My Power Of Math Fantasies

My Power Of Math Fantasies
5.14 Dentingan duel Resha dengan Mio, si dalang penculikan Pak Opin



"Ck ... kenapa jadi seperti ini. Ugh ...." Rasa sakit itu bertambah kali lipat dari yang sebelumnya. Aku memuntahkan darah beberapa kali hingga terbatuk-batuk.


"Uaaaakkkkhhh .... " Teriakku tak tahan akan penderitaan ini. Selintas sesosok wanita berambut pendek terbayang pada penglihatanku yang sudah tak panas lagi. Sosok itu berdiri sambil melihatku khawatir dan berkata, "Baiklah. Janji, kamu bakal kembali ya. Dasar Bodoh!" kemudian berlalu pergi meninggalkanku dengan wajah yang sejenak tertunduk.


Aku kemudian bangkit dengan kaki yang masih berlutut. Kesadaranku yang pudar kupaksakan untuk berfokus sehingga aku terdiam hingga beberapa waktu.


"Raisa ... Mirai," kataku lalu berdiri menggunakan kaki. Aku menghiraukan tanda peringatan yang masih terlihat di sudut pinggir kanan pandanganku. Health Point 3% kurasa dengan yakin masih bisa bertahan.


"Aku harus mencari mereka," gumamku lalu berlari pergi ke arah lubang-lubang yang cukup besar buatan pengoboman Raisa tadi.


Seiring berlariku di tengah padang alang-alang yang gundul, aku juga melihat ribuan cahaya putih yang terbang naik ke atas bagaikan kunang-kunang. Cahaya kecil bak percikan api itu rupanya adalah ribuan mana yang sebelumnya berbentuk momon Tiger.


Si Gadis harimau itu ternyata memiliki mana yang sangat banyak. Mana yang dapat berubah wujud menjadi makhluk yang nyata Itu kukira sangatlah sulit untuk dibuat.


Dan lagi saat aku melirik ke belakang ternyata ada dua tiger yang bukan merupakan mana. Dia, lawan yang sangat tangguh. Jika tadi adalah diriku yang sebenarnya, mungkin aku takkan bisa bernapas saat ini.


*Tap Tap Tap...


"Kuharap kalian baik-baik saja."


...~Author POV ~...


...-Desa Orchid-...


*Brzztt Dhuarr..


*Dhuarr...


Kilauan tebasan putih menghancurkan tanah dan beberapa rumah penduduk. Untungnya tak ada warga di dalam rumah yang telah tertebas hancur itu.


Beberapa kali terdengar pulalah dentingan-dentingan senjata logam yang beradu di udara. Jika dilihat hanya percikan-percikan api dan kilauan-kilauan senjata Silver mengilatlah yang terus berdatangan di berbagai di udara.


Tak jarang dari peraduan persenjataan keduanya terus menghancurkan tempat di sekitarnya. Bahkan kepulan debu pun membuat kelima orang yang ada di tempat itu tak dapat bergerak sama sekali.


Kelima orang itu hanya bisa menelan ludah dan berharap pertempuran keduanya segera berakhir. Untungnya tiap ada serangan yang menuju mereka, selalu di tangkis pula oleh si pengguna dagger.


"Boss...." ucap orang yang bertubuh besar dan bergemetar hebat dari pada ke empat orang yang lainnya. Nama orang itu adalah Ryan salah satu anggota para preman yang sebelumnya menyerang Resha.


"Di-diamlah," perintah orang yang dipanggil Boss itu dengan terbata-bata. Yang tak lain ia adalah si codet dahi, Nartou.


*Ctrang


Sebuah serangan baru saja terhalang lagi tepat di hadapan Nartou. Pemuda yang memiliki level 163 yang menghadang serangan itu, berhenti setelah menahan serangan sayatan dari wanita yang memiliki level 159.


"Re-Resha?" kata Nartou dengan raut wajah terkejut.


Resha yang telah menampakkan dirinya itu lantas melirik Nartou.


"Cepatlah pergi dari sini," ucap Resha sembari menahan tiga serangan sayatan berturut-turut.


"Ba-ba-ba-baiklah. Hei kalian, ayo cepat pergi." Para preman itu kemudian bangkit dengan tergesa-gesa dan segera bergegas ke pemukiman yang lebih aman.


