
Dari tiga kelompok di tempat yang berbeda-beda kini mengalami masalah yang sama. Mereka semua saling berhadapan dengan momon yang levelnya berkisar lebih dari 105.
Di tempat kakek yang dengan sengaja memukul tanah menggunakan ujung tongkat. Mana dari dalam pusaka miliknya itu pun meledak keluar, ledakan yang tak dapat dirasakan, tapi memancing momon agresif yang ada di sekitarnya.
"Persiapkan diri kalian," ucap si kakek setelah sosok besar menyerupai sebuah cawan menampakkan dirinya. Berkedut-kedut tubuh sang sosok tersebut, dengan ketinggian dua meter dan badan yang bongsor masih belum cukup dipamerkan.
Momon berwarnakan merah darah tersebut bertambah besar saja, hingga ketinggiannya kini mencapai lima meter. Geraham duri tajam bagaikan gerigi geragaji pada pinggir mulut momon tersebut. Layaknya cawan, mulutnya itu lah yang menganga besar memperlihatkan suatu umbi berwarna oranye matang. Boss Bumbie.
Bergilir ke tempat Resha. Yang mana sang pemimpin kelompok itu tengah berayun melintasi sebuah rawa berkamuflase tanah. Ayunan dari tangan kuatnya itu terputar, sesaat ketika makhluk yang mendiami rawa itu muncul menyemburkan cairan kotor nan pekat.
Resha melenturkan tubuhnya dan berputar ke atas pohon setelah menarik kencang akar patokannya. Yang lain berteriak histeris melihat aksi Resha. Mereka juga menyiagakan diri saat pembentukan makhluk itu tercipta dari rawa. Mud golem.
"Jadi sebab ini gelegat mencurigakanmu tadi?!" celetuk Raisa.
Sedangkan di tempat gerombongan Dhile, terjadi lagi sebuah aksi dikejar-kejaran. "Leo brengsek, sudah berapa kali aku katakan untuk berhati-hati!?" Ya, lagi dan lagi dalang penyebabnya adalah Leo.
Leo tadi dengan sengaja memanjat pohon yang memiliki besar yang tak ditandingi pepohonan di sekitarnya. Saat berada di puncak ia menemukan sebuah sarang burung yang berbentuk bulat dan besarnya lubang masuk sangkar tersebut melebihi besar badan Leo.
Setelah masuk ia hanya mendapatkan hasil yang nihil. Tak ada apa-apa di dalamnya kecuali ruangan berisikan ranting, rumput, serta dedaunan kering yang membentukkan sangkar tersebut. Tepat pada saat ingin kembali, sosok burung berapi yang membawa ular raksasa remuk terbakar mendapati kehadiran Leo.
"Ular tadi?" Terkejut Leo. Ia sadar akan jasad ular yang dibawa burung besar tersebut. Tidak salah lagi jasad ular itu adalah ular beracun yang menandai Leo sebelumnya.
"GERRY!" Leo menjatuhkan badan dari ketinggian sepuluh meter. Seruannya di dengar Gerry, respons Gerry menoleh ke atas lalu dengan secepatnya menyelamatkan Leo meski mana miliknya akan kembali berkurang drastis.
Begitu Leo mendarat. Kedua orang tersebut membopong Leo dan segera berlari. Sang burung mengejar. Seluruh tubuhnya dilapisi warna api—merah, kuning, dan oranye. Besar kakinya serupa dengan manusia dewasa, cakar kokoh, paruh meruncing dan terbuka siap melahap incaran barunya.
"Burung itu ...." Terus berlari, Dhile menatap ke belakang untuk memastikan. Dengan meneguk genangan air yang tergumpal dalam mulutnya, Dhile menggumamkan sesuatu. "Tak salah lagi, itu adalah burung Garuda. Penguasa hutan area ini."
Lebih dari 105 levelnya. Ia penguasa hutan Aeriel, salah satu makhluk kuno yang tersisa sendiri di tempat itu. Umurnya bahkan melebihi seratus tahun dan tidak dapat berkembang biak lagi. 203 tertera bersama title Boss area, Garuda Haast.
