku masih tidak menganggap dunia ini nyata, aku berpikir dunia ini hanyalah seperti game virtual.
"kenapa diam. Sepertinya ucapanku benar."
"Bukan!" aku menundukkan kepala. "maksudku iya. Kamu benar."
Raisa menghembuskan napasnya. Dia terlihat kecewa.
"Dengar Dayshi. Apa yang kamu lakukan di dunia ini semuanya adalah nyata. Jangan terus melarikan diri dan tidak terima dengan apa yang kamu lihat saat ini.
"Terimalah. Resha, Pak Opin, Mirai, dan semua yang berada di dalam dunia ini. Mereka memiliki jiwa dan hati, bukan program.
"Raisa sendiri sekarang merasa dunia ini sudah tak asing. Rasanya Raisa juga melupakan sesuatu yang penting," jelas Raisa.
Berkat Raisa, beban pikiranku menjadi hilang, rasa antusiasku mulai kembali. Aku duduk sedikit jauh dari samping kanan Raisa lalu menengadah ke langit yang berawan. "Kamu benar. Oke!"
Raisa terlihat bingung. "Oke?"
"Iya, oke." Aku mengarahkan pandanganku ke Raisa lalu kembali berkata, "okelah kalau begitu."
Raisa semakin kebingungan hingga menghela napasnya. "Jadi bagaimana pendapatmu sekarang tentang dunia ini."
"Yah, berkatmu pandanganku dengan dunia ini mulai berubah."
"berubah bagaimana maksudmu?"
"berubah jadi kupu-kupu."
"oh. Begitu ya."
"ya bukanlah. Maksudku anggap nyata gitu."
"Yea yea yea yea ya, kamu memang bodoh ya." Raisa kini seakan tidak peduli.
Dan, begitulah kami memulai obrolan panjang di malam hari ini. Percakapan terus mengalir dan mulai bercabang-cabang.
Ketika langit mulai terang akibat cahaya rembulan, kami berdua pun kembali ke kamar masing-masing. Sudah tak ada lagi yang mesti untuk terlalu dipikirkan, jadi aku dapat tertidur dengan lelap.
...➕➖✖️➗...
Sring...
Bunyi gesekan pedang? Penglihatanku masih samar-samar. Dua sosok terlihat sedang bertarung, pedang panjang dan ... katana (?) beberapa jeda keduanya saling melompat untuk menjaga jarak.
Aku yang memperhatikan, entah mengapa menjadi sesak hingga terengah-engah. Penglihatanku mulai sedikit jelas, lalu salah seorang dari keduanya menyerupai diriku.
Mereka mulai memasang kuda-kuda kemudian berlari saling menghunuskan senjata. Dan, kedua senjata tersebut saling beradu hingga memberikan gelombang angin kejut.
Tanpa sikap siaga, aku dengan refleks memasang kedua tangan untuk pertahanan diri. Angin tebal yang bahkan terlihat berwarna biru itu mengilat seluruh pandanganku. Dan ....
...°°°°°...
Sekedar informasi
NPC, non player character.