My Power Of Math Fantasies

My Power Of Math Fantasies
5. SERANGAN DADAKAN



Pembicaraan siang tadi masih berlanjut sampai sekarang, padahal matahari sudah mulai merubah warnanya ke oranye. Ya, sekarang bukan hawa ruangan yang panas, melainkan suasana yang berubah panas.


Resha mencurigai Mirai bahwa ia memiliki maksud lain dengan bersama kami. Ya memang sedari awal Resha mewaspadai Mirai, apakah sekarang ia sudah mendapatkan apa yang ia inginkan?


Sebenarnya aku ingin menanyakan sesuatu kepada Resha. Namun, sepertinya ini sudah terlambat. Karena Mirai sudah mau menjawab apa yang ditanyakan Resha.


“Tunggu Mirai. Sudah cukup, tak usah menjawab pertanyaan tersebut. Bukankah kami yang memutuskan untuk membantumu!” suara nyaring Raisa memenuhi ruangan ini. Membuat gerakan bibir Mirai menjadi terhenti tanpa mengeluarkan sepatah kata.


“Hei, Resha!” berdirilah Raisa sambil menghentakkan meja.


Resha hanya diam menatap Raisa tanpa ekspresi di wajahnya, seolah ia tampak tak ada yang perlu disesalkan dari tindakannya.


Beberapa saat ia kemudian menghela napas sembari tersenyum dengan polosnya. “Baiklah, maafkan kelancanganku tadi. Mi ....”


“Tidak!” seru Mirai, tak membiarkan Resha menyelesaikan ucapannya.


Gadis itu menunduk dan membiarkan rambut hitam twintail ikat pendeknya itu terkulai menutupi pipinya. “Raisa, terima kasih. Tapi sekali lagi aku tak mau dikasihani. Jujur, aku, aku. Aku pikir kalian sudah menganggapku sebagai seorang teman. Jadi, biarkan aku menjawabnya, biarkan aku menjelaskannya. Aku tak mau kesalah pahaman ini akan berlanjut terus.”


Raisa melihatnya dengan cemas.


“Baiklah, jika itu maumu.”


“Cepatlah, kita diburu malam lagi,” titah Resha seolah tak peduli.


“Aku, aku hanyalah orang biasa. Aku ikut, karena kalianlah yang mengajakku. Persoalan bagaimana para goblin itu menyerangku, bukankah sudah pernah aku bilang dulu. Si Raja Gila yang menghancurkan desaku dengan alasan mungkin ia merasa terancam akan klan tersebut.


“Aku sa, satu-satunya orang yang selamat, dan kamu tahu karena ia merasa terancam pasti dia tak ingin melepaskan satu orang pun untuk hidup. Makanya ia sampai mengincarku. Para goblin waktu itulah buktinya.


“Terus mengapa saat kalian menyelamatkanku dan kita diserang gerombolan goblin itu aku terlihat tenang? Itu karena aku sendiri yang berusaha untuk tenang. Jika aku tidak bisa menenangkan diriku, aku tak akan bisa membantu kalian dan malah hanya menjadi orang yang tak berguna dan menyusahkan.


“Dengan tindakan itulah aku pun akhirnya dapat menggunakan kemampuanku, melihat masa depan, Pass time. Begitu juga pada saat aku mengetahui desa ini, aku menggunakan kemampuan tersebut.


“Maaf ya, sepertinya aku tak bisa terus bersama kalian.” Mirai menarik pipinya sendiri lalu menepuk-nepuknya, mungkin ia tak ingin bendungan airnya pecah. Pasti ia berusaha untuk tegar.


“Apa maksudmu. Kamu akan terus bersama kami kok, “ sahut Raisa. Terdengar santai tetapi tegas dan membuat Mirai terlihat haru.


“iya, mana mungkin kami akan meninggalkanmu. Lagian waktu itu kami sudah memutuskan untuk membantumu. Kali ini dan seterusnya aku akan terus mempercayaimu, Mirai.” Aku ikut menimpali, menginginkan agar Mirai kembali ceria.


“Bagaimana denganmu Resha?” tanyaku memastikan Resha apakah ia sudah yakin kepada Mirai.


“Ya kalau mantan pengawas sudah berkata seperti itu, mau bagaimana lagi.” Sikap Resha sudah kembali seperti sebelumnya. Tersenyum dalam ketidakpastian hingga aku sendiri kini merasa senyumannya itu adalah sebuah kepalsuan—seperti terpaksa dan ada rasa ketidakpuasan di dalamnya.


