
Pada akhirnya kami mengerti akan apa yang Lily maksudkan. Semua penduduk di Desa Rose sebenarnya telah menunggu kedatangan seseorang yang akan mengubah era.
Benar, mereka menunggu kedatangan tamu yang mendapatkan Rose Arcenciel berwarna hitam.
Namun, sebenarnya mereka juga takut akan satu hal. Satu hal itu, tak lain ialah seseorang yang mendapatkan Rose Arcenciel dengan dua warna, apalagi warna tersebut didampingi oleh warna hitam.
Jika bertanya tentang alasannya, maka alasannya akan terkait dengan seseorang yang tak asing aku dengar. Siapa lagi kalau bukan Sang Penguasa wilayah sebelah, Si Raja Gila.
“Dahulu Si Raja Gila pernah berkunjung ke Desa Rose.”
Sambil menyantap makanan, kami mendengarkan Lily yang melanjutkan kembali cerita tentang masa masa lampau itu, tentang si Raja Gila yang membuat desa ini menjadi tertutup dari dunia luar.
“Si Raja Gila yang kalian sebut itu juga pernah datang ke desa ini. Tepat pada lima puluh tahun yang lalu, desa ini masih sangat ramai akan pengunjung.
“Gaun dan blazer menjadi tradisi yang terus dipakai di desa ini, ya pengunjung waktu itu pun juga wajib mengenakan pakaian yang ada di desa ini.
“Ya sampai suatu ketika saat upacara penyambutan akan dimulai, si Raja Gila datang entah bersama siapa. Waktu itu ... Maaf, aku agak sulit untuk mengingatnya.”
“Nyam-nyam, lanjutkan!” seru tak jelas dari Resha di meja sebelah. Mulutnya terus penuh dengan makanan.
“Ahh...” Aku diam melihat Resha lalu kembali mengarahkan pandangan ke arah Lily. “Jadi bagaimana?”
“Oh iya, waktu itu si Raja Gila pernah mengatakan sesuatu. Kalau tidak salah ia mengatakan bahwa dirinya sedang menjalankan tugas tantangan. Entah tugas apa yang si Raja Gila itu maksud, yang jelas aku juga mendengar bahwa ia mengatakan itu,” Jelas Lily.
Ia kemudian berdiri dan memanggil orang secara acak.
“Hei, kamu. Permisi, lima tahun yang lalu kamu pernah ketemu dengan si Raja Gila tidak?” tanya Lily.
“Hah? Nona Lily ini. Siapa coba yang tidak tahu soal si Raja Gila gila gilaa ini. Bukankah sebab dia kita jadi seperti ini sekarang,” jawab lelaki itu yang merupakan seorang pelayan yang mengurus acara ini.
Lily hanya tertawa kecil lalu berkata, “masih ingat tidak, apa yang pernah orang gila itu katakan kepada kita?”
“kalau tidak salah Nona, ia mengatakan bahwa ‘bahwa ia datang untuk menjalankan tugasnya sebagai seseorang yang akan menjadi calon juara di luar sana’ Cuma itu Nona. Ingatan saya terlalu samar-samar untuk mengingatnya,” ucap lelaki itu.
“Ya sepertinya hanya itu yang bisa kita ingat. Lanjutnya aku tidak terlalu tahu detailnya,” ucap Lily yang kemudian memakan beberapa makanannya lalu meneguk air. Beberapa kali ia kembali bercerita.
Aku sendiri sih, tak heran dengan perkataan Lily dan penduduk Desa Rose. Aku berpikir, mungkin saja ini adalah akibat dari Si Raja Gila itu sendiri. Bisa saja dia memiliki kemampuan untuk menghilangkan suatu ingatan, mengingat bahwa ia memiliki HP dengan angkanya yang terlihat serba sembilan.
Kata Lily, hal yang membekas dalam hati para penduduk Desa Rose ialah tentang warna Rose Arcenciel yang dimiliki oleh Si Raja Gila. Biru dan hitam, dua warna yang mengubah suatu era menjadi hal yang buruk bagi Ras Human.
Dia yang sekarang ini malah ingin menguasai ras human atas keegoisannya. Perang besar yang terjadi dahulu benar-benar membuat kericuhan yang dahsyat, bahkan sampai saat ini pun masih belum berhenti.
Beberapa kali penduduk desa Rose ini mendengar kabar bahwa si Raja Gila akan segera juga mengincar desa ini. Dan, lagi diantara ras human di wilayah Bodhas mungkin ada beberapa orang penting yang juga mengkhianati tanah airnya sendiri.
