My Power Of Math Fantasies

My Power Of Math Fantasies
11. Last : The MAD and The Crazy



"Luar biasa, dunia macam apa ini? Benda-benda apa yang mereka pakai sampai bisa bergerak secepat itu?!"


Seruan lantang keluar dari orang yang memiliki badan bongsor ketika baru melihat banyak kendaraan melintas di jalan raya. Untuk kali pertamanya ia melihat dunia yang berbanding terbalik dengan dunianya. Dunia yang penuh dengan teknologi yang banyak mengandalkan listrik. Umpamanya elemen tersebut menjadi elemen terpenting yang menggantikan mana.


"Hehehe, inikah tugas pertama seorang supervisor. Sungguh-sungguh-sungguh-sungguh sangat luar biasa sekali bwa hahaha...."


Orang berbadan bongsor itu dikenal sebagai Lestopine Verst atau yang dulu masih dipanggil dengan sebutan Verst. Ia benar-benar bahagia sendiri dan mematangkan dada bujangnya itu untuk tertawa terbahak-bahak.


Ya itu sudah menjadi ciri khasnya tersendiri. Ketika melihat sebuah acara di papan iklan yang bergerakpun ia langsung terkagum bukan kepalang.


"Aku jadi duta shampoo lain, haa? Ahahaha... Dulu pernah coba shampo lain, dan ....(huruf miring."


Seputar iklan terkilas di hadapan Verst. Ia terkesan dengan rambut hitam wanita yang ada di dalam iklan tersebut. Rambut hitam wanita itu terkibas dan mengkilap seperti kepala Verst.


Verst memegangi kepalanya lalu tenggelam oleh khayalannya sendiri. Apakah rambutku akan bisa tumbuh seperti wanita itu, khayalnya.


"Hahaha, apa-apaan tuh. Apa aku bisa mengibaskan rambut di kepala juga? Hahaha, Jadi duta shampo lain dong hahaha!"


Verst keluar dari khayalannya dan kembali mengamati benda besar kotak itu.


"Mana seperti apa ya yang mereka masukkan untuk melakukan itu. Apakah mereka menempelkan lumut cahaya untuk membuatnya bercahaya. Ini sudah di luar dari pikiranku ha-ha-hahaha. Mungkin aku harus membongkarnya terlebih dahulu untuk mengetahuinya."


Verst memanjat ke atas papan iklan digital tersebut. Sampai-sampai ia malah menjadi sorotan perhatian warga sekitar. Apa yang dia lakukan naik ke atas sana? Apa dia seorang tukang servis, kukira tak ada kerusakan di atas sana? Warga pun bertanya-tanya tentang persoalan dia.


Verst dipenuhi rasa penasaran dan semangat, tanpa ia rasakan ia sudah sampai di atas. Verst masih bingung apa yang menyebabkan benda itu menyala dan bergerak-gerak.


Verst terus meraba-raba benda kotak itu ke mana-mana.


"Apa yang kamu lakukan di atas sana? Turun sini!!"


Salah seorang warga sekitar menegur Verst karena merasa risih. Seiring waktu orang-orang mulai berkumpul dan meneriaki Verst. Bahkan banyak diantaranya merekam aksi Verst dengan ponsel dan kamera.


"Apakah mungkin karena ini. Aku merasakan sesuatu yang mengalir di dalam sini."


Verst memegang kabel yang mana juga terhubung ke dalam papan iklan tersebut. Para warga bertambah panik melihat tingkah laku Verst.


"Astaga sepertinya dia orang gila. Turun woi, turun. Jangan sembarangan pegang. Badan bagong gitu bisa mati kamu sembarangan dimainin... Kek anak kecil ae, turun woi."


Verst tak menggubriskan sama sekali apa yang para warga cemoohkan. Ketertarikannga pada sesuatu membuat ia sangat lupa diri. Ia mulai tersenyum gila kemudian menarik kabel tebal di hadapannya dengan sangat kuat.


"Anak gila!?"


Ctas. Zsrt....


Cahaya listrik seketika mengkilat sesaat kabel tersebut putus. Para warga berteriak histeris.


"Aaaaaaakhhh," teriak pria jantan itu.


"Cepat telpon pemadam kebakaran!"


****


"Ukh,"


Rasa panas dan dingin seolah menyelimuti tubuh Verst. Ada sesuatu yang menggelitik dan membuat Verst kembali kesadarannya. Sangat lembab dan basah sekali. Pandangan Verst yang masih buram berusaha keras untuk dapat melihat dengan jelas.


Gelap, hanya warna hitam yang dapat dilihatnya. Bahkan Verst harus beberapa kali memerjapkan mata dan itupun juga dikarenakan rintikan air yang terus menghalanginya. Suara berisik kini mulai terdengar dengan jelas. Rupanya hari sudah malam dan hujan deras sedang terjadi.


"Aku dimana?"


Tubuh Verst gemetar, muncul listrik listrik kecil di sekujur tubuhnya bak kunang kunang.


"Oh, iya tadi ada sesuatu yang menyerangku."


