
Dengan perlahan-lahan Raisa mulai memegang pundakku, wajahnya mendekati wajahku. Aku semakin deg-degan, jantungku rasanya mau copot dari tangkainya. Dengan perlahan juga aku menyingkirkan kedua tangan Raisa di pundakku.
"Raisa! Ada apa sih? Kok kamu jadi aneh begini." Aku semakin panik.
Apa yang sebenarnya Raisa pikirkan.
"Dayshi, aku ...." Raisa tak menyelesaikan perkataannya lalu kembali mendekati wajahnya kepadaku yang sebelumnya aku telah menjauh.
Kali ini aku terjatuh ke kasur yang empuk mengeper, dan dia Raisa tak menghentikan pergerakan mendekatnya. Kedua tangannya berada di samping bahuku.
Glek, air ludahku kutelan hingga terdengar jelas di telinga.
Raisa yang sudah hampir sampai menyentuh kulit hidungku lantas terlewat ke telingaku. Ia meniup benda tak bertulang keras itu.
Aku menggigil dibuatnya dan jantungku sudah tak bisa kurasakan saking kencangnya berdebaran. Aliran darahku entah mengapa naik ke kepala, membuatku tak bisa berpikir lagi.
Oh, tidak pikiranku telah mencapai titik alam semesta.
"malam ini, kita berlatih," ucapnya pelan nan lembut.
"A, a, apa?" tanyaku terbata-bata.
Sepertinya aku sudah tidak positif waras lagi, tetapi aku juga bukan orang gila yang berpikiran negatif.
HUFFFFF....
Sial, si Raisa Nur Ameliah itu malah meniup indra pendengarku dengan kencang sekali. Sampai-sampai gendang telingaku sakit dibuatnya.
"Hahahaha, kamu .... Hahaha ...." Raisa dengan puasnya tertawa terbahak-bahak. Ia berdiri sambil memegang perutnya. Namun tak bisa dipungkiri bahwa wajahnya juga merah padam.
"Aduuh perut Raisa sakit saking lucunya lihat ekspresi Dayshi." Raisa masih memegang perutnya saking serunya tertawa sendiri.
"Siaaal, kau menjahiliku ya. Lucu? Kamu ini kenapa sih, jarang-jarang kamu yang garang malah jail kayak gini. Ada hal apa? sebelumnya juga kamu seperti ingin mengatakan sesuatu." Aku sangat kesal, bisa-bisanya dia mempermainkanku.
Akan tetapi aku juga heran, Raisa memang sangat jarang seperti ini. Apa mungkin Raisa ingin menghilangkan rasa tegangnya.
"Dayshi, kamu dengar kan. Kalau kita bisa mengalahkan si Raja Gila, kita bisa keluar dari dunia ini," lanjut Raisa.
Tuh kan, tebakanku benar tadi. Raisa sungguh membicarakan tentang si Raja Gila itu.
"Terus," kataku penasaran dengan apa yang selanjutnya akan dikatakan Raisa lagi.
"Jadi kalau kamu terus-terusan lemah begini, mustahil 'kan untuk keluar. Mental gak kuat, kekuatan masih sedikit sekali, fisik pun juga begitu-begitu saja.
Benar-benar mustahil untuk mengalahkannya. Bisa dibilang, slime kecil berlevel satu pun kamu gak bisa ngalahin Dayshi," ujarnya dingin.
Ukh, Kata-kata Raisa menusukku berkali-kali. Jahatnya, hatiku bisa-bisa jadi ikut membeku nih gara-gara panah esnya. Beneran ya, kalau Raisa bicara gak mikirin perasaan orang.
"Stop." Aku memegang dadaku sambil menunduk, seolah aku terkena panah es yang beracun. Dingin dan menyakitkan, damagenya pun gak ngotak sama sekali terhadap hatiku. aku tak dapat membantahnya.
