My Power Of Math Fantasies

My Power Of Math Fantasies
4.3 Potion



Di awal-awal, sekeliling terlihat gelap, hanya remang-remang dari cahaya beberapa rumah berjauhanlah yang terlihat.


Tepat, pada saat Lily si pemandu mengatakan bahwa kita telah sampai, seketika tongkat oranye yang berjejeran menyalakan sinarnya.


Kami tercengang, tetapi bukan karena tongkat yang menyala itu. Kami tercengang membeku karena apa yang ada di baliknya.


Sebuah makanan dan minuman terlihat begitu banyak dan tertata dengan rapi di atas meja panjang. Terdapat pula meja bundar dan kursi merah menjadi tempat untuk menyantap hidangan. Lalu api unggun yang besar menjadi sorotan di pertengahannya.


Rasa lapar dari rekanku menjadi tidak tertahankan, suara gerutu pada perut mereka terdengar bersamaan. Aku sendiri malah merasakan rasa kenyang hanya melihat makanan yang tersaji rapi itu.


"Tunggu sebentar! Ikutlah denganku sebentar lagi."


Lily memohon, menghentikan niat rekanku yang baru saja terlihat ingin melompat, tak sabar menyantap makanan walau di sekitarnya terlihat para penduduk menatap kami dengan hormat.


Resha sendiri sudah berniat melarikan diri, tetapi sayang ia ditahan oleh Raisa dengan tatapannya yang terlihat seakan mengatakan "jangan banyak tingkah", jadilah Resha diam sambil tersenyum pahit.


Kami diantar untuk mengganti pakaian kami, serupa dengan pakaian penduduk desa Rose. Warna pakaian wanita, disesuaikan dengan warna yang kami miliki saat melakukan Rose Arcenciel.


Begitu pun dengan kami, para pria, menggunakan mawar di dekat kerah blazer. Aku sendiri memakai setelan blazer hitam dengan kameja putih di dalamnya, mawar berwarna peach terpasang di dekat kerah blazerku.


Setelah mengenakan pakaian, kami kembali ke tempat perjamuan, kami menjadi sorotan utama dalam perjamuan ini.


Aku sedikit gugup karena masih tak terbiasa dengan acara yang seperti ini. Memang, dari dulu aku tak pernah melakukan hal seperti ini di duniaku.


Reuni, perkumpulan, dan pesta, selalu saja aku hiraukan. Aku lebih memilih untuk tinggal di rumah atau mengurung diri di perpustakaan, waktu istirahat dan kebosanan selalu kugunakan untuk menonton film dan anime.


Pak Opin dan lainnya ternyata cukup tenang, mereka berjalan perlahan mendekati makanan, sambil membalas senyum hormat kepada para penduduk.


"Cepatlah!"


Lain lagi dengan Resha. Ia tampak begitu kesal, tetapi ia juga yang memimpin jalan. Langkah kakinya dipercepat tanpa menoleh kiri kanan, hanya makananlah yang ada di mata Resha.


"Makanan-makanan ini terlihat mahal semua," ucap Raisa.


"Hahaha, jiwa miskinku memberontak," Sahut pak Opin.


Lah ini gratis, gak ada hubungannya dengan keping koin pak Opin.


Kami mengambil makanan dengan porsi yang melebihi dari orang biasa. Ya, ini berkat perut kosong, semua makanan terlihat begitu menggiurkan, rasanya semua makanan begitu nikmat.


"Steak, ayam panggang, kari, nasi tumpeng.... Hajar semua lah!" seru Resha yang terus mengisi piring alasnya dengan segala jenis makanan.


"Cukup antusias," kata Mirai yang mematung melihat Resha.


Kami sendiri juga kaget melihat tingkah Resha yang ternyata sangat serius dalam makanan. Kami menggelengkan kepala karenanya dan segera kembali ikut mengambil makanan.


Di saat-saat akhir aku mengambil makanan, entah mengapa pak Opin dan lainnya berhenti dan melihat benda kaca yang seperti labu kecil berisikan cairan berwarna merah.


"Woah, Red Potion. Red Potion ini bukannya sangat langka, bisa-bisanya mereka menaruhnya di sini dengan porsi yang begitu banyak. Bukankah ini benda mahal?" Resha dengan gesitnya mengambil Potion tersebut untuk melihatnya baik-baik.


"Hahaha, woi woi woi lihat sudah berapa kali aku dibuat kaget. Sebelumnya Mirai juga mempunyai Red Potion, dan sekarang ini terasa wajar sekali untuk dilihat." Pak Opin ikut mengajukan suaranya.


Sontak secara serempak semuanya menatap Mirai termasuk aku sendiri. Hal itu membuat Mirai ikut heran, lalu menundukkan kepala.


"A, anu. Red Potion yang sebelumnya pernah kuberikan pak Opin itu adalah buatanku kok," kata Mirai dengan suaranya yang hampir tidak terdengar.


Ya, wajar saja yang lain terkejut. Aku sendiri juga baru terkejut saat pak Opin mulai menjelaskan rinci sendiri sambil memegang dagunya.


Red Potion merupakan salah satu Potion yang sangat langka di dunia ini. Ada delapan jenis Potion umum, yaitu.


- Yellow Potion.


Serupa dengan namanya Yellow Potion merupakan Potion berwarna kuning. Potion ini memulihkan tenaga. Untukku mungkin memulihkan mana poin (MP) yang kumiliki.


- Blue Potion,


Potion yang berwarna biru, memulihkan luka. Untukku sama saja memulihkan health poin (HP) yang kumiliki.


- Green Potion,


Potion yang berwarna hijau, memulihkan tenaga (MP) dan luka (HP).


- Red Potion,


Potion yang berwarna merah, memulihkan secara sempurna baik tenaga (MP) maupun luka (HP).


