My Power Of Math Fantasies

My Power Of Math Fantasies
6.7 Mana drop



"Mana perlawanan kalian, sampai di sini saja kah?!" Pekikan suara berat dan tegas mengisi atmosfer udara sekitar. Semuanya diam, kaku, tak dapat mengeluarkan sepatah kata kata. Diam mematung dan terperangkap dalam ikatan rumput yang melilit kaki hingga membungkam mulut para penduduk tersebut.


"Kenapa? Ayo meronta terus. Percuma juga kalian melawan, apa kalian tidak berpikir sumber mana terbesar kalian datang dari mana, hahaha. Meski kamu menyerangku juga, kalian tidak bakal menang kok," lanjut sang pemimpin perajurit tersebut.


Tangannya yang di belakang membiarkan dirinya seakan terkesan dia adalah orang yang paling tinggi di antara yang lainnya. Sorot matanya begitu merendahkan para penduduk di sini. Dan lagi seringaiannya benar-benar menjengkelkan.


Aku yang terpatung dari kejauhan, mengepal kan tangan melihat tindakan mereka. Benar kata mereka, perajurit apaan yang seperti itu. Bodoh amat akan level, Bodoh amat akan kekuatan mereka yang hanya sekali serang dapat menghentikan seluruh tindakan para penduduk.


Aku maju, melangkah. Dari samping mereka mulai mengetahui akan keberadaanku. Kerut wajah mereka melihatku dengan asing, ia menunjuk ke arahku dan salah satu dari mereka menyerangku dengan melemparkan bohkahan sihir tanah, besarnya seperti kepalan tangan dewasa.


Sontak aku terkaget, responku menghindar dan mengucapkan mantra skill pelindung, "Mana Ampliefer". Angin terembus kencang di dekat telingaku, gelombang suaranya yang cepat membuat bola mataku membulat lebar.


Namun, bukan bongkahan tanah keras yang hampir mengenai kepalakulah yang membuatku shock. Akan tetapi, aliran mana yang tak terasa sama sekali, itu yang membuatku terperanjat setengah mati. Aku tak dapat mengeluarkan skill.


Bongkahan tanah kembali tercipta sebanyak tiga yang mulai terlempar. Keadaanku mulai menjadi panik. Terpikirkan akan si Yui sang sistem program dalam diriku, aku pun bertanya kepada dirinya.


Sayang belum sempat berkata dan berucap dalam hati. Aku telah terkena bongkahan tanah itu tepat pada pergelangan bahu, perut dan bagian pahaku. Aku terpelanting cukup keras dibuatnya. Sakit sekali, seakan dagingku terkoyak karenanya. Namun luka yang kuterima berupa lecet dan benjolan lebam terhadap kulit yang terkena.


Sedikit darah keluar dari mulutku. Anggota tubuhku menjadi begitu lemas tak bertenaga. Apa-apaan dengan serangannya itu, health pointku bahkan menjadi turun ke angka 41%.


Tunggu, kenapa bar di bawah HP-ku yang biasanya berwarna biru kini menjadi putih kosong? Tidak, ini tidak mungkin. Bar mana point yang kumiliki tertera angka nol. Mengapa mana point ku tak pulih selama aku beristirahat?


Bahkan biasanya dalam kondisi seperti ini pun, mana point yang kumiliki seharusnya pulih, setidaknya menambah satu persen. Tapi ini tidak sama sekali, tak ada tanda-tanda bahwa manaku akan kembali semula.


Pijakan langkah kaki terdengar mendekatiku. Kala kulihat, pelindung kaki berupa besi naik menghampiri kepalaku. Sepatu besi pun menekan pelipisku. Aku seperti orang yang tak berguna saja.


"Hei hei hei, apa apaan tatapanmu tadi hah. Mau cari gara-gara ya. Kulihat kamu juga bukan orang di sini. Siapa kamu?" serak berat suara kasar dengan nada yang penasaran bertanya-tanya.


Mulutku terbungkam. Kugigit bibirku hingga sakitnya terbiasa. Dan menghiraukan pertanyaan dari si pemimpin perajurit berziarah seperti mawar itu.


Mengapa manaku tidak ada? Kenapa? Apakah ini gara-gara aku melawan si tiger itu? Atau jangan-jangan karena waktu itu kesadaranku serasa diambil alih.