"Beneran 'kan? Faktanya memang begitu kok. Jadi, Dayshi, malam ini juga kita harus latihan!" Seru Raisa dengan semangat tiada tanding.
"Latihan di kamar, Sa?" ujarku dengan polos.
"Bodoh, kamu bisa apa latihan di kamar. Yah diluar lah, kita cari tempat yang bagus untuk latihan."
Raisa sangat serius, terlihat dari ekspresinya yang begitu bersemangat. Bahkan dia memukul kepalaku saking seriusnya. Ya, mungkin ada maksud lain dia memukul kepalaku.
"Sekarang nih, Sa. Sudah sore sekali, malahan sudah mau malam, Sa. Nanti dicari bagaimana?" Aku mengelus kepalaku yang baru saja dipukul Raisa. Dia memang gak punya perasaan kalau soal memukulku.
"Aah, kamu ini yah. Belajar dua hari kemarin saja kamu masih sangat kurang. Coba dilihat HP yang kamu miliki sekarang berapa?"
"605"
"Tuh kan, lihat berapa perbandingannya dengan Si Raja Gila itu. Palingan ketika si Raja Gila melirikmu saja sudah KO kamu." Raisa sangat geram melihat perbandingan yang sejauh itu.
Sudah dipastikan kami sama sekali tak dapat menyentuh si Raja Gila ketika berhadapan. Raisa yang kini HP-nya juga sudah 3000, masih sangat jauh dari si Raja Gila itu.
Bisa dibilang untuk mengalahkan dia itu nol banding sejuta umat untuk mengalahkannya saat ini. Ya, artinya itu mustahil. Level Raisa kini sudah 11.
Untuk menambah HP, kami sangat membutuhkan atribut yang juga nantinya berguna untuk menambah MP dan lain sebagainya, tergantung dari atribut tersebut.
Untuk itulah Raisa menarik aku keluar untuk berlatih. Walaupun malam, kami harus berlatih karena besok pasti kami akan berangkat pergi mencari Alice. Aku juga sungguh masih terlalu awam, HP yang 600-an itu sangat sedikit.
Bahkan aku masih belum mendapatkan skill aktif. Yang ada hanyalah skill pasif dari kegiatan tertentu, dan itu pun bukan skill untuk menyerang.
Seperti skill hitung, skill ini membuatku dapat menghitung benda lebih cepat. Semakin kulakukan semakin naik juga skill-ku. Ketika skill ini maks maka aku tak perlu untuk menghitung lagi, cukup dilihat secara sekilas semuanya sudah dapat kuketahui berapa jumlah dari semuanya itu.
Menurutku skill hitung ini tak akan berguna untuk pertarungan, mungkin untuk saat ini aku mengatakannya begitu. Yang jelas sekarang aku akan berlatih lagi untuk mencari skill-skill lain yang nantinya dapat berguna untuk pertarungan.
"Ya sudah, Sa. Kita latihan di luar, Biar aku yang izin dengan pelayan di sini agar pak Opin nanti mengetahui kita di mana." Itulah yang aku katakan setelah berpikir ke mana-mana dengan waktu yang sedikit lama. Raisa yang menunggu jawaban ku sedari tadi langsung berdiri tak sabar untuk berlatih.
...-HUTAN KOTA BOAS-...
Ternyata di sekitar Kota Boas terdapat beberapa hutan. Hutan Kota Boas adalah hutan yang dirawat, kayu dari hutan inilah yang biasa digunakan oleh pandai kayu dari kota Boas untuk membuat berbagai macam benda juga tempat tinggal.
Di malam hari ini, semuanya terlihat cerah beremang-remang berkat cahaya rembulan yang bulat purnama.
Di hutan kota Boas terdapat beberapa momon yang menjaga hutan ini. Mungkin momon ini juga fitur dari dunia ini untuk menaikkan suatu level. Ketika kita mengalahkan momon, biasanya kita akan mendapatkan drop item.
