
Aku dan dirinya saling bertatap candu. Pastinya dia juga memiliki udang di balik batu. Dengan senyum ramah diambilnya lah benda yang aku sodorkan, bentuk yang nampak seperti bulan sabit dan seutas senar yang tampak bening layaknya seutas jaring laba-laba. Aku yakin busur panah ini akan membuat dirinya tertarik.
"menarik, tetapi ini saja masih belum cukup," ucapnya. Dia meletakkan panah kayu yang kuberikan ke meja layanan sekaligus meja dapur yang membentuk seperti samping telur yang dipotong secara vertikal.
Sial, masih kurang kah.
"Aduh aduh, wajah tampanmu tampak pucat tuh. Apa kamu baik-baik saja? Yeah, jika kamu tak memiliki apa-apa lagi sebaiknya kita tukar saja dengan sup sayur."
"Tunggu dulu, panah ini aku dapat dari para Goblin loh. A-aku ...." Ada apa ini. Reaksi dia tiba-tiba berubah. Tatapan tajam, sepertinya bukan dari Eva saja, aku rasa orang-orang yang berada di meja makan ikut menatap ku dengan tatapan mengerikan.
Sial, bagaimana ini. Sebelumnya juga bukannya aku cukup aneh, datang ke kedai bukannya menukar item untuk makanan, tetapi aku malah menukar item untuk informasi. Lagian kenapa tadi aku asal mengoceh saja sih.
Walaupun begitu, sepertinya mereka tadi terfokus dengan kata 'goblin' yang kusebutkan. Meski suasana sekarang terasa sesak untukku, asal muasal panah ini akan aku manfaatkan.
"Panah ini aku dapatkan dari para goblin yang aku dan rekanku kalahkan saat di perjalanan," ucapku dengan bangga.
"Aduh aduh, sepertinya kamu punya cerita yang menarik." Eva tersenyum seri. Heranku, semua pelanggan tiba-tiba angkat kaki dari tempat ini. Mereka tampak panik dan bergegas seperti dikejar sesuatu, membuat diriku ini ikut merasakan suatu tekanan, tekanan akan hal yang buruk.
"Reynald...." Sial, dia meninggalkanku. Mengapa bulu kudukku menggigil begini ya? Dingin. Torehan pandanganku berada di luar pintu semenjak respons para pelanggan itu.
Aku memijat-mijat pelan leherku. Ludah pun tertelan sebelum aku menorehkan pandangan pada sosok yang seperti karakter 'onee-san mantan mafia' di anime-anime yang pernah dulu aku tonton.
A-aura yg kuat sekali. Seram, mukanya seram. Marah, bukan, dia kesal. Tangannya tanpa kusadari telah berada di pengikat capeku dan tertarik ke atas hingga kakiku tak menyentuh lantai tanah yang dingin.
Ini akhir yang buruk. Dan sepertinya aku tak bisa meloloskan diri. Berapa kalipun aku meronta, tetap saja aku kalah kuat dengan dirinya. Apa yang harus aku katakan, jika terus seperti ini aku bisa mati.
Kutatap dirinya dan dengan serius ia juga menatapku dingin. "Tunggu, aku bisa jelaskan." Ahk, kalimat apa-apaan ini. Apa bisa aku membujuk dengan kata-kata klasik seperti ini.
"Baiklah."
Eh, ternyata bisa. Ternyata tadi aku terlalu ragu untuk berkata. Dia menurunkanku, dan aku yang hampir kehabisan napas dengan segera menghirup udara sebanyak-banyaknya.
Sembari menunduk memegang lutut, tangan kananku naik dan terarah kepada Eva. Satu jari kupertunjukkan kepadanya. "Satu syarat, aku akan menceritakannya dengan satu syarat."
"Aduh. Baiklah, katakan saja dan akan aku pertimbangkan itu."
"Aku akan menjawab pertanyaanmu dan kamu akan menjawab pertanyaanku. Satu pertanyaan, satu jawaban. Sama seperti pertukaran barang, di sini kita bertukar informasi dengan jawaban."
