
Hakikatnya matematika itu bergantung pada dasarnya yang berupa angka, tambah, kurang, kali, bagi, dan simbol lainnya. Ya, konsep dasar ini ibarat akar dari sebuah pohon. Ia terus mencari makanan dan menyokong pertumbuhan pohon tersebut.
Sedangkan rumus ialah yang digunakan untuk memudahkan kita dalam menghitung. Ibaratnya ia adalah batang yang terus menyalurkan makanan-makanan tersebut ke seluruh bagian pohon.
Ya, perlu diingat rumus itu muncul dari hasil pemikiran. Dalam satu tujuan untuk mencari hasil, mungkin banyak rumus atau hasil pemikiran yang berbeda untuk mencapai tujuan tersebut. Tujuan di sini hanyalah satu, dan itu adalah hasil yang pasti.
Oleh karena itu, untuk mencapai tujuan dengan efisien maka pilih yang mudah untuk dilakukan. Pilihlah langkah yang nyaman untuk kamu jalani, jika ada yang mudah untuk apa memilih jalan yang rumit bukan?
Dan, kini di hadapanku hanya sistem antah berantah yang terus memberiku rumus dan persoalan untuk mendapatkan sebuah kekuatan.
Aku menyelesaikan hal-hal yang seharusnya tidak usah terlalu banyak dipikirkan bagi sebagian orang yang ada di dunia ini.
Kertas kosong dan pulpen. Sepertinya bakal berguna juga kalau aku memasukkannya dalam inventory. Dan, benar saja kali ini system connect-nya tersambung tanpa ada satu pun tes.
...➕➖✖️➗...
[System connect, berfungsi.
Kini anda dapat menggunakan layar seperti kertas kosong yang dapat ditulis. Katakan "system connect, blank paper" untuk menggunakannya.]
...➕➖✖️➗...
Dengan ini sepertinya aku bakal lebih mudah lagi dalam menghitung. Lagian sebelum-sebelumnya aku hanya menggunakan khayalan peletakan angka saja, dan itu cukup sulit.
“Baiklah sekarang aku hanya tinggal menulis jawabannya di monitor hologram ini dan semuanya selesai,” ujarku yang sebelumnya mendesah lalu meniup telapak tangan karena dinginnya udara malam di sekitar sungai ini.
Okey, hasilnya 11.400.000 meter atau 114 kilo meter.
Aku menghapus seluruh coretan di monitor hologram yang sedari tadi kugunakan lalu setelahnya aku menggeser layar tersebut menggantinya dengan layar jawaban.
...➕➖✖️➗...
[System connect, berfungsi.
Kini anda dapat menggunakan peta dengan mengatakan “system connect, Map”.]
...➕➖✖️➗...
Seperti tadi, aku langsung mempraktikkannya.
“[System connect, Map]”
Muncullah map tersebut di hadapanku—sejajar dengan dada—dalam bentuk hologram. Model map ini juga dapat diubah-ubah, dari yang hanya rautan garis-garis sampai ke bentuk tiga dimensi, semuanya dapat kupilih sesuai dengan apa yang kuinginkan.
Akan tetapi, hal yang disayangkan di sini, peta ini hanya mengikuti peta yang aku masukkan. Artinya, hanya peta Benua Celebesia yang tidak terlalu detail dengan peta Kingdom of Flowerlah yang dapat aku lihat.
Untuk saat ini peta Kingdom of Flower yang lengkap inilah yang sangat kubutuhkan. Jadi, aku tidak terlalu memikirkan akan peta yang lainnya apalagi peta dunia, itu urusan belakangan saja.
“Hei, cepatlah Dayshi. Malam akan semakin pekat!” seru Resha yang telah berjalan bersama dengan yang lainnya.
Begitu perhatianku teralihkan dan berpikir untuk segera bergegas, seketika map hologram ini mati karena refleksku yang memang ingin mematikannya.
Aku hanya menatapnya sejenak lalu dengan segera menyusul mereka.
Raisa membawa dua lentera, saat aku telah bergabung ia memberikanku salah satu lentera tersebut. Lentera yang berwarna oranye yang menerangi sekitar jalan dan juga lumayan menghangatkan tubuh.