Dalam waktu yang berbeda, tapi di hari yang sama. Mereka semua harus disibukkan melawan Momon yang melebihi level mereka. Namun, terlepas dari ancaman momon tersebut. Mereka juga merasa beruntung karena dengan hadirnya para momon tersebut, mereka tak harus lagi bersusah payah untuk mencari item yang sebatas common bahkan melebihi itu.
Dalam pengecualian adalah kelompok Dhile. Mereka sangat tidak beruntung. Tidak, lebih tepatnya mereka kelompok yang cari mati. Bertemu dengan Boss area hutan tersebut dan ketiganya nampak tak ada yang berpengalaman masuk ku hutan tersebut. Hutan rimba yang semakin ke dalam, naik ke area sebuah pegunungan.
****
Tak terlalu jauh momon vegetalia itu terlempar sebab pepohonan yang lebat menyangga jauhnya ia terdorong.
"Kalian, cepat urus momon itu. Ini adalah latihan kalian," ucap kakek.
"Lepaskan! Jangan jadi penakut. Lihat ke depan." Ryan mennyentakkan kaki. Akhirnya ia lega karena terlepas dari genggaman Petrick. Petrick bergemetar hebat sambil bergumam menggigit jari, wajahnya begitu pucat, dan hanya kata-kata kematian yang keluar dari mulutnya.
"Petrick!" Ryan tak tega melihat kondisi Petrick, ia akhirnya memutuskan untuk membantu Petrick dengan menepuk bahunya lalu berkata, "tutup matamu, atur napasmu, dan bayangkan apa yang ada di hadapanmu hanyalah seekor momon yang lebih lemah dari kamu. Kamu pasti bisa mengalahkannya."
Petrick melakukan apa yang dikatakan Ryan. Ia menutup matanya lalu mengatur napasnya. Namun, saat kelopak matanya terbuka. Ia malah terlihat lebih tegang dan memasang raut wajah yang menatap kekosongan. "Itu mustahil." Itulah kata yang terlontar di mulut Petrick.
Ryan melepaskan udara kecewa dari mulutnya."Kek, awasi dia. Dan kamu Petrick, aku mengandalkanmu jadi perhatikanlah aku."
Ryan berdiri mengacuhkan kawannya yang terduduk dalam tatapan hampa tapi masih dapat mendengar apa yang Ryan ucapkan. Si kakek tersenyum menilai karakter Ryan yang peduli terhadap rekannya meski rekan itu nampak sangat tidak bisa diandalkan.
"Berhati-hatilah nak," tutur si kakek. Ryan membesarkan tubuhnya dengan menggunakan skill [Guardian] miliknya. Ukuran tubuhnya disamakan dengan lawan mainnya. Ia tak menggunakan ukuran yang lebih besar dari lawannya sebab ia juga ingin mengiritkan jumlah mana yang ia miliki.
Sesaat ketika Ryan siap menghantam kepalan tangannya ke Boss Bumbie. Boss Bumbie tersebut malah siap menerima hantaman dengan membuka mulutnya.
Ryan merasa ada yang tak wajar, instingnya juga mengatakan untuk menarik pukulannya dan segera menjauh dari momon tersebut. Ryan mengamati lebih baik lagi akan momon Bumbie tersebut.
"Mulutnya itu." Ryan sadar akan sesuatu yang tak wajar baginya. Ia mundur beberapa langkah, lalu menjaga jarak yang jauh dari momon tersebut.
Setelah merasa aman, ia mencabut sebatang pohon dan melemparnya ke arah momon tersebut. Namun apa yang terjadi? Momon itu menerima serangan tepat ke dalam lubang mulut menganganya. Dan, pohon yang dilempar Ryan seketika lenyap seakan berpindah dimensi.
"Hei hei hei, yang benar saja. Kek? Momon ini bukan momon sembarangan ya?" tanya Ryan. Ia semakin menjaga jarak dari Boss Bumbie. Ia juga mengecilkan tubuhnya.
Pertanyaan Ryan rupanya juga terucap sama pada Dhile saat menatap sosok burung Garuda Haast. "Apakah momon ini bukan momon sembarangan?"
Dalam pertanyaan tersebut. Tiga orang yang mengetahui dalam kelompoknya masing-masing—Resha, Kakek, dan Gerry—kemudian angkat bicara, menjelaskan akan sebuah unsur mana dasar dan juga kaitannya dengan makhluk hidup.