Rokoknya kembali terapit pada bibir merah muda alaminya. Dihisapnya hingga menyisakan puntung rokok yang cukup tebal dari yang sebelumnya. Tak jarang ketika selesai mengisap, ia mengembuskan napasnya dengan asap putih, sampai-sampai tanganku dengan gemasnya ingin mengeluarkan sebuah kain berwarna merah kehadapan wanita bersuraikan hitam ini.
Terlukis senyum tak senang di raut wajahku. "Negosiasi?" tanyaku seperti terheran akan kata itu. Terbesit di kepala dengan para politikus terutama para pedagang yang saling menawarkan harga kepada para pembelinya.
"Iya, bagaimana?" tanyanya kembali. Masuk ke dalam, lalu ke luar lagi hingga batang tersebut akhirnya memendek dan dibuang serta digilas ke dalam asbak yang tersedia di meja pelayanannya.
"Sebenarnya bukan tentang hubunganmu saja. Aku lebih ingin bertanya, apa yang terjadi di lima tahun yang lalu ketika Mio menghancurkan desa ini," kataku sembari membenarkan kembali cape yang kukenakan.
Eva tak langsung menanggapi apa yang kukatakan itu. Ia nampak mematung sejenak dengan bola matanya yang berputar ke pojok samping kiri, entah pikiran cerdik apa yang kini ia proses dalam otaknya.
"Aduh, kalau begitu aku juga akan bertanya tentang dirimu," ucapnya dengan logat lembut nan menggoda seperti biasa. Yang kurisihkan dari dirinya hanyalah kata 'aduh', yang entah mengapa kata itu terdengar familiar. Mungkin, seperti seorang ibu yang mengkhawatirkan anaknya.
"Diriku." Apa yang dia maksud ketika aku memulai perjalanan di dunia ini?
"Kalau begitu, apa harus aku yang terlebih dahulu memberimu informasi ...." ucapku. Aku mengambil panah yang terletak di meja pelayanan. Kuangkat lalu mengunjukkanya. "Tentang asal panah ini."
Aku tidak tahu akan sifat Eva, karena memang aku belum lama bertemu dengannya. Hanya saja ketika aku melihat raut wajahnya yang terus tersenyum padaku, itu nampak menafsirkan bahwa ia sepertinya tertarik akan diriku ini. Dan sekarang sepertinya ia makin tertarik kepadaku, entah dalam pandangan apa. Yang jelas aku harus berhati-hati dengan dirinya itu.
Saat Eva mengangguk lalu duduk di kursi yang telah lama tersedia di belakangnya. Ia juga menopang kepalanya yang menyerong ke samping dengan tangan kanan. Poni datarnya terayun mengikuti gravitasi, tapi itu malah membuatnya terlihat lebih anggun dari yang biasa.
Kujelaskanlah tentang asal muasal busur panah kayu bercorak khas yang sama dengan sumbernya. Busur yang didapatkan dari goblin yang kebetulan menghadang perjalanan dan disaat goblin itu juga menyerang seorang gadis.
Aku menceritakannya dengan cukup singkat. Beberapa pertanyaan dari Eva, serupa dengan dulu yang dipertanyakan oleh para rekanku. "Bagaimana bisa goblin yang berasal dari Underworld ada di Upperworld. Apakah mereka telah bisa melewati pembatas Light Of Dark?"
"Aku juga tidak tahu. Namun ini ada hubungannya dengan si Raja Gila." Itulah jawabanku ketika ia melontarkan pertanyaan itu.
Eva semakin tertarik mendengar jawabanku. Ia malah menjadi penasaran dengan si Raja Gila. Tapi sayang, aku tak bermaksud untuk menceritakan si Raja Gila. "Ingat syarat tadi, apa kamu benar-benar ingin menukarkan informasimu dengan pertanyaan itu. Dan lagi, setidaknya setelah aku memberikanmu jawaban. Maka giliran selanjutnya untuk bertanya adalah aku."
"Aduh-aduh~, kau anak yang menarik ya." Di luar dugaanku, ia tampaknya cukup bisa menahan diri. Mengingat kejadian waktu lalu, aku sebenarnya cukup yakin bahwa dia akan cepat terbawa emosi jika ada yang tidak sesuai dengan keinginannya.
"Oke, sekarang giliranku. Pertanyaan pertamaku cukup sederhana saja kok. Ceritakan, apa hubunganmu dengan Mio lima tahun yang lalu?"