
...~Author POV~...
Bermula saat keluar dari sebuah desa yang tersembunyi. Namun belum satu hari mereka sudah kewalahan dan berakhir terpisah-pisah.
Kini, mereka sedang menghadapi masalah yang tak pernah mereka duga. Akankah mereka dapat keluar dari situasi kacau itu?
Baiklah, sekarang kita lanjutkan saja ceritanya kembali ....
...~Dayshi POV~...
"Ukh, sekarang bagaimana?"
Para Tiger itu mengelilingiku dan mulai menyerang secara serentak. Aku yang masih lemas akibat serangan sebelumnya hanya bisa duduk bertongkat lutut.
Apakah ini adalah akhir dari perjalananku? Apakah aku akan kembali mengulang permainan ini? Tetapi katanya kalau aku gagal, permainan ini bakal lebih sulit lagi.
Aku menghembuskan napas yang begitu berat.
"Dayshi jangan pesimis. Aku sudah berjanji, aku tak boleh mengingkari janji itu dengan mati konyol seperti ini. Setidaknya aku harus berusaha."
Dengan meyakinkan diri, aku kembali berusaha berdiri sembari memikirkan hal apa yang bisa kulakukan dalam keadaan seperti ini.
[Mana ampliefer terupgrade]
Tiger itu semakin mendekat, mungkin tak sampai sepuluh detik ia sudah bisa menerkamku.
Aku berusaha fokus hingga menutup kelopak mataku. Semua suara yang terdengar kuredam baik-baik.
*Brzzzt
Kepalaku tiba-tiba menjadi berat dan panas, begitu pun dengan mataku yang juga memanas seakan ada benda cair seperti minyak kayu putih yang membuatnya pedih.
Pikiranku seakan terfokus akan sesuatu, tapi aku juga merasa bukan aku yang memikirkan hal tersebut. Bibirku pun mulai bergerak menyebutkan sesuatu dengan sendirinya.
"Luas. Empat pi er kuadrat ..."
"... 1256 meter."
*Bruash...brrrk
Entah mengapa sesuatu yang hebat terdengar di telingaku. Itu bunyi nyaring tanah yang seakan terhantam benda berat dan bunyi hantaman tubuh makhluk hidup.
Seketika saat aku membuka kelopak mata, pandangan sekelilingku menjadi penuh dengan debu.
Ada sesuatu yang seperti kaca berwarna biru bening yang terlihat sebelum melihat kepulan debu itu.
Dengan jantung yang masih berdegup kencang, aku memperhatikan sekeliling dengan kepalaku yang bergerak ke mana-mana.
"A, apa ini? Mana amplifier?"
*Przt przt...
"Notifikasi? Oh bukan, ini layar utama."
Layar virtual hologram terlihat di hadapanku. Sepertinya tadi aku tak memperhatikannya dengan baik-baik, ya tadi itu aku sangat fokus akan keadaan yang terasa aneh ini.
Jadi, apa yang tertulis dalam layar hologram ini?
Kuperhatikan dengan baik-baik meski mataku masih terasa panas, meski oksigen sulit untuk kuhirup.
...➕➖✖️➗...
[New Skill tree [Mana 3D] level 1
Skill ini merupakan skill lanjutan dari Mana ampliefer. Mengeraskan mana dan juga dapat anda buat dalam berbagai bentuk dengan tingkat kekerasan dan kelenturan seperti yang anda inginkan.
Bentuk yang anda buat sekarang memiliki ruang. Di mana memiliki panjang, lebar, dan tinggi.
Mengurangi 500 MP.
Syarat :
1. Harus berimajinasi untuk mengeluarkannya. Semakin kuat penggambaran yang anda imajinasikan, semakin keras dan baik pula bentuk mana yang anda buat.
2. Apa yang anda bayangkan maka hasil dan rumus akan selalu berkaitan.
Rumus :
Saat ini anda hanya mendapatkan rumus bangun ruang bola.
L \= 4πr²
(luas sama dengan empat pi er kuadrat)
V \= (4πr²)/3
(volume sama dengan empat pi er kuadrat per tiga)
...➕➖✖️➗...
"Mana 3D? Ini skill tree?"
Aku kembali memperhatikan benda yang seperti kaca itu dan ternyata aku berada di dalam sebuah bola, tepat di tengahnya, aku seperti terbang di udara.
Mana 3D ini melindungiku. Bahkan tanah yang tadi kupijak saja telah tenggelam tertekan mana 3D ini.
Jika aku melayang seperti ini, bagaimana aku dapat bergerak? Sebelum itu, bagaimana dengan para tiger yang menyerangku tadi?
