My Power Of Math Fantasies

My Power Of Math Fantasies
11.6 Reuni tanpa ingatan (4)



"Dayshi. Akan keberitahukan satu hal terakhir untuk kamu. Ini adalah kata kunci agar kamu dapat melihat kembali seluruh ingatanmu. Yah anggap saja hadiah kecil sebelum kita berpisah lagi."


"Ahaha, aku saja tidak pernah ingat kamu."


"Yeah, tidak masalah. Ini akan segera berakhir kok."


Riko berdiri dari tempatnya duduk. Sebenarnya apa yang dia maksud akan segera berakhir. Aku melihat Riko, ia memandangi kota Garden Flower ini. Matanya sedikit berkaca dan ia tampak sedikit lesu. Sepertinya dia tak segila yang dirumorkan.


"Oy. Dayshi."


Peeubahan suara Riko tiba-tiba menjadi berat.


"Apa kamu pernah melihat ini sebelumnya?"


Ekspresi dia tiba-tiba berubah lagi. Dengan raut aneh, antara memiliki kesenangan yang ada tersendiri di dalamnya. Kesenangan yang pasti ia rasakan kesenangan dari perasaan menyesal akan apa yang ia lakukan tapi seperti ia tak bisa mengendalikannya.


"Ehehehehek..."


Ia mengangkat wajahnya ke atas langit seolah ingin memperlihatkan sesuatu kepadaku.


Sesuatu yang benar-benar Gila.


Langit hitam yang sedari tadi muncul itu semakin terlihat pekat dan seolah langit itu jatuh. Aku mencari ujung dari cahaya yang ada. Terlihat pada pinggir dari langit hitam itu membuatku sadar kembali akan kejadian dulu. Kejadian di kota Flamesea.


Sudut-sudut langit hitam itu bergerak, itu adalah sayap, dan ditengah-tengah yang kami perhatikan ini adalah siluet badan dan kepalanya.


"I-itu, itu naga bukan."


Besar yang melebihi kota ini. Sebuah makhluk raksasa besar gunung yang hanya sekali hembusannya dapat meratakan kota ini tak sampai satu menit.


"Ko, jangan bilang kamu akan melakukan pembantaian ko."


"HM, " katanya sambil tersenyum polos menatapku.


"Hm matamu."


Secara refleks aku langsung melayangkan tinjuku ke muka Gila itu. Dia sedikit menjadi oleng tapi tetap saja tinjuku tak berpengaruh banyak sama sekali kepadanya.


"Hentikan semua ini Riko. Apapun alasannya, kau tak punya hak untuk membalaskan dendammu terhadap orang-orang yang tak tahu apa-apa Ko."


"Hahaha', ya mereka takkan tahu apa-apa, Shi. Termasuk kamu juga. Orang bodoh yang mati berkali-kali dan akhirnya menyatu dalam dunia ini. Kau juga akan sama seperti mereka."


"Sudah Ko. Cukup!"


Tanganku secara refleks lagi mengayun kepada Riko. Entah tanpa aku sadari Riko seketika terhempas begitu jauh diikuti-ikuti puing bangunan yang ada di sekitarnya. Memberikan bekas yang begitu besar, dalam, dan jauh.


Suara pecah terdengar berkali-kali saat Riko terseret. Health Poin yang menunjukankan angka 9 yang begitu banyak pun seketika berputar membuat angka yang baru dan beragam. Menghancurkan seluruh angka sembilan yang tertera di awalnya.


"Ahaha', sepertinya kekuatanmu sudah kembali pulih ya."


Aku masih merasa geram kepada anak itu. Sourcing rumus pun tiba-tiba semakin beragam. Tapi, aku dapat dengan mudah menyelesaikannya bahkan beberapa skillku yang lain yang telah lama aku siapkan jauh hari juga seakan bertambah begitu kuat. Aku tak perlu lagi bertarung sembari menghitung.


Kali ini semua pergerakan di sekitarku terlihat melambat. Aku mengambil kesempatan itu untuk segera menyerang Riko. Pedang mana yang kuanggap keras itu berkali-kali menyayat tubuh Riko. Merasa tak puas aku bahkan menggunakan pukulan kosong untuk menyerang mukanya.


"Janc*k, ngeselin banget jadi orang. Mana tahan banting lagi."


Bahkan HP dia, jika dihitung secara persenan tak sampai menyentuh 90%. Namun rupanya ketika waktu kembali semula, Riko tampaknya sangat begitu terkejut.


"Aku tidak menyangka, kau bisa membuat HP ku menjadi turun. Mungkin aku sudah terlalu meremehkanmu. Tapi, yaah, kamu takkan pernah bisa malampauiku sih."


"Kak Riko?"


Suara itu. Suara yang sangat tidak asing aku dengar. Aku membalikkan badan melihat rupa yang jelas sekali aku mengenalnya.


"Mirai? .... Apa-apaan dengan sebutan kak itu?"


"Ha-hah?"


Mirai bawahan dari si Raja Gila. Jadi apakah goblin yang menyerang Mira pada saat itu adalah salah satu dari bagian sandiwaranya saja.


