
Ini tak bisa kubiarkan. Badanku memanas. Jangan berpikir aku akan menyerah begitu saja. Aku telah mengeraskan mana menggunakan mana ampliefer ku. Membuat duri dengan ukuran seperti bilah pedang yang besar bertebaran menyelimuti SI Raja Gila.
"Kau keras kepala. Selamanya kita reuni tak pernah akur begini."
"Reuni? Reuni kamu bilang. Sejak kapan kita pernah bertemu sebelumnya. Bahkan sekalipun aku tak pernah mengingat bentuk wajahmu itu."
"Bagaimana kau bisa mengingatnya. Jika kamu bangkit hanya untuk mati. Selalu beromong kosong saja."
"Apa maksudmu? "
"Cih, bahkan kamu tak bisa mengerti langsung dengan apa yang aku katakan ini. Hei Dayshi. Aku sebenarnya sudah muak denganmu yang terus-menerus bangkit tanpa tau apapun. Apakah kamu memang sulit untuk mengingat sesuatu."
Aku sudah mati berkali-kali. Namun aku tak pernah sekalipun ingat akan kehidupan sebelumku. Aku kemudian memaksa otakku untuk mengingat apa yang sebenarnya tak aku ingat. Tetapi, apa yang kulakukan itu percuma.
"Aku tak mengingatnya. Aku bahkan tidak tahu apa yang sebenarnya harus aku ingat."
Mengesalkan. Aku menarik tanganku sekuat tenaga membiarkan duri mana yang mengelilingi kami menyerbu secara bersamaan tanpa tak ada satupun yang mengenaiku. Dan si Raja Gila dengan telak menerima serangan tersebut.
"Kamu bilang ini serangan?"
Mana mungkin. Dia masih bisa bergerak setelah sekujur tubuhnya tertusuk oleh duri-duri tersebut. Aku bahkan melihat dengan jelas bagaimana darah mengalir di seluruh tubuhnya yang bahkan menyelimutinya seperti pakaian.
Namun, ia dengan tatapan rendahnya tampak terlihat tak ada yang terjadi kepadanya. Dia hanya berekspresi datar.
"Aku Riko, dia Raisa, dan Kamu, Dayshi. Kita sama-sama berasal dari luar dunia ini."
Ya, aku sudah tahu itu sejak lama.
"Dan kamu orang dari luar, dengan semena-mena mengacaukan dunia ini. Padahal kita hanyalah orang asing di sini."
"Sudah, dengarkan saja dulu apa yang kukatakan."
"Hah, apa kamu ingin mencuci otakku."
Aku kembali menyerangnya dengan cepat. Memberikan hunusan pedang pada lehernya. Ia menghindarinya tanpa terlihat bersusah payah.
"Kita selalu bekerja sama untuk naik ke atas, berharap bisa keluar dari dunia ini."
"Aku tak pernah mengingat itu."
Aku mencengkram si Raja Gila dengan kubus dari mana 3D yang aku buat. Aku mengecilkan kubus tersebut dan membuat tubuh si Raja Gila hancur tanpa berbentuk.
"Ya, meski selalu bekerja sama. Selalu aku yang terus membereskannya. Tapi, terlepas dari itu, masa-masa saat kita bersama membuat mataku semakin terbuka lebar."
Aku terkejut, si Raja Gila itu tiba-tiba bersuara di belakangku dengan kondisi yang lebih berstamina lagi.
"Rasanya untuk mengejar apa yang aku impikan. Mencari impian apa yang ingin aku cari, itu seolah mulai aku lupakan seiring kita bersama-sama."
Apa yang sebenarnya orang ini ceritakan. Apa ia sedang berkarang.
"Namun itu semua tak berlangsung dengan lama."
Ekspresi datar dari si Raja Gila terlihat hanyut dengan ceritanya sendiri. Namun, secara tiba-tiba ia membuatku terkejut dengan matanya yang melebar dan semirik bibirnya yang melengkung bagai bulan sabit yang menghadap ke atas.
"Saat kita mengetahui bahwa keluar dari dunia ini hanyalah omong kosong."
"Saat kita mengetahui bahwa kita hanyalah kelinci percobaan, dan saat kita mengetahui bahwa sebagian besar penduduk dunia ini berasal dari dunia luar yang menjadi asli dan lupa dengan tempat awal ia berasal."
"Jadi, apa maksudmu seluruh informasi dari sistem di kepala kita itu sama sekali tak membantu kita menuju ke jalan akhir untuk keluar dari dunia ini?"
