My Power Of Math Fantasies

My Power Of Math Fantasies
12.1 Kebangkitan dan Kehancuran (2) - Tamat.



Pergerakan naga mulai bergemuruh kembali. Beberapa menit setelahnya para pengkhianat berlari menuju lingkaran teleportasi.


Aku tak membiarkan hal yang buruk kembali terjadi. Naga tersebut sepertinya akan menyemburkan apinya.


Aku berdiam cukup lama. Entah apa yang diriku lakukan. Namun aku dapat merasakan energi yang besar terus berkumpul pada tubuhku.


Tak seberapa lama akupun melesat dengan menggunakan Weak point dan mana 3D. Mengurung naga tersebut dengan kubus yang kubuat seukuran dengan tubuhnya.


Aku tak dapat membiarkan naga tersebut lolos. Sesaat setelah terkurung seketika semburat api keluar menyinari seluruh pemukiman desa bahkan gunung. Panasnya bahkan membuat semua orang harus berteduh dan tumbuh-tumbuhan menjadi kering.


Mana yang kubuat bahkan mulai tak dapat menahan api yang naga tersebut keluarkan. Hingga pada akhirnya mana yang kubuat meleleh dan hilang.


Meski begitu naga yang berada di dalam kubus yang kubuat juga terkena serangan balik. Apinya sendirilah yang membuat dirinya terluka. Namun, naga itu terlihat tetap bertahan.


Sedangkan itu. Pertempuran di bawah sana semakin ribut akan kerusuhannya yang berebutan untuk segara memasuki lingkaran teleportasi. Beberapa orang terlihat juga menjauh dan segera pergi dengan melesat cepat keluar dari kota.


"Hufh, ini sudah menjadi akhirnya. Tiada lagi makhluk yang akan bersinggah. Karena daratan ini akan menjadi lautan api yang membara."


Si Raja Gila itu menatap datar ke bawah sana. Sisik naga yang tebal terlihat lebih memerah seperti warna lava. Tak mungkin dapat kita menyentuh makhluk tersebut. Jikalau menang ingin menyentuh, nyawalah yang menjadi taruhan.


Aku sudah kalang kabut. Kesadaranku perlahan memudar. Ya, penglihatan sedikit kacau. Mataku seolah kering karena hawa panas yang kurasakan dari naga tersebut. Perlahan aku menjaga jarak.


Tubuhku gemetar. Sepertinya kesadaran lain yang mengendalikan tubuhku tak dapat menerima kenyataan tersebut.


Dengan jelas dan berputus asa untuk menyerang si naga. Aku memutuskan untuk menghancurkan si biang kerok.


Matanya yang merah, seringaiannya yang lebar. Tampak sekali aku tak suka dia. Rambutnya yang putih berkibar itu bahkan tak sedikit pun memperlihatkan nodanya.


Betapa lincahnya dia menghindar. Betapa cerdiknya dia memanipulasi. Sangat suka sukali memancing emosi.


Meskipun aku mengeluarkan seribu skill. Meskipun aku menyerang bertubi-tubi. Tapi apalah daya jika dia adalah orang gila. Orang Gila yang selalu dielukan-elukan karena kebesarannya untuk meraih mimpi. Mimpi untuk menjadi sang penguasa. Si sinting yang tak tahu akan dirinya sendiri.


"Lebih baik kamu menjadi seorang pengamat. Daripada kau bergerak hanya membuat orang sulit. Lebih baik kau jatuh, daripada kau terus-terusan mengeluh. Tak akan ada yang peduli denganmu jika kau tak peduli dengan dirimu sendiri."


Si Raja Gila itu benar-benar memberikan serangan telak oleh tendangannya. Membiarkan tubuhku terbanting dan membuat ku tak bisa bergerak lagi. Seketika seluruh pandangan berubah menjadi Notifikasi warning.


"Kenapa...."


"Ingatlah. Ini akan menjadi yang terakhir. Ingatlah jika kau sekali lagi mati dengan keadaan menyerah. Maka itu sekali lagi kubilang akan menjadi yang terakhir."


"Kenapa...."


"Takkan ada lagi yang dapat bersama denganmu. Mereka semua akan meninggalkanmu. Kau akan sendiri. Jika kau tak ingin sendiri maka carilah lagi. Jika kau tak ingin mencari, maka buatlah. Mungkin sulit untuk percaya, tapi yakinlah apa yang kau lakukan akan kembali lagi kepada dirimu sendiri.


