
"Jadi tujuanmu kemari adalah untuk menyingkirkan kami? Dan pak Opin sekarang memang berada di Kingdom of Flower," ucap Resha. Tangan kanannya memegang dagunya.
"Iya, jadi cepat angkat kakimu dari Vyno!" seru Mio dengan wajah yang masih datar.
Dalam keadaan tak bertarung kedua orang ini akan memulihkan HP-nya sendiri. Semakin sedikit Health Point yang berkurang, semakin cepat pula Health Point tersebut menambah.
Sebaliknya HP point yang berada di bawah 50% akan lama untuk kembali pulih—disesuaikan dengan luka yang diterima)—dan HP yang telah berada di bawah 10% hanya akan pulih ketika disembuhkan (diobati) atau diberikan Potion penambah HP.
"Orang ini?" tanya Resha sembari berseringai. Kakinya yang masih berada di kepala Vyno, diangkat lalu kembali tertaruh di tempat yang sama.
Mio menjadi geram meski tak menunjukkan ekspresinya. Ia menghilang dan dalam sekejap muncul di hadapan Resha dengan katananya yang terhunus.
"Ada apa?! Jangan emosi begitu wanita aspal."
Resha menghilang—kelancaran dalam menghindar diakibatkan skill pasifnya yaitu sidestep serta skill aktif Smoky-nya yang masih aktif selama satu jam—dan muncul di belakang Mio bersama ayunan kakinya yang kuat.
"Aspal?" Mio yang menahan, kembali terpental jauh. Meski begitu pendaratannya yang menancapkan pedang ke tanah selalu sempurna.
"Iya, jalanan yang sama dengan mukamu."
".... Lepaskan dia. Bukankah aku sudah memberikanmu petunjuk?"
"Hah, petunjuk apaan itu. Aku sendiri sudah tahu jelas akan hal tersebut. Yang ingin kutanyakan adalah siapa yang menyuruh kalian untuk melakukan ini dan apa tujuan kalian sebenarnya?" tanya Resha, kembali meletakkan kakinya kepada perut Vyno.
"Kau."
"Ada apa? Cepat jawab pertanyaanku, kalau tidak temanmu akan seperti ini terus. Kamu tahu aku tak akan segan-segan—"
"Skypie, dialah yang menugaskanku. Tujuan kita .... Aku tak tahu, yang jelas aku ke sini hanya bertujuan untuk menyingkirkan kalian. Selebihnya tidak ada lagi. Dan jika kamu bertanya mengapa aku mundur semudah ini, itu karena aku lebih mementingkan nyawaku berasa dengan rekan-rekanku," jelas Mio.
"Jawaban yang bagus setelah kalian sudah membuat rekan-rekanku hampir kehilangan nyawanya."
"Apa maksudmu? Jangan macam-macam," ucap Mirai dingin lalu berkata,
"[Orchid dust] level 7"
Skill yang membuat Mio seolah terbawa angin puyuh. Ia menghilang di dalam angin tersebut.
"Tak akan bergu—" Resha tak melanjutkan perkataannya ketika melihat Mio akan menyerang rekan-rekannya yang terbaring tak jauh dari tempat ia berdiri.
"Heh, jangan kira kau dapat menyentuhnya," Resha dengan kecepatannya berpindah lokasi masuk ke dalam angin puyuh itu.
"Ngomong-ngomong, benda yang tingkatannya Cryptic ini menarik juga," ucap Resha sembari mengayunkan pisau kecil yang Vyno pakai sebelumnya.
Angin puyuh yang dibuat Mio berhenti. Mio mencuri kesempatan untuk mengambil Vyno. Resha yang mengetahui itu lantas bergegas untuk mencuri Vyno, tetapi tiba-tiba ada burung lepas landas yang menabrak wajahnya.
"Aduuh, burung sialan." Resha mengelus mukanya yang sakit, health pointnya yang 99% turun menjadi 98%.
"HEI, MAU KE MANA KAMU?!" seru Resha saat melihat Mio yang bergegas pergi.
"Kita bertemu di Kota Garden Flower." Mio pergi dengan angin puyuhnya, di sekitar Resha seketika tumbuh bunga anggrek kalajengking.
Lama kemudian setelah Mio tak terlihat. Resha yang berpijak di bunga anggrek itu tiba-tiba terlempar naik.
"Aduduh, Siapa itu?"