"Ya, itu tepat. Sistem yang ada di otak kita, hanya mempertegas informasi yang kita dapatkan. Seluruh Quest pun begitu. Bahkan Quest utama itu sebagian besar hanyalah bentuk manipulatif dari petinggi di dunia ini."
"Terus, untuk apa yang semua ini kamu lakukan sekarang?"
"Untuk apa?"
Riko memiringkan bibirnya.
"Ini pembalasan."
"Pembalasan?"
"Jangan sok suci begitu, Dayshi. Setelah apa yang mereka lakukan kepada kita. Kita tak bisa terus hanya berdiam diri saja. Kita selamanya tak bisa seperti dulu yang menikmati setiap perjalanan.
" Menaiki tiap posisi yang mereka telah atur. Memperebutkan harta dan kekayaan bersama dengan para penduduk asli dunia ini. Bahkan sampai rela melerai ras atas dan bawah hingga memasang pembatas dunia diantara mereka. Dan pada akhirnya balasan yang kita dapat adalah pembantaian."
Semua cerita yang dia sampaikan mulai terdengar cukup masuk akal dengan keadaan dunia ini. Tapi, apakah benar aku, Raisa, dan si Raja Gila itu pernah berjalan bersama. Apakah sebelumnya aku sudah datang dari awal di dunia jauh sebelum masa peperangan tiga kekuasaan ini terjadi.
"Kamu, mana mungkin bisa mengingat itu, Dayshi. Sistem yang ada di dunia terkhususnya untuk para player seperti kita yang berasal dari luar dunia ini mengharuskan kita merelakan memori yang terdapat dalam otak kita ketika kita telah dinyatakan mati kemudian dibangkitkan kembali.
"Kamu hanya akan mengingat sekali kehidupanmu pada saat kamu hidup. Pada saat kamu bangkit kembali, ingatan kamu akan kembali kosong tentang seputar apa saja yang telah kamu lalui di dunia ini. Kamu akan memulai petualangan mu dari awal lagi. Lebih buruknya lagi sejarah yang sudah kamu buat di kehidupan atau kebangkitan kamu sebelumnya akan lenyap keseluruhan dan takkan bisa diingat oleh orang lain.
"Meski begitu, terkadang ada orang-orang tertentu atau bahkan hanya satu orang yang dapat mengingat para player yang sudah mati dan bangkit kembali. Ya, orang itu adalah aku sendiri. Tapi bukan tidak mungkin ada orang yang juga sama Seperti ku dapat melihat sejarah dari player yang mengalami kebangkitan kembali atau bahkan sudah menyatu menjadi orang asli dalam dunia ini."
"Hah, hoi-hoi-hoi Dayshi. Jangan terlalu tegang begitu. Sini, duduklah di sampingku. Aku lagi males bertarung denganmu yang sama sekali jauh dari kekuatanku sekarang hahaha."
"Apa kamu hanya ingin menceritakan kisah u itu kepadaku."
"Sudahlah, aku hanya ingin memberitahumu untuk yang terakhir kali. Santailah kita tunda dulu kelahinya. Kamu capekkan."
Si Raja Gila itu mengepak-ngepakkan tangannya. Sambil meringi-ringis senang ia kemudian memukul-mukul permukaan yang ada disampingnya. Ia berharap aku akan duduk di situ.
Hah, lagipula aku juga sudah penat menghajarnya berkali-kali tapi satu serang pun seolah tak memiliki dampak kepadanya. Ya sudahlah, aku ikut sajadengan saran yang berikan.
"Mau Kopi?" tanya si Raja Gila yang entah dari mana tiba-tiba muncul cerek dan gelas yang siap ingin ia tuangkan kepadaku.
"Tidak, aku lebih suka segelas teh susu hangat."
"Oke, ini ambillah."
Ha, Riko, si Raja Gila itu dengan cepat Memberikan apa yang sudah aku request.
Kami menyeruput minuman kami masing-masing. Si Raja Gila itu lebih suka kopi dengan banyak gula. Kami menikmati minuman sembari memandang wilayah Kingdom of Flower yang sudah kacau balau.
Peperangan di bawah sana juga sudah mereda. Mereka semua hanya terdiam memandang langit yang sudah begitu hitam nan pekat namun tidak menjatuhkan isinya.
"Hah, terasa lebih segar bukan."
Aku mengangguk setuju dengannya.