- Black Potion,


Potion yang berwarna ungu, membangkitkan tenaga dengan ketentuan waktu tertentu.


- White Potion,


Potion berwarna putih, lebih putih daripada susu. Menghilangkan luka dengan ketentuan tertentu.


- Silver Potion,


Potion yang berwarna perak, membangkitkan tenaga dan menghilangkan luka dengan ketentuan tertentu.


- Gold Potion,


Potion yang berwarna emas, membangkitkan tenaga dan menghilangkan luka dengan kecepatan yang luar biasa dan pemulihan yang terbilang besar. Setiap luka yang diterima seakan tidak memiliki damage.


Dikatakan oleh Raisa bahwa tiap Potion memiliki lima level berdasarkan kualitasnya, terkecuali untuk Red Potion dan Gold Potion, karena kedua Potion ini merupakan Potion yang lebih daripada sempurna.


Untuk Yellow Potion, Blue Potion, dan Green Potion.


Level satu.


Menambah HP/MP sebesar 5% dari HP/MP aslinya.


Level dua.


Menambah HP/MP sebesar 10% dari HP/MP aslinya.


Level tiga.


Menambah HP/MP sebesar 25% dari HP/MP aslinya.


Level empat.


Level lima.


Menambah HP/MP sebesar 75% dari HP/MP aslinya.


Red Potion,


menambah HP dan MP sebesar 100%.


Untuk Black Potion, White Potion, dan Silver Potion.


Level satu.


Meregenerasi HP/MP selama sepuluh menit dengan seratus HP/MP tiap lima detik.


Level dua.


Meregenerasi HP/MP selama 30 menit dengan seribu HP/MP tiap sepuluh detik.


Level tiga.


Meregenerasi HP/MP selama 60 menit dengan lima ribu HP/MP tiap lima detik


Level empat.


Meregenerasi HP/MP selama 120 menit dengan sepuluh ribu HP/MP tiap lima detik


Level lima.


Meregenerasi HP/MP selama 12 jam dengan sepuluh ribu HP/MP tiap detik


Gold Potion,


Meregenerasi HP dan MP selama 24 jam dengan 25% dari HP dan MP tiap 0,1 detiknya.


Potion-Potion ini seharusnya sulit untuk di dapatkan, untuk membelinya pun tergolong mahal. Bayangkan saja, satu Yellow Potion atau Blue Potion level satu saja berharga satu koin emas.


Sedangkan yang level dua berharga lima koin emas, itu sangat mahal untukku, teringat aku tak mempunyai koin yang sedikitpun dapat membelinya.


Dan sekarang ini, di hadapan kami terdapat benda seharga lima ratus koin emas per botolnya. Aku heran mengapa mereka membiarkannya berada di meja panjang ini.


Ehem...


Suara seseorang berdehem membuat kami mengalihkan perhatian ke arah sumber suara, suara itu tepat di depan Potion tersebut. Sepertinya kami tak sadar akan kehadirannya, padahal orang tersebut sudah berdiri sedari tadi.


Merasa telah diperhatikan, seorang pria berbadan besar tersebut mulai berbicara..


"Jadi kalian yang telah memasuki desa ini."


Pria tersebut diam sejenak memperhatikan kami.


"heh, harapan apa yang ada di diri kalian. Seorang bocah, pria tampang mesum, satunya lagi gak ada akhlaknya," ucap pria tersebut sambil tersenyum meremehkan.


"apa kau bilang!? " serentak Resha dan Raisa merasa tersinggung. Pak Opin sendiri menarik kedua orang tersebut, ia bermaksud agar tak membuat masalah bertambah runyam.


"lagi-lagi, Toro, kamu ini! Jangan membuat masalah, cepat pergi dari sini." Lily datang dan mengusir Toro dari tempat ini.


"Maafkan atas sikap Toro. Toro sebenarnya bermaksud baik, hanya saja Toro mungkin masih teringat atas kejadian dulu. Jadi, perkataan kasar sering saja tak bisa ia tahan kepada orang asing." Lily menjelaskan.


Pada akhirnya kami memaklumi atas sikap pria berbadan besar tersebut yang bernama Toro. Jika dilihat, tadi ia mengenakan mawar yang berwarna hitam. Mawar hitam yang dikatakan akan membawa era Baru di masa depan nanti.


Tapi benar saja, sifat dari Rose Arcenciel tak selamanya akan berlaku, bisa saja, hanya salah satu sifatlah yang diambil, dan si Toro sendiri merupakan sifat dari keberanian.


"Potion-Potion ini adalah hasil dari penelitian anak-anak di desa Rose. Dan yang membuat Potion-Potion ini adalah para penduduk dewasa dan remaja." Lily mengambil beberapa Potion lalu menyerahkannya kepada kami.


"Ambillah, ini adalah tanda penghormatan kami kepada kalian. Aku harap kalian mengerti dan mengetahui maksud di balik ini semua."


Kami tak mengambil Potion tersebut, melainkan kami mengembalikannya ke tempat semula.


"Jujur saja, Raisa tak mengetahui maksud Lily. Kami tak akan mengambil Potion ini sebelum Lily menjelaskannya." Raisa menatap Lily serius.


"Baiklah. Aku akan menjelaskannya...." Belum memulai menjelaskan. Resha menepuk Bahu Raisa serta menatap Lily.


"Makan," ucapnya dengan singkat.


...°...


...°...


...°...


...°...


...°...


Sekedar informasi.


.



...Btw ini cover-cover sebelumnya. Dah lama nih. Dan judulnyapun masih belum kurevisi. Salah itu, masa dunianya yang matematika baru di ceritanya kan kekuatannya yang matematika....


...btw menurut kalian bagus yang mana....


...




...