
Hari ke-3 pascapertempuran, Desa Orchid. Di sebuah rumah yang lumayan besar tepatnya di bagian salah satu kamar di lantai dua.
Sesosok gadis beriris coklat kehitaman dengan busananya berkain kan hijau tebal, tengah berdiri memperhatikan apa yang ada di sekitarnya—ranjang berisikan kasur kapuk serta kursi dan meja kayu tua yang menjadi sorotan pertama di matanya.
Kala melihat cahaya dari luar. Kain putih nan kusam naik bersamaan masuknya angin sepoi-sepoi. Si gadis yang penasaran dengan di mana ia berada, berjalan perlahan mendekati arah angin masuk itu. Rambutnya yang selaras warna dengan manik matanya, berkibar-kibar ke mana-mana.
Terlihatlah sebuah jendela besar tanpa kaca maupun kayu yang biasanya menemani celah sebuah bangunan. Tangan kecil nan manis diletakkannya di tepi jendela itu. Tatkala memandang keluar, ia menjadi heran serta bingung.
Dalam ingatannya, ia terkena serangan sebuah tanaman dengan daun dan batangnya yang merambat cepat. Ia kemudian pingsan setelah kemampuannya yang membuat ia naik ke ketinggian, meletup, dan membuat ia terjatuh.
"Mirai!" serunya tampak khawatir. Gerak tubuhnya lantas di arahkan ke pintu keluar dari kamar itu.
"Eh, Raisa sudah bangun." sorak suara yang sedikit lantang memberhentikan langkah kaki sang gadis kecil itu untuk keluar. Badan yang lumayan tegap juga terlihat muncul dan menghalangi pintu kamar itu.
Spontan gadis bernamakan Raisa itu terkejut lalu menengadahkan kepalanya untuk melihat sosok itu. Tampak dari raut wajah Raisa, terlihat kesal, dan memandang dingin orang yang dihadapannya.
"Siapa kamu, mengapa kau mengetahui namaku?" tanya Raisa.
"Aku Nartou, aku tahu nama kamu dari akak Resha. Hehe, " sahutnya tampak gugup hingga tangan kanannya menggaruk-garuk kepalanya sendiri.
"Ha-haah, adiknya?! Yang bener!" seru Raisa terkejut. Siapa yang tidak kaget mendengar rekannya yang masih terlihat muda memiliki adik yang tampak lebih tua dari kakaknya itu. Apalagi wajah dari kedua orang itu, tampak begitu jauh berbeda.
"A-ha-ha-ha, mungkin lebih tepatnya dibilang bawahan."
"...." Raisa tak menggubris lagi setelah mendengar kalimat itu. Ia hanya diam menatap Nartou dan Nartou menjadi begitu canggung melihat reaksi datar Raisa.
Tak berapa lama, Raisa kembali bertanya.
"Di mana rekanku yang lainnya. Terutama yang perempuan berambut hitam panjang itu?"
"O-oh kalau itu dia ada di kamar sebelah."
Nartou memundurkan langkahnya untuk keluar dari kamar yang Raisa tempati. Raisa sendiri ikut keluar mengikuti Nartou.
"Mungkin itu kamar perempuan berambut panjang yang kamu maksud. Terus yang di sebelah sana adalah kamarnya Dayshi," jelas Nartou.
Ia menunjukkan bilik kamar Mirai yang tak jauh dari kamar Raisa, dan Dayshi yang lumayan jauh berhadapan juga. Di luar dari kamar itu, Raisa dapat melihat lantai bawah dengan jelas.
"Di mana Resha?"
"Kakak berada di luar. Ia sedang membantu kami memperbaiki desa."
"Membantu kalian. Rupanya ia orangnya tanpa pamrih juga ya," ucap Raisa yang kemudian memasuki kamar yang ditempati Mirai.
"Mi-Mirai ..." Raisa dengan cepat berlari ke Mirai yang masih dalam keadaan terbaring.
"Bagaimana kondisinya?" tanya Raisa.
"Luka yang ia terima di bagian dadanya cukup dalam. Kata akak Resha, sepertinya dia masih butuh beberapa hari untuk kembali pulih."
Raisa diam beberapa saat, masih memandangi Gadis bersuraikan hitam di hadapannya. Ia kemudian menolehkan kepala ke arah lelaki yang berumur 20-an tahun itu.
"Di mana tasku?" tanya Raisa
"Itu, bukannya ada di kamar tadi."
"Bisa tolong ambilkan."
"Baiklah."