Kami terus berjalan menelusuri padang rumput alang-alang yang tingginya hingga di pusar perut bagiku, dan bagi Raisa alang-alang tersebut telah melewati pinggangnya. Terus semakin ke dalam, rumput alang-alang juga semakin tinggi. Alhasil kami kembali mundur beberapa meter agar tidak termakan rumput tersebut.
Langit malam memang luas, tetapi awan juga begitu tebal menutupi apa yang seharusnya ada di baliknya. Sejauh mata memandang, hanya rumput alang-alang teruslah yang terlihat tanpa ada satupun pohon yang menghiasinya.
Angin di tempat terbuka seperti ini, sangatlah kencang menerpa kami. Bahkan rambut kami yang panjang sangat jarang untuk berdiam di tempat.
Jikalau persoalan rumput kami tak ada persiapan, pasti sekujur tubuh kami sudah tak dapat bertahan, baik dari rerumputan yang menggores kami dan juga angin yang dinginnya hampir melewati nol derajat.
Kini kami hanya bisa berjalan kembali menelusuri pinggiran alang-alang yang cukup pendek. Resha pun juga terkadang mulai berkutat kesal, begitupun juga dengan Raisa yang mencomel kepada alang-alang.
“Anu, sebaiknya kita sedikit memperhatikan peta dulu,” ucap Mirai yang sudah tampak kelelahan. Wajahnya merah dan dilumuri oleh air keringat.
Semuanya merespon Mirai dengan diam dan mengambil peta tanda menyetujuinya. Ya, kita memang sudah sangat kelelahan.
Pergerakan kita juga yang awalnya sudah berat kini semakin berat karena bertambah lebatnya rumput tersebut. Lagian berkat keletihan ini, suara pun jadi enggan untuk keluar.
Masing-masing saling mengembuskan napas berat. Tak ada tempat untuk beristirahat, tenaga pun telah banyak kami keluarkan.
“Huah, awalnya memang sudah berat. Kalian cepatlah perhatikan peta tersebut. Biarkan aku yang membuat tempat peristirahatan," ucap Resha.
Tempat peristirahatan, oh tempat untuk beristirahat.
“Apa kamu butuh bantuan?” tanyaku, berniat untuk membantunya.
Mungkin terakhir kali saat kami bertarung, Resha hanya melihatku menggunakan sebuah perisai. Jadi, wajar kalau ia menganggapku sebagai seorang warrior tanker seperti pak Opin.
Lagi pula waktu itu aku menggunakan pedang pendek tak terlalu lama, selepasnya kebanyakan aku menggunakan perisai mana ampliefer.
“Ya, aku mempunyainya,” sahutku.
“Wow, coba perlihatkan!” seru Resha antusias. Ia tampak terkejut, tak percaya, bahkan terheran-heran. Matanya begitu berbinar-binar melihatku.
“Hei, kenapa reaksimu seperti itu.” Entah mengapa, aku menjadi kesal sendiri. Salah satu alisku naik dan sebelahnya mengerut.
Dia membuatku merasa kemampuan yang kumiliki hanyalah kemampuan untuk pertahanan, padahal aku lebih menyukai kemampuan untuk menyerang.
Andai saja aku memiliki skill untuk menyerang langsung, pasti skill itulah yang paling awal terus kutingkatkan. Walau begitu tak apalah, punya kemampuan seperti ini juga aku sudah bersyukur.
“[Storage]”
Aku membuka inventory lalu mengambil pedang logam yang dulu aku beli.
“hoo, Shortsword ya .... ngomong-ngomong kamu menyimpan pedangmu di mana?” tanya lagi Resha sembari memberikan pedang tersebut kembali kepadaku.
“Di inventory. Bukankah kamu juga menyimpan sesuatu di inventory juga?” Aku mengambil pedang yang ia serahkan lalu membuka inventory setelah bertanya.
“[Storage]”
Tampaknya Resha benar-benar tak melihat hologram yang ada di hadapanku ini.
“inventory? Aku tidak tahu apa yang kamu sebut itu. Hmm, apa mungkin yang kamu maksud itu blackhole. Karena blackhole ‘kan bisa juga menyimpan benda di dimensi lain lalu mengambilnya sesuai keinginan kita.”