“Aku bertanya kepadamu, bukan ‘mau bagaimana lagi’.” Entah mengapa aku menjadi kesal kepadanya hingga salah satu alisku mengerut.


“Aku sudah percaya kok. Tapi kecurigaanku dalam satu persen tak akan bisa hilang,” sahut Resha yang seperti biasa, jika bukan mode seriusnya ia pasti hanya menjawab ala kadarnya sambil mesem tidak tahu apa sebabnya.


“Daripada itu, sebaiknya kita harus sesegera mungkin untuk bergegas. Jadi, cepatlah selesaikan diskusi ini kemudian simpulkan. Firasatku jadi buruk jika kita terus berlata-lama di sini,“ lanjut Resha.


Raisa menanggapinya dan melanjutkan kepada Mirai tentang petunjuk yang ia dapatkan. Sama seperti Raisa, Mirai tak terlalu mendapatkan banyak petunjuk.


Akan tetapi Mirai membeli beberapa jam tangan yang mungkin akan berguna juga kepada perjalanan kita. Pastinya, ia membelinya dengan menggunakan uang pribadinya.


Lanjut setelah Mirai adalah giliranku, yang mungkin menjadi akhir dalam diskusi ini. Namun di saat inilah sebuah pertentangan petunjuk terbelah menjadi dua arah. Dalam hal ini, di sinilah aku yang menemukan petunjuk yang jelas berbanding terbalik dengan apa yang mereka temukan.


Aku mendapatkan petunjuk ini dari seorang wanita misterius. Katanya pak Opin kini berada di kota Zaharya—kota yang sama jauhnya dengan jarak ke Kingdom of Flower, tetapi tetap berada di kawasan Kingdom of Time.


Namun sebelum itu, wanita misterius itu mengatakan juga bahwa “jika ingin bertemu lagi denganku, maka datanglah ke kota Garden Flower tepatnya di kerajaan tersebut. Aku pasti akan menyambutmu.”


Di sini aku berpikir, apakah benar bahwa Pak Opin berada di kota Zaharya? Kalau menurut pendapatku pribadi sih mungkin bisa saja pak Opin berada di sana, lagian mana mungkin orang yang bernama Mio itu akan meninggalkan jejak sejelas itu untuk mengarahkan kita ke Kingdom of Flower.


Dan lagi, orang yang memberikan aku informasi ini juga bisa dibilang bukan orang biasa. Soalnya dia sendirilah yang mendatangiku dan memberikan informasi tersebut lalu menghilang begitu saja saat aku ingin bertanya. Bukankah ini yang namanya si malaikat petunjuk.


Jadi di sinilah aku menyimpulkan bahwa kita seharusnya pergi ke kota Zaharya. Akan tetapi semuanya malah tidak setuju dan menertawaiku, padahal sama sekali tidak ada yang lucu. Seluruh kemampuan untuk berpikir juga telah kukerahkan, mana mungkin aku salah.


“Perutku sakit, aduuh,“ ucap Resha yang kini berusaha menahan tawa dari gelakan gilanya tadi.


“Terus, terus. Si malaikat petunjuk itu kamu lihat wajahnya tidak, apakah terlihat melebihi bidadari kahyangan.” Resha mulai menggodaku sampai-sampai aku jadi muak sendiri dengannya.


“Yaa, saking silaunya, mataku sampai merem melek melihatnya. Yang jelas rambut hitamnya yang panjang sungguh mempesona.”


Ah, sepertinya aku sudah mengkhayal yang tidak-tidak sekarang.


Tidak lama setelah ini, Lily memberikan gambaran kuat dan membuat kita yakin akan keberadaan pak Opin sebenarnya.


Ia berkata, waktu itu ia juga mencari informasi terkait akan hal ini. Sama seperti yang lainnya, pak Opin ada di Kingdom of Flower . Namun lebih jelasnya Lily memberikan kami petunjuk agar ke Kingdom of Flower lebih mudah.


Pada pukul lima sore, kami pun angkat kaki dari desa ini. Melewati pembatas yang berbeda saat kami memasuki desa ini—tidak jauh dari rumah Lily.


Pembatas, mungkin yang mereka maksud ialah pagar bunga mawar pelangi tersebut. Di luar dari pembatas ini yang terlihat hanyalah hutan rimbun dan besar.