Aku kembali memperhatikan kepulan debu yang mulai menghilang secara perlahan. Siluet para tiger kini mulai terlihat pula.
A, apa? Tiger ini tangguh sekali! Mereka sama sekali tidak ada yang mati. Hanya saja HP yang terlihat di sebagian dari para tiger itu telah berkurang menjadi 50%.
*Trangtrangtrang...
Para momon tiger itu sama sekali tak gentar. Apakah nafsu mereka sangat tinggi untuk membunuhku?
Sudahlah dari pada itu, aku tak boleh terus diam seperti ini. Aku harus mengalahkannya sebelum Mana 3D ku ini hancur. Pasti ada cara ... Yui!?
"Yui, beri tahu aku bagaimana caranya agar aku bisa bergerak di dalam bola mana 3D ini?"
"Cara agar anda bisa bergerak di dalam bola mana 3D ini adalah; pertama kontrol aliran mana anda agar tidak tegang, kondisi anda yang tegang akan membuat aliran mana anda mengalir dengan cepat.
"kedua, jika anda dapat menguasai aliran mana yang tegang (dengan sengaja), maka anda dapat bergerak seperti halnya berjalan di udara."
Ada dua cara ya. Baiklah untuk pertama aku gunakan saja cara yang pertama.
"Kontrol aliran mana agar tidak tegang."
Baiklah, kalau begitu aku harus menenangkan diri lagi. Rileks dan buang pikiran yang buruk.
Perlahan aku merasakan tubuhku seolah menjadi ringan dan terjun ke bawah dengan perlahan.
Aliran mana mulai kurasakan dengan jelas, aliran ini terkontrol dengan baik pada bagian bahu hingga tanganku.
*Tep .... Tap tap tap....
Tepat pada saat aku menginjakkan tanah, aku langsung berlari ke atas mengincar para tiger itu.
Bola mana 3D ini tak bergerak sebelum aku menjulurkan tangan untuk mengontrolnya. Pas ketika aku berada di dekat para tiger, barulah aku menghempaskan Bola mana 3D ku ini.
Para tiger yang berada di hadapanku langsung mati kehilangan nyawa. Walau begitu tetap saja jumlah yang berada di sekitarku masih tergolong banyak.
"Masih belum!"
Aku kemudian melompat ke arah para tiger yang berada di samping. Kembali kuayunkan tanganku dan bola mana 3D ini juga terayun memukul jatuh para tiger.
Ayunan ke samping, ayunan ke atas, ayunan ke bawah, terus aku ayunkan beberapa kali.
"masih belum! Hyaaat"
Tepat pada serangan ayunan terakhir, kujatuhkan bola mana 3D ku hingga membuat bekas tanah yang besar. Angin kubuat begitu ricuh, para tiger pun telah habis hingga menjatuhkan banyak item.
"Hah hah huf..." Aku terengah-engah. Tenagaku sepertinya benar-benar telah terkuras habis.
Aku membungkuk, memposisikan tanganku yang berada di lutut. Air keringat berjatuhan dengan derasnya di wajahku, seluruh pakaianku pun—kecuali cape—telah basah di guyur oleh air dari pori-poriku serta darah dari sayatan para Tiger tadi.
Mana poinku sekarang telah habis, health poinku pun juga sudah berada di 35%.
Sepertinya sayatan-sayatan para Tiger itu memberikan luka yang cukup berat. Untungnya ini sakit tapi tidak terlalu sakit, mungkin sistem belum menyelaraskanku dengan sepenuhnya.
Eh, apa yang aku katakan?
Brrrr...
Bunyi gemuruh tanah yang semakin mendekat. Ada suara yang terdengar sangat tidak begitu asing
"Suara ini, apa lagi!?"
Aku membelalakkan mata sesaat ketika melihat apa yang ada di hadapanku.
...➕➖✖️➗...
...~Author POV~...
Kembali ke Resha yang kini sedang di serang secara bersamaan oleh para preman berjumlahkan delapan orang di sebuah jalan yang sepi.
Resha yang kini akan terserang masih tersenyum canggung. Lalu serangan para preman itu pun seketika meledakkan debu tepat di posisi Resha berdiri.
"Rasakan itu!?" sarkas si preman codet dahi sedangkan yang lain tertawa dengan bahagianya.
"Tu, tunggu. Aku sama sekali tak merasakan bahwa pukulanku mengenainya," kata si preman gendut dengan panik.
"A, apa?! Tu, tunggu mungkin hanya seranganmu saja yang meleset," sahut si preman codet dahi.
Mereka kemudian memperhatikan kepulan debu yang mereka buat, berharap Resha babak belur.
"Tidak ada, pergi ke mana dia?!" panik para preman itu.