Nartou kemudian kembali ke kamar yang tadi di tempati Raisa. Ia mengambil tas hijau agak besar dan sekali lagi balik menyuguhkan tas itu kepada Raisa.
"Terima kasih." Raisa yang tengah duduk menerima tasnya itu. Ia merogoh dan mengambil sesuatu dari dalam tasnya.
Sebuah botol kaca yang berisikan pil, tertera di sampul kaca itu bertuliskan pil penambah darah. Jari gemulai Raisa memutar tutup botol kaca itu. Ia membukanya dan mengambil satu pil penambah darah dan botol labu berisikan air mineral.
Setelah itu, ia pun memasukkan pil penambah darah bersamaan dengan air mineral. Sesudah memastikannya air dan pil itu terteguk, Raisa memasukkan kembali benda yang ia tadi keluarkan ke dalam tasnya.
Health point Mirai yang tadinya masih naik perlahan di angka 30%, kini mulai naik agak lebih cepat menjadi 31%. Raisa yang tengah berdiri, merentangkan tubuhnya yang menurutnya masih kaku.
Terbesit di dalam hatinya ketika ia mengingat Mirai yang menyelamatkannya dari maut. Meski samar-samar, Raisa sangat berterima kasih kepada Mirai waktu itu.
"Waktu itu Mirai memiliki level 75. Ia juga sangat kuat," ucap Raisa dalam hati.
"Dengan begini, Mirai akan pulih lebih cepat lagi. Mungkin besok ia akan bangun." Raisa dengan kedua tangannya tampak posisi istirahat di tempat, membalikkan badannya dari Mirai.
"Antar aku ke kamar Dayshi," kata Raisa kemudian. Nartou pun mengarahkannya.
"Sepertinya Dayshi juga terluka parah. Momon tiger waktu itu sangat banyak dan levelnya pun melebihi level Dayshi. Untunglah dia dapat bertahan," batin Raisa yang kemudian mengikuti jalan pemuda berkaos kan putih itu.
Sesampainya di sana Raisa terkejut melihat kondisinya yang baik-baik saja namun masih terbaring tak sadarkan diri. Seperti biasa Nartou pun menjelaskan bahwa mental Dayshi masih butuh proses untuk pemulihan.
Raisa yang memahami, menepuk-nepuk pipi Dayshi dengan keras. Sayang Dayshi tak kunjung bangun. Nartou yang melihatnya malah bergidik ngeri.
Hingga pada akhirnya Raisa berhenti setelah Nartou berani menghentikannya dengan menjelaskan ucapannya kembali.
Di lain tempat, Resha sedang beristirahat di bawah pohon yang rindang bersama dengan bawahan Nartou juga si kakek yang kemari.
"Jika nanti ada burung lewat, kamu—Light—pastikan seranganmu kali ini mengenainya. Dan, kalau ia datang bergerombol. Hmm-hm-hm-hm, kita serang mereka semua hingga tak tersisa!" seru Resha yang sendiri bersandar di batang pohon.
"siap, kak!" Mereka—tujuh orang—dengan kompaknya berucap, tanda mengerti.
"Akak Resha sepertinya sudah menaruh dendam kepada para burung."
"Ah, akak Resha sudah gila dengan burung."
"Ya kenapa juga mereka ****** selalu di atas kepala akak Resha."
"Kasihan," batin mereka layaknya saling berkomunikasi satu sama lain dengan opini yang sama.
Resha memperhatikan mereka satu persatu kemudian ia menyipitkan matanya.
"mm, cara pandang kalian menjengkelkan. Push up dua puluh kali,"
"Lo-loh."
"Kenapa? Ini bagian dari latihan kalian."
"Ha, si-siap."
"Untuk kakek tak usah. Bangunan yang hancur tadi kan kakek semua yang bangun kembali."
"Hohoho, baiklah akak muda," ucap kakek itu sembari mengelus janggut putihnya yang tak panjang
"Khusus untuk kakek jangan panggil aku sebagai kakak. Lebih baik panggil aku berdasarkan tingkatanku saja hahaha," ucap Resha yang bangkit dari tempat ia duduk.
"Tingkatan?"
"A-ah. Kakek masih belum tahu kah." Resha menggaruk rambut di dekat telinganya sambil tersenyum canggung.
"Ha-ha-ha, kakek pernah mendengarnya. Sayangnya kakek dah lupa,"ucap kakek itu.
"Bisa aku yang beri tahukan, kak." Terdengar anak kecil asing di telinga Resha.
"Kamu!" kakek nampak terkejut.