"WOI!"


Tendangan keras menggeprak bagian wajahku. Darah mengalir dari lubang hidungku. Mataku menyipit dengan mimik yang juga mengerut. Merasakan sakit yang lumayan dari kaki logamnya.


Sekujur tubuhku gemetar kaku. Percuma aku juga melawan, yang ada aku akan tambah bonyok saja. Tanpa mana aku bisa apa? Kuat fisikku pun ternyata benar-benar lebih lemah dari pada perempuan biasanya.


Padahal level ku sudah naik drastis. Tapi kenapa malah mayoritas orang yang kulihat juga bertambah tinggi levelnya. Kalau begitu yah percuma aja aku menaikkan level, rasanya aku hanya mengejar khayalan belaka.


"Lumpuhkan mereka semua hingga tak dapat bergerak. Biarkan saja mereka terbaring melihat tempat tinggalnya yang tak ada apa-apanya lagi."


Sang pemimpin perajurit tersebut kembali ke gerombongannya. Anggota mereka yang menggunakan sihir pengikat dari rumput itu menjulurkan tangannya.


Ia seolah menarik sesuatu di udara, terarah kepada para penduduk. Semburat cahaya dari warna asalnya—hijau—keluar. Ikatan rumput semakin menguat, membiarkan tubuh para penduduk tercengkram dan lemas tak berdaya. Mana para penduduk juga seketika habis. Tak ada harapan, kami hanya bisa melihat apa yang mereka akan lakukan.


"Cepat ambil semua harta benda mereka. Jika tak ada yang berguna, maka hancurkanlah, biarkan orang yang menempatinya kita bawa untuk kerja rodi." Terang-terangan sang pemimpin perajurit itu mengatakannya. Mereka mulai menelusuri seluruh pemukiman desa ini.


Dari yang dekat hingga ke penghujung hulu. Suara gaduh terdengar mengisi permukaan udara sini. Kecemasan dan ketakutan terpancar dengan suram pada raut wajah para penduduk.


Hingga ketika matahari menyorotkan warna oranyenya. Para anggota perajurit itu telah sunyi meluluhlantakkan dan mengambil harta benda para penduduk. Kayu-kayu hancur mengisi halaman dekat pintu dan jendala warga.


Pemimpin perajurit kembali ke tempat kami terkapar. Tawa bengis menyertainya. Aku yang telah sedikit pulih, duduk bertongkat kaki, mencoba untuk berdiri.


Selama tadi aku tak berdaya, aku sempat mempertanyakan akan keadaanku kepada Yui. Ia berkata bahwa sekarang aku mengalami mana drop, yaitu tak dapat menggunakan mana dalam jangka waktu yang lumayan lama. Kira-kira ada sekitar dua bulan aku tak dapat menggunakan mana.


Kaki mendorong, badan kuseimbangkan, akhirnya aku sudah dapat berdiri. Warga lain masih terlentang lemas, mana mereka sedikit demi sedikit juga menambah. Akan tetapi mana itu pulih sepertinya tiga puluh menit per satu baloknya.


Tawa itu semakin terdengar jelas. Pandanganku menelusurinya. Namun fokusku tak kesampaian kepada sang sumber suara. Akan tetapi, latarnya lah yang menjadi perhatianku.


Tiga perajut tengah berlari dengan napas seakan tersendat-sendat. Pekikan suaranya yang semula kecil terus menambahkan volumenya. Hingga ketika pemimpinnya sadar dan memalingkan pandangan menuju sumbernya, tiga perajurit itu seketika terlempar dan sempat mendorong jatuh pemimpinnya sendiri.


Uap panas yang menggetarkan udara kini terlihat. Dia pasti sumber yang membuat panik perajurit berlevel di atas delapan puluh-an itu. Badan kekar, pinggang ramping, rambut panjang, dan batang rokok terapit di bibir merahnya.


Dia seorang wanita berpakaian seksi ala pelayan bar, berjalan dengan pinggulnya menyesuaikan dengan langkah kakinya yang horizontal. Ia cukup terlihat agresif di mata kaum lelaki.


"Kamu menyuruhku untuk membayar berapa. Tempatku sudah lunas, Desa ini bukan urusanku," pekik wanita itu yang ternyata merupakan pemilik kedai di ujung perbatasan, tepat di pinggiran tempat yang sedikit membukit.