
"Teruslah maju. Langkah kita tak 'kan selamanya bisa sama. Jika kita terus seperti ini, yang ada kita hanya akan dimakan waktu saja.
"Tenaga yang berkuras juga akan membuat langkah lari kita akan semakin melambat!" seruku menghentikan langkah lariku.
Raisa dan Mirai ikut menghentikan langkah kakinya.
"Apa yang kamu pikirkan, Dayshi!" seru Raisa.
"Dayshi." Mirai khawatir.
Sial, kenapa mereka ah ...
"Sudahlah, Raisa teruslah pergi. Di depan sana sepertinya takkan ada lagi rumput panjang ini."
"Hei apa kamu Bodoh."
"Hehehe, kali ini biarkan aku yang menahan para momon tiger ini. Kalian cepatlah pergi, kurasa mana yang kamu miliki juga masih dapat bertahan sampai di sana."
"Dayshi."
"Aku serius, cepatlah. Aku pasti akan kembali menemui kalian. Aku janji."
Ayolah kita sudah tak memiliki waktu lagi sebelum para momon tiger itu semakin mendekat.
"Baiklah. Janji, kamu bakal kembali ya. Dasar Bodoh!" kata Raisa yang sebelumnya menundukkan kepalanya lama lalu pergi.
"Cepatlah, Mirai."
"Ta, tapi. Dayshi."
"Tinggalkan saja si bodoh itu. Lagian dia juga sudah berjanji untuk kembali." Raisa menarik tangan Mirai dan melanjutkan langkah larinya. Entah raut wajah seperti apa yang ia pasang saat ini.
Beberapa kali pada saat Raisa berlari, ia juga menggunakan tongkatnya untuk menyerang dengan skill tembakan biasa. Entah apa namanya, tetapi itu adalah skill pasif Raisa.
[Mana ampliefer terupgrade]
Baiklah, saatnya aku beraksi. Biarkan sekarang aku yang terlihat keren.
"[Mana ampliefer] level 2"
Rumus bertambah. Luas, panjang kali lebar, okey ini perisai persegi panjang.
"[Storage]"
Aku mengambil pedang pendekku dan melengkapi tubuhku dengan zirah kulit King Peanuts.
Aku berharap semoga item-item ini dapat meringankan efek serangan momon tiger.
****, okey.
Wuush, pang.... Jleb jleb..
Para momon tiger ini suka menyerang dengan terbang ke arah lawan ya. Ini membuatku semakin mudah untuk menahan dan menusuk para momon tiger itu.
Terus ... bertambah banyak ... mulai menumpuk. Hiyaat.
Pranggkkk...
Bunyi mana amplieferku yang pecah.
Luas. Sisi kali sisi, lima puluh kali lima puluh meter. Persegi ....
Tambah
"[Mana ampliefer] level 2."
Dhuarr...
Bunyi perisai mana ampliefer yang menerjang tanah.
Ketinggian lima puluh meter dengan lebarnya yang juga lima puluh meter, perisai itu menghadang para tiger dalam satu arah.
Gila, ini menguras manaku dengan cepat. Huh. Tapi tidak apa. Setidaknya untuk beberapa saat para tiger ini takkan bisa menembus pertahananku. Ya cuma yang di depan sih.
Sekarang kalian yang dari belakang akan kuhajar dengan pedang pendekku.
Eh, lumayan banyak juga. Para momon ini ... jumlahnya 60 yang mengelilingiku, belum dibalik rumput itu. Glek, heh buat inscure saja nih, skill pasif hitungku.
Sepuluh menyerang dari atas dengan sisi yang berbeda dan lima menyerang dari bawah dengan sisi yang berbeda pula.
"Tenang dan amati."
Aku mulai menghindari para tiger itu dengan melompat ke arah serong dan pedangku menghadap ke atas. Posisi lompatanku ada diperantara tiger bawah dan atas.
****..
Aku mendarat dengan berguling kemudian kembali ke posisi siaga.
[Level up]
Berhasil, aku selamat dan salah satu tiger berhasil pula kuberikan sayatan berat pada bagian perut bawahnya.
Drrrr...
Bunyi gerombolan kaki tiger terdengar heboh mendekatiku.
Apa ini? Lagi-lagi aku dikepung dari berbagai arah.
Skill pasif hitung berlevel lima kini kuganakan lebih dari pada sebelumnya. Pengamatan dan analisis, tunggu ternyata dengan skill ini juga aku dapat sedikit menganalisis pergerakan dari si tiger itu.
Baguslah, skill ini ternyata sangat berguna. Analisis bukan hanya ada di perhitungan yang menjabarkan angka saja, tetapi analisis memanglah selalu digunakan untuk memecahkan semua permasalahan.