Verst mengingat bahwasanya ia tadi tanpa sengaja menggunakan kekuatan teleport yang merupakan bekal dari Dream World. Ia bangun di lorong yang sepi dan penuh akan dengan sampah.


"Ukh."


Bau busuk menyengat membuat Verst harus menutup lubang hidungnya. Ketika ia akan berjalan keluar dari lorong, Verst melihat sesosok remaja berwajah murung. Ia tak menggunakan payung dan membiarkan tubuhnya kebasahan begitu saja.


[Apakah anda ingin memilih target tersebut?]


[Ya] [Tidak]


Verst terdiam sejenak. Rupanya anak tersebutlah yang akan menjadi target Verst untuk membawanya ke dalam dunianya.


[Ya]


Ada beberapa syarat yang memang harus dipenuhi untuk memilih orang yang akan dibawanya ke dalam dunia Verst. Yaitu yang paling diutamakan ialah memiliki keinginan kuat untuk menguasai apa yang ia inginkan.


Verst segera keluar dari lorong lalu mengejar remaja tersebut. Remaja yang mengenakan kameja putih dengan celana abu-abu. Ia menggondong tas yang tampak tak berisi.


Remaja tersebut menghentikan langkahnya lalu membalikkan badan melihat Verst. Ia seolah sadar bahwa dirinya akan diikuti.


"Apa yang kamu inginkan?" tanya remaja tersebut.


"Hahaha, kau membuatku terkejut. Hei nak, tampaknya kau harus berteduh dulu, tubuhmu sangat basah sekali."


"Maaf pak, kurasa itu juga berlaku kepada bapak," balasnya yang kemudian ia melanjutkan jalannya.


"Hahaha, eh nak tunggulah sebentar."


Remaja tersebut tak menghiraukan Verst. Ia semakin mempercepat langkah jalannya. Verst yang tak mau mau kehilangan target lantas ikut mempercepat langkah jalannya untuk mengejar remaja tersebut.


Merasa dikejar, remaja tersebut lantas berlari secepat mungkin ia bahkan masuk ke dalam lorong-lorong kecil sebagai jalan pintas. Verst tetap mengejarnya, ia mengikuti dimana remaja tersebut berlari.


Mereka terus berlari, percikan-percikan air yang diinjak bahkan lebih banyak membasahi pakaian mereka. Mereka bahkan melewati jalan raya, yang mana Verst hampir saja ditabrak oleh kendaraan beroda empat, tetapi Verst berhasil melewati nya dengan teknik perisai invisiblenya. Mobil tersebut seolah tak menabrak, tetapi sedikit oleng karena terkejut.


"Man mungkin?" Remaja tersebut kaget melihat apa yang dilakukan Verst, tetapi ia tetap tak menghentikan langkah larinya hingga ia merasa penat untuk berlari.


Akhirnya remaja tersebut berhenti di suatu taman. Ia menunduk mengatur napasnya.


"Apa yang kau inginkan, kenapa kau mengejarku?" tanya remaja itu.


"Dengarkanlah aku sebentar nak."


"Siapa yang mau mendengarkan orang sepertimu. Orang aneh yang memakai jubah hitam dengan kepala tertutup dan bahkan mengejarku seperti psikopat."


"A hahaha... "


Verst tak bisa menyanggah perkataan tersebut.


"Coba lihat wajahku baik-baik, apa aku seperti seorang psikopat."


Verst melepaskan tudung kepalanya. Remaja tersebut seketika terdiam dengan wajah terkejut bukan main.


"Hahaha, ba****an. Rupanya bapak ini om-om cabul yang mengejarku ya."


"A-Apa?!"


"Om jangan om. Ampun dah, aku masih mau normal."


Bocah sialan, jujur sekali Verst mengumpat dalam hatinya. Ia menahan amarahnya, yah ini sudah biasa terjadi.


[ Profil target telah diselesaikan .... ]


Pencarian target yang akan dikirim ke dunia lain merupakan misi utama dari seorang supervisor. Misi inilah yang menjadi penentu kelayakan seorang supervisor, apakah ia akan lolos dengan membawa target tersebut ke dunianya ataukah ia akan gagal dan kembali dengan tangan kosong.


Salah satu bekal yang dianugerahkan oleh supervisor adalah mendapatkan kemampuan untuk memahami target. Baik masa lalu, perasaan, dan segala hal dari target tersebut akan dapat dipahami oleh Supervisor. Sayangnya kemampuan ini hanya berlaku untuk satu target sehingga tak kan ada lagi target lainnya.


Sejenak Vers terdiam mematung memandangi remaja tersebut. Ia memang tampak seperti preman, remaja yang nakal dan suka melawan aturan. Tapi jika diperhatikan baik-baik, remaja tersebut lebih tampak seperti remaja yang kesepian dan kurang kasih sayang.


Kantong mata remaja itu terlihat bengkak dan memerah, tampak pula sedikit hitam. Remaja yang sehabis menangis dan sering kurang tidur. Ekspresinya terlihat panik namun sikapnya masih begitu waspada.


"Nak, Apa kau tidak penasaran denganku. Apa yang kuinginkan darimu bukanlah seperti yang kamu pikirkan. Kamu selamanya tak bisa mengetahui orang lain."