
Tanpa memperhatikan kiri kanannya, Raisa berjalan menuruni tangga dengan santainya seolah ia adalah seorang artis angkuh yang berjalan di depan para penggemarnya.
Beda dengan Mirai, walau ia tak sedikitpun memperhatikan para penduduk di kiri kanannya, tapi wajahnya terlihat pucat dan ada rasa kecemasan di dalamnya.
"Kalian dari mana?" Aku bertanya tepat pada saat ia sudah menghampiri kami.
"Eeh, kalian sudah pernah kesini yah?" Resha yang juga memperhatikan kedua orang itu lantas menyosor ke depanku dengan pertanyaannya.
"Apa maksudmu? tentu belum pernah." Raisa bergidik tak senang akan pertanyaan Resha, atau mungkin karena Resha tiba-tiba menghampirinya. "tapi, entah mengapa desa ini tampak tidak asing bagiku," lanjut Raisa, sekilas ia tampak melirik Mirai tajam.
Aku bermuka masam, pertanyaanku tidak dijawabnya. Kumelirik ke arah samping kiri belakang Raisa, tepatnya ke Mirai, wajahnya terlihat pucat dan entah mengapa tangannya terlihat mengepal dan gemetar.
Khawatir akan dengannya aku pun mempertanyakannya secara langsung. "Mirai, kamu baik-baik saja? Wajahmu kelihatan pucat."
Mata Mirai seketika melebar lalu ia menundukkan kepalanya. "Jangan khawatir, aku tidak apa-apa kok. ha, hanya lelah saja."
Mirai kembali mengangkat wajahnya, memberikan ukiran senyum tipis hingga wajah pucatnya tadi seolah menghilang begitu saja.
Aku terdiam sejenak, dalam benak kuberpikir bahwa Mirai adalah orang yang kuat. Dia tadi tampak begitu suram, tapi dengan sekilas ia dapat menghilangkan hawa kesuramannya.
Jadilah aku kembali berpikir ke pertanyaan awalku yang tadi dihiraukan. "Kamu tadi dari mana?" aku bertanya langsung kepada Mirai yang masih tersenyum tipis kepadaku.
Sepasang Netra Mirai sekilas melirik ke kiri. "Hanya buang air kecil kok," jawab Mirai.
"Maaf membuat kamu dengan yang lainnya khawatir. Tadi tidak sempat mengatakannya karena sudah diujung tanduk, sudah tidak tahan," lanjut Mirai dengan blak-blakan, saat tadi diam sejenak melihat rupaku.
Krrrciiuuk...
Bunyi aneh terdengar menggerutu begitu nyaring, asalnya dari pak Opin yang berada di belakangku. Kulihatlah pak Opin dengan mata sipitnya tersenyum joker dan tangannya memegang perutnya, mungkin cacing yang berada di perut pak Opin mulai heboh meminta makanan.
Akibat lantunan melodi itu, suasana yang sedikit tegang lantas berubah menjadi ramai dengan tawaan yang tak tertahankan dari para rekanku begitu pun denganku.
Resha sendiri datang menepuk bahu pak Opin sambil memegang perutnya, membungkuk, tertawa terbahak-bahak.
"hahaha ... dasar kalian gak ada akhlak ngetawain orang tua." Pak Opin sedikit tertawa sambil menahan rasa malu.
Saat Resha menepuk bahunya dan tertawa terbahak-bahak di depannya, pak Opin ikut membantu menepuk bokong Resha hingga terjatuh ke depan dengan posisi kepala di bawah pantat menjulang seperti orang yang sujud tanpa sanggahan tangan.
Tapi, suasana ini tidak berlangsung lama. Hawa dingin dari angin malam mulai menusuk pori-pori kulit dan yang lebih dingin lagi adalah tatapan dari para penduduk serta Lily si pemandu.
Tak ada senyuman, tak ada suara, hanya kumpulan netra yang menatap tajam. Jika ini adalah dunia hewan, perasaan ini adalah perasaan yang akan di buru oleh puluhan hewan yang akan memangsa.
Kala kami menyadarinya, di saat itu pula kami diam membeku, menjadikan suasana hening tanpa ada suara manusia.
Yang ada hanyalah suara angin dingin yang membelai dan membuat suara dedaunan pohon terdengar ribut, beberapa daun jatuh pun ikut bersuara memberikan melodi kecilnya.
Rasa tegang mulai kembali, lebih tegang dari pada yang sebelumnya. Getaran dingin seperti semut kecil, menjelujuri seluruh tubuh, membuat tubuh harus bergetar merinding. Apa yang sebenarnya terjadi? Rasa bersalah mulai kami rasakan, mungkin kami terlalu tidak sopan.
Lily si pemandu tersenyum sinis, matanya lebar menatap kami, itu mengerikan. Mendekat secara perlahan, kedua tangannya tepat di perut saling memegang, bak seorang paduan suara barat.
"Selesai?" pertanyaan Lily tak kami jawab, entah karena mengkhayal atau memang kami tak dapat berkata-kata.
"Sepertinya sudah. Kalau begitu, upacara penyambutan dimulai." Lily melanjutkannya.
Para penduduk seketika terdengar ramai dengan suara serempak saat mereka berdiri, alih-alih kami menoleh memperhatikannya yang telah berdiri dengan senyuman senang yang terukir di wajah mereka.