“ya, mungkin yang seperti itu.” Aku mematikan kembali inventory yang aku buka, sebenarnya sih aku cuma mau lihat-lihat benda apa saja yang saat ini aku miliki.
Resha menyipitkan kedua matanya lalu membalikkan badannya seraya mengambil kedua bilah dagger yang ada di bawah pinggangnya. “Ya sudah, ayo cepat tebas rerumputan ini.”
“Okey,” Sahut aku yang kemudian pergi menjaga jarak dari Resha guna memberi ruang untuk menebas.
Sekitar dua sampai lima kali tebasan dalam satu menit, rumput-rumput yang berada di sekitar Resha telah tersingkir berjatuhan ke bawah dan menjadi sebuah pengalas yang agak lembab.
Sedangkan aku yang masih tak terbiasa dengan pedang yang kumiliki hanya bisa memberikan tebasan-tebasan kecil layaknya seseorang yang mengarit.
“hahaha, kenapa kamu sangat berhati-hati memotongnya. Tebas saja dengan ayunan tangan sama sepertiku, berikan aliran energi dan rasakan senjata yang kamu miliki seperti menyatu dengan dirimu,” ujar Resha setelah menebas rerumpatan di tempatnya.
Aku mendengarkan Resha dan berhenti menebas kecil. Dengan sedikit menoleh ke Resha, aku kembali fokus kepada rumput di hadapanku dan menutup mataku—berusaha merasakan senjata yang aku miliki.
Sampai satu menit aku terus berusaha untuk menyatu dengan senjataku. Namun hasilnya tetaplah nihil. Alhasil aku membuka kelopak mataku dengan perlahan dan dengan rasa putus asa serta kekesalan, aku berhasil memberikan tebasan yang luasnya sesuai dengan panjang pedangku.
“Wih, lumayan. Tapi kenapa kekuatan yang kamu berikan pada pedangmu malah seperti berasal dari perasan buruk.” Resha masih memperhatikanku seraya mengajariku cara menggunakan senjata.
Aku tertawa kecil karena tebakannya yang telak dengan apa yang tadi kulakukan. “Baiklah, selanjutnya perasan buruk itu akan kutiadakan.”
“Hehehe, santai aja kali.”
Hingga sekitar lima sampai enam menit aku terus menebas rumput. Perlahan tapi pasti aku mulai mengerti dengan apa yang Resha sampaikan, rasakan pedang tersebut dan gerakkan seperti sudah menjadi anggota tubuhku.
Ayunan yang tadinya sangat kasar dan kaku pun kini sudah mulai rada melembut. Raisa dan Mirai yang telah selesai memperhatikan peta kini juga ikut bergabung dengan Resha. Mereka menjadikanku sebagai sebuah tontonan.
“Bagaimana Resha, apakah sudah cukup baik,” ucapku dengan sedikit bangga meski napasku terengah-engah dan cairan di pori-pori wajahku berjatuhan tanpa henti.
“Ya, itu sudah cukup baik kawan,” kata Resha sembari menjatuhkan punggungnya ke alas rerumputan yang tebal.
Aku yang juga telah lelah, lantas ikut menjatuhkan tubuh. Berbaring dengan santai menghiraukan betapa lembabnya rumput yang kutiduri.
Mirai dan juga Raisa terlihat menoleh ke sana kemari mencari tempat nyaman lalu duduk ke posisi yang telah mereka kunci.
Lentera yang sebelumnya kuberikan kepada Mirai, kini menjadi penerang di tengah tempat kami beristirahat. Salah satu lentera kembali disimpan di inventory Raisa.
Sekitar pukul sembilan malam kami semua sudah merasakan rasa kantuk yang berat, mata seolah merem melek untuk menahan kantuk tersebut.
Raisa yang bertugas berjaga malam dalam beberapa jam pun terus mengalihkan perhatiannya ke ramuan-ramuan yang ia olah entah dijadikan apa.
Sampai di sekitar pukul sebelas malam di mana aku yang menjadi penjaga, tiba-tiba awan yang gelap menjatuhkan bebannya.
...°°°°...
Sekedar informasi
*