Penduduk Rose Arcenciel yang mulai waspada pun mulai menutup desa ini dari dunia luar. Hanya para pedagang besar dan dapat dipercayailah yang dapat keluar masuk dari desa ini. Selama lima tahun lamanya, sampai saat ini hanya kami lah yang dapat memasuki desa ini tanpa terhalang apapun.
Jujur, awalnya Lily dan para penduduk sangat mengawasi kami, bahkan mungkin sampai sekarang mereka masih mengawasi kami. Namun ada satu hal juga yang membuat mereka berharap pada kita. Sebuah ramalan dahulu lah yang mengatakan bahwa
“Lima tahun yang akan mendatang akan ada beberapa orang yang dapat menyelamatkan dunia ini. Ia akan memasuki desa Rose ini dan akan mengukir kembali era yang kotor.”
Lily dan para pendudukpun percaya bahwa itu adalah kami. Satu hal yang masih membuat mereka khawatir dan bahkan traumatis hanyalah ketika melihat seseorang memiliki dua warna, apalagi warna tersebut adalah warna hitam. Mereka tak mau ada lagi pengunjung yang membawa petaka di masa depan nanti.
Sedangkan untuk satu warna hitam, para penduduk sangat menantikannya, karena kebanyakan orang yang hanya memiliki warna hitam, maka orang tersebut akan membawa suatu perubahan yang baik di masa depan.
Seperti halnya dengan si Toro—seseorang yang juga mendapatkan Rose Arcenciel berwarna hitam—meski ia tak mengubah suatu era, tetapi ia adalah orang yang sangat berpengaruh di dalam Desa Rose, Toro merupakan orang yang dapat membuat Desa Rose berkembang dalam membuat Potion.
Flashback On.
Dahulu Toro pernah berkelana jauh dan kembali dengan membawa bahan-bahan sangat-sangat langka yang dapat dibuat menjadi Red Potion, para penduduk sangat memberikan apresiasi kepada Toro.
Hingga di kemudian hari, di saat mereka berada di perjalanan pulang, Toro dan beberapa rekannya diserang oleh momon yang sangat sensitif juga agresif. Toro terus bertahan dan menahan momon tersebut saat menyerang rekan-rekannya, begitu pun sebaliknya, rekan-rekan Toro tak ingin terus diam dan melihat si Toro kewalahan melindunginya.
Walau tahu bahwa dirinya lemah, rekan-rekan Toro, keluar dari perlindungan si Toro. Mereka tahu bahwa si Toro tak dapat bertahan lebih lama lagi jika diserang dan menahan serangan secara terus-menerus.
Rekan-rekannya berkata “pergilah, kau adalah harapan dari Desa Rose.” Saat keluar dari jangkauan perlindungan Toro. Namun, hanya beberapa menit saat mereka keluar, mereka telah menjadi potongan-potongan mayat yang berceceran di mana-mana.
Toro terkejut, hatinya runtuh dan tak dapat bergerak karena pikirannya menjadi kosong. Saat serangan momon melumpuhkan kakinya, di saat itu jugalah Toro kembali tersadar.
Saat sampai di Desa Rose, Toro terus merenung dan tak mau berbicara dengan siapapun waktu itu. Toro mengurung diri di kamar hingga beberapa minggu, saat keluar ia menjadi pria yang terlihat kasar.
Jika melihat seseorang keluar dari desa, Toro pasti akan mencemooh orang tersebut hingga tak dapat pergi. Ya, mungkin Toro menjadi orang yang terlalu khawatir kepada orang lain dengan caranya yang kasar.
Flashback off
...➕➖✖️➗...
Di sebuah meja bundar dengan empat kursi merah, kami duduk sambil berbincang selepas menyantap makanan. Lain lagi dengan Resha yang berada di meja lain, ia terus menyengam makanan berulang kali. Lihat saja pada piring di sampingnya, menumpuk dan terus menumpuk.
Di akhir sebuah pembicaraan dengan Lily, kami kembali disodorkan Red Potion. Aku mewakili rekanku, lantas tersenyum lalu mengalihkan pandangan ke arah Red Potion, salah satu tanganku mengambil satu Red Potion tersebut, kuangkat Red Potion itu, lalu kembali menatap Lily.
“Baiklah kami menerimanya. Red Potion ini, pasti akan membantu perjalanan kami. Aku sendiri, pasti akan mengalahkan Si Raja Gila itu.” Aku mengatakannya dengan antusias. Mengingat bahwa Si Raja Gila merupakan kunci untuk keluar dari dunia ini.