Drop item ini berupa item menarik, seperti benda atau aksesoris. Untuk mendapatkannya, kita harus memiliki keberuntungan yang tinggi.
Drop item yang didapatkan bisa dijual. Semakin langka item tersebut didapatkan, maka semakin mahal pula item tersebut untuk diperjual-belikan. Item yang tidak dijual dapat digunakan, tetapi item yang double akan tetap tersimpan dalam inventory.
Momon dari hutan ini berbentuk seperti kacang bulat yang berkulit kayu, Momon ini disebut peanuts karena bentuknya seperti kacang tanah.
Kalau dilihat HP dari momon ini sekitar tiga ratus sampai lima ratus, level-nya pun sekitar lima sampai sepuluh. Sedangkan aku juga masih level empat.
Informasi ini sebenarnya terlihat sendiri di atas kepala momon tersebut. Kata Raisa untuk melihat informasi teman atau apapun yang ingin di tahu. Aku cukup mengatakan kata "info" dan muncullah informasi yang mau dilihat.
...➕➖✖️➗...
Main Quest adalah tantangan utama yang harus kuhadapi. Saat ini Main Quest aku adalah bersihkanlah, satukanlah, dan jayakanlah. Dan semua itu ternyata terfokus pada satu titik yaitu mengalahkan si Raja Gila.
Quest kecil yang lain akan didapatkan dari permintaan seseorang. Setiap Quest yang diberikan dan diselesaikan, maka akan memperoleh imbalan juga sesuai dengan tingkat kesulitan Quest tersebut. Semakin sulit maka akan semakin bagus juga imbalannya.
Sekarang di hutan ini kami akan mulai berlatih sambil mencari item yang menguntungkan. Latihan kami yaitu melawan peanuts, bagiku melawan peanuts tersebut sudah sulit untuk dilawan. Aku hanya bisa melawan peanuts satu persatu dan itupun membutuhkan beberapa menit untuk mengalahkannya.
Berbeda dengan Raisa, Raisa sangat cepat mengalahkan peanuts itu. Bahkan skill-nya sangat berguna melawan peanuts itu. Dengan skill areanya Raisa dapat membunuh 3 peanuts per-sekon-nya. Apabila Raisa mengumpulkan peanuts itu dengan memancingnya, Raisa dapat membunuh 15 peanuts per lima detik. Sungguh skill yang menakjubkan.
Di latihan ini kami menggunakan sistem party karena kami ingin menciptakan keterampilan bertarung kami walau point XP[1] yang kami dapatkan juga
Memang sistem party sangat bagus cepat untuk menaikkan level, tetapi seperti yang kukatakan sebelumnya kami ingin menciptakan keterampilan bertarung kami tanpa adanya ketergantungan. Bisa dibilang mencari gaya bertarung sendiri yang lebih cocok untuk dipakai.
"Daisy, sepertinya ini sudah cukup. Raisa sudah mulai berhadapan dengan Boss Area[2]. Sekarang kita Party." Raisa mengundang aku dalam party nya. Kini kami akan mulai berhadapan dengan Boss peanuts, inilah pengalaman pertamaku melawan Boss Momon[2].
...••••...
Sekedar informasi.
Point XP atau EXP adalah singkatan dari experience yang artinya pengalaman. Seperti di dalam game, untuk menaikkan level,maka harus mengumpulkan poin pengalaman yang telah ditentukan. Ketika level Semakin tinggi, maka akan semakin tinggi pula point experience yang harus dikumpulkan.
Boss Momon/boss area adalah pimpinan dari para Momon, hanya muncul ketika membunuh banyak Momon. Banyak di sini tidak di tentukan, bisa saja dalam satu orang membunuh 10 Momon bahkan 50 lebih momon baru akan muncul boss momon tersebut.
...•...
...•...
...•...
...•...
...•...
...•...
...Vote, saran, like dan komennya yah...
...Bantu Swan (Panggilan Author) untuk berkembang, oke....