"Kalau begitu, selamat tinggal dan sampai jumpa. Kata kunci dunia ini adalah Dremagiworld. Dunia akan berbeda lagi ketika kita akan berjumpa. Dan semoga semuanya akan segera berakhir."


Entah dengan apa yang ia perlakukan atas tubuhku ini. Kesadaran lain juga telah redup. Aku dapat melihat bentuk lain atas jiwa yang ada dalam tubuh ini. Dan baru saja aku mengingatnya dia adalah Dalius Deathano. Jiwa asli yang ada dalam tubuh ini. Aku hanyalah jiwa dari dunia lain yang meminjam tubuhnya sebagai wadah dari jiwaku.


Jiwa asli yang seharusnya lenyap namun berusaha untuk bertahan. Tak ingin diambil alih, dan tak ingin direnggut. Namun dengan rendah hati ia tetap meminjamkannya kepadaku atas kendali dari tubuhnya sendiri, bahkan menyesuaikan dengan wujud asliku.


Dia juga memilikinya. Si Raja Gila itu juga memiliki jiwa asli atas wadah yang ia pinjami bukan untuk direnggut. Seorang player dari dunia lain, hanyalah dua di dunia ini yang tak merenggut hak atas tubuh dunia asli. Keduanya adalah ras manusia, namun sebelumnya kedua makhluk ini adalah sang penguasa atas dan bawah, yang kini keduanya tak dapat dikenal lagi meski sejarahnya terus dikenang.


Beribu ingatan mulai teringat kembali setelah si Raja Gila itu membisikkanku kata kuncinya tadi. Aku mengingat jelas atas petualangan sebelumnya, atas pencapaian yang telah berulang kali aku dapatkan, atas persahabatan yang terus bertemu dan dengan sekejap pula terpisahkan.


Aku adalah Dayshi Andrian. Seorang anak yang usianya akan mencapai 16 tahun, tetapi telah hidup beratus tahun dalam dunia ini. Aku merasakan kematian dan kebangkitan yang berulang kali. Dan jikalau aku menyerah aku bisa saja menjadi penduduk asli dalam dunia ini, dunia mimpi yang dibuat oleh manusia itu sendiri. Berpikir untuk berlindung padahal hanya menjadi data memori.


Aku sudah bangkit pada peradaban awal. Pada peradaban yang belum mengatahui kenyataan yang sebenarnya. Masih mengejar mimpi dan berpikir jika sesampai di Finish kita akan kembali semula dengan pikiran yang lebih luas. Padahal niat semestinya dunia ini menjadikan kita menyatu menjadi memori yang penting untuk memulai dunia buatan yang sempurna.


Seharusnya tubuhku menjadi dingin. Tetapi karena kehancuran sudah dipastikan, maka rasa hangatlah yang dirasakan. Tidak, lebih kepada rasa kepanasan.


Lagi-lagi kekuasaan baru menjadi lebih luas. Memberikan peta baru atas perbuatan yang si Raja Gila lakukan. Tercatat kota dan kawasan telah menjadi abu.


Sang petinggi mulai menjadi lebih waspada. Meski begitu mereka tetap membiarkan permainannya tetap berlanjut. Yang ada dua kekuasaan antara underworld dan upperworld ingin segera bekerjasama namun mustahil karena adanya dinding light of dark, pembatas pergerakan atas keduanya malah memberikan kesempatan bagi si Raja Gila, sang player yang ingin menguasai segalanya.


Perasaan melayang yang begitu nostalgia untuk dirasakan. Kali ini aku jatuh lebih dalam lagi. Tampaknya si Raja Gila itu mentitahkan sang naga untuk menjatuhkan ku ke dalam lubang kematian. Lubang atas perbuatan yang kami lakukan dahulu.


Aku dijatuhkan di sana. Kegelapan akan menjadi lebih pekat lagi. Kehidupan di bawah sini tampaknya akan lebih ekstrim atau mungkin sebaliknya.


Selamat tinggal duniaku. Biarkan aku memulai dunia yang baru. Dan biarkan ingatan ini menetap dan menjadi penghujung serta kunci keinginan dan harapan saat kami dipertemukan seperti awal kita saling mengenal satu sama lain sebagai seorang dari dunia lain di kenyataan.