"Mirai?"


Dia bahkan tak berani untuk menatapku.


"Hahaha' Yah, masa iya aku tak bisa malampauimu, ko?"


Perhitungan waktu, kecepatan, dan jarak. Aku akhirnya menguasai kekuatan ini dengan begitu leluasa.


Aku muncul dibelakang Riko, kecepatan bergerak ku seolah sudah seperti berpindah tempat seperti kedipan mata.


" Hei Riko. Sebenarnya aku tak begitu peduli dengan orang lain..."


Aku menjatuhkan Riko, membantingnya ke permukaan tanah dan membuat ledakan kecil di sekitarnya. Jika dia orang biasa, ia pasti sudah tewas, karena bantingan yang aku lakukan sudah seperti menjatuhkan orang dari bangunan berlantai tujuh.


Riko mulai tampak menjadi panik. Yeah sepertinya dia sadar bahwa aku sudah mengetahui triknya. Besaran HP seolah tak terbatas yang ia miliki itu berasal dari item yang ia gunakan. Jika aku menyerang dia tanpa mengenai item tersebut maka si Raja Gila itu akan mendapatkan serangan langsung terhadap Health Poin aslinya.


"Jika kau memang ingin menghancurkan kota ini, maka hancurkanlah."


Lagi pula sudah tak ada lagi yang akan tersisa untukku.


Mata Riko mengecil. Ia tampaknya menjadi marah. Ia memegang perutku dan berusaha mangangkatku dan membantingku. Namun aku membalikkan keadaan ketika ia akan membantingku, aku mengencangkan badanku dan bergerak dengan cepat menjadi aku yang membantingnya.


Area pukulan keras saat kutinju lagi bagian wajahnya. HP yang ia miliki lantas turun menjadi 85%.


"Kamu sama sekali tidak berubah, Dayshi," kata si Raja Gila itu dengan napas terengah-engah.


"Bukankah sebaiknya kau mengurusi naga itu daripada mengurusiku."


Riko, meninju rahangku. Aku sama sekali tak berkutik dalam menghindarinya. Dia kembali bangkit dan kali ini meninjuku secara bertubi-tubi.


Aku menggunakan skill mana 3D ku untuk melindungi sukujur tubuh. Tetapi rupanya tinjauan demi tinjuan yang ia berikan membuatku harus terlempar ke mana-mana dan menghancurkan area sekitar bahkan membuat skill mana 3D menjadi pecah.


"Bahaya, aku harus menghindarinya, " ucap ku untuk membuat Riko tidak waspada. Aku sudah memperlambat waktu di sekitarku, meningkatkan kecepatan, dan akan membuat serangan telak pada wajah Riko.


*Ctar


Bagaimana mungkin. Dia berhasil menahan seranganku dan memberikan serangan balik tepat pada ulu hatiku. Tinjuan ke atas, aku pun lantas terbang saking kencangnya ia memberikan serangan. Health Poin seketika turun secara drastis.


Begitu rupanya. Serangan yang kuberikan gagal karena Mirai melihat masa depan. Ia memberitahukan seranganku itu kepada si Raja Gila sebelemu aku akan memberikan serangan telak.


Kesadaranku semakin lama semakin memudar. Selama ini perjalanan yang kulakukan kurasa cukup menyenangkan.


Raisa yang selalu marah-marah namun ia juga merupakan sosok terpenting dalam perjalanan ini, ia hanya bersikap tegas, tapi sayang sekali wajahnya yang imut tidak terlalu mengintimidasi.


Mirai, orang yang kami selamatkan apakah benar ia hanya datang untuk memata-matai kami. Kalau begitu ia sangat hebat sekali dalam berakting, aku bahkan tak dapat menyadarinya saking naturalnya ia bersama kami. Ia bahkan memiliki pengaruh besar dalam perjalanan kami. Tanpanya kita akan sangat sulit untuk sampai disini, Raisa hampir mati berkali-kali dan ialah yang selalu disampingnya, bahkan merelakan untuk memperlihatkan seluruh kekuatannya tanpa ia sembunyikan.


Resha, sampai sekarang aku masih tak mengerti dengan orang itu. Meski begitu jika ada keputusan yang sulit dialah yang terdepan memberikan solusi. Meski sikapnya kurang bersahabat dengan kami. Satu-satunya cara membuat dia menurut hanyalah makanan.


Pak Opin. Aku tak pernah menyangka bahwa pertemuan kami sangat begitu singkat. Meski ia konyol tapi dialah yang paling membantuku, Tanpanya aku takkan mungkin bisa bersama mereka semua.


Aku mulai teringat dengan penduduk desa Rose. Apakah mereka semua baik-baik saja. Ya tampaknya begitu.


Kota ini akan menjadi lautan api seperti kota Flamesea. Sebuah akhir yang buruk.


Pandanganku lama-lama semakin gelap. Sepertinya aku sudah berhenti terhempas di atas langit-langit. Semuanya menjadi gelap.


"Yo Bro. Beristirahatlah. Sekarang biar aku yang mengambil alih."