Seorang kakek yang memiliki badan kurus serta bulu rambut yang putih berdiri bungkuk bersama dengan tongkat penyokongnya.
Resha melihat kakek itu adalah penduduk yang ada di desa Orchid, sehingga ia tak berniat untuk membalas serangan kakek itu.
"[Shooting Ground] level 3"
Shooting Ground, skill dasar dari penembakan elemen dasar. Bongkahan tanah muncul dan menyerang Resha. Resha menghindari serangan itu dengan mudahnya.
"Anu kek—"
"Kek, kek. Jangan serang dia kek. Dia bukan musuh!" seru seseorang memotong kata Resha. Orang itu tak asing di mata Resha. Dia adalah Nartou, pemimpin dari para preman yang menyerang Resha.
"Oh, begitukah." Kakek menjadi tenang. "Tapi tetap saja dia juga yang menghancurkan setengah dari desa ini!" sang kakek itu kembali menyerang dengan bongkahan tanahnya.
Alih-alih Resha yang tadinya menepuk dada lega, kini terkena bongkahan tanah itu karena tak waspada. Ia terjatuh.
"GURU! Aduh kakek. Sembako tadi dari dia loh kek," panik Nartou yang kemudian pergi menuju ke Resha. "Guru, kau tak apa-apa."
"A-hahaha. Iya iyaa aku tak apa-apa. Tenang saja defenceku lumayan tinggi," ucap Resha sembari meloncat dengan tubuhnya untuk berdiri. Ia menggosok hidungnya menggunakan jari telunjuknya.
"Lumayan ...." Nartou tak percaya. Menurutnya kata lumayan tidak cocok untuk Resha. Nartou melirik level Resha, ia terkejut level Resha yang 163 turun menjadi level 60.
"Sekarang, tolong bantu rekan-rekanku." Resha dengan cepat berlari ke tempat di mana rekan-rekannya terbaring tak berdaya.
"Mereka terluka parah. Satu orang sepertinya baik-baik saja, hanya saja dia sepertinya pingsan akibat mentalnya yang kurang kuat," ucap sang kakek yang baru saja menyusul Resha di tempat rekan-rekannya.
"Nyawa kedua orang ini terancam. Aku juga hanya memiliki satu Red Potion." Resha mengeluarkan Red Potionnya. Ia terlihat bingung untuk memberikan Red Potionnya ke salah satu rekannya.
Dayshi yang memiliki Health Point sebanyak 1% dengan luka cakar di sekujur tubuhnya, sedangkan Mirai memiliki Health Point 3% dengan luka tusuk yang begitu dalam di bagian dadanya.
"Guru, kenapa tidak di bagi dua saja Red Potion itu?" ucap Nartou.
"Tidak bisa. Red Potion ini hanya akan berefek setiap diminum per 100 ml-nya. Dan, labu tempat Potion ini perbotolnya hanya berisi 100 ml," jawab Resha.
"Jadi hanya bisa satu kali minum ya, guru."
"Iya .... Ngomong-ngomong kenapa kamu memanggilku dengan kata guru. Sejak kapan kamu menjadi muridku. Aku juga lebih muda dari pada kamu," kata Resha penasaran.
Resha mulai memutuskan untuk memberikan Red Potionnya kepada Dayshi. Ia merasa bahwa kondisi Dayshi sudah sangat parah karena tubuhnya mulai mendingin dan darahnya sudah banyak yang terbuang.
"Karena tadi guru mengajari kami cara bertarung kan. Ini tanda hormatku saja kepada guru. Aku juga minta maaf karena menyerang guru tadi, sekaligus aku berterima kasih karena telah menolong aku dengan teman-temanku."
"Tanda hormat?..." Resha sedikit heran kemudian menggumamkan sesuatu setelah memberikan Dayshi Red Potion.
"[Inner dimensional hol]"
Sebuah lubang hitam terlihat di hadapan Resha. Resha mengambil sesuatu berbentuk butiran kecil yang rupanya itu adalah pil penghenti darah.
Pil penghenti darah adalah pil yang menghentikan aliran darah yang keluar dari tubuh. Pil ini sangat berguna untuk luka fisik bagian luar.
Setelah mengambil pil itu. Resha memberikan pil itu kepada Mirai. Resha mengambil air dari lubang hitam itu. Ia meminum kan Mirai bersama dengan pil penghenti darah.