Raut wajah khawatir Lily berubah menjadi senyuman. Mirai yang berada di sebelahku menganggukkan kepalanya sembari menatap Lily dengan antusias, melihatnya, aku semakin percaya diri.
Di saat aku meletakkan Red Potion ke meja. Raisa berdiri dan memukul meja dengan kedua tangannya, itu membuat kami yang duduk satu meja dengannya terkejut, beberapa orang yang berada di sekitar juga ikut terkejut. Alih-alih perhatian pun menuju ke Raisa.
“Sendirian?” raut wajah yang mengkerut dengan netra hitam kecoklatannya yang menatapku tajam, seolah ia tak terima dengan perkataanku sebelumnya.
“Kamu menganggap kami apa? Rekankan?” tanya Raisa dengan nada yang lantang lalu mengalihkan pandangan ke arah Lily, tangan kanannya yang masih berada di meja, ia angkat ke atas dadanya.
“Lily, bukan hanya Dayshi yang akan mengalahkan Si Raja Gila itu, tetapi kita semualah yang akan mengalahkannya, termasuk Lily dan para penduduk yang membantu kami.”
Semuanya menjadi hening. Raisa masih menatap Lily dengan antusias, garis senyuman pada bibirnya serta keningnya yang mengerut membuat semua orang merasa kagum akan keantusiasannya.
Raisa kembali duduk bertongkat lutut, ia sedikit menurunkan bahunya lalu menopang dagunya seraya kepalanya dimiringkan, pandangan antusiasnya masih tak lepas dari Lily.
“Jadi ya ... maksudku itu, jika kita semua bersatu, bukannya itu akan lebih mudah untuk mengalahkannya.” Raisa mengambil teko yang berisikan teh apel, ia menuangkan ke gelasnya lalu meminumnya hingga habis seperti satu tegukan.
Kumpulan netra, berbinar memandangi Raisa. Suara saling berbisik mulai terdengar.
“Benar, kamu tidak sendiri Dayshi. Kita adalah rekan dan mereka juga akan menjadi rekan kita, untuk mengalahkan si ... Orang Gila itu,” ucap Resha sembari menepuk perutnya yang telah mengembang karena makanan.
“Fuah, gimana dengan yang lainnya? Apakah kalian setuju menjadi rekan kami? Bukankah kalian ingin melawan si Orang Gila itu?” Resha turun dari tempat yang ia duduki. Tangan kanan memegang pinggang, senyum miringnya tampak angkuh.
Whooosh...
Suara angin mengheningkan seluruh penduduk. Apa yang sebenarnya terjadi? Semuanya tampak menunduk dan raut wajahnya tampak begitu suram, tak ada yang bergerak, hingga hembusan angin berhenti terdengar di gendang telinga.
“A, ada apa ini?” aku menelan ludah, entah mengapa seluruh tubuhku menjadi begitu dingin, rambut-rambut halus di tanganku berdiri. Kabut keputih abu-abuan mulai menyelimuti alun-alun ini, kayu api unggun perlahan meredup dan mati.
Tak ada yang bergerak, begitupun denganku. Sekitar sepuluh menit kemudian suasana perlahan kembali normal. Keringat panas dingin mulai bercucuran hingga pada akhirnya terbungkuk menarik napas.
Aku tak mengerti dengan apa yang terjadi saat itu. Pikiranku terasa kosong dan mataku seakan ditutup oleh kabut yang tebal. Saat selesai pun aku masih merasakan hawa sebelumnya, hawa nafsu membunuh yang sangat kuat.
Kumenoleh ke kiri dan kanan, memperhatikan sekitar.
“Ada apa ini?” aku tak melihat satu pun orang. Aku mengucek kelopak mataku berharap bahwa ini hanyalah halusinasi. Akan tetapi, tetap saja hanya pemandangan api unggun yang terlihat tanpa ada satu pun manusia.
Aku menarik napas perlahan kemudian menghembuskannya. Aku menutup mataku dan duduk sila di bawah tanah yang berisikan rumput hijau nan gelap.
Perlahan-lahan aku kembali membuka mataku. Dengan tenang, aku pun melihat suasana yang sedikit ganjal.
“Sebenarnya apa yang terjadi sih.” Alisku mengerut sembari mengambil napas yang begitu panjang, lalu menghembuskannya dengan berat.
...•••...
sekedar informasi
*