
Lorong tersebut dikatakan memiliki banyak cabang untuk memasuki ruangan-ruangan tertentu. Fungsi dari ruang lorong bawah tanah tersebut adalah agar para petinggi yang ada di kerajaan tersebut dapat langsung menuju ke ruangan penting yang terhubung dengan cepat. Salah satunya adalah untuk keluar dari istana Garden Flower itu sendiri.
Sayangnya, sekarang tempat tersebut malah menjadi bumerang bagi istana Garden Flower. Para pemberontak justru memanfaatkan lorong tersebut untuk menjatuhkan Kingdom of Flower.
Hoji, yang merupakan Flower Country Knight menjadi sosok yang memimpin pemberontakan itu secara diam-diam. Dia mengkhianati apa yang menjadi kewajibannya sebagai Flower Country Knight.
Kata Resha, Hoji tampaknya memiliki dendam dan rasa tidak suka atas sistem kerajaan di Kingdom of Flower ini. Ia yakin Hoji pasti telah lama mempersiapkan pemberontakan hari ini demi mengubah apa sistem dari kekuasaan Kingdom of Flower.
Sebidang taman yang yang memiliki luas puluhan hektare menjadi tempat persebaran hamparan tumbuhnya bunga yang beragam jenis dengan warna yang ditata rapi. Beberapa pohon serta rumput juga ada yang tumbuh di sekitar situ.
Sungai dan jalan setapak menjadi menjadi tempat bagi orang yang ingin berkunjung. Hari ini, di tempat tersebut, tak terlihat ada satu orang pun yang berkunjung. Namun jika diperhatikan baik-baik, terdapat banyak bekas jejak-jejak kaki di jalan setapak tersebut. Bahkan bunga yang ada disekitarnya tampak terinjak-injak.
Kami berjalan di hamparan bunga. Entah sampai di mana, apakah berada dipertengahan ataukah tidak. Bunga berkelopak kuning—bunga matahari—yang tingginya bahkan melebihi tinggiku, ia sudah tampak seperti pembatas-pembatas labirin yang membuat diriku sendiri bingung.
Kami menyusuri dalamnya hamparan bunga. Sampai ketika sebuah lubang berdiameter tiga meter menampakkan dirinya dengan gigi-gigi yang berupa anak tangga.
Lantas kami secara cepat memasuki tempat tersebut. Lorong di bawah sini tak gelap sama sekali dikarenakan ada lampu yang meneranginya di dalam. Saat kami sampai di dasar tangga bawah lorong ini, ternyata luasnya sangatlah di luar dugaan. Kira-kira ada sekitar lima meter lebarnya dengan tinggi tiga meter. Dinding dan lantai tampak terbuat dari logam yang kuat, mungkin baja.
Kami kemudian melanjutkan gerak langkah seribu. Akibat kehampaan dalam lorong bawah tanah ini, suara kaki kami bahkan terdengar sangat jelas. Tak akan heran jika tetesan air masih terdengar, apalagi bunyi bising dari banyaknya kaki yang bergemuruh. Rasanya gendang telinga telah dipasangi oleh earphone dengan volume yang nyaring, sehingga jarak pun tak menggubris suara-suara kecil nan detail.
"Di depan lorong sana sejauh lima ratus meter, kita akan memasuki lorong bawah batas masuk ke area istana Garden Flower," ucap Agenemone.
Selang tak berapa lama, bunyi gemuruh suara pertarungan terdengar. Itu adalah suara gesekan logam yang beradu disertai ledakan-ledakan kecil yang memekik juga bisingan orang yang berteriak bersemangat.
"Tak disangka, mereka sudah mengetahuinya dan menyiapkan peletonnya di lorong ini."
Mereka sudah mulai terlihat. Orang yang hanya menggunakan peralatan seadanya dengan jumlah massanya cukup banyak adalah bagian dari pemberontak. Sedangkan yang mengenakan pakaian serta perlengkapan lengkap adalah pihak dari kerajaan.
Sepertinya pihak kerajaan lebih unggul. Tapi pihak dari pemberontak cukup lumayan tangguh juga, meski cara mereka sangat bar-bar, perhatian mereka terhadap nyawanya sendiri memungkinkan mereka untuk jauh lebih berhati-hati.
"Bersiaplah kita akan bertarung."
"siap."
...[Quest utama: Kalahkan si Raja Gila]...
...[Sub Quest: Jatuhkan kekuasaan Kingdom of Flower dari Raja Sekarang]...
...[Quest sampingan: Kalahkan para prajurit dan lanjut ke lorong berikutnya]...
...[....klik untuk detail yang lebih]...
Eh, kok baru muncul. Saking lamanya aku hampir lupa kalau aku memiliki sistem ini. Tampaknya aku terlalu banyak melakukan sesuatu tanpa berlandaskan sistem. Bahkan aku pernah mematikan notifikasinya karena kukira bakal mengganggu.
Hanya latihan biasa dan melihat status saja yang kulakukan. Sudah lama skill ku hanya bisa sekali saja digunakan. Sekarang mana yang kumiliki sudah lumayan pulih dari mana drop.