Jelas terasa lain, kali ini kami seperti orang berprofesi tinggi yang dihormati dan diberikan senyuman yang hangat. Saat kami kembali memperhatikan Lily, wajahnya juga telah berubah menjadi wajah yang anggun, seperti saat kami baru bertemu olehnya, senyum manis yang anggun membuat hati lelaki 'kan berdebar.
Sepuluh tongkat di depan para penduduk yang mengelilingi aula mulai bersinar, lebih terang dari pada yang sebelumnya, sekitar lima detik tongkat kembali semula.
Setelah itu mulailah angin bergemuruh kencang membuat dedaunan pada pohon besar yang berada di tengah aula ini ikut bising.
Hanya daun lepas dan serangga kecil lah yang terhempas menyapu keluar dari aula yang beratapkan daun pohon besar yang rimbun.
Kelar dari angin kencang nan bising itu, keluarlah sebuah cahaya dari tanah yang berisikan rumput kecil di dasar aula ini, tepatnya di bawah pijakan kaki kami.
Cahaya yang tak berwarna, dasarnya terlihat seperti air yang hanya memantulkan cahaya dengan warna alami yang mengenainya.
Cahaya yang muncul melingkar seperti lingkaran sihir, ada pola tertentu yang terlihat seperti bunga mawar yang dilihat dari atas. Ini adalah kali pertamaku melihat lingkaran sihir, dan sepertinya ini terlihat rumit.
Bening, ada warna kehijauan dari rumput karena garis lingkaran sihir ini, cahayanya menembus daunnya. Ada pula warna coklat seperti kayu karena memang berasal dari akar pohon besar yang mengenai garis pola sihir, bahkan warna merah muda seperti darah juga terlihat karena garis pola sihir yang tak sengaja di pijak sehingga cahayanya menembus kulit, memperlihatkan aliran darah kami.
Reaksiku pastilah terkejut, bahkan aku sampai terduduk karena ini. Rekanku yang lain hanya diam sambil mengamati apa yang ada di depannya.
Pohon besar berukuran tinggi, sekitar seratus meter lebih tingginya dengan batangnya yang berdiameter 7,5 meter.
Kulitnya terlihat kokoh, keras, bahkan dengan kapak besi pun mungkin tak dapat menggoresnya hingga sepuluh senti dalamnya. Dahan dan ranting serta daun yang juga lebat, melebar, membentuk seperti sebuah payung raksasa, menjadikan pohon ini seperti sebuah atap.
Pada kulit kayunya juga terlihat ukiran-ukiran kelopak bunga mawar serta tulisan yang tak dapat aku baca, begitu pun yang lainnya, jelas tak dapat membacanya saat kulihat mimik rupa mereka yang tampak asing melihat pemandangan yang terjadi saat ini.
"Satu persatu akan kita lihat, upacara penyambutan yang lima puluh tahun lamanya tidak pernah dijalankan akan dilakukan kembali. Melihat dalamnya orang yang tak dikenal, menjadikan kelompok yang akan dikenal, walau itu hanya keberuntungan yang sedikit dibangkitkan.
"Sifat dalamnya ras human dari sebagiannya harus terpencar ke dalam surga, nafsu sesat pembawa petaka harus dilenyapkan dari dalam diri. Lihatlah warnanya, ketahuilah. Mawar memiliki warna yang serupa dengan insan dalam hati."
Ucapan pembuka yang serupa dengan mantra berbunyi dari Lily bak seorang aktor yang sedang berpuitis dengan gerakan tangannya dan mimik keseriusannya yang memukau.
Saat selesai ia datang menghampiri kami dan mengatakan kembali ucapan selamat datang yang ditambahkan "sosok alamiah" sambil melihat mata kami satu persatu.
"Dayshi, aku ingin bertanya kepadanya." Resha berjalan ke arahku dengan pertanyaannya, sambil melihat Lily dan pola lingkaran sihir yang ada di pijakan kami.
Aku yang masih terduduk, menoleh ke arahnya, menatap matanya yang terlihat sedang penasaran. Pastinya aku langsung mengangguk dan mengiyakannya, yang dalam pikirku untuk apa ia menanyakannya kepadaku.
Senyum kecil terlihat di wajahnya, Resha berjalan tepat ke hadapan Lily. "Lily, bisakah aku bertanya sesuatu sebelum melanjutkan 'upacara penyambutan' yang kamu bilang ini."
Lily menatap Resha. "Bisa, tapi hanya satu pertanyaan."
Dengan mata yang berbinar-binar tampaknya Resha gembira mendengarnya, terus saja Resha bersuara.
"Aku pernah membaca soal lingkaran sihir. Salah satunya adalah pola lingkaran sihir 'Rose Arcenciel' yang merupakan pola sihir yang juga rumit untuk dibuat. Polanya seperti bunga mawar yang dilihat dari depan dengan dua lingkaran di pinggirnya yang diapit tiga garis lurus kiri, kanan, atas, dan bawah.
...
pola lingkaran sihir "Rose Arcenciel"...
Sihir ini merupakan sihir yang mem ... per, apa yah? Pokoknya ini adalah pola lingkaran sihir Rose Arcenciel kan?"
Tampak sekali Resha bersemangat berbicara walau kini ia menepuk jidat dengan mimik mukanya yang mengatakan "aku melupakan sesuatu yang penting" lalu menggelengkan kepala.
...•••••...
Sekedar informasi
*
...Dukung terus dengan...
...Vote, like dan komen...