Kini aku menjadi semakin lincah untuk menghindar. Meski begitu sayatan-sayatan dari kuku panjang tiger terus mengenaiku seiring aku menghindar.
Ini tak bisa dimungkiri karena aku masih belum pernah memiliki pengalaman pertarungan seperti ini.
Mungkin, sekaranglah pengalaman bertarungku akan terukir. Iya kalau aku masih hidup sih.
Waduh tenang Shi, aku harus tenang meski suasananya sangat tidak menguntungkan.
Menghindar, menghindar, dan menghindar. Itulah yang kelakukan sembari aku mulai mengingat akan ajaran bersenjata dari Resha di malam itu.
"Berikan aliran energi dan rasakan senjata yang kumiliki seperti menyatu dengan diriku."
"[Weak Point] level 5"
Dengan penuh segala penghayatan, kali ini aku menyerang para tiger itu. Meski tak terlalu lincah, setidaknya setiap ayunan pedangku mengenai para tiger itu.
Satu, dua ..., Sepuluh.
[Level up]
Buk, Prang...
Tiger itu berhasil menyerangku dengan kepalanya. Ia juga berhasil menggigit pedangku hingga hancur.
Mana ampliefer kugunakan untuk penghalang tadi pun sudah hancur karena aku menggunakan skill Weak Point.
"Ugh, sakit."
Aku yang terpelanting kini masih terbaring lemas. Aku kembali berusaha untuk berdiri, tetapi kekuatanku tak menyanggupinya.
Aku hanya bisa duduk bertingkat lutut dan melihat para tiger itu kembali mengelilingi dan mulai menyerangku.
"Ukh, sekarang bagaimana?"
...~Author POV~...
Di lain tempat, Raisa dan Mirai berhasil keluar dari area rerumputan alang-alang besar. Kini yang terlihat hanyalah padang rerumputan kecil dan bunga biru yang bertebaran luas layaknya lautan.
Jarak sekitar sepuluh meter, sang tiger terus mengejar meski beberapa kali, banyak yang jatuh karena serangan tembakan Raisa.
"Tiger ini tidak ada habisnya." Alis Raisa berkedut dengan kesalnya.
"Sepertinya sudah cukup!" seru Mirai yang juga sedang berlari di samping Raisa.
"Baiklah."
Keduanya kini berhenti berlari. Raisa yang memegang tongkatnya kini ditaruh dihadapannya dengan kedua tangannya.
Raisa mulai fokus terhadap tongkat Leaf Greannya. Angin di sekitar Raisa mulai menjadi kencang kemudian menjadi hampa.
Alih-alih sebuah bola terbentuk semakin membesar dan warna biru lautnya seakan bercahaya sangat terang.
Hawa di sekitar Raisa begitu hampa dan panas. Mirai yang ada di samping Raisa pun dibuat berkeringat karenanya, ia juga menyipitkan matanya saking silaunya.
"Tutup matamu!" seru Raisa sebelum mengeluarkan skillnya.
"[H-BOMB] level 3"
Whuush...
Dalam sekejap sangat sekejap, bola yang meroket itu menerobos momon agresif hingga lima puluh meter jauhnya.
Boommbb!!
Ledakan yang begitu dahsyat pun terjadi, asap mengepul besar seperti jamur, tanah seakan bergetar hebat, dan ledakan itu memberikan efek angin yang menghembuskan segala di sekitarnya.
Pengguna yang memakai skill itu pun juga terhempas bersama rekannya, Mirai. Entah seberapa jauh ia terlempar, yang jelas hingga angin yang membawanya kehabisan energi dorong.
Hancur, tak ada yang tersisa. Momon tiger bahkan rumput dan lautan bunga itu menjadi lubang tanah yang dalam.
"Mengejutkan, gempa apa yang barusan terjadi? Rumah-rumah sederhana di sini bisa-bisa rubuh. Apakah ini akhir dari desa ini?" ucap seorang wanita yang sedang berada di sebuah desa yang agak kumuh. Ia sedang memperhatikan asap yang mengepul besar dari kejauhan.
Sring...
bunyi benda tajam yang saling beradu. Mereka menghiraukan geteran apa yang terjadi di sekitarnya.
"Minggir, kalian berani-beraninya menghadangku. Makanan yang kubawa ini adalah makanan yang sudah kebeli tau!?" teriak seorang pemuda yang berada di desa itu. Ia sedang dihadang oleh gerombolan orang yang memakai pakaian kusam dengan senjata yang berupa pedang golok.
"Hei dia menyuruh kita untuk minggir," ucap salah seorang dari delepan orang itu.
