My Power Of Math Fantasies

My Power Of Math Fantasies
7.14 Penyelamatan kelompok Leo



“Tiga hari telah berlalu. Apa mereka tidak apa-apa?” tanya Ryan khawatir sembari meniup-niup api yang ia buat. Api itu menyala dan memanaskan tungku batu yang ada di atasnya. Batu yang telah memanas itu diperuntukkan pula untuk memasak beberapa daging ikan yang didapatkan kelompok Ryan saat kembali.


Ngomong-ngomong tentang 'bagaimana bisa Ryan memasak air di atas batu?' itu karena tungku batu yang digunakan adalah batu yang besarnya lumayan dan memiliki cekungan seperti sebuah wajan.


“Aku tidak tahu, tapi sepertinya aku harus mencari mereka,” ucap Resha.


“Kalau begitu aku akan ikut denganmu,” sigap Ryan.


“Tidak usah, biar aku saja sendiri. kalian beristirahatlah lagi, aku tidak tahu mesti jika nanti momon di dalam sana memiliki rataan level yang semakin tinggi.”


Apa yang diucapkan Resha malah membuat suasana menjadi hening. Entah mengapa, Raisa kesal kepada Resha, ia menggertakkan gigi.


“Resha, apa yang kamu katakan itu membuat kita semakin khawatir. Kamu tahu sendiri diantara mereka bertiga belum ada yang pernah berpengalaman masuk ke dalam hutan ini, apalagi momon di hutan ini memiliki kisaran yang kurang lebih mendekati level seratus, dan mereka sendiri memiliki selisih yang jauh berbeda.”


Resha terdiam sejenak dan tampak merasa bersalah karena ialah yang menyuruh untuk membagikan kelompok perjalanan. Sebelumnya ia merasa bahwa dengan membagikan kelompok, mereka akan lebih mudah untuk mencari makanan dan item-item yang dapat dimanfaatkan. Namun, ia tak menyangka bahwasanya hutan ini telah lebih berkembang biak lebih dari apa yang ia duga.


“Maaf, ini salahku. aku akan segera mencari mereka sekarang,” ujar Resha. Ia menundukkan kepala lalu memutar badannya segera siap mencari keberadaan kelompok Dhile.


“Tunggu sebentar!” seru sang kakek, menghentikan gerak pergi Resha.


“Aku juga akan ikut bersamamu,” lanjutnya


“Tapi—“


“Ini lebih baik dari pada kamu sendiri yang mencari mereka. Tenang saja, punggungku juga akan sangat keras dalam situasi seperti ini.” Si Kakek mulai berdiri tegak, tongkatnya di jatuhkan ke arah Petrick lalu dada kurus keringnya menjadi busung dengan tangan berisi.


Level kakek juga terupgare ke level seratus saat memakan ikan bakar yang telah lama tersedia di atas daun talas, daun yang bentuknya lebar seperti perisai besar dengan ukuran yang dapat dimuati tiga orang untuk duduk di atas.


Resha diam mempehatikan sebentar. “Baiklah, tapi bagaimana dengan yang lain. apakah kalian baik-baik saja di sini tanpa kita berdua?” tanya Resha.


“Ja-jadi kalian berdua yang akan pergi mencari mereka?” Petrick menjawab dengan pertanyaan.


“Ya, lihat saja sendiri,” jawab Resha.


“Sudahlah, kami takkan kenapa-napa di sini,” sahut Ryan sembari meletakkan tangannya ke bahu Petrick.


“Tapi sebelum kalian pergi, sebaiknya tunggulah beberapa saat lagi. Seluruh makanan akan segera siap. Yeah, akak dan kakek harus memiliki tenaga yang banyak agar cepat mencari mereka,” lanjut Ryan.


“A, Baiklah.”


Resha dan kakek pun menunggu hingga mereka menyantap banyak makanan. Baik dari umbi-umbi talas maupun umbi boombie yang memiliki rasa manis khas pekat dan lumer.


Daging dari beberapa binatang yang mati terkejut akibat ledakan Raisa pun ikut menjadi santapan. Yeah, itu adalah daging yang berasal dari momon-moomon jinak yang memiliki tingkat defense rendah, seperti hewan berjenis burung, kelinci liar dan tupai.


Setelah makan, Resha dan Kakek pun mulai berangkat dengan membawa beberapa bekal. Keduanya berlari dengan pesat melewati ranting-ranting pepohonan. Tak butuh waktu yang lama mereka menemukan jejak yang ditinggalkan oleh kelompok Dhile.


Sebuah lubang seperti bekas akar pohon yang dicabut keluar, didekatnya terdapat bekas benda terseret. Bekas-bekas tersebut cukup dalam, sampai-sampai hujan deras tiga hari lalu tak dapat menghilangkannya.


“Iya, gempulan tanah dipinggir lubang itu adalah bekas dari seekor momon Bumbie yang menyerang dengan mengeluarkan tubuhnya keluar,” jawab si kakek.


“Baiklah kita ikuti bekas ini.”