Baiklah untuk sekarang aku ingin menyimpan-nyimpan manaku. Akan kugunakan latihan keterampilan berpedangku terlebih dahulu.
"[Inventory]"
Stat level ku saat ini adalah level 80 berkat hasil latihan yang kulakukan baik di perjalanan maupun misi di dalam guild.
Aku kemudian mengeluarkan pedang pendekku dari sistem Inventory. Kemudian langkah lariku kuperlancarkan. Pedang pendek yang aku kenakan ini adalah pedang baru dari kota water lotus sebelumnya. Pedang ini cukup ringan, tetapi dikatakan bahwa pedang ini akan mudah rusak.
Pikirku tidak mengapa, karena aku juga ingin mencoba sesuatu yang baru. Aku berlari mempercepat langkah kakiku daripada yang lain. Kulihat beberapa celah yang ada di balik pertempuran itu, dan aku memanfaatkannya.
Aku cukup kesulitan menghindari serangan jarak jauh yang berupa skill mana. Meski begitu aku tetap dapat menghindarinya dengan lumayan gesit. Aku kemudian mencoba untuk mengalirkan manaku ke dalam pedang pendek.
Ketika aliran hangat di tangan terasa, aku pun mulai mengayunkan pedang pendekku. Ayunan pedang yang kuberikan berhasil mengenai lawan tanpa mengenai pelindungnya.
Keakuratan seranganku ini berkat skill hitung yang kumiliki secara pasif atau alami. Dan lagi jika berada di dalam jarak yang dekat, aku yakin pasti bisa mengenai lawan.
Bagaimanapun itu aku hanya bisa melumpuhkan mereka. Andai saja mereka tidak menggunakan zirah, aku pasti bisa mengalahkan mereka lebih banyak.
"Mengapa!? MENGAPA!? Kalian tak bisa dimaafkan, kalian harus mati!" teriak salah seorang prajurit. Dia menggunakan kapaknya yang besar dengan jangkauan yang lebar untuk menghantam lawan di sekitarnya.
Sepertinya dia sudah tidak waras. Serangannya begitu agresif dan kemana-mana. Dari tindakannya, hanya amarah yang menguasainya.
Cting*
Dari arah seorang prajurit lawan lagi. Dia menghentakkan ujung tombaknya pada lantai berdasar baja. Entah apa tujuan dia. Namun, saat dia melakukan hal tersebut. Para prajurit menghentikan serangannya lalu mundur mengambil posisi yang rapat.
Kami semua terdiam beberapa saat menghentikan serangan juga. Sebenarnya kami waspada akan tindakan mereka. Aku juga mengambil langkah mundur hingga beriringan dengan rekan-rekanku.
"Apa yang mereka lakukan?" tanyaku.
"Diamlah. Kita tidak tahu apa yang akan mereka lakukan. Jangan asal menyerang dan amati gerak-gerik mereka terlebih dahulu," sahut Anemenon.
Gerak-gerik mereka? Aku merasa ada yang aneh. Mereka mundur dan mengambil posisi pertahanan. Yang mengenakan perisai ada di depan sedangkan pengguna pedang dan tongkat sihir berada di belakang. Satu orang memimpin di depan dengan diam, kepalanya tertunduk tak memperhatikan kami sebagai lawannya, tangannya tenang bersemayam menahan jatuh tombak berkapak di hadapannya.
"Apa yang kalian lakukan?! Langsung serang saja, mumpung mereka hanya berdiam diri!!" seru salah seorang pemberontak yang berlari sendiri ke depan, membawa persenjataannya yang hanya terlengkapi dengan pedang.
Dia meloncat dan hendak menyerang prajurit yang berdiri sendiri di depan. Ujung mata pedangnya siap menusuk celah helm attic tepat di wajah lawan.
Namun, seperti yang aku duga. Pemberontak tersebut takkan semudah itu dapat menyerang prajurit tersebut. Dia terpental sendiri seolah ada perisai tak terlihat di sekitar prajurit tersebut. Pedang yang digenggamnya terlempar jauh. Dan dia dia bergidik ngeri saat memperhatikan prajurit yang ada dihadapannya.
*dup...
Suara itu persis seperti peluru mercon keluar dari moncongnya. Terus tak lama muncullah bola cahaya putih padat yang menerjang pemberontak tadi. Pemberontak itu tak selamat dan meledak bersamaan dengan bola putih yang mengenainya.
Pihak kami lantas terkejut dengan darah yang mendidih. Baru kali ini, terdapat korban jiwa selama pemberontakan ini berlangsung. Meski tak dapat dipungkiri bahwa korban jiwa akan ada nantinya, tetap saja kami terkejut karena sebelumnya kami hanya saling membuat lumpuh lawan hingga tak dapat bertarung.
Mereka sudah mendeklarasikan awal dari pertempuran berdarah. Korban jiwa dari pertempuran sudah dimulai dan akan semakin memanas tanpa peduli lagi untuk menahan diri.