Apakah sama sekali tidak ada jalan yang layak untuk keluar dari desa ini?


“Terima kasih sudah mengijinkan kami tinggal di sini. Dan untukmu pribadi Lily, kami sangat berterima kasih karena telah banyak membantu.” Raisa menundukkan kepalanya sejenak lalu memeluk Lily.


“Aah, kamu terlalu berlebihan. Coba deh lihat, Raisa ternyata tidak begitu judes juga.”


“Loh, emangnya aku judes?” tanya Raisa. Lily hanya menjawabnya dengan tertawa kecil.


Sesaat setelah kami akan keluar dari pembatas, kami berhenti kembali dengan melambaikan tangan kepada Lily sebagai perpisahan. Mungkin kami tak akan pernah lagi datang ke desa ini, walaupun bisa pasti membutuhkan waktu yang sangat lama.


“Bye Lily.” Itulah ucapan akhir kami sebelum akhirnya keluar dari pembatas.


Terasa seperti kedipan mata yang berpindah dimensi. Yang sebelumnya hanya terlihat hutan rimbun nan besar, kini berubah menjadi jalan bertapak tanah lembab dengan panorama rumput alang-alang yang membentang luas.


Ketika membalikkan badan, kami hanya bisa terdiam memandangi luasnya sungai jernih dengan warna langit yang terpantul. Berpikir selama ini kita berada dalam desa yang kini hanya terlihat ilusi.


Angin sejuk yang menerpa wajah, dan rambut yang juga ikut dalam aliran angin tersebut. Itu membuat kami kembali sadar dan sesegera mungkin bergegas walau sang petang kini akan lenyap.


“Sekali lagi untuk terakhir kalinya, cek persiapan kalian dalam mode malam. Ingat waktu kita sangat terbatas.” Tegas Raisa memimpin.


Pakaian waktu awal aku berada di dunia ini kukenakan kembali—seragam putih dengan celana kain abu-abu ditambah cape dan syal sebagai penghangat—dalam perjalanan ini.


Begitu pula dengan yang lainnya, mereka mengenakan pakaian yang beda dari sebelumnya. Raisa dengan baju mage klasiknya yang longgar hingga ke kaki dan topi mage yang kerucut.


Resha dengan setelan jaket tanpa lengan dan celana lapis hitam yang panjang. Dan, Mirai mengenakan sweater rajutan putih bersama cardigan abu-abu di luarnya. Rok pendek serta stoking hitam menjadi penutup bawahannya.


Aku kembali mengambil peta dan jam tersebut karena takut nanti akan terjatuh. Mencari solusi akhirnya aku terpikirkan untuk menggunakan inventory saja.


“[Storage]”


ketika aku akan memasukkan kedua benda ini, tiba-tiba ada sebuah pemberitahuan.


...➕➖✖️➗...


[Apakah anda ingin menggunakan system connect.


System connect ialah sistem yang menghubungkan benda yang anda gunakan ke dalam software anda sehingga anda dapat menggunakannya secara langsung tanpa mengeluarkan benda tersebut.


...Yes | No...


Jika anda setuju tekan Yes, jika menolak setuju tekan No.]


...➕➖✖️➗...


Tanpa pikir panjang aku langsung menekan tombol Yes. Lagi pula ini menguntungkanku, untuk apa aku harus menolaknya.


Inventory-nya kembali seperti semula, semua barang-barang yang kusimpan terlihat dalam bentuk file atau gambar kotak-kotak kecil. Jam tangan silver ini kemudian kuletakkan ke dalam. Dan, tertulis sebuah tulisan latin System connect setelah aku menaruhnya ke dalam.


Sebuah pengertian, rumus, dan angka kemudian keluar sebagai syarat untuk menghubungkannya. Lagi dan lagi persoalan tentang masa, pastinya terkait dengan waktu.


Ya, ini sangat mudah bagiku. Dengan cepat aku menyelesaikan karena telah terbiasa menghitung persoalan waktu, lagian dulu aku sudah pernah mempelajarinya.


...➕➖✖️➗...


[System connect, berfungsi.


Kini anda dapat menggunakan jam hanya dengan mengatakan “system connect, clock”.]


...➕➖✖️➗...


Aku kemudian mempraktikkannya,


“[System Connect, Clock].”