Dengan mengikuti bekas tersebut sampailah mereka di tempat pepohonon yang penuh dengan akar. Kini mereka berdua tak mengikuti jejak garis dalam yang dibuat si Bumbie. Mereka merasa instingnya untuk memasuki hutan penuh akar itu hingga ke pohon yang terlihat lebat dan besar sendiri di tengah hutan.


Bekas lekukan panjang yang memudar dengan beberapa batang pepohonan terlihat mengering. Si Kakek seketika mengetahui bahwa pepohonan tersebut adalah pohon dari kemampuan Gerry. Pepohonan yang kering dan perlahan hilang tanpa meniggalkan bekas berupa lapuk kayu.


Jelas, hal tersebut dikarenakan kemampuan yang dikeluarkan Ryan bukanlah sesuatu yang murni, melainkan hanya berupa kemampuan memanfaatkan mana sepenuhnya. Hanya di level tertentu, orang bisa menguasai pemanfaatan mana ke dalam unsur murni lain.


Sampai di waktu senja hari, akhirnya Resha dan si kakek menemukan kelompok Dhile. Mereka tahu ketika mendengar dentuman-dentuman kecil bak sebuah pertempuran. Dilihatnya, seekor burung besar berapi ada di langit sebagai sang pelaku suara-suara tersebut. Lantas, keduanya mendatangi tempat burung tersebut sembari berharap kelompok Dhile baik-baik saja.


Didapatilah kelompok Dhile di bawah burung tersebut, ini tepat seperti dugaan keduanya. Sigap, si kakek membuat pilar banyak mengelilingi kelompok Dhile. Resha sendiri malah menghilang lalu muncul memberikan hantaman keras kepada Burung garuda haast itu. Cuma satu serangan, burung tersebut seketika terhabisi.


“Bagaimana dengan mereka?” tanya Resha yang tiba-tiba muncul di belakang kakek.


“Kurasa mereka baik-baik saja,” jawab kakek meski tertegun melihat keseriusan Resha. Ditambah lagi dengan level Resha yang terpajang 150-an. “Tapi, coba lihat mereka, ketiganya berhasil mengeluarkan pusaka dalam diri mereka. Bukankah ini sudah setimpal dengan apa yang mereka hadapi,”


Resha memperhatikan. Ketiganya kesulitan bernapas, perlahan pusaka mereka hilang. Gerry dengan zirah, Leo dengan sepati berduri, dan Dhile dengan sayap tak berwarnanya. Tampak sekali ketiga orang tersebut memang telah berusaha mati-matian untuk bertahan hidup.


Setimpal? yah dalam pikir Resha itu sudah cukup setimpal, tetapi meski begitu rasa bersalah yang Resha rasakan masihlah ada karena membuat mereka mempertaruhkan nyawa lebih dari apa yang Resha duga.


Seraya menghembuskan napas berat Resha tersenyum kepada kelompok Dhile. Ia kemudian berjalan ke arah ketiganya, mengambil bekal dari hole—mirip kemampuan inventory yang digunakan Dayshi dan Raisa, yang berbeda hanyalah nama penyebutannya saja—lalu diberikan kepada ketiganya.


Napas dari ketiga orang tersebut masih begitu terengah-engah, sulit untuk berkata apapun. Panas dari tubuh begitu terasa, panas tersebut berbeda dengan panas biasa, ada tenaga yang tersendiri di balik panas yang mereka rasakan. Ketiganya hanya bisa memberikan ukiran senyum tipis dipaksakan. Pastinya mereka tak ingin dikhawatirkan.


“Cepatlah isi tenagamu dengan bekal itu. Ryan pasti sangat menantikan kalian memakannya,” kata si kakek.


“Hahaha, dasar Ryan. Andai dia perempuan feminim, aku sudah menaksirnya dari dulu.”


“Eh, apa-apaan kamu Dhile. Kau Gey ya?”


“Jaga ucapanmu, Leo. Kau tak dengar kah, aku bilang ‘andai dia perempuan’ pinter”


Kemudian terjadilah adu mulut antara kedua orang tersebut. Gerry yang terduduk di antara keduanya tak menggubriskan apa yang mereka lakukan, makan bekal lebih baik dari pada meleraiakan manusia yang terus bertengkar itu.


“Tampaknya kalian sangat baik-baik saja ya. cepatlah makan bekal itu, baru kemudian kita buat perapian di sini, hari mulai gelap. Esok barulah kita kembali ke perkumpulan.”


“Baik akak.”


Malam itu, mereka saling menghibur dengan berbagi cerita akan kejadian-kejadian apa saja yang mereka alami. Keesokannya mereka kembali ke tempat perkumpulan. Sang penunggu di tempat perkumpulan menyambut dengan gembira.


Semuanya telah berkumpul, seluruh item berharga berupa bahan makanan serta benda-benda berguna dikumpulkannya menjadi satu. Lima hari, itulah waktu yang mereka gunakan untuk latihan survive di hutan Aeriel.