"Hahaha ... mungkin dia kabur..."
*Buk...
Belum si kumis lele itu menyelesaikan kalimatnya dengan baik dan benar. Ia sudah jatuh terkapar seolah terkena serangan dari belakang.
"PETRICK!?" teriak salah satu rekan preman itu.
"Sialan, di mana bocah itu bersembunyi?" kesal si pembawa golok itu. Para preman itu kini menjadi waspada dan memposisikan tubuhnya dalam keadaan siaga.
*Wuush... Buk buk.
"NARTOOOU!?" lagi mereka menyerukan nama lebih panik.
Orang yang bercodet dahi pembawa golok yang namanya Nartou itu kini terkapar duduk.
"Baiklah ini sudah lumayan untuk kelas kalian."
*Buk buk buk....
Tiba-tiba serangan demi serangan menghantam para preman itu.
"Sepertinya aku tak usah berlama-lama lagi," lanjut si Resha yang kemudian muncul di tengah-tengah para preman yang sudah babak belur.
"Ya, kalian sudah hebat. Skill yang kupakai tadi cukup curang melawan kalian," ucap Resha dengan nada santainya.
Tak ada yang merespon ucapan Resha, semuanya diam seolah tak mempedulikannya.
"Pada diam nih. Kenapa pada murung?" tanya Resha.
*Wush.. Tap.
Sebuah golok terjun ke arah Resha dan Resha menangkapnya tepat di gagangnya.
"Serang dia!"
"[Slam Sharp] level 5"
Resha menapakkan kakinya dan seketika para preman itu terhempas terbang mundur.
"Desa ini desa orchid, desa yang dulunya indah dan megah beraromakan anggrek khasnya.
"Namun sekarang sudah menjadi desa yang kumuh, kulihat halaman perkebunannya juga sudah terbengkalai.
"Hmm, kukira ada satu bangsawan juga yang dulu berniat baik mengurus desa ini. Tapi sekarang sepertinya sudah lepas tangan ya.
"Hei, kalian para preman penduduk desa ini. Apa yang sebenarnya terjadi dengan desa kalian?" jelas Resha dengan pertanyaannya.
"Hahaha, bangsawan berniat baik? Justru bangsawan itulah yang menghancurkan desa ini," jawab si codet dahi yang masih dalam keadaan terkapar.
*Tap.
Bunyi tapak kaki dari seorang wanita yang datang dari atas atap rumah.
"Desa ini memang sudah layak untuk tiada," ucap wanita itu dengan mengibaskan rambut panjangnya ke belakang.
Alih-alih perhatian Resha dan para preman itu menuju kepada wanita yang mengenakan baju kimono.
"B*eng*** berani-beraninya kau menginjakkan kaki lagi di tempat ini." Nartou tampak geram, wajahnya begitu merah padam melihat wanita itu.
Wanita itu tak menanggapi malahan ia mengacungkan pedangnya hingga sebuah sayatan terbang ke arah Nartou.
*Ctrang..
Resha menghadang dan mengalihkan serangan tersebut dengan salah satu daggernya.
"Siapa kamu?"
Wanita itu tak menjawab pertanyaan Resha. Dia hanya diam dengan ekspresinya yang datar.
"Kau menyelamatkanku? Wa, wanita itu adalah Mio, yang membuat desa Orchid jadi seperti ini," kata Nartou yang terheran dan panik.
"Mio?" gumam Resha sambil mengingat sesuatu, ia tak asing dengan nama itu.
*Wush..
Mio menghilang, angin berhembus dengan kencang.
"Angin ini? Angin yang sama saat aku berada di desa Rose. Ternyata benar kau yang mencuri pak Opin!" seru Resha.
Tiga sayatan udara dari tempat berbeda jatuh menuju ke Resha. Resha dengan kelincahan menghalau serangan itu.
"[Fog Knife] level max"
Aliran angin menjadi lebih kuat, sayatan yang terbang mulai ke mana-mana. Mio benar-benar sudah tak peduli ke mana arah serangannya.
Sedangkan Resha yang juga tak kasat mata terus menahan serangan Mio yang mendarat ke arah para Preman itu.
"Hiiih! Pertarungan macam apa ini? Bergerak selangkah saja bisa mati aku. Ini sudah lima menit loh," ucap Dhile yang merupakan salah satu anggota Nartou.
*Whuuussshh....
Kedua orang yang tak kasat mata tadi kini menampakkan wujudnya kembali. Aura mencekam dari keduanya seakan terbentur, listrik merah kecil pun terlihat dengan kilatannya berdetup.
Tertera di masing-masing status keduanya berada di atas level seratus, tidak, bahkan di atas level 150.
...••••...
Sekedar informasi
*