"Minggir? Huahaha..." Orang bercodet di pipi tampak memimpin mereka. Ia tertawa dan membuat yang lain ikut tertawa, mereka menertawakan apa yang dikatakan si pemborong makanan itu.
"Hmm ... Apa yang kalian inginkan?" tanya pemuda itu.
"Apa yang kita inginkan? Tentu saja semua barang dan makanan yang kau bawa."
"Hoo jadi kalian ini preman tengik toh."
"Apa kau bilang!?"
"sudah sudah, aku tak suka keributan. Ingat ini baik-baik namaku adalah Resha," ucap Resha sambil memberikan sebagian kecil dari makanannya.
"Resha? Orang ini tidak waras ya. Hei coba lihat keadaanmu saat ini bocah!"
"Ini makanannya," ucap Resha dengan santainya.
"...." Mereka semua tak dapat berkata-kata lagi saking bingungnya terhadap orang yang ada di hadapannya.
"Hajar yuk," kata si codet dahi itu. Raut mukanya kesal hingga urat di sekitar pelipisnya terlihat mengembang.
"Ayo!?" beberapa anggotanya juga menyetujuinya. Mereka kemudian mulai maju berjalan ke Resha.
"Tunggu tunggu, coba lihat level dia. Statusnya sama sekali tidak terbaca." Orang yang memiliiki badan besar dan gendut tanpa otot itu menahan para temannya.
"Kenapa?" tanya Resha heran sambil sedikit terkekeh.
"Anak ini, hei barusan kamu tertawa kan. Coba lihat status kami. Level kami sudah di atas empat puluh, gimana?" tanya si preman codet dahi.
"Empat puluh? Ternyata benar kalian berandalan tengik. Baiklah akan kuanggap kalian musuh."
Para preman itu bertambah kesal. Sesaat ketika status mereka saling terlihat, mereka tertawa dengan kerasnya.
"Hei nak. Kamu itu ternyata beneran bocah ya, level tiga puluh emang kamu bisa apa sama kami."
"Ayo kita habisi anak ini." Para Preman itu kemudian mengeluarkan senjata yang mereka miliki. Pedang golok dan pedang pendek menjadi senjata utamanya.
Resha menyipitkan matanya. Jujur saja ia sangat malas bertarung seperti ini. Namun Resha juga tampak tak bermasalah untuk menanggapi mereka.
"[Machete Running Rampant] level 1"
Si preman codet dahi itu kemudian menyerang dengan mengangkat goloknya tinggi-tinggi, ia melompat dan menerjungkan goloknya ke bahu Resha.
Resha menghindar dan mengeluarkan kedua daggernya.
"Senjata yang bagus," kata si preman codet dahi itu.
Resha hanya diam lalu mundur beberapa langkah setelah si gemuk sedang berlari ke arahnya.
"[Leviathan] level 1"
Seketika orang yang bertubuh gemuk itu menjadi lebih besar hingga lima meter. Badannya seperti raksasa mini.
Ia kemudian menerjang Resha dengan kecepatan yang menyesuaikan tubuhnya, ia bergerak lambat.
Resha dengan tenang memperhatikan serangan dari si gendut itu kemudian menghindar dengan santainya pula.
"Wah wah wah, serangan si gendut ternyata menarik juga. Hmm, tapi sayang sekali kalian tampak seperti orang yang kurang pengalaman bertarung.
"Seharusnya kalian semua harus bergerak bersama. Kalian banyak tapi cuma satu persatu yang menyerang, selepas itu yang lain malah jadi penonton," ujar Resha sembari menggaruk kepalanya.
"Banyak omong! Bocah seperti kamu tak usah banyak lagak," ujar si rambut belah dua.
"Yaah, kalau seperti ini sih kutendang satu persatu juga bakal sekarat semua."
"A, apa!?" Dengan penuh emosi para preman berumuran di atas dua puluh-an tahun maju bersama-sama menyerbu Resha.
"[Attack Step] level 5"
Serangan lincah dari orang bermata satu. Ia mendorong langkahnya jatuh ke Resha dengan pedang pendek yang vertikal, lurus ke bawah.
"[Machete Running Rampan] level 1"
Serangan lompatan dari si pembawa golok yang bar-bar sekali.
"[Aerial Incision] level 6"
Preman bertampang jamet pun menyerang dengan sayatan udara yang begitu tajam dan cepat.
"[Giant hand] level 3"
Si gendut yang paling depan itu mengembalikan tubuhnya ke keadaan semula lalu membesarkan salah satu tangannya.
Resha yang melihat serangan itu kemudian tersenyum dengan canggungnya.
"Wah wah wah kalian ini gak ngira-ngira juga ya."
...••••...
Sekedar Informasi
*