Keluarlah jam hologrom sesuai dengan apa yang aku pikirkan sebelumnya. Modelnya ternyata dapat diganti-ganti sesuai seleraku. Ya tahulah, modelnya itu ada yang berbentuk jam bulat yang berputar seperti biasa, ada juga yang hanya berisikan angka saja.


Sesuai seleraku, aku pilih yang angka saja. Ini lebih mudah dan yang menguntungkannya lagi dalam model hologrom seperti ini aku dapat melihatnya kapan saja—baik dalam kegelapan sekalipun itu.


Berikutnya aku memasukkan kedua peta yang di berikan oleh Raisa. Sama seperti sebelumnya, muncul angka dan rumus yang kali ini aku tak tahu apa itu. Benar, aku belum pernah mempelajarinya.


Namun, sepertinya aku akan cepat memahami materi ini. Hahaha, inilah yang namanya keterbiasaan bukan? Latihanku kan selama perjalanan sebelumnya juga banyak menghitung.


...➕➖✖️➗...


[Peta adalah gambaran seluruh atau sebagian permukaan bumi pada bidang datar yang diperkecil dengan skala tertentu.


Skala adalah perbandingan jarak pada peta dengan jarak sesungguhnya di lapangan.


Rumus:


skala \= jarak pada peta / jarak sebenarnya


Jarak sebenarnya \= jarak pada peta / skala


Jarak pada peta \= skala × jarak sebenarnya


• Hitunglah jarak sebenarnya dan jarak pada peta yang terdapat pada kedua peta yang anda masukkan.


Info. Pilih tujuan anda untuk menentukannya]


...➕➖✖️➗...


Eh, skalanya di bagian mana? Aduuh, terpaksa kuambil kembali kedua peta yang kumasukkan untuk melihat berapa skalanya.


Skalanya di bagian mana? Lah, dua kali nanya aku ini. Kuperhatikan tiap sisi bagian peta ini. Hmm, ini yang di sudut kiri bawah namanya legenda. Sepertinya yang ada angkanya deh kalau skala.


Nah, ini. Skala tertulis, di atas setrip terdapat angka 100 km di bawahnya ada angka satu. Terus skalanya berapa dong? Tadi aku baca skala itu ada perbandingannya yah.


Berarti di sini perbandingannya 1 cm : 100 km. Jadi, semuanya kujadikan senti biar pas. 1 : 10.000.000 cm.


Hehehe, jadi keingat “kucing hitam dari macam dia cantik meong-meong”. Dari "kucing" lompat ke "cantik" kan lima kali lompatan, ini artinya seratusnya kutambahin lagi lima nol ke belakang. Jadi, hasilnya 10.000.000 deh.


Sekarang, aku tinggal cari jarak pada petanya sama jarak sebenarnya. Kalau disuruh pilih tujuan pastinya jarak dari sini ke Kingdom of Flower.


Aku mengambil peta yang kedua, yaitu peta yang khusus untuk wilayah Kingdom of Flower. Skalanya satu berbanding 200.000 sentimeter.


Sekarang tinggal menghitung jarak pada petanya yang ke Kingdom of Flower. Pastinya kugunakan trik dari dunia ini dong, aku berpose dua jari ke arah mataku dan melihat  semua ukuran yang aku inginkan.


Yeah, pastinya aku melihat berapa jarakku ke Kingdom of Flower. Berdasarkan di peta wilayah Kingdom of Flower, aku mendapatkan jarak ke Kingdom of Flower adalah 57 cm. Sedangkan di peta Celebesland sekitar 1,14 cm.


Adeeh, lumayanlah lumayan. Tinggal jarak sebenarnya nih. Aku sudah dapat jarak pada peta sama Skalanya, sekarang tinggal gunakan rumus untuk mencari jarak sebenarnya.


Ngomong-ngomong soal rumus, aku malah teringat prisma segitiga yang dulu aku pernah sekilas lihat di dunia nyataku. Hehehe, sepertinya rumusnya sama aja.


Jarak pada peta di atas, dan skala dengan jarak sebenarnya di bawah. Kedudukan yang setara di bawah di kali, sedangkan kalau di cari bagian samping di bagi.



Persis rumus mencari jarak sebenarnya. Yang berarti ketika dicari, rumusnya ialah jarak pada peta banding skala.


Jadi di sini hasil dari peta wilayah Kingdom of Flower ialah....


...••••...


sekedar informasi


*