"Hei, jangan lupakan ini!" seru Resha sembari melemparkan sesuatu setelah merogoh lubang hitam kecil sebelumnya.


Sesuatu yang besar itu kemudian jatuh tepat ke arah para preman itu.


*Brak...


Salah satu di antara mereka, tepatnya si kumis lele yang tadinya baru sadar kini kembali hampir tak sadarkan diri berkat tertimpa sesuatu yang besar terselimuti kain putih.


"Petrick! Kau tidak ... Woaaah!" serunya saat mereka memperhatikan isi dari benda yang menimpa temannya.


Benda yang besar itu ternyata berisikan sembako. Mereka yang melihatnya langsung memiliki mata yang berbintang-bintang.


Dengan cepat pula mereka duduk bersimpah sembari kedua tangan mereka di angkat ke atas tinggi-tinggi lalu turun lurus sambil membungkukkan badan. Gerakan itu terus mereka ulang beberapa kali bak memuja-muja Resha dengan ucapan terima kasih.


Resha yang menangkis serangan-serang yang bertambah kuat lantas menjadi kesal, mengernyitkan alis, melihat tingkah dari para preman itu.


"NGAPAIN KALIAN MASIH DI SINI, CEPAT PERGI!?" geram Resha.


Para preman itu pun akhirnya bubar dengan menggotong benda yang berisikan sembako itu. Resha yang melihat mereka telah pergi lantas menghembuskan napas. Namun selang tak berapa lama Resha menarik napasnya hingga raut mukanya berurat.


"KAU JUGA CEPAT PERGI, JANGAN TIDUR!" pekik Resha. Rupanya teman mereka yang tertimpa sembako tadi masih terkapar dengan pantatnya yang naik ke atas.


Tak tanggung-tanggung Resha menendang pantat orang itu dengan sekuat tenaganya, sehingga orang yang terkapar itu langsung mendarat ke kawanannya yang telah jauh berada di tempat yang cukup aman.


*Dhuarr ... Wush


Mio, yang menyerang Resha terjun dari atap berniat menyerang secara langsung dengan katananya. Resha yang merasakan kehadiran Mio dengan instingnya, lantas mendorong tanah hingga hancur dan terbang ke arah Mio.


Bahkan dentingannya saja membuat gelombang kejut merambat di udara dengan suara dan cahayanya yang mengisi atmosfer di desa Orchid. Alih-alih para penduduk bergerumbungan keluar dari rumahnya, dan sebagian yang berada di lahan tanah keringnya memberhentikan pekerjaannya.


Mereka semua memandang langit di mana sebuah gelombang horizontal terlihat sekilas memperlihatkan cahayanya bagaikan kilatan di siang hari bolong.


Tepat ketika pandangan para penduduk jatuh ke tempat di mana kepulan debu berkumpul. Mereka semua lantas menjadi panik dan merasakan hal-hal buruk akan menimpa mereka.


Berangsur-angsur terdengar bunyi gemuruh disertai hancurnya rumah disekitar sana dengan tanah yang berubah menjadi kepulan debu. Tempat itu sudah seperti terkena oleh badai angin topan.


Semua penduduk pun akhirnya mengungsi hampir keluar dari pemukiman desa. Dan orang yang memberikan arahan tersebut rupanya adalah kelima preman tadi.


*Brzzzttt


Mana yang teraliri di persenjataan masing-masing menghasilkan geprakan mana ketika saling beradu. Di sisi Mio, aliran mana ungu melapisi katananya. Sedangkan di sisi Resha, aliran mana abu-abu lah yang menyokong kedua daggernya.


Keduanya yang saling menekan, kembali mundur dan saling menyerang lagi. Dentingan demi dentingan menghasilkan gelombang sayatan yang menghancurkan lingkungan disekitarnya.


"Kamu Mio kan?!" tanya Resha seolah memastikan.


Wanita bersuraikan hitam itu tak mengeluarkan suara, tetapi ia mengangguk seolah mengiyakan pertanyaan Resha.


Resha menggertakkan giginya.


"Kalau begitu kaulah yang telah menculik pak Opin di desa Rose bukan?!" tanya lagi Resha dengan nada yang tinggi.


Wanita yang berkimono itu kembali menganggukkan kepalanya tanpa mengatakan sepatah kata pun. Raut wajahnya terlihat begitu datar menatap fokus Resha.


Resha yang melihat jawaban itu kemudian mengeratkan gemggamannya pada kedua daggernya. Ia tersenyum penuh dengan kekesalan sembari melihat keadaan sekitarnya yang telah luluh luntak.


"hmhmhm hu huh huahah-ha-ha." Resha tertawa bergumam lalu terbahak-bahak.


"Anjing pintar," lanjut Resha sembari tersenyum memperlihatkan sebelah gigi gerahamnya.


Mio yang melihat itu menjadi sedikit terkejut. Raut wajahnya memanglah masih datar, akan tetapi iris mata merahnya yang mengecil telah menjelaskan segalanya.


...➕➖✖️➗...


Di sisi lain dengan waktu yang sama, Dayshi terus berlari setelah melewati lubang tanah hancur yang begitu besar. Hingga pada akhirnya ia melihat kedua rekannya, Mirai yang berjongkok dan Raisa yang terbaring di bunga nemophilia ungu yang lebat.


"Mirai, Raisa ... Sepertinya kalian tak baik-baik saja," ucap Dayshi terengah-engah. Darah di seluruh bagian tubuhnya masih menetes, dan kepalanya mulai kembali pening. Bagian dada tak busungnya pun terlihat naik turun dengan hebatnya.


Masih dengan perasaan khawatir, Dayshi mulai memaksakan gerak langkah jalannya menuju kedua rekannya itu. Namun ketika ia baru berjalan dua langkah, terlihat sesosok pria yang mengenakan zirah rambatan daun melancarkan serangan tangannya ke punggung Mirai.


"MIRAI!?" Pekikan keras keluar dari mulut Dayshi. Dayshi sudah tak dapat melakukan apapun, ia hanya bisa menyerukan nama Mirai dari kejauhan.


Akan tetapi ....


*Zleb


Tak dapat dihindari, Mirai tertusuk tepat di bagian punggungnya. Tangan terlapisi daun merambat pria itu bahkan menembus ke tengah dada Mirai.


Dayshi yang menyaksikan jelas kejadian itu tak dapat berkata apa-apa lagi. Pikirannya kosong dan dipenuhi dengan perasaan negatif, ia telah menghiraukan rasa sakit pada suluruh bagian tubuhnya. Hanya amarah dan kebencianlah yang kini menguasainya.


Tak tahan dengan emosi, Dayshi berlari ke orang yang menyerang Mirai. Kata-kata mutiara api jahannam mulai Dayshi keluarkan bagaikan membaca mantra sihir yang panjang.


Pas ketika Dayshi melompat ke arahnya. Pria itu langsung mencabut tangannya dari badan Mirai, dan dengan cepat pula menangkap leher Dayshi ketika masih berada di udara.


"Wah wah wah, ada anak kotor nih. Yah tak apa-apa, lagian tanganku juga telah penuh dengan noda yang sama denganmu."


Dayshi yang tertangkap tak dapat melakukan apapun selain meronta kesakitan. Tubuhnya yang sudah diambang batas juga tak dapat melawannya untuk melepaskan diri.


" Wah wah wah, Tenang lah kawan. Kau juga bakal kukirim ke tempat yang sama dengan kedua temanmu," ucap pria itu, Vyno, sembari menguatkan cekikannya Perlahan-lahan.


*Dhuarr dhardhardharduarr....


Bunyi ledakan berturut-turut membuat perhatian Vyno mengalihkan perhatiannya ke sumber suara. Tekanan kuat seketika terasa begitu mencekam, hingga membuat Vyno melepaskan tangannya dari Dayshi.


Dayshi sendiri telah lemas dan pingsan. Persenan HP-nya pun ternyata telah turun ke angka satu. Vyno yang kembali ke perhatian awalnya, tertawa gembira melihat tiga orang telah ia kalahkan.


Tak seberapa lama, kegembiraan Vyno itu menjadi kembali tertekan karena aura yang mencekam terasa semakin kuat. Vyno kemudian bangkit berdiri tegak dan berlari ke sumber tekanan, yaitu desa Orchid yang tak jauh dari tempat ia berpijak.


...°°°°...


...Jika anda menyukainya